Update setiap hari
"Di rumah ini, aku adalah madu yang paling manis, namun di dalam nadiku mengalir racun yang paling mematikan."
Gendis hanyalah seorang wanita dengan tutur kata lembut dan senyum yang menenangkan. Tidak ada yang menyangka, di balik wajah polosnya, ia menyimpan dendam membara terhadap Maya—istri pertama dari pengusaha muda sukses, Baskara. Baginya, kebahagiaan yang Maya miliki saat ini dibangun di atas puing-puing kehancuran keluarga Gendis di masa lalu.
Demi menuntaskan dendamnya, Gendis rela menanggalkan harga diri. Ia masuk ke dalam rumah tangga itu sebagai istri kedua, menjadi bayang-bayang yang perlahan-lahan menggerogoti kebahagiaan Maya dari dalam. Dengan siasat yang begitu halus dan manis, Gendis merebut simpati ibu mertua yang kaku, perhatian para pelayan, hingga seluruh ruang di hati Baskara.
Setiap tetes air mata yang jatuh di rumah itu adalah bagian dari simfoni balasan Gendis. Namun, saat rencana besarnya hampir mencapai puncak dan Maya mul
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mbak Ainun, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 26: KERIKIL DI JALAN ASPAL
Deru mesin pesawat jet pribadi yang membawa Larasati dan Baskara membelah awan kelabu di atas langit Jakarta, seolah-olah mengumumkan bahwa Sang Ratu telah kembali dari masa pengasingannya. Namun, kali ini Larasati tidak merasa terbebani. Di jari manisnya, cincin akar pinus pemberian Baskara tetap melingkar, sebuah pengingat bisu bahwa kekuatannya tidak lagi berasal dari angka di bursa saham, melainkan dari ketulusan di lereng gunung.
"Kita mendarat dalam sepuluh menit, Laras," suara Aditama terdengar dari interkom. Suaranya tidak segembira biasanya. Ada nada kecemasan yang terselip di sana.
Baskara yang sedang membaca draf desain sekolah yayasan di tabletnya, segera menatap Larasati. "Aditama terdengar tegang. Sepertinya Jakarta tidak membiarkan kita beristirahat terlalu lama."
Larasati merapikan blazer putih gadingnya. "Jakarta memang tidak pernah tidur, Baskara. Ia hanya menunggu mangsa baru untuk dikuliti. Tapi kali ini, mereka akan mendapati bahwa mangsa mereka punya taring yang lebih tajam."
Begitu pintu pesawat terbuka, udara panas dan lembap Jakarta menyergap. Aditama sudah menunggu di bawah tangga pesawat dengan wajah yang ditekuk. Ia segera memberikan sebuah map berisi kliping berita pagi ini kepada Larasati.
"Baca ini, Laras. Ada pihak yang mencoba menggemboskan yayasan kita bahkan sebelum kita mengumumkan strukturnya," ucap Aditama cepat sambil berjalan menuju mobil.
Larasati membaca judul utama di sebuah portal berita bisnis ternama: "Yayasan Hardianto-Baskara: Kedok Pencucian Uang dari Aset Tersembunyi?" Di bawahnya, tertulis opini dari seorang pengamat ekonomi muda yang sedang naik daun, Adrian Wijaya, yang mempertanyakan asal-usul dana abadi Tuan Hardianto yang tiba-tiba muncul.
"Adrian Wijaya?" gumam Larasati, keningnya berkerut. "Siapa dia? Aku belum pernah mendengar namanya saat Tuan Kusuma berkuasa."
"Dia adalah 'anak emas' baru di dunia investasi," jelas Aditama. "Cerdas, licik, dan memiliki jaringan media yang sangat kuat. Rumornya, dia sedang mencoba membangun konsorsium properti baru dan merasa terancam dengan kembalinya Hardianto Group yang kini memiliki citra bersih. Dia ingin kita tetap terlihat kotor agar investor beralih kepadanya."
Baskara merebut map itu, matanya berkilat marah. "Pencucian uang? Dia berani menghina nama ayahmu, Laras? Aku akan menemuinya sekarang juga."
"Jangan, Baskara," cegah Larasati lembut namun tegas. "Itulah yang dia inginkan. Dia ingin kita bereaksi secara emosional agar dia punya bahan berita baru. Kita akan menghadapinya dengan cara yang lebih... elegan."
