"Nikahi aku, Abang Tukang Bakso!"
Demi menyelamatkan warisan Rumah Sakit dari ibu tiri yang kejam, Dokter Airine Rubyjane nekat menikahi Nata, pria penjual bakso di depan RS-nya. Airine pikir Nata hanyalah rakyat jelata yang mudah ia kendalikan.
Namun, ia salah besar. Di balik celemek berminyak itu, suaminya adalah Arnold Dexter, Komandan Intelijen legendaris yang sedang dalam misi penyamaran mematikan.
Satu per satu musuh Airine tumbang secara misterius. Saat cinta mulai tumbuh, Airine menyadari bahwa pria yang ia anggap "miskin" itu adalah predator paling berbahaya di negara ini yang sedang mengincar rahasia gelap kakeknya.
"Aku bukan sekadar tukang bakso, Istriku. Aku adalah alasan musuhmu takut pada malam hari."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ariska Kamisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 20: Fajar di Laboratorium Maut
"Nata, kamu sudah rapi sepagi ini? Ini baru jam lima lewat sepuluh menit."
Suara Airine terdengar parau, khas orang yang baru saja terseret dari alam mimpi. Ia duduk di tepi ranjang, mengucek matanya yang masih terasa berat. Di depan cermin besar, Nata sedang mengancingkan kemeja hitamnya dengan gerakan yang sangat kaku, seolah bahunya sedang menahan beban berton-ton.
Nata menoleh, mencoba memaksakan senyum santainya yang biasa. "Aku tidak bisa tidur, Sayang. Entah kenapa, aku merasa rindu bau kuah kaldu di pangkalan. Aku berpikir untuk pergi ke rumah sakit lebih awal, memastikan semuanya siap sebelum kamu datang."
"Kamu berlebihan," Airine berdiri, melangkah mendekat dan membantu merapikan kerah kemeja Nata. "Kamu bilang ada tim keamanan dari teman kakekmu, kan? Biarkan mereka yang bekerja. Kamu tetaplah di sini, sarapan bersamaku."
Nata menangkap tangan Airine, mencium telapak tangannya dengan lembut. Ada kilat kecemasan di matanya yang coba ia sembunyikan. "Aku hanya ingin menjadi suami yang berguna, Airine. Kemarin laboratorium hampir disusupi, hari ini aku ingin memastikan tidak ada debu pun yang berani mengganggu ruanganmu. Mandilah, aku akan menunggumu di mobil."
Airine menatap suaminya lekat-lekat. "Nata, ada sesuatu yang kamu sembunyikan? Wajahmu... kamu terlihat seperti sedang bersiap pergi berperang, bukan pergi ke kantor."
"Hanya perasaanmu saja, Dokter," bohong Nata sambil mengacak rambut Airine pelan. "Cepatlah, atau aku akan menghabiskan semua jatah sarapanmu di jalan."
Begitu Airine masuk ke kamar mandi, wajah Nata berubah menjadi dingin. Ia menyentuh jam tangannya, mengaktifkan frekuensi khusus.
"Status laboratorium pusat?" desisnya.
"Lapor, Komandan. Sensor panas mendeteksi adanya aktivitas mencurigakan di jalur pipa gas sektor C. Kami menduga itu adalah peledak remot yang dipasang dari dalam. Tim penjenak bom sedang menyusup lewat jalur ventilasi bawah," suara operator intelijen menyahut cepat.
"Tahan posisi mereka. Aku akan sampai dalam sepuluh menit. Pastikan tidak ada satu pun staf rumah sakit yang masuk ke area itu sebelum aku memberi komando," perintah Arnold.
Perjalanan menuju RS Medika Utama pagi itu terasa sangat sunyi. Airine mencoba mencairkan suasana dengan membicarakan rencana audit yang akan ia pimpin, namun Nata hanya menjawab dengan gumaman pendek. Pikirannya tertuju pada bom yang mungkin saja bisa meratakan gedung ini jika ia salah langkah.
Sesampainya di lobi, Nata tidak membiarkan Airine menuju lift pribadi. "Airine, dengarkan aku. Ada pemeliharaan pipa gas mendadak di lantai atas. Kamu tunggu di kafe lobi sebentar, ya? Aku akan memeriksa ruanganmu dulu."
"Pemeliharaan gas? Kenapa aku tidak mendapat laporannya?" Airine mulai curiga. "Nata, apa ini ada hubungannya dengan penyusup semalam?"
"Hanya prosedur rutin, Sayang. Turuti saja permintaanku sekali ini," Nata memegang bahu Airine dengan kuat, menatap matanya dalam-dalam. "Tunggu di sini. Jangan naik sampai aku menjemputmu. Berjanjilah?"
Airine akhirnya mengangguk meski hatinya dipenuhi rasa tidak enak. "Berjanjilah kamu akan kembali dengan selamat, Nata."
Nata tidak menjawab dengan kata-kata. Ia hanya memberikan kecupan singkat di bibir Airine lalu berlari menuju tangga darurat. Di balik pintu tangga, ia melepaskan kemejanya, memperlihatkan kaos taktis yang sudah dilengkapi dengan berbagai peralatan sabotase.
