NovelToon NovelToon
TEN DYNASTY LEGEND ( Sepuluh Dinasti Legendaris )

TEN DYNASTY LEGEND ( Sepuluh Dinasti Legendaris )

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi Timur / Action / Epik Petualangan
Popularitas:3.4k
Nilai: 5
Nama Author: muhammad rivaldi

Chapter 1-20= Prologue & Origin Arc (Arc Pembuka dan Asal-usul)

Chapter 21- 35 = Sura Training Arc (Arc Latihan di Desa Sura)

Chapter 36 - 45 = Road to Tianjian Capital Arc ( Arc Perjalanan Menuju Ibu Kota Tianjian )

Chapter 46 - ? = Ten Dynasties Tournament Arc ( Arc Turnamen Sepuluh Dinasti )

Di tengah perang besar, seorang bayi misterius diselamatkan dari kejaran pasukan kerajaan. Bertahun-tahun kemudian, bayi itu tumbuh menjadi pemuda bernama Cang Li, yang hidup sederhana di sebuah desa kecil tanpa mengetahui masa lalunya.
Namun hidupnya mulai berubah ketika kekuatan aneh dalam dirinya bangkit sedikit demi sedikit. Kilatan petir ungu, rahasia kalung misterius, dan bayangan masa lalu perlahan membuka kebenaran tentang asal-usulnya.
Tanpa ia sadari, Cang Li adalah pusat dari rahasia besar yang dapat mengguncang dunia.
Kini, di tengah bahaya, pengkhianatan, dan kekuatan yang terus terbangun, Cang Li harus mencari tahu siapa dirinya sebenarnya… sebelum semuanya terlambat.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon muhammad rivaldi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 5— Identitas Yang Terkubur

Beberapa minggu telah berlalu sejak malam berdarah yang menelan Dinasti Leiting.

Namun meski api perang telah padam di permukaan, bara kehancuran itu belum benar-benar mati. Kabar tentang runtuhnya salah satu dinasti besar masih menyebar dari mulut ke mulut di antara para pedagang, pengelana, pendekar, dan bangsawan. Di pasar-pasar, orang-orang berbisik tentang pengkhianatan, tentang ramalan, tentang seorang putra kerajaan yang konon lenyap di tengah kobaran perang.

Tidak ada yang tahu mana yang benar.

Dan justru karena itulah, dunia menjadi semakin berbahaya.

Jauh dari pusat kekacauan itu, tersembunyi di sebuah wilayah terpencil milik Dinasti Tianjian, berdirilah sebuah desa kecil bernama Jianxin.

Desa itu terletak di lereng bukit sunyi, dikelilingi hutan pinus tua dan kabut tipis yang turun setiap pagi. Jalur menuju desa sempit dan berliku, cukup sulit ditemukan oleh orang luar kecuali mereka benar-benar tahu ke mana harus melangkah. Tidak ada pasar besar, tidak ada pasukan penjaga, tidak ada kemewahan dunia kultivasi.

Hanya rumah-rumah kayu sederhana, ladang kecil, suara ayam pagi, dan kehidupan yang berjalan pelan seperti waktu tak pernah terburu-buru.

Tempat seperti itu...

adalah tempat terbaik untuk mengubur sebuah rahasia.

Di ujung bukit yang sedikit terpisah dari rumah-rumah warga, berdiri sebuah rumah kayu sederhana dengan pagar bambu rendah dan halaman kecil yang ditumbuhi bunga liar.

Dari luar, rumah itu tampak biasa saja.

Terlalu biasa, bahkan.

Tak seorang pun akan menyangka bahwa di balik dinding kayu sederhana itu, tersembunyi salah satu rahasia paling berbahaya di seluruh sepuluh dinasti.

Di dalam rumah, suasana hangat menyelimuti ruangan.

Api kecil menyala pelan di tungku batu. Aroma teh herbal memenuhi udara, bercampur dengan wangi kayu pinus dan kain bersih yang baru dijemur. Sinar mentari pagi menembus celah jendela, jatuh lembut ke lantai papan yang rapi.

Di atas meja kecil, dua cangkir teh masih mengepulkan uap tipis.

Dan di hadapan meja itu, duduk dua orang.

Salah satunya adalah Ye Chen.

Yang satunya lagi adalah seorang wanita berwajah tenang dengan kecantikan yang lembut namun berkelas. Rambut hitam panjangnya digelung sederhana, dengan beberapa helai jatuh halus di sisi wajah. Pakaiannya tidak mewah, tetapi rapi dan bersih. Gerak-geriknya anggun, matanya jernih, dan auranya membawa ketenangan yang jarang dimiliki orang biasa.