Kantor pusat Hardianto Group tampak sangat sibuk. Larasati berjalan melalui lobi, menyapa stafnya dengan kehangatan yang baru ia temukan di desa. Namun, suasana di ruang rapat lantai 32 kembali tegang. Tim humas dan tim hukum sudah berkumpul.
"Nona Larasati, tim hukum menyarankan agar kita menuntut Adrian Wijaya atas pencemaran nama baik," ucap salah satu pengacara senior.
Larasati duduk di kursi utama, meletakkan tasnya dengan tenang. "Menuntut hanya akan membuang waktu dan energi. Lagipula, dia menggunakan kalimat tanya di judul beritanya, itu trik hukum yang cerdik. Dia tidak menuduh secara langsung, dia hanya 'mempertanyakan'."
"Lalu apa rencana kita, Laras?" tanya Aditama.
Larasati menatap layar besar di depannya yang menampilkan profil Adrian Wijaya. Pria itu tampak muda, tampan, dengan senyum yang dipoles sedemikian rupa untuk terlihat jujur namun menyembunyikan ambisi yang rakus.
"Kita akan mengadakan konferensi pers besok pagi di lokasi pembangunan sekolah pertama kita, bukan di hotel mewah," putus Larasati. "Kita akan mengundang Adrian Wijaya secara pribadi sebagai 'tamu kehormatan'. Kita biarkan dia melihat langsung dokumen-dokumen dana abadi itu di depan publik. Jika dia ingin transparansi, kita akan memberikannya hingga dia silau oleh kebenaran."
Baskara tersenyum bangga. "Strategi yang bagus. Dia tidak akan menyangka kita akan mengajaknya ke lapangan."
Malam harinya, Larasati dan Baskara duduk di balkon apartemen mereka. Jakarta malam ini penuh dengan lampu yang berkelap-kelip, namun pikiran Larasati melayang kembali ke pesan ayahnya. Ia tahu, Adrian hanyalah kerikil kecil dibandingkan Tuan Kusuma, namun kerikil bisa membuat seseorang terpeleset jika tidak hati-hati.
Tiba-tiba, sebuah pesan masuk ke ponsel Larasati dari nomor yang tidak dikenal.
"Selamat datang kembali, Ratu. Jembatan di desa itu sangat indah, tapi apakah ia cukup kuat untuk menahan beban rahasia yang masih kamu simpan?"
Larasati tertegun. Ia menunjukkan pesan itu kepada Baskara. Wajah Baskara seketika mengeras.
"Siapa ini? Bagaimana dia tahu soal jembatan di desa?" tanya Baskara.
"Hanya warga desa dan Aditama yang tahu detailnya," bisik Larasati. "Atau... seseorang telah memata-matai kita selama di Ngargoyoso. Baskara, sepertinya Adrian Wijaya bukan hanya sekadar kompetitor bisnis. Dia punya informasi yang lebih dalam."
Baskara segera menghubungi tim keamanannya. "Perketat penjagaan di sekitar Larasati. Dan cari tahu semua koneksi Adrian Wijaya, termasuk siapa saja orang tuanya dan di mana dia tumbuh besar. Aku punya firasat dia punya hubungan masa lalu dengan Tuan Pratama atau Tuan Kusuma."
Larasati mencoba menenangkan diri. Ia tidak ingin ketakutan merusak malam pertamanya kembali di Jakarta. "Siapa pun dia, Baskara, dia sedang mencoba merusak kedamaian kita. Dia ingin kita merasa tidak aman di rumah kita sendiri."
Keesokan paginya, konferensi pers diadakan di sebuah lahan kosong di pinggiran Jakarta yang akan menjadi lokasi Sekolah Harapan 1. Puluhan wartawan sudah berkumpul, dan di barisan depan, Adrian Wijaya duduk dengan gaya yang sangat santai, seolah-olah ia sedang menonton pertunjukan teater.
Larasati naik ke podium darurat yang terbuat dari kayu sisa bangunan. Ia mengenakan kemeja putih dan celana panjang hitam, persis seperti saat ia di desa. Baskara berdiri di sampingnya, tampak seperti pelindung yang tak tergoyahkan.
