Sepuluh ribu tahun yang lalu, Kaisar Pedang Kekosongan, Jian Chen, dikhianati oleh tunangannya (Permaisuri Surgawi Luo Xue) dan saudara angkatnya saat mencoba menerobos ke Alam Ilahi Primordial. Jiwanya hancur berantakan. Namun, setetes Darah Primordial misterius yang ia temukan di Reruntuhan Kekacauan menyelamatkan satu fragmen jiwanya.
Sepuluh ribu tahun kemudian, Jian Chen terbangun di tubuh seorang pemuda bernama sama di Benua Bintang Jatuh (Dunia Fana terendah). Pemuda ini dikenal sebagai "Sampah Bawaan" yang meridiannya hancur. Dengan ingatan masa lalunya, pengetahuan alkimia tingkat dewa, dan teknik kultivasi terlarang Seni Melahap Surga Primordial, Jian Chen memulai kembali langkahnya dari bawah. Ia bersumpah untuk membelah langit, menghancurkan para pengkhianat yang kini telah menjadi Penguasa Surga, dan mengungkap rahasia sejati di balik Darah Primordial.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Baldy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Barang Rongsokan
Angin musim gugur meniupkan dedaunan kering melintasi halaman reyot di sudut paling sepi Kediaman Klan Jian.
Jian Chen duduk bersila di atas ranjang kayunya, mengabaikan keributan yang pasti sedang terjadi di aula utama klan setelah ia melumpuhkan Jian Hu. Di pangkuannya, tergeletak sebuah kantong kain berisi dua puluh butir Pil Pengumpul Qi tingkat rendah dan dua ratus Koin Emas yang ia rampas dari Paviliun Bela Diri.
Bagi seorang murid klan biasa, dua puluh pil adalah sumber daya yang cukup untuk berkultivasi selama dua hingga tiga bulan. Mereka harus mencerna setiap pil dengan hati-hati, membiarkan energi spiritual meresap secara perlahan agar meridian mereka yang rapuh tidak meledak karena kelebihan beban.
Namun, Jian Chen tidak memiliki meridian fana. Ia memiliki Meridian Primordial. Dan yang terpenting, ia memiliki kuali pereduksi yang paling rakus di seluruh alam semesta.
Tanpa keraguan sedikit pun, Jian Chen membuka mulut kantong itu dan menuangkan seluruh dua puluh butir Pil Pengumpul Qi langsung ke dalam mulutnya sekaligus.
Jika Penatua Li atau ahli medis klan melihat tindakan bunuh diri ini, mereka pasti akan pingsan karena terkejut. Menelan dua puluh pil sekaligus bagi kultivator tingkat rendah setara dengan menelan bahan peledak!
Glup.
Pil-pil itu meluncur ke lambungnya. Seketika, energi spiritual yang masif meledak layaknya badai di dalam perutnya.
Namun, sebelum badai itu sempat melukai organ dalamnya, pusaran hitam kelam di Dantian Jian Chen berputar dengan kecepatan yang mengerikan. Seni Melahap Surga Primordial bangkit layaknya naga hitam yang kelaparan, membuka rahangnya dan menelan badai energi itu dalam satu tegukan mutlak.
BZZZT!
Sembilan puluh persen kotoran di dalam dua puluh pil itu langsung dibumihanguskan menjadi ketiadaan. Sisa energi perak yang sangat murni dialirkan melalui Meridian Primordial-nya yang berwarna keemasan. Aliran Qi itu membanjir deras, menyirami sel-sel tubuhnya bagai hujan lebat yang turun di padang pasir yang retak.
Hanya butuh waktu sepuluh napas.
Jian Chen menghembuskan napas panjang, mengeluarkan seutas udara keruh dari mulutnya. Ia membuka matanya, dan seberkas cahaya keemasan melintas di kedalaman pupilnya.
"Kondensasi Qi Tingkat Empat... Menengah," gumam Jian Chen, senyum masam tersungging di bibirnya.
