Di dunia di mana gerbang dimensi terbuka dan monster mulai menginvasi bumi, garis antara pahlawan dan penjahat menjadi kabur. seorang pria yang terjebak dalam takdir sebagai antagonis, raja naga kehancuran terbangun di tubuh manusia bumi bernama voltra.
Sang Raja Naga Kehancuran, entitas yang ditakdirkan menjadi villain sejati, kini terjebak dalam raga manusia yang lemah. Alih-alih menghancurkan dunia, ia justru terikat oleh tanggung jawab yang tak pernah ia bayangkan: seorang adik perempuan dan kewajiban menjadi seorang Hunter.
Terjebak dalam dilema antara identitas aslinya sebagai penghancur dan peran barunya sebagai kakak sekaligus pembasmi monster. Memilih antara harapan atau kehancuran?.
-LATAR CERITA DI INDONESIA
-KARAKTER PENTING ADA ILUSTRASI
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Natelashura7, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 5 asosiasi Indonesia
"kupikir kau akan membawa ku untuk interogasi" ujar voltra duduk disamping Alina, mereka sedang berada di mobilnya mewah.
"Awalnya begitu, tapi memaksa mu keliatan tidak berguna" Balas Alina melirik. "Aku melihat rekaman bertarung mu dengan wolf kemarin. Meskipun hanya monster tingkat B, tapi umumnya dibutuhkan party berisi tiga hunter rank A untuk menaklukkannya" Lanjutnya menunjukkan rekaman di ponselnya.
Voltra mendengus, dia lupa kalau manusia memilih teknologi seperti itu. Andai dia tidak terburu buru mungkin bukti CCTV bisa ia hilangkan, tapi sudahlah, yang terjadi sudah berlalu dan tidak perlindungan ia sesali.
"Aku mencari semua informasi tentang mu. Terakhir kamu terlibat dalam perburuan ilegal di gate yang disembunyikan dari pemerintah" ujar Alina membuat voltra terdiam.
"Yah secara teknis itu bukan aku, itu voltra asli. Tapi karena aku menempati tubuhnya sekarang, aku tidak bisa membantah fakta itu" Batin voltra berpikir sebentar.
"Meskipun Indonesia adalah negara besar, kita baru memasuki orde baru setelah kemunculan gate pertama kali" ucap Alina menyandarkan punggungnya. "Banyak negara memasuki masa pemulihan, termasuk kita" Lanjutnya.
Insiden gate pertama adalah sebuah tragedi, para monster keluar begitu saja, hanya senjata berat seperti rudal balistik ataupun nuklir yang mempan. Korban jiwa berjatuhan setiap detiknya, perlu sekitar tiga tahun bagi manusia beradaptasi menjadi hunter dan bisa melawan balik.
"Kenapa? Lagipula ada hunter rank S dan jumlahnya enam bukan" gumam voltra santai.
"Tetap saja tidak mudah, negara kita ke pulauan itu membuat gate bisa muncul secara random ditempat terpencil yang sulit di akses" Balas Alina menggelengkan kepalanya. "Kau punya potensi, sebaiknya menjadi hunter secara resmi" Lanjutnya menyarankan.
"Aku bekerja independen, jangan menyangka aku mau bergabung dengan guild mu" ucap voltra tersenyum kecil. "Tapi baiklah.... Lagipula aku sudah menganggap Indonesia sebagai wilayah ku" Lanjutnya mengingat vanya.
Mobil ditumpangi mereka berhenti di depan gedung Asosiasi hunter, kebetulan sekali voltra ingin protes soal pajak magic stone dan ia berniat menurunkan pajak menjadi sangat rendah. Keduanya berjalan menuju gedung itu
Gedung Asosiasi Hunter menjulang tinggi di hadapan mereka, sebuah monumen kekuasaan manusia baru di atas reruntuhan dunia lama. Begitu Voltra dan Alina melangkah masuk, keheningan mendadak menyelimuti lobi yang tadinya ramai. Para Hunter dan staf membeku melihat sang Hunter Rank S termuda berjalan berdampingan dengan seorang remaja berantakan yang mengenakan jaket kumal.
"Nona Alina! Siapa dia?" tanya seorang petugas keamanan yang segera mendekat, namun Alina hanya mengangkat tangan, memberi isyarat agar mereka menyingkir.
"Dengar, Manusia Es" bisik Voltra saat mereka berjalan menuju lift khusus. "Aku tidak tertarik dengan birokrasi kalian. Tapi ada satu hal yang membuatku muak: Pajak" Lanjutnya menekankan.
"Pajak? Kau mengeluh soal kontribusi negara di saat kau baru saja membantai monster serigala sendirian?" Tanya Alina mengernyit sambil menekan tombol lift.