"Terima kasih sudah datang," sapa Larasati. "Terutama kepada Saudara Adrian Wijaya yang telah memberikan perhatian besar pada yayasan kami melalui tulisannya kemarin."
Larasati menatap Adrian secara langsung. Adrian hanya mengangkat gelas air mineralnya dengan gerakan mengejek.
"Hari ini, saya tidak akan memberikan pidato panjang," lanjut Larasati. "Saya akan membuka seluruh dokumen audit dana abadi Tuan Hardianto yang telah disahkan oleh lembaga audit internasional. Tidak ada yang kami sembunyikan. Dana ini adalah murni warisan ayah saya yang diselamatkan dari tangan para pengkhianat."
Satu per satu dokumen ditampilkan di layar besar. Para wartawan sibuk memotret dan mencatat. Adrian Wijaya mulai tampak tidak nyaman. Ia tidak menyangka Larasati akan bertindak seberani ini.
"Dan untuk menjawab pertanyaan Saudara Adrian tentang 'rahasia' di balik jembatan desa," suara Larasati merendah namun tajam. "Satu-satunya rahasia adalah bahwa jembatan itu dibangun dengan tangan kami sendiri, tanpa satu rupiah pun uang korupsi. Jika Saudara Adrian ingin belajar tentang integritas, silakan datang ke Ngargoyoso. Kami punya banyak lowongan untuk buruh angkut semen."
Gelak tawa pecah dari kerumunan wartawan. Wajah Adrian Wijaya berubah menjadi merah padam. Ia berdiri dan mencoba menginterupsi.
"Nona Larasati, transparansi dokumen adalah satu hal, tapi bagaimana dengan moralitas seorang 'istri kedua' yang kini memimpin perusahaan besar? Apakah itu standar etika yang ingin Anda ajarkan di sekolah-sekolah yayasan Anda?" tanya Adrian dengan nada menghina.
Ruangan seketika sunyi. Baskara melangkah maju, namun Larasati menahan lengannya. Ia menatap Adrian dengan senyum yang paling manis, namun matanya sedingin es.
"Status saya sebagai 'istri kedua' di masa lalu adalah sebuah pengorbanan untuk mengungkap kebenaran, Saudara Adrian. Itu adalah bukti bahwa saya berani masuk ke dalam lumpur demi membersihkan rumah saya sendiri. Sedangkan Anda? Anda hanya berdiri di kejauhan, melemparkan kotoran ke rumah orang lain sambil berharap tangan Anda tetap bersih. Etika bukan tentang masa lalu yang pahit, tapi tentang apa yang Anda lakukan sekarang untuk masa depan orang banyak."
Tepuk tangan kembali membahana, lebih keras dari sebelumnya. Adrian Wijaya terdiam, ia menyadari bahwa ia baru saja menggali lubangnya sendiri di depan kamera televisi nasional. Ia segera meninggalkan lokasi dengan terburu-buru, diikuti oleh beberapa asistennya yang tampak malu.
Sore harinya, Aditama masuk ke ruangan Larasati dengan laporan baru. "Laras, tim keamanan Baskara menemukan sesuatu. Adrian Wijaya ternyata adalah anak angkat dari salah satu selingkuhan Tuan Pratama yang dulu diusir oleh Ibu Rahayu. Dia menyimpan dendam karena ibunya hidup menderita setelah keluarga Pratama jatuh."
Larasati menghela napas panjang. Ternyata, debu-debu masa lalu itu memang sangat sulit untuk benar-benar hilang. Selalu ada benang merah yang menghubungkan musuh-musuh baru dengan dendam-dendam lama.
"Dia bukan ingin harta, Adit. Dia ingin balas dendam untuk ibunya," gumam Larasati. "Pantas saja dia menyerang sisi pribadi dan moralitas saya."
Baskara masuk ke ruangan, membawakan secangkir kopi untuk Larasati. "Dia sudah kalah hari ini, Laras. Tapi dia tipe orang yang tidak akan berhenti sampai dia merasa impas."
Larasati meminum kopinya, menatap matahari yang terbenam di balik gedung-gedung tinggi. "Aku tidak akan membiarkan dia merusak apa yang sudah kita bangun, Baskara. Jika dia ingin perang, maka aku akan memberikannya sebuah perang yang akan membuatnya sadar bahwa dendam hanya akan membakar dirinya sendiri."