Ia menggelengkan kepalanya pelan. "Dua puluh pil... jumlah yang seharusnya bisa mendorong kultivator Tingkat Empat biasa mencapai puncak tingkatannya, hanya mampu mendorongku selangkah ke tahap Menengah. Fondasi dari Meridian Primordial memang luar biasa kuat, tetapi wadahnya terlalu besar. Ini benar-benar jurang tak berdasar."
Untuk mencapai Tingkat Lima, ia memperkirakan akan membutuhkan setidaknya seratus pil tingkat rendah, atau sepuluh pil tingkat menengah. Mengandalkan jatah bulanan klan jelas adalah sebuah lelucon. Ia butuh sumber uang yang masif, dan ia membutuhkannya segera sebelum Turnamen Klan dimulai dua bulan lagi.
Jian Chen bangkit berdiri. Ia mengambil sehelai jubah hitam panjang dan sebuah topi bambu bercadar hitam dari lemari tuanya. Identitasnya sebagai "sampah klan" yang tiba-tiba menjadi kuat pasti akan menarik perhatian mata-mata faksi Paman Kedua. Untuk urusan bisnis di luar, ia harus bergerak di bawah radar.
Setelah mengenakan penyamarannya, sosok Jian Chen sepenuhnya tertutup. Ia menyelipkan empat bilah cakar Macan Kumbang Bayangan dan kantong koin emasnya di balik jubah, lalu melompat keluar melalui jendela belakang kamarnya, menyelinap dari kediaman Klan Jian layaknya hantu di siang bolong.
Kota Daun Gugur adalah salah satu kota perdagangan yang cukup makmur di perbatasan Kerajaan Angin Langit. Jalanan utamanya dilapisi batu granit yang rapi, dipenuhi oleh kereta kuda, pedagang keliling, tentara bayaran yang membawa senjata berlumuran darah kering, dan para kultivator dari berbagai faksi.
Tujuan Jian Chen adalah bangunan tertinggi dan termegah di pusat kota: Paviliun Bintang Emas.
Paviliun ini bukan milik Klan Jian, Klan Zhao, atau keluarga lokal mana pun. Ini adalah cabang dari serikat dagang raksasa yang memiliki jaringan di seluruh benua. Bahkan penguasa Kota Daun Gugur pun harus bersikap sopan kepada manajer paviliun ini. Di sini, emas adalah raja, dan tidak ada yang peduli dari mana asal barang yang dijual asalkan kualitasnya bagus.
Jian Chen melangkah masuk melewati pintu kayu mahoni ganda. Aroma gaharu yang menenangkan langsung menyambutnya. Lantai pertama dipenuhi oleh berbagai rak kristal yang memajang senjata, baju besi, dan herbal tingkat rendah.
Seorang pelayan wanita cantik berpakaian sutra merah segera menghampirinya, tidak terpengaruh oleh penampilannya yang tertutup rapat. Di tempat ini, pelanggan misterius adalah hal yang biasa.
"Selamat datang di Paviliun Bintang Emas, Tuan. Ada yang bisa saya bantu?" tanyanya sambil tersenyum profesional.
Jian Chen merendahkan suaranya, menggunakan Qi untuk memodifikasi pita suaranya sehingga terdengar seperti pria dewasa yang serak. "Aku ingin menjual bahan dari Binatang Iblis. Panggilkan penilaiku."
Merasakan ketenangan dan aura dingin dari pria berjubah itu, pelayan tersebut mengangguk hormat. "Silakan ikuti saya ke ruang penilaian."
Di dalam ruangan pribadi yang diterangi cahaya batu pendar, seorang pria paruh baya berkumis tipis sedang mengamati sebuah gulungan. Dia adalah Penatua Qian, salah satu penilai senior di paviliun cabang ini.
"Tuan ini ingin menjual material," kata pelayan itu sebelum undur diri.
