Di papan catur Leone, Nora hanyalah sebuah bidak yang dipahat untuk menahan badai, sementara Stella adalah permata yang disembunyikan di balik sutra. Selama lima tahun, Nora berdiri sebagai tameng, meredam peluru dengan detak jantungnya sendiri demi pria yang tak pernah benar-benar melihatnya kecuali sebagai pelindung bagi cintanya yang sejati.
Namun, setiap baja memiliki titik retak.
Ketika takdir menyajikan dua cawan beracun di atas meja jati, Nora memilih untuk meminum rahasia yang paling kelam. Dia menukar tahta di pesisir California dengan mahkota berduri di ranjang hantu New York. Di kota yang tak pernah tidur, dia tidak datang untuk menjadi perawat bagi jiwa yang koma, melainkan untuk membangun kekaisaran dari sisa-sisa pengkhianatan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DearlyBoa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rahim yang Hening
Keheningan adalah suara pertama yang menyambut kesadaran Nora Leone. Bukan keheningan damai seperti saat ia merawat mawar di taman, melainkan keheningan yang steril, tajam, dan berbau antiseptik.
Nora mencoba membuka matanya, namun kelopak mata kirinya terasa sangat berat dan kaku. Ketika ia berhasil memaksanya terbuka, dunia tampak berpusing dalam warna putih yang menyilaukan. Ia menatap langit-langit kamar yang asing. Ada retakan tipis di plafon yang ia amati dengan tatapan kosong, sementara rasa sakit mulai merayap naik, menguasai setiap jengkal saraf di tubuhnya.
Ia mencoba menggerakkan tangannya, namun sebuah tarikan dingin menahannya. Nora melirik ke bawah. Sebuah selang infus tertancap di punggung tangannya yang pucat, menyalurkan cairan bening ke dalam aliran darahnya.
Ingatan tentang malam itu kembali menghantamnya seperti ombak pasang. Gudang yang gelap. Tatapan dingin Adrian. Tamparan yang tak kunjung henti. Dan... tendangan di perutnya.
Nora tersentak, mencoba bangkit, namun rasa nyeri yang menusuk di bagian bawah perutnya membuatnya kembali terjerembap ke bantal. Ia meraba wajahnya dengan tangan yang bebas. Kulit pipinya terasa bengkak dan keras, bibirnya pecah dan terasa tebal saat lidahnya menyentuh sudut mulut yang terluka. Wajahnya yang dulu ia rawat dengan lembut kini menjadi kanvas memar berwarna biru dan ungu tua.
Di ruangan itu, tidak ada siapa-siapa. Tidak ada Adrian yang memohon maaf. Tidak ada Stella yang berpura-pura sedih. Bahkan tidak ada Martha yang menangis. Ia sendirian di dalam kamar rawat kelas menengah yang sederhana, jauh dari kemewahan mansion Thorne yang menyesakkan.
Pintu terbuka dengan decitan pelan. Seorang perawat paruh baya masuk membawa nampan berisi obat-obatan. Saat melihat mata Nora terbuka, wajah perawat itu seketika cerah oleh senyum lega yang tulus.
"Oh, syukurlah Anda sudah siuman, Nona," ujar perawat itu lembut, mendekati ranjang Nora. "Kami sangat khawatir. Anda tidak sadarkan diri selama hampir dua belas jam."
Nora mencoba berbicara, namun suaranya hanya keluar sebagai bisikan serak yang menyakitkan. "Di mana... di mana aku?"
"Anda di Rumah Sakit Umum Santo Jude. Anda dibawa ke sini pagi tadi," jawab perawat itu sambil memeriksa denyut nadi Nora. "Kondisi fisik Anda cukup parah, tapi luka-luka di wajah dan memar di tubuh Anda akan sembuh seiring waktu."
Nora tidak peduli dengan wajahnya. Tangannya yang gemetar merayap menuju perutnya yang kini terasa kosong—sebuah kekosongan yang terasa lebih dingin daripada es. Mata cokelatnya yang sembap menatap perawat itu dengan tatapan memohon, menanyakan hal yang paling ia takutkan.
"Anakku... anak-anakku?"
Senyum di wajah perawat itu perlahan memudar, digantikan oleh gurat simpati yang mendalam. Ia meletakkan nampannya dan duduk di kursi di samping ranjang Nora, memegang tangan wanita itu dengan lembut.
"Nona... saya sangat menyesal," suara perawat itu merendah, penuh dengan nada duka yang tulus. "Pendarahan yang Anda alami saat tiba di sini sangat hebat. Trauma fisik yang dialami tubuh Anda terlalu berat. Janin Anda... kedua janin itu... tidak dapat tertolong."
Dunia seolah berhenti berdetak bagi Nora.
"Dokter sudah melakukan tindakan kuras (kuretase) pagi tadi untuk membersihkan rahim Anda," lanjut perawat itu dengan hati-hati. "Tindakan itu harus dilakukan segera untuk menyelamatkan nyawa Anda dari infeksi dan pendarahan lebih lanjut. Tidak ada sisa jaringan yang tertinggal. Rahim Anda sudah bersih."
Bersih.
Kata itu bergaung di kepala Nora seperti lonceng kematian. Rahimnya bersih. Tidak ada lagi dua detak jantung kecil. Tidak ada lagi harapan yang ia sembunyikan di dalam kotak kayu. Semua yang ia pertahankan, satu-satunya alasan ia merasa berharga di dunia ini, telah dirampas secara paksa oleh pria yang ia cintai—pria yang memerintahkan para algojonya untuk menghajar "tameng" yang sudah tidak berguna.
Nora memalingkan wajahnya ke arah jendela, menatap langit yang kini mulai mendung. Air mata mulai mengalir, melewati luka-luka di pipinya, terasa perih dan panas. Ia tidak berteriak. Ia tidak meraung. Isakannya tertahan di tenggorokan, keluar sebagai suara yang menyayat hati, sebuah rintihan dari jiwa yang baru saja dihancurkan hingga menjadi debu.
Rasa sakit di bawah perutnya kembali menyerang, seolah rahimnya sedang berteriak mencari kehidupan yang pernah ada di sana. Sakit itu begitu nyata, begitu fisik, hingga Nora harus menggigit bibirnya yang pecah untuk menahan tangis.
"Siapa..." Nora menelan ludah, mencoba menstabilkan suaranya. "Siapa yang membawaku ke sini?"
"Seorang pekerja dermaga," jawab perawat itu sambil membetulkan selimut Nora. "Dia sedang memulai giliran kerjanya pagi-pagi sekali dan mendengar rintihan dari dalam gudang yang terkunci. Dia mendobrak pintunya dan menemukan Anda tergeletak dalam genangan darah. Dia pria yang baik, dia yang menggendong Anda ke mobilnya dan membawa Anda langsung ke unit gawat darurat."
Bukan Adrian. Bukan pengawal Adrian yang merasa bersalah. Bahkan bukan Martha.
Orang asing. Seorang pria yang tidak mengenal namanya, yang tidak memiliki kepentingan politik, yang tidak tahu berapa harga kepalanya di pasar gelap—pria itulah yang menyelamatkannya dari kematian di saat orang yang paling ia percayai justru meninggalkannya untuk membusuk.
Nora menutup matanya. Dalam kegelapan di balik kelopak matanya, ia melihat kembali wajah Adrian malam itu. Ia melihat kebencian di mata pria itu, ia merasakan dinginnya perintah yang menghancurkan hidupnya. Ia teringat bagaimana Adrian lebih memilih mempercayai akting murah Stella daripada kebenaran yang ia tawarkan.
Di kamar rawat yang sunyi itu, di tengah isak tangis yang tak kunjung usai, sebuah transformasi terjadi di dalam diri Nora Leone. Rasa nyeri yang tadinya berupa cinta yang terkhianati, perlahan-lahan membeku menjadi kebencian yang murni.
Cinta yang selama lima tahun ini ia pupuk dengan kesabaran, cinta yang membuatnya rela menjadi tameng, cinta yang membuatnya rela menutup mata dengan kain sutra hanya agar Adrian bahagia... cinta itu baru saja mati bersama dua nyawa yang direnggut dari rahimnya.
"Aku sudah selesai," bisik Nora pada dirinya sendiri.
Suaranya tidak lagi bergetar. Dingin yang tadi ia rasakan di dinding toilet kini telah meresap permanen ke dalam sumsum tulangnya.
"Aku sudah selesai denganmu, Adrian Thorne."
Nora membuka matanya, menatap lurus ke depan dengan pandangan yang kosong namun penuh tekad. Ia bersumpah pada dirinya sendiri, demi dua nyawa yang tak sempat melihat dunia, bahwa ia tidak akan pernah lagi meneteskan air mata untuk pria itu. Ia tidak akan mencintainya lagi. Tidak akan ada lagi pengampunan. Tidak akan ada lagi tempat untuk Adrian di dalam hidupnya, kecuali sebagai sosok yang harus ia hancurkan, sama seperti Adrian telah menghancurkan dunianya.
Ia akan membiarkan luka-lukanya sembuh, membiarkan rahimnya yang "bersih" menjadi tempat lahirnya amarah yang baru. Adrian Thorne mungkin penguasa California, namun ia tidak tahu bahwa ia baru saja menciptakan musuh yang paling berbahaya: seorang wanita yang tidak lagi memiliki apa pun untuk dipertaruhkan.
Nora memejamkan mata, membiarkan obat bius yang diberikan perawat mulai bekerja, membawanya ke dalam tidur yang tanpa mimpi, sementara di luar sana, badai besar sedang bersiap untuk meluluhlantakkan siapa pun yang pernah menyentuhnya.