Dialah Ye Ruoxi yg merupakan Kakak kandung Ye Chen.

Berbeda dari adiknya yang terbiasa hidup di ujung pedang dan medan darah, Ye Ruoxi memiliki ketenangan seperti danau yang dalam. Namun siapa pun yang cukup peka akan tahu bahwa di balik kelembutan itu, ada keteguhan yang sulit digoyahkan.

Di sudut ruangan, tak jauh dari tempat mereka duduk, sebuah ranjang kecil dari kayu diletakkan dekat jendela. Di atasnya, seorang bayi sedang tertidur pulas, tubuh mungilnya terbungkus kain hangat, napasnya teratur dan damai.

Begitu jauh dari dunia kejam yang telah membunuh kedua orang tuanya sebelum ia bahkan sempat mengenali suara mereka.

Ye Ruoxi menatap bayi itu cukup lama sebelum akhirnya mengalihkan pandangan ke arah adiknya.

Sementara itu, Ye Chen duduk diam dengan kedua tangan saling bertaut.

Tatapannya sedikit kosong.

Bukan karena tidak tahu harus berkata apa.

Melainkan karena terlalu banyak hal yang harus diceritakan dan semuanya terlalu berat.

Suara tungku kayu yang berderak pelan memenuhi ruangan beberapa saat, sebelum akhirnya Ye Ruoxi membuka suara terlebih dahulu.

“Kau belum tidur semalaman lagi, ya?”

Nada suaranya lembut, tapi bukan pertanyaan kosong.

Ye Chen menampilkan senyum yang begitu samar hingga hampir tak bisa disebut sebagai senyuman , lalu ia berkata pelan, “Aku sulit tidur.”

Ye Ruoxi menatap luka yang masih samar terlihat di leher dan tangan adiknya.

Ia tahu Ye Chen terluka cukup parah saat datang ke rumah ini beberapa hari lalu. Tubuhnya dipenuhi bekas pertempuran, pakaiannya penuh darah, dan di pelukannya ada bayi yang terus menangis tanpa henti.

Ia tidak langsung bertanya waktu itu.

Karena melihat keadaan Ye Chen saja sudah cukup untuk membuatnya mengerti—

sesuatu yang sangat besar telah terjadi.

Kini, setelah beberapa minggu berlalu dan luka-luka mulai mengering, Ye Ruoxi akhirnya tahu waktunya telah tiba.

Ia menuangkan teh hangat ke dalam cangkir milik Ye Chen, lalu mendorongnya perlahan ke hadapannya.

“Bisakah kau menceritakan apa yang terjadi saat perang itu berlangsung?”

Ye Chen menatap uap tipis yang mengepul dari cangkirnya sejenak.

Kemudian, perlahan, ia mulai berbicara dengan suara rendah dan berat.

Setiap kalimat yang keluar terasa seperti mengangkat potongan batu dari dalam dadanya sendiri.

Ia menceritakan bagaimana Dinasti Leiting diserang secara mendadak.

Bagaimana istana utama jatuh dalam kekacauan.

Bagaimana darah bangsawan dan prajurit membasahi aula kekaisaran.

Bagaimana Lu Feng datang mencarinya di bangunan tua itu dengan tubuh berlumuran darah, sambil membawa seorang bayi kecil yang bahkan belum mengerti bahwa dunia telah menjatuhkan vonis mati kepadanya.

Ye Ruoxi tidak menyela, ia hanya diam mendengarkan.

Namun, seiring cerita itu berlanjut, perubahan di wajahnya mulai terlihat jelas—dari yang semula tenang, perlahan berubah menjadi tegang, lalu akhirnya terdiam dalam kesunyian.

Dan ketika Ye Chen akhirnya menceritakan tentang kematian Kaisar dan Permaisuri Leiting, tangan Ye Ruoxi yang semula memegang cangkir teh perlahan berhenti.

“Ayahnya gugur di aula utara,” kata Ye Chen pelan. “Sedangkan ibunya...”

Ia terdiam sejenak.

Tatapannya jatuh ke arah bayi yang tertidur di ranjang kecil.

Lalu suaranya menjadi lebih rendah.

“...mati sambil memeluk anak ini agar tidak direbut dari tangannya.”

Ruangan itu mendadak terasa lebih sunyi dari sebelumnya.

Bahkan suara angin dari luar jendela pun seperti menahan diri.

Ye Ruoxi menundukkan pandangannya, dan matanya tampak sedikit bergetar.