Penatua Qian menatap Jian Chen dengan pandangan menilai. "Silakan keluarkan barang Anda, Kawan. Paviliun Bintang Emas kami selalu memberikan harga yang adil."
Jian Chen tidak membuang waktu. Dari balik jubahnya, ia meletakkan empat bilah cakar hitam legam yang melengkung tajam ke atas meja kayu. Udara di dalam ruangan itu tiba-tiba menjadi sedikit lebih dingin akibat aura sisa dari cakar tersebut.
Mata Penatua Qian sedikit melebar. Ia segera mengambil sebuah kaca pembesar bertatahkan kristal dan mengamati cakar itu dengan teliti.
"Cakar Macan Kumbang Bayangan... Tingkat 1 Kelas Menengah," gumam Penatua Qian, nada suaranya seketika berubah menjadi jauh lebih hormat. "Luar biasa. Pemotongan pada pangkal tulang rawan ini sangat sempurna. Tidak ada satu pun serat elemen angin di dalam cakar ini yang bocor. Bahkan tentara bayaran veteran pun jarang bisa mengekstrak cakar dengan kesempurnaan seperti ini!"
Penatua Qian menatap Jian Chen dengan kekaguman yang disembunyikan. Ia mengira sosok di balik cadar bambu ini adalah seorang pemburu elit atau kultivator tingkat tinggi yang sedang kebetulan lewat.
"Cakar Macan Kumbang Bayangan biasa dihargai 150 Koin Emas per buah. Tapi karena kualitas ekstraksinya yang sempurna, paviliun kami bersedia membelinya seharga 200 Koin Emas per buah. Total 800 Koin Emas. Bagaimana?" tawar Penatua Qian.
"Sepakat," jawab Jian Chen singkat. Harga itu cukup adil menurut pengetahuannya tentang pasar fana saat ini.
Setelah menerima sekantong penuh kepingan emas yang berat, Jian Chen kini memiliki total 1.000 Koin Emas. Ini adalah kekayaan yang cukup besar; sebuah keluarga petani fana bisa hidup makmur selama sepuluh tahun dengan uang sebanyak itu.
"Apakah Anda membutuhkan hal lain, Tuan? Kami baru saja menerima pengiriman pil dan senjata dari ibu kota," tawar Penatua Qian dengan ramah.
"Aku akan melihat-lihat sendiri," jawab Jian Chen sambil berbalik keluar.
Jian Chen berjalan menyusuri rak-rak di lantai pertama. Tujuan sebenarnya datang ke sini, selain menjual cakar, adalah mencari kuali alkimia. Meskipun ia bisa menggunakan tubuhnya sebagai tungku menggunakan Seni Melahap Surga Primordial, meracik pil di dalam perut terlalu berisiko untuk herbal yang keras, dan efisiensinya tidak akan pernah bisa mengalahkan kuali sungguhan.
Namun, semua kuali yang dipajang di rak lantai pertama hanyalah barang rongsokan dari perunggu murah yang tidak akan bisa menahan panas api alkimia lebih dari tiga kali.
Tepat ketika Jian Chen hendak melangkah ke lantai dua, langkahnya mendadak terhenti.
Di kedalaman lautan jiwanya, setetes Darah Primordial tiba-tiba berdenyut pelan. Denyutan itu tidak kuat, namun cukup untuk membuat Jian Chen menoleh ke arah sebuah sudut berdebu di dekat tangga.
Itu adalah rak "Barang Rongsokan Kuno"—tempat Paviliun membuang artefak-artefak tak dikenal yang rusak atau berkarat dari para penjelajah makam, dijual dengan harga tebakan.
Jian Chen berjalan perlahan ke arah rak tersebut. Matanya yang tajam menyapu tumpukan pedang patah dan zirah berkarat, hingga tatapannya terpaku pada sebuah cincin besi berwarna hitam pekat.
Cincin itu sangat jelek, permukaannya kasar, dan dipenuhi oleh retakan kecil yang menyerupai jaring laba-laba. Tidak ada fluktuasi Qi yang terpancar darinya. Siapa pun akan mengiranya sebagai cincin besi murahan seharga satu koin tembaga.
Namun, mata Jian Chen, mantan Kaisar Pedang Kekosongan, tidak bisa ditipu. Terutama ketika jiwanya sangat peka terhadap elemen ruang (Void).
Ini... fluktuasi spasial? Tidak, ini bukan sekadar Cincin Penyimpanan (Spatial Ring) biasa. Retakan di permukaannya ini adalah Formasi Penyegelan Kuno yang rusak parah, batin Jian Chen, jantungnya berdetak sedikit lebih cepat.
Di Dunia Fana seperti Benua Bintang Jatuh, bahkan sebuah Kantong Penyimpanan (Spatial Bag) tingkat rendah bernilai puluhan ribu koin emas dan hanya dimiliki oleh para Tetua Sekte besar. Memiliki Cincin Penyimpanan adalah hal yang nyaris mustahil!
Jian Chen mengulurkan tangannya untuk mengambil cincin berkarat itu.
Namun, tepat sebelum jemarinya menyentuh logam dingin itu, sebuah kipas lipat bergagang emas tiba-tiba terjulur dari samping, mengetuk punggung tangan Jian Chen dengan kasar.
"Minggir, rakyat jelata. Tuan Muda ini ingin melihat barang rongsokan di sini."
Suara yang angkuh dan menyebalkan terdengar dari belakang.
Jian Chen menarik tangannya dengan tenang dan menoleh sedikit. Di belakangnya, berdiri seorang pemuda tampan berusia sekitar tujuh belas tahun, berpakaian sutra putih mewah yang memancarkan aroma parfum mahal. Di pelukannya, ada seorang gadis cantik yang berpakaian agak terbuka, menatap Jian Chen dengan jijik. Di belakang pemuda itu, berdiri dua pengawal kekar dengan aura Kondensasi Qi Tingkat Lima.
Jian Chen mengenali wajah pemuda itu seketika. Dia adalah Zhao Wuji, Tuan Muda dari Klan Zhao—musuh bebuyutan Klan Jian di Kota Daun Gugur. Kultivasinya saat ini berada di Kondensasi Qi Tingkat Empat Puncak.
Zhao Wuji menatap sosok bertopi bambu itu dengan sikap meremehkan. Ia tidak bisa merasakan tingkat kultivasi Jian Chen karena Seni Melahap Surga Primordial secara alami menelan dan menyembunyikan aura tuannya, membuat Jian Chen terlihat seperti manusia fana biasa yang tak memiliki Qi.
"Hei, Penjaga Toko!" panggil Zhao Wuji dengan keras. "Berapa harga cincin hitam jelek yang baru saja dilihat oleh gelandangan ini? Aku akan membelinya."
Gadis di pelukan Zhao Wuji terkikik manja. "Kakak Wuji, untuk apa kau membeli cincin rongsokan itu?"
Zhao Wuji tersenyum sombong. "Untuk diberikan pada anjing penjaga di depan gerbang klan kita, tentu saja. Aku hanya tidak suka melihat gembel menyentuh barang di paviliun yang sama denganku."
Penatua Qian, yang kebetulan sedang lewat, segera menghampiri. Ia mengenali Zhao Wuji sebagai pelanggan kaya yang sering menghamburkan uang demi gengsi. Namun, ia juga tahu pria bertopi bambu itu bukanlah orang sembarangan.
"Tuan Muda Zhao, cincin berkarat itu adalah barang kuno yang tidak teridentifikasi. Harganya adalah 500 Koin Emas," jawab Penatua Qian sopan.
Zhao Wuji sedikit mengernyit. 500 Koin Emas untuk sebuah rongsokan besi cukup mahal, bahkan untuknya. Namun, demi menjaga gengsi di depan wanitanya dan mempermalukan orang asing di depannya, ia mendengus.
