NovelToon NovelToon
Singa Yang Menunduk Pada Mawar

Singa Yang Menunduk Pada Mawar

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Penyelamat / Perjodohan
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: istimariellaahmad

Sinopsis: Singa yang Menunduk pada Mawar
Habib Ghibran Fahreza Al-Husayn adalah sosok "Singa" yang dingin dan kaku, hingga sebuah tragedi merenggut nyawa adiknya, Azlan, tepat sebelum hari pernikahan. Terikat janji dan kehormatan, Ghibran terpaksa melangkah maju menggantikan posisi adiknya untuk menikahi Syarifah Aira, wanita yang seharusnya menjadi adik iparnya. Di bawah atap Pesantren Al-Husayn, Ghibran harus belajar menundukkan egonya demi memenangkan hati Aira, hingga ia memutuskan mengganti nama pesantrennya menjadi Salsabila sebagai bentuk pengabdian cinta.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon istimariellaahmad, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Benang merah di atas butik

Cahaya matahari pagi menyelinap malu-malu melalui celah jendela ndalem, menyinari wajah Aira yang masih terlelap. Namun, ketenangan itu terusik oleh aroma kopi robusta yang kuat dan suara gemerisik kertas dari arah meja di sudut kamar. Aira mengerjap, mencoba menyesuaikan penglihatannya, dan menemukan Ghibran sudah duduk rapi di sana, mengenakan kemeja putih dengan lengan yang disingsingkan—penampilan favorit Aira yang selalu membuatnya terlihat maskulin sekaligus intelektual.

"Sudah bangun, Sayang?" sapa Ghibran tanpa menoleh dari berkas di tangannya.

Aira tersenyum kecil, ia merapatkan selimutnya sejenak sebelum bangkit. "Kakak selalu bangun lebih awal. Apa surat dari keluarga Kencana itu membuat Kakak tidak bisa tidur?"

Ghibran berbalik, matanya yang tajam kini melunak saat menatap istrinya. Ia berdiri dan menghampiri tempat tidur, duduk di tepi kasur sambil mengusap puncak kepala Aira. "Bukan tidak bisa tidur, tapi aku terlalu bersemangat. Mahendra Kencana benar-benar menyerahkan kunci butik itu sepenuhnya padamu. Ini bukan lagi butik Aminah yang penuh dengan tipu muslihat. Ini adalah milikmu. Dan tentang Abrisam... dia sudah buka suara tentang simpanan rahasia Aminah."

Aira tertegun. "Jadi, pesantren benar-benar bisa lepas dari hutang?"

"Iya. Kita punya cukup dana untuk melunasi semuanya dan bahkan membangun laboratorium komputer baru untuk para santri," ujar Ghibran mantap. Ia kemudian mengecup kening Aira dengan lama. "Siap-siaplah. Hari ini aku akan mengantarmu ke butik. Kita akan 'membersihkan' tempat itu dari kenangan buruk."

Pemilik Baru, Semangat Baru

Perjalanan menuju butik di pusat kota diwarnai dengan obrolan ringan yang sesekali diselingi tawa. Ghibran tampak jauh lebih santai. Tangannya sesekali menggenggam tangan Aira di atas tuas transmisi mobil, sebuah kebiasaan baru yang membuat Aira selalu merasa dicintai.

Sesampainya di butik "Salsabila Design"—yang kini benar-benar sesuai dengan namanya—Aira menarik napas dalam. Ia melangkah masuk, melewati pintu kaca besar yang dulu terasa seperti gerbang penjara baginya.

Di dalam, suasana tampak sunyi namun megah. Kain-kain sutra dan satin masih tersusun rapi di rak. Aira berjalan menuju ruang tengah, tempat di mana dulu Aminah sering membentaknya karena desain yang dianggap kurang "komersial".

"Kak, aku ingin mengubah konsepnya," ujar Aira sambil menyentuh selembar kain brokat putih. "Aku ingin butik ini bukan hanya untuk kalangan elit, tapi juga menjadi tempat pemberdayaan santriwati kita. Hasil jahitan terbaik dari pesantren akan kita pajang di sini."

Ghibran berdiri di belakangnya, melingkarkan lengannya di pinggang Aira dan menyandarkan dagunya di bahu sang istri. "Lakukanlah. Apapun yang kamu butuhkan, aku akan menyediakannya. Aku ingin dunia melihat bakatmu, bukan sekadar nama besar keluarga kita."

Aira berbalik dalam dekapan Ghibran, mengalungkan tangannya di leher suaminya. "Terima kasih karena selalu mendukung mimpiku, Kak. Tapi ingat, Kakak juga punya tugas besar di pesantren. Jangan sampai Kakak kelelahan hanya karena mengurus butikku."

Ghibran terkekeh pelan. "Kelelahanku hilang setiap kali melihat senyummu, Aira. Tapi, bicara soal kelelahan..." Ghibran merendahkan suaranya, matanya menatap bibir Aira dengan intensitas yang membuat napas Aira tertahan. "Mungkin kita butuh 'istirahat' sejenak di ruang kerja pribadimu di atas?"

Pipi Aira mendadak panas. "Kak! Ini masih jam sepuluh pagi!"