Sebagai seorang wanita, sebagai seorang kakak, dan sebagai seseorang yang hidup cukup lama untuk memahami rasa kehilangan...

ia bisa membayangkan seberapa putus asanya seorang ibu di detik-detik terakhir hidupnya.

Tatapannya kembali tertuju pada bayi kecil itu.

Begitu kecil dan tampak begitu damai.

Sulit dipercaya bahwa ada empat dinasti besar yang rela menumpahkan darah demi membunuh seorang anak sekecil itu.

“Jadi...” suara Ye Ruoxi sangat pelan, “semua ini karena ramalan?”

Ye Chen mengangguk pelan, sementara tatapannya berubah menjadi lebih tajam dan tegas.

“Ramalan itu menyebar lebih cepat dari yang seharusnya”,ujar Ye Chen.

Ia menggenggam cangkir tehnya sedikit lebih erat.

“Semua orang percaya bahwa anak ini… kelak akan menjadi sosok yang menyatukan sepuluh dinasti menjadi satu,” ujar Ye Chen.

Ye Ruoxi mengangkat pandangan perlahan.

Ye Chen melanjutkan, kali ini dengan nada yang lebih berat.

“Dia mewarisi garis darah Petir Kuning Surgawi milik keluarga kekaisaran Leiting. Kekuatan itu adalah berkah... sekaligus kutukan.”

Tatapannya berubah suram.

“Kalau kekuatan itu bangkit, dia bisa menjadi simbol harapan.”

Ia diam sejenak lalu melanjutkan pembicaraan lagi.

“...atau alasan dunia kembali tenggelam dalam perang.”

Ye Ruoxi hanya terdiam, dan pagi yang semula hangat itu tiba-tiba terasa lebih dingin.

“Dan karena itulah,” lanjut Ye Chen, “Dinasti Huangtu, Longhuang, Moyuan, dan Fenyan memilih bergerak lebih dulu. Mereka tidak ingin menunggu masa depan datang.”

Suara tungku kembali terdengar, sementara api kecil di dalamnya meletup pelan.

Ye Chen menunduk, seolah masih dapat melihat kembali malam itu, lalu ia pun menceritakan segalanya kepada Ruoxi, termasuk tentang Lu Feng.

Ye Chen menarik napas panjang, lalu kembali berbicara.

“Lu Feng datang padaku bukan sebagai putra mahkota.”

Matanya sedikit meredup.

“Dia datang sebagai seorang kakak.”

Ye Ruoxi mendengar kan apa yg Ye Chen bilang.

Ye Chen melanjutkan dengan suara rendah.

“Dia tahu dia mungkin tidak akan selamat malam itu. Tapi tetap saja, dia memilih mempercayakan adiknya padaku.”

Tatapan Ye Chen perlahan berubah menjadi tajam dan penuh ketegasan.

“Aku juga bertarung melawan Han Li di hutan perbatasan.”

Saat menyebut nama itu, ada kilatan dingin di matanya.

“Han Li mengatakan bahwa Lu Feng telah tewas.”

Ye Ruoxi sedikit menegang. “Apakah kau percaya apa yang dia bilang?”

Ye Chen tidak langsung menjawab. Ia hanya menatap ke luar jendela, ke arah langit pagi yang perlahan semakin terang.

“Aku...” suaranya melambat, “tidak tahu.”

Itulah jawaban paling jujur yang bisa ia berikan.

Karena di satu sisi, serangan Han Li memang terdengar cukup mematikan untuk mengubur siapa pun.

Namun di sisi lain...

sesuatu di dalam dirinya masih sulit menerima bahwa seseorang seperti Lu Feng akan benar-benar mati semudah itu.

“Kalau dia masih hidup,” lanjut Ye Chen, “maka suatu hari nanti pasti dia akan datang.”

Tatapannya turun kembali pada bayi kecil itu.

“Dan kalau dia memang benar-benar tewas ...”

Suara Ye Chen berubah menjadi lebih tegas dan penuh tekanan.

“Maka anak ini adalah satu-satunya warisan yang tersisa dari Dinasti Leiting yang asli.”

Keheningan kembali turun.

Ye Ruoxi memandangi bayi itu cukup lama.

Wajahnya yang semula tenang perlahan berubah, diliputi perasaan yang lebih dalam—belas kasihan.

Bukan belas kasihan yang merendahkan, melainkan rasa iba yang tulus, lahir dari hati seorang wanita yang menyadari bahwa anak kecil itu bahkan belum sempat memilih nasibnya sendiri.

“Jadi...” ucapnya perlahan, “bayi kecil ini benar-benar seorang pangeran yang sedang diburu seluruh dunia?”