"Dua puluh persen itu perampokan!" Voltra mendengus, tangannya bersedekap di dada. "Aku mempertaruhkan nyawa di dalam dimensi busuk itu, dan manusia-manusia yang kerjanya hanya stempel kertas mengambil bagianku?" ucap voltra masih kesal tentang kejadian kemarin.
"Pajak itu untuk membiayai pertahanan sipil. Tapi, jika kau lulus tes Hunter resmi dan mendapatkan lisensi Rank tinggi, potongan pajaknya akan jauh lebih rendah. Hunter Rank S bahkan hampir tidak dipotong pajak karena mereka dianggap aset strategis" balas Alina menjelaskan secara Sederhana.
Mata Voltra seketika berbinar—bukan karena ambisi heroik, tapi karena keserakahan yang murni. Rank S sangat langka, mereka Ibaratkan senjata khusus dimana mendapatkan hak sangat istimewa.
"Oh? Jadi kalau aku jadi yang terkuat di sini, aku tidak perlu memberi mereka koin satu pun?" Tanya voltra lagi.
"Secara teknis, ya" jawab Alina singkat.
Mereka sampai di ruang evaluasi bawah tanah yang dilapisi dinding reinforced mana-steel. Di sana terdapat bola kristal raksasa yang dikelilingi perangkat komputer canggih.
"Letakkan tanganmu di sana. Ini akan mengukur kapasitas inti manamu dan memberikanmu Rank resmi" instruksi Alina.
Begitu telapak tangan Voltra menyentuh permukaan dingin kristal tersebut, ruangan mulai bergetar. Lampu-lampu berkedip liar. Para peneliti di balik kaca pelindung mulai panik melihat angka di layar monitor yang melonjak drastis, lalu tiba-tiba turun ke titik nol, lalu melonjak lagi.
"Sistemnya tidak stabil! Apa yang terjadi?!" teriak salah satu peneliti.
Alina menatap Voltra dengan cemas. Ia bisa melihat asap hitam tipis mulai keluar dari sela-sela jari Voltra. Retakan halus muncul di permukaan bola kristal terkuat milik Asosiasi itu. Voltra segera menarik tangannya sebelum semuanya meledak. Ia mengibaskan tangannya santai.
"Mainanmu terlalu rapuh" ucap Voltra datar.
Layar monitor besar di ruangan itu akhirnya berhenti berkedip dan menampilkan hasil evaluasi.
[IDENTIFIKASI SELESAI] NAMA: VOLTRA MANA CAPACITY: ERROR (UNMEASURABLE) ESTIMASI RANK: RANK S (PROVISIONALLY)].
"Bola itu dibuat di China, harganya lumayan mahal" ucap Alina memberitahu.
"Hah?" Kaget voltra.
Sial dia sedang miskin sekarang. Voltra masih bisa mengelak jika tentang pajak, tapi saat ini dia menghancurkan karena perbuatan yang disengaja, sebagai seorang raja menghancurkan properti berharga tanpa pengganti adalah penghinaan bagi diri sendiri.
"Kau tidak bilang itu mahal" teriak voltra panik.
"Kau sendiri tidak tanya, tenanglah aku yang akan mengganti biayanya" Balas Alina menenangkan.
"Nah itu baru naga betina yang baik" ucap voltra kembali tenang.
"Berhenti memanggilku 'naga betina'! Namaku Alina!" bentak Alina meski wajahnya sedikit memerah karena sebutan aneh itu.
"Terserah. Kau kaya, kau cantik, dan kau punya sisik—ah tidak, maksudku aura yang kuat. Itu sudah cukup masuk kriteria naga betina di duniaku" ucap Voltra santai, melupakan kepanikannya soal uang tadi.
"Aneh sekali, bahkan hunter wanita nomor satu rusia yang dikenal memiliki mana terbanyak masih bisa diukur oleh bola krystal itu" Batin Alina menatap punggung voltra.
Rekor dunia hunter dengan mana tertinggi adalah 1088 dari hunter rank s wanita rusia, bahkan itu juga karena kategori adalah mage kelas atas. Sementara Alina tidak melihat voltra adalah seorang mage, Alina menutup mata sejenak.
"Sekarang apa?" Tanya voltra.
"Melakukan tes apa kelas mu" jawab Alina.
"Hah untuk apa aku masuk sekolah lagi" Heran voltra.
"Bukan itu bodoh, kelas yang dimaksudkan kau masuk kategori apa antara swordman, mage, tank, healer" ucap Alina berkacak pinggang. "Sebagai contoh aku adalah seorang Swordsman karena aku adalah hunter yang mengandalkan kecepatan" Lanjutnya memberitahu.
"Tidak usah menjelaskan, melihat mu saja aku sudah tau" Balas voltra datar.
"Pria ini menyebalkan sekali" Batin alina menahan diri agar tidak menarik rambut pria itu. "Sabar, orang sabar disayang Tuhan" Lanjutnya mengingatkan.