Di bawah langit yang memisahkan tiga alam: Surga, Bumi, dan Neraka, lahir seorang anak yang sejak dalam kandungan telah menjadi bahan percobaan para tetua kultivasi terlarang.
Wei Mou Sha tidak pernah meminta untuk lahir. Ia tidak pernah meminta untuk menjadi percobaan. Dan ia tidak pernah meminta untuk merasakan ribuan kematian dalam satu jiwa.
Sejak usia tujuh tahun, tubuhnya ditanamkan Segel Kekosongan Abadi, sebuah kutukan kuno yang memakan sedikit demi sedikit rasa kemanusiaannya setiap kali ia menggunakan kekuatannya. Semakin kuat ia bertarung, semakin kosong jiwanya. Semakin kosong jiwanya, semakin brutal ia membunuh.
Yang mengerikan bukan caranya membunuh.
Yang mengerikan adalah ekspresinya yang tidak pernah berubah.
Ia tersenyum lembut saat menghabisi seorang jenderal dewa. Ia mengangguk sopan sebelum menghancurkan tulang seorang iblis betina. Tidak ada kebencian. Tidak ada kepuasan. Hanya kekosongan yang sempurna.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nugraha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 17 : Babak Utama
Wei Mou Sha bergerak di antara titik-titik jebakan dengan cara yang tampak seperti jalan biasa, setiap langkahnya jatuh tepat di celah antara lapisan-lapisan qi yang sudah ia petakan, tanpa menyentuh satu pun.
Perempuan itu menyerang dari kiri seperti yang ia prediksi, dengan teknik yang lebih kuat dari kombinasi-kombinasi sebelumnya.
Dengan qi yang terkumpul dari seluruh lapisan jebakan yang tidak meledak dan dialirkan balik ke serangannya sebagai cadangan energi.
Teknik yang cerdas.
Wei Mou Sha tidak mundur.
Ia melangkah miring, membiarkan serangan itu lewat di jarak yang sangat tipis, cukup dekat hingga ia bisa merasakan panas qi-nya di pipi kanannya. Dan di titik terdekat jarak antara mereka, tangan kirinya bergerak ke tiga titik sekaligus.
Neiguan di pergelangan tangan kiri.
Jianyu di pundak kiri.
Tianzong di belakang tulang belikat kiri.
Ketiganya dalam urutan yang butuh waktu kurang dari dua belas detik untuk dieksekusi.
Perempuan itu berhenti bergerak.
Bukan karena menyerah, tapi karena seluruh sisi kiri tubuhnya tiba-tiba tidak menerima perintah. Lengan kirinya jatuh ke sisi tubuhnya dan keseimbangannya bergeser.
Ia bertahan tidak jatuh dengan bertumpu pada kaki kanannya, kendali tubuh yang baik untuk kondisi seperti ini.
Tapi ia tidak bisa menyerang lagi. Tidak dalam kondisi ini.
Mereka berdiri berhadapan selama dua detik.
"Aku menyerah," kata perempuan itu dengan nada datar dan profesional.
Wei Mou Sha mundur satu langkah.
Lonceng berbunyi dan pertarungan pun selesai.
Tribun tidak langsung bereaksi.
Ada jeda selama mungkin tiga detik di mana suara di tribun benar-benar berhenti, bukan keheningan yang canggung, tapi keheningan orang yang baru menyaksikan sesuatu dan belum selesai memproses apa yang baru dilihat.
Lalu suara kembali, lebih keras dari sebelumnya, dengan nada yang berbeda dari tepuk tangan pertandingan biasa. Lebih seperti ratusan percakapan yang pecah serentak, orang-orang menoleh ke satu sama lain untuk memastikan bahwa mereka melihat hal yang sama.
Wei Mou Sha berjalan ke tepi arena tanpa menoleh ke tribun.
Penjaga pertandingan mendekat. "Peserta nomor dua belas lolos ke babak utama."
"Terima kasih."
Ia berjalan kembali ke area tunggu.
Di sana, beberapa peserta yang sudah selesai bertarung atau menunggu giliran menatapnya dengan ekspresi yang bervariasi.
Wei Mou Sha tidak memperhatikan sebagian besar dari mereka.
Tapi ada satu orang yang menarik perhatiannya, seorang pria muda yang berdiri di sudut area tunggu, menonton pertarungannya dari balik kisi-kisi kayu yang memisahkan area tunggu dari arena.
Seragamnya tidak menunjukkan sekte mana pun, tapi kualitas kainnya berbeda dari kultivator bebas biasa. Dan cara ia berdiri, terlalu diam, tanpa sedikit pun reaksi terhadap apa yang baru dilihat.
Orang yang terlatih untuk tidak menunjukkan reaksi.