“Kau benar,” ujar Ye Chen singkat.

“Nama aslinya adalah Yel Feng,” lanjutnya sambil menatap bayi itu. “Nama itu diberikan langsung oleh Lu Feng sebelum kami berpisah.”

Ia mengembuskan napas pelan, seolah melepaskan beban yang tertahan.

“Namun nama itu harus mati mulai hari ini.”

Ye Ruoxi menoleh menatap adiknya, dan Ye Chen membalas tatapan itu dengan sorot mata yang tak tergoyahkan.

“Identitas itu harus dikubur sedalam mungkin,” katanya. “Kalau dunia tahu siapa dia sebenarnya, maka perang yang baru saja berakhir hanya akan menjadi awal dari bencana yang lebih besar.”

Ye Ruoxi memahami maksud itu.

Selama anak ini masih membawa nama Leiting, selama darahnya masih dianggap sebagai simbol ramalan, selama orang-orang masih percaya bahwa ia adalah kunci masa depan—

Maka hidupnya tidak akan pernah tenang; ia akan terus diburu, dikurung, dimanfaatkan, atau bahkan dibunuh.

Matahari pagi mulai naik perlahan di balik perbukitan, melemparkan cahaya keemasan lembut ke dalam ruangan. Sinar itu jatuh tepat ke wajah bayi kecil di ranjang.

Ye Ruoxi menatap pemandangan itu cukup lama.

Lalu tanpa sadar, matanya sedikit melunak.

“Kalau begitu...” katanya pelan, “mari kita beri dia kehidupan baru.”

Ye Chen hanya diam.

Ye Ruoxi berdiri dari tempat duduknya, lalu berjalan perlahan ke arah jendela. Ia menatap mentari yang sedang naik, membelah kabut pagi di lereng bukit.

Wajahnya tersentuh cahaya hangat, lalu dengan suara tenang ia berkata, “Kita beri dia nama Cang Li.”

Ye Chen sedikit mengangkat kepala, sementara Ye Ruoxi menoleh ke arahnya.

“Apa artinya?” tanya Ye Chen, meski samar-samar ia sudah mengetahui jawabannya.

Ye Ruoxi tersenyum tipis.

Bukan senyum lebar.

Hanya senyum lembut yang mengandung harapan.

“Cang berarti langit yang luas, tempat segala takdir berputar.”

Tatapannya kembali ke arah mentari.

“Dan Li berarti fajar.”

Ia memandang bayi kecil itu.

“Semoga dia tumbuh bukan sebagai pertanda kehancuran...”

Suaranya merendah, namun justru terasa lebih kuat.

“...melainkan sebagai fajar baru yang membawa kedamaian.”

Untuk sesaat, Ye Chen tidak menjawab.

Ia hanya menatap bayi kecil itu dalam diam.

Cang Li.

Sebuah nama yang sederhana dan tidak mencolok, cukup biasa untuk seseorang yang ingin menjalani hidup tenang di desa kecil.

Namun justru dalam kesederhanaannya, nama itu terasa begitu tepat—seperti lembaran baru yang menutupi jejak darah dan api dari masa lalu.

Ye Chen akhirnya mengangguk pelan.

“Baik.”

Ia menatap wajah bayi itu lebih lama.

Lalu dengan suara yang jauh lebih mantap, ia berkata—

“Mulai hari ini... namamu adalah Cang Li.”

Tangannya bergerak perlahan, membenarkan selimut tipis yang menutupi tubuh kecil itu.

Dan untuk pertama kalinya, kata-kata berikut keluar dari bibirnya tanpa ragu sedikit pun.

“Dan dia... udah ku anggap sebagai putraku.”

Ye Ruoxi menoleh cepat, matanya sedikit melebar.

Bukan karena sepenuhnya terkejut, melainkan karena ia tahu—ucapan itu bukanlah sesuatu yang diutarakan sembarangan.

Itu adalah sebuah keputusan, keputusan yang akan mengikat Ye Chen seumur hidup.

“Chen...” panggilnya pelan.

Namun Ye Chen hanya menatap bayi itu dengan sorot yang tak bisa lagi ditarik kembali.

“Kalau dunia ingin membunuhnya,” katanya rendah, “maka dunia harus melewatiku lebih dulu.”

Di luar rumah, angin pagi bertiup pelan.

Dan di dalam rumah kecil itu, seorang pangeran yang seharusnya mati malam itu... akhirnya lahir kembali dengan nama baru.

End Chapter 5

1
KETUA SEKTE
Jelek👍
KETUA SEKTE
👍💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!