"Hmph, hanya uang receh. Berikan cincin itu—"
Trang.
Sebuah kantong berat mendarat tepat di atas meja kayu di sebelah rak. Suara logam emas yang saling berbenturan di dalamnya sangat nyaring.
"Di dalamnya ada 500 Koin Emas murni. Cincin itu milikku," suara serak Jian Chen terdengar datar, seolah ia sedang membeli kubis di pasar.
Tangan Jian Chen bergerak secepat kilat, mengambil cincin hitam berkarat itu dan memasukkannya ke dalam saku jubahnya sebelum Zhao Wuji atau pengawalnya sempat bereaksi.
Wajah Zhao Wuji langsung berubah dari sombong menjadi merah padam menahan malu dan amarah. Di Kota Daun Gugur, tidak ada yang berani merebut barang dari tangannya, apalagi seorang gelandangan tanpa nama!
"Kau mencari mati, Keparat?!" Zhao Wuji meraung. Tanpa mempedulikan aturan paviliun, tangan kanannya yang diselimuti oleh Qi berwarna biru muda mencengkeram bahu Jian Chen dari belakang, bermaksud untuk meremukkan tulang selangka pria misterius itu.
Namun, tepat saat jari-jari Zhao Wuji menyentuh kain jubah hitam Jian Chen, matanya tiba-tiba melebar.
Jian Chen bahkan tidak berbalik. Pusaran hitam di Dantiannya berputar sepersekian detik. Seni Melahap Surga Primordial merespons secara insting terhadap serangan energi asing.
Dalam sekejap mata, Qi berwarna biru yang menyelimuti tangan Zhao Wuji disedot habis layaknya genangan air yang menguap di atas lahar panas.
Bersamaan dengan itu, Jian Chen dengan santai memiringkan bahunya, mengalirkan seutas kecil—sangat kecil namun mematikan—Qi penghancur dari Meridian Primordial-nya langsung menembus titik akupuntur di telapak tangan Zhao Wuji.
"A-akh...!"
Zhao Wuji menarik tangannya kembali seperti baru saja menyentuh besi membara. Ia mundur terhuyung-huyung, mencengkeram pergelangan tangannya sendiri. Wajahnya seketika pucat pasi, keringat dingin membasahi dahinya. Ia merasa seolah ada sebuah jarum es tak kasat mata yang menusuk pembuluh darahnya, namun rasa sakit itu menghilang secepat ia datang.
"Tuan Muda! Ada apa?!" kedua pengawalnya segera maju, menghunus senjata mereka.
Zhao Wuji menatap telapak tangannya sendiri dengan kebingungan dan ketakutan tersembunyi. Tidak ada luka. Qi-nya tampaknya normal kembali, meskipun ia baru saja kehilangan sebagian tanpa ia sadari. Ia menatap punggung pria bertopi bambu itu yang sedang berjalan pergi dengan santai ke arah pintu keluar.
"S-sialan! Tunggu aku di luar, Keparat!" umpat Zhao Wuji, mencoba menutupi rasa takutnya yang tiba-tiba muncul. Ia tidak berani menyerang lagi di dalam Paviliun Bintang Emas; aturan tempat ini melarang pertarungan besar, dan kejadian barusan terlalu aneh untuk dipahami otaknya yang sempit.
Dari balik cadar bambunya, sudut bibir Jian Chen melengkung ke atas membentuk seringai iblis.
"Berteriaklah selagi kau bisa, Tuan Muda Zhao," bisik Jian Chen pada dirinya sendiri. "Tiga hari dari sekarang, saat jarum Qi itu menyumbat meridian jantungmu, kau akan tahu bahwa ada beberapa 'rakyat jelata' yang tak boleh kau sentuh di kehidupan ini."
Meninggalkan keributan kecil di belakangnya, sang mantan Kaisar melangkah keluar ke jalanan kota yang sibuk, membawa Cincin Penyimpanan misterius yang akan menjadi kunci lompatan kekuatan berikutnya.