Matanya bertemu dengan mata Wei Mou Sha selama satu detik.
Lalu pria itu berbalik dan berjalan ke arah berlawanan dengan cara yang terlalu santai untuk benar-benar santai.
Wei Mou Sha menyimpan wajahnya dalam ingatannya.
Sore hari, ia menonton gelombang kedua, babak kualifikasi dari tribun.
Lian Zhu Yue bertarung di pertandingan ketiga, melawan seorang pria dari sekte kecil yang tekniknya agresif dan tidak rapi.
Cara Lian Zhu Yue bertarung berbeda dari semua yang pernah Wei Mou Sha amati sebelumnya.
Ia tidak menyerang balik, tidak satu kali pun sepanjang pertarungan. Setiap kali lawannya menyerang, ia bergerak dengan cara yang tampak seperti mundur, tapi sebenarnya jauh lebih rumit dari itu.
Ia mengalirkan serangan lawannya, seperti air yang tidak menahan batu yang dilempar ke dalamnya, melainkan mengubah arahnya perlahan hingga energinya habis sendiri.
Dan sembari melakukan itu, ia bicara.
Wei Mou Sha tidak bisa mendengar apa yang diucapkan dari jarak tribun. Tapi ia bisa melihat efeknya, lawannya yang tadinya agresif mulai melambat, mulai ragu, mulai mengambil keputusan yang tidak konsisten dengan pola awalnya.
Kultivasi jiwa.
Bukan hanya membaca, tapi memengaruhi. Dengan sangat halus, tanpa tampak seperti serangan.
Lawannya menyatakan menyerah di menit ketujuh, dengan ekspresi orang yang tidak sepenuhnya mengerti mengapa ia memutuskan berhenti.
Lian Zhu Yue memberi hormat dan berjalan keluar arena dengan langkah yang sama tenangnya seperti saat ia masuk.
Wei Mou Sha duduk di tribun dan menyimpan semua yang baru disaksikannya dengan cermat.
Berbahaya, catatnya. Dengan cara yang tidak langsung terlihat sebagai orang yang berbahaya.
Setelah semua pertandingan kualifikasi selesai, papan hasil ditempel di dinding luar arena.
Delapan nama yang lolos ke babak utama.
Wei Mou Sha. Lian Zhu Yue. Feng Bai. Dua orang dari Aula Api Sejati. Satu dari Pedang Langit Utara yang bukan Feng Bai. Dan dua nama dari luar Wanhua yang tidak ia kenali afiliasinya.
Chen Liang Huo tidak ada di daftar, karena sebagai murid inti, ia sudah otomatis masuk babak utama tanpa perlu kualifikasi. Aturan khusus untuk murid inti sekte besar.
Wei Mou Sha membaca daftar itu dua kali.
Delapan orang. Babak utama dua hari lagi.
Di antara delapan nama itu, satu yang paling menarik perhatiannya bukan Feng Bai, bukan Lian Zhu Yue, bukan Chen Liang Huo yang sudah pasti ada.
Tapi satu nama asing dari luar Wanhua yang afiliasinya hanya tertera sebagai Kultivator bebas, sama seperti dirinya.
Nama itu: Xue Han Ye.
Tidak ada yang membicarakan nama itu di tribun tadi. Tidak ada yang bersorak saat ia menang kualifikasinya. Ia masuk, bertarung, menang, dan pergi tanpa meninggalkan kesan pada penonton.
Tapi Wei Mou Sha ingat caranya menang, terlalu bersih, terlalu efisien, dengan cara yang menunjukkan ia menyembunyikan jauh lebih banyak dari yang ia tampilkan.
Persis seperti Wei Mou Sha sendiri.
Malam itu Wei Mou Sha duduk di atas atap penginapannya, bukan di dalam kamar, tapi di atas, di bawah langit yang lebih luas dari yang terlihat melalui jendela.
Kota Wanhua di bawahnya masih hidup meski sudah larut malam, cahaya-cahaya kecil dari ratusan bangunan, suara-suara yang sudah menjadi latar belakang yang familiar dalam dua minggu terakhir.
Ia tidak memikirkan babak utama dua hari lagi.
Ia memikirkan pria yang berdiri di kisi-kisi area tunggu dengan cara yang terlalu diam.
Dan nama Xue Han Ye yang tidak meninggalkan kesan pada siapa pun di tribun, tapi meninggalkan sesuatu dalam diri Wei Mou Sha yang tidak bisa ia abaikan.
Di dadanya, segel berdenyut.
Ritme yang familiar.
Tapi ada nada baru di dalamnya malam ini, sangat samar, seperti instrumen yang baru pertama kali dimainkan dan belum yakin dengan nadanya sendiri.
Wei Mou Sha menatap langit.
Dua hari lagi.