Ia sampai di lantai laboratorium dalam waktu singkat. Di sana, tiga anak buahnya yang menyamar sebagai teknisi sudah menunggunya.
"Di mana posisinya?" tanya Arnold.
"Di bawah tangki nitrogen cair, Komandan. Jika ini meledak, seluruh data formula farmasi akan hancur, dan gas beracun akan menyebar ke seluruh sistem ventilasi rumah sakit," lapor salah satu anggota tim.
Arnold berjongkok di bawah tangki besar yang dingin. Matanya memindai rangkaian kabel yang sangat rumit. Ini bukan bom rakitan biasa; ini adalah produk militer kelas tinggi. Tuan Shen benar-benar gila, batinnya.
"Gunting biru atau merah?" bisik salah satu anak buahnya dengan keringat bercucuran.
"Jangan sentuh kabelnya. Ini sensor tekanan," Arnold mengeluarkan sebuah cairan pembeku dari sakunya, menyemprotkannya ke arah pemicu elektronik bom tersebut. "Kita harus membekukan sirkuitnya sebelum memutus aliran listriknya."
Di tengah ketegangan itu, ponsel satelit Arnold bergetar. Sebuah video masuk dari nomor Tuan Shen.
"Lihat ke arah kamera keamanan, Komandan," suara Shen terdengar melalui earpiece.
Arnold mendongak ke arah kamera di sudut ruangan. Di layar ponselnya, ia melihat Airine di kafe lobi sedang didekati oleh seorang pria yang mengenakan jaket hoodie gelap. Tangan pria itu berada di balik saku, menunjuk tepat ke arah punggung Airine.
"Satu gerakan salah darimu untuk menjinakkan bom itu, dan istrimu akan tidur selamanya di lobi," ancam Shen.
Arnold mengepalkan tinjunya hingga bergetar. "Apa maumu, Shen?"
"Formula Cobra-9 yang asli. Edward Jane menyimpannya di brankas digital yang hanya bisa dibuka dengan sidik jari Airine. Bawa dia ke laboratorium sekarang, atau lobi itu akan menjadi lautan darah."
Arnold menatap bom di depannya, lalu menatap kamera keamanan. Ia terjepit di antara tugas negara dan keselamatan wanita yang ia cintai.
"Komandan, apa yang harus kita lakukan? Waktunya tinggal dua menit!" bisik anak buahnya panik.
Arnold menarik napas panjang, matanya berkilat dengan kecerdikan yang mematikan. Ia menyentuh jam tangannya. "Tim Shadow di lobi, lakukan 'Silent Takedown' pada pria ber-hoodie di belakang Direktur Airine. Gunakan penenang jarak dekat. Jangan sampai target menyadarinya."
"Dimengerti, Komandan. Eksekusi dalam 3... 2... 1..."
Di layar ponsel, Arnold melihat pria di belakang Airine tiba-tiba lunglai dan ditangkap oleh dua orang pria yang tampak seperti pengunjung kafe biasa. Airine bahkan tidak menoleh, ia masih sibuk dengan tabletnya.
"Target lobi dilumpuhkan," lapor tim Shadow.
Arnold segera kembali fokus pada bom. Dengan tangan yang sangat stabil, ia memotong kabel pusat. Angka di layar bom itu berhenti di angka 00:03.
"Selesai," desis Arnold. Ia berdiri, keringat menetes dari dagunya. "Sekarang, cari tahu di mana posisi Tuan Shen. Dia ada di sekitar gedung ini. Aku merasakannya."
Namun, ketenangan itu hanya bertahan sesaat. Pintu laboratorium terbuka dengan kasar. Airine berdiri di sana dengan wajah pucat, matanya menatap tajam ke arah Nata yang kini berdiri tanpa kemeja, memegang pemotong kabel, dikelilingi oleh pria bersenjata.
"Nata... apa yang sedang terjadi di sini?" suara Airine bergetar hebat. "Kenapa kamu memegang benda itu? Dan siapa orang-orang ini?"
Nata membeku. Ia menatap Airine, lalu menatap bom yang baru saja dijinakkannya. Rahasianya kini berada di ujung tanduk.
"Airine... aku bisa jelaskan," ucap Nata, mencoba melangkah mendekat.
"Berhenti di situ!" teriak Airine, air mata mulai mengalir. "Kamu bilang kamu tukang bakso. Kamu bilang kamu hanya meminta bantuan teman kakekmu. Tapi lihat dirimu... kamu terlihat seperti orang yang memasang bom ini, bukan menjinakkannya! Apa kamu benar-benar bekerja untuk Tuan Shen?!"
Nata terperanjat. "Apa? Airine, tidak! Aku baru saja menyelamatkan nyawamu!"
"Bohong! Semua orang memanggilmu Komandan! Dan sekarang ada bom di laboratorium kakekku!" Airine mundur perlahan, ketakutan terpancar jelas dari wajahnya. "Siapa kamu sebenarnya, Nata? Atau haruskah aku memanggilmu... Arnold?"