"Lalu? Aku pemilik tempat ini sekarang, dan aku ingin menghabiskan waktu dengan desainernya," goda Ghibran sambil mulai mengecup leher Aira, membuat istrinya itu kegelian sekaligus terbuai.

Ancaman di Balik Tumpukan Kain

Momen manis mereka terhenti ketika pintu belakang butik—pintu yang menuju ke gudang rahasia tempat Ayah Amir dulu bersembunyi—berderit terbuka. Ghibran dengan sigap melepaskan pelukannya dan berdiri di depan Aira, matanya kembali menajam.

Seorang pria dengan pakaian kumal dan wajah penuh lebam keluar dari sana dengan tangan terborgol, dikawal oleh dua orang detektif. Itu adalah Abrisam.

"Sialan kau, Ghibran," desis Abrisam saat melihat Ghibran. Suaranya serak dan penuh kebencian. "Kau pikir dengan menangkapku semuanya akan selesai? Aminah tidak sebodoh yang kau kira. Uang itu... uang itu tidak akan pernah bisa kau ambil tanpa kode dari orang yang sangat kau benci."

Ghibran melangkah maju, menghalangi pandangan Abrisam dari Aira. "Simpan bicaramu untuk di pengadilan, Abrisam. Kami sudah tahu tentang brankas di butik ini."

"Bukan brankas butik, bodoh!" tawa Abrisam meledak, tawa yang terdengar gila. "Uang itu ada di rekening atas nama Azlan. Dan kau tahu siapa pemegang kuasa ahli waris Azlan selain kau? Ayah kandung Aira, Mansyur. Aminah sudah mengatur agar uang itu hanya bisa dicairkan jika Mansyur memberikan izin. Dan Mansyur... dia tidak akan pernah memberikannya padamu kecuali kau membebaskannya!"

Aira memegang lengan Ghibran, matanya berkaca-kaca. "Kak, apa itu benar? Apa Paman Mansyur masih mencoba mengendalikan kita dari balik penjara?"

Ghibran tidak menjawab Abrisam. Ia hanya memberi isyarat kepada polisi untuk segera membawa pria itu pergi. Namun, di dalam hatinya, Ghibran tahu bahwa perjuangan mereka belum sepenuhnya berakhir. Mansyur masih memiliki satu kartu as yang bisa membuat pesantren kembali goyah.

Makan Malam yang Berkesan

Malam harinya, untuk mengalihkan pikiran Aira dari gertakan Abrisam, Ghibran mengajak Aira makan malam di restoran rooftop tertinggi di kota tersebut. Angin malam yang sejuk bertiup pelan, membawa aroma laut dari kejauhan.

Aira mengenakan gaun rancangannya sendiri berwarna biru safir, senada dengan cincin yang diberikan Ghibran. Ia tampak sangat cantik di bawah cahaya lilin.

"Aira," panggil Ghibran setelah mereka selesai menyantap hidangan utama. "Jangan pikirkan kata-kata Abrisam. Aku sudah meminta Azka untuk melacak semua aliran dana Azlan. Kita akan menemukan jalan keluarnya tanpa harus tunduk pada Mansyur."

Aira menggenggam tangan Ghibran di atas meja. "Aku percaya padamu, Kak. Hanya saja, aku merasa sedih karena bahkan setelah semua ini, mereka masih mencoba menggunakan nama Azlan untuk kejahatan."

"Azlan adalah orang baik. Dan kebaikannya akan selalu menang," ujar Ghibran yakin. Ia kemudian berdiri, menarik kursi Aira, dan mengajaknya berdansa pelan mengikuti irama musik piano yang lembut di restoran itu.

Di bawah taburan bintang, mereka berdansa dalam diam. Aira menyandarkan kepalanya di dada Ghibran, mendengarkan detak jantung suaminya yang stabil. Di momen itu, ia menyadari bahwa meski badai baru mungkin datang, ia tidak lagi takut. Ia memiliki Ghibran, dan Ghibran memiliki dirinya.

"Aku mencintaimu, Aira Salsabila," bisik Ghibran di sela tarian mereka.

"Aku lebih mencintaimu, Ghibran Fahreza," balas Aira dengan tulus.

Namun, di tengah kemesraan itu, ponsel Ghibran yang berada di meja terus bergetar. Sebuah pesan singkat masuk dari nomor tak dikenal:

"Mansyur sakit parah di sel. Dia ingin bertemu Aira. Ini satu-satunya kesempatanmu untuk mendapatkan kode rekening Azlan sebelum semuanya hangus oleh negara."

Ghibran melihat pesan itu sekilas saat mereka kembali ke meja. Ia segera menutup ponselnya, tidak ingin merusak malam indah mereka. Namun, ia tahu, besok pagi ia harus membuat keputusan sulit: membawa istrinya bertemu dengan ayah kandungnya yang telah menghancurkan hidup mereka, atau membiarkan pesantren kehilangan masa depan finansialnya.

Happy reading sayang...

Baca juga cerita bebu yang lain...

Annyeong love...

1
Kutu Buku
Thor apa2an Ini
jngan Bilang yaa punya Anak Di Luar Nikah 🤣😂😂
Isti Mariella Ahmad: hihi🤭
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!