Mo Yuyan, 16 tahun—putri angkat Ketua Sekte Abadi, yang dikenal sebagai gadis lembut, patuh, dan selalu menunduk.
Namun, semuanya berubah malam itu ...
Malam ketika dia dituduh mencuri pusaka sekte, dikhianati oleh orang-orang yang dia anggap keluarga … lalu dibuang ke dalam Jurang Pemakan Jiwa untuk mati!
Akan tetapi, Takdir membuatnya kembali!
Bukan sebagai Mo Yuyan yang dulu, melainkan sebagai Mo Yuyan yang baru.
Dimana sosok jiwa asing dari masa ribuan tahun ke depan mengambil alih raganya. Sosok yang dingin, angkuh, cerdas, dan terlalu tenang untuk seorang gadis yang baru menginjak dewasa.
Jiwa itu tersenyum dan mulai menghitung semuanya.
Sekte Abadi bahkan tidak menyadarinya, jika mereka ...
Baru saja membangkitkan seorang 'Ratu Racun' berjiwa psikopat dari masa depan.
"HUTANG INI AKAN AKU TAGIH SEMUANYA! KALIAN SEMUA AKAN MUSNAH!"
"ARRRGHHHH!!!!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aurora79, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 11: Perjalanan Yang Penuh Kejutan!
***
Ketiga sosok itu akhirnya melangkah pergi, tanpa menoleh kebelakang lagi.
Mo Yuyan berjalan paling depan, jubah ungu dengan motif ular kobra miliknya berkibar ringan tertiup angin, sementara rambut hitam berkepangnya terayun ringan di depan dadanya.
Duan Xue berjalan di sisi kanannya, sementara Nenek Du berada di sisi kirinya.
"Kita bahkan belum berjalan sejauh satu li dari depan gerbang, namun auramu sudah membuat burung-burung disekitar menjauh pergi ..." ujar Duan Xue, yang mengomentari aura kuat milik Mo Yuyan.
Mo Yuyan hanya menanggapinya dengan nada acuh, tanpa menoleh sedkitpun ke arah belakang.
"Bagus kalau begitu, aku paling tidak suka 'diawasi' ..." sahut Mo Yuyan.
"Mereka bukan 'mengawasi' kamu, tapi mereka takut kepadamu ... Hehehehe," ujar Duan Xu sambil terkekeh.
"Ditakuti itu lebih baik, daripada disukai ..." sahut Nenek Du.
Mo Yuyan tersenyum tipis, saat mendengar ucapan Nenek Du.
"Akhirnya, ada juga yang sependapat dengan apa yang aku pikirkan ..."
☣
Hari pertama perjalanan mereka, suasana relatif tenang tanpa hambatan yang berarti.
Mereka makan dan minum di dalam ruang dimensi, begitu juga dengan istirahatnya.
Namun, saat memasuki hari ketiga mereka meninggalkan wilayah kekuasaan Sekte Abadi dan memasuki jalur pegunungan liar, ancaman perjalanan mulai terasa nyata.
Sekelompok bandit hutan yang berisi kultivator tahap dua, menghadang perjalanan mereka disebuah jalanan sempit yang terjal.
"Hey, serahkan semua cincin penyimpanan kalian! Jika tidak, kami tidak akan membiarkan kalian hidup!" teriak salah satu bandit itu, yang memiliki bekas luka memanjang pada wajahnya.
Duan Xue mendesah lelah ...
"Hufft! Dalam sebuah cerita perjalanan, pasti selalu ada adegan seperti ini, ya? Klise sekali ..."
Author yang sedang asik menulis cerita ini langsung melirik kejam ke arah pemeran Duan Xu, dimana dia merasa kesal karena idenya dibilang 'klise'.
Pemeran Duan Xue langsung pura-pura buta, dan berjalan mendekat ke arah pemeran Mo Yuyan, untuk meminta perlindungan.
"Hufft! Sudah aku bilang, jangan asal berkomentar kalau tidak ingin 'dimatikan' oleh Author peranmu itu! Author lagi PMS, jangan asal bicara!" peringat Mo Yuyan kepada Duan Xue.
Mo Yuyan melangkah maju setengah langkah, mata ungunya bersinar ... memandang kesepuluh orang bandit yang ada didepannya.
"Yakin ingin merampok kami?" tanya Mo Yuyan dengan nada santai.
"Jangan banyak bacot!"
Salah satu bandit yang tidak sabar langsung membentak Mo Yuyan, dan dia langsung menyerang Mo Yuyan dengan ganas.
"Mati kamu ...! Hiaaat!"
Namun, sebelum dirinya menyentuh Mo Yuyan, dia sudah jatuh tersungkur dengan wajah menghitam dan tubuh mengejang kesakitan.
Ketua bandit itu menjadi panik, saat melihat salah satu anak buahnya tersungkur tanpa sebab dengan wajah menghitam.
"A-apa yang kamu lakukan, hah?!!!" teriaknya panik.
Mo Yuyan memiringkan kepalanya dengan wajah polos.
"Hey, aku belum melakukan apa-apa, loh! Jangan menuduh sembarangan!" ujar Mo Yuyan dengan nada santai.
"Cucuku memang belum melakukan apa-apa, namun udara disekelilingnya yang bertindak ..." ujar Nenek Du dengan seringai kejam diwajahnya.
Sisa bandit itu merasa takut, saat mengetahui jika orang yang mereka rampok saat ini ilmunya lebih tinggi dari mereka.
"Munduuuur!!! ... Kabuuur!!!"
Mereka lari sambil membawa jasad temannya yang sudah gosong, tanpa meneruskan keinginan mereka.
Duan Xue mengangkat alisnya, wajahnya terlihat kebingungan.
"Kenapa mereka kabur? Kamu bahkan tidak bergerak tadi, apakah kita perlu mengejarnya?" tanya Duan Xue.
Mo Yuyan hanya menjawabnya dengan nada dingin.
"Tidak perlu dikejar! Biarkan saja mereka pergi ... karena mereka hanyalah 'sampah' masyarakat, yang kebetulan bertemu dengan kita."
☣
Hari-hari berikutnya semakin menarik untuk mereka lalui.
Mereka berjalan melewati hutan lebat, yang penuh oleh serangga beracun.
Di malam harinya, berbagai binatang Iblis tingkat menengah mencoba untuk mendekati mereka, karena tertarik dengan aura yang dimiliki oleh Mo Yuyan.
Alih-alih bisa mendekat dan menyapa Mo Yuyan, para binatang Iblis itu malah gemetar ketakutan, lalu mereka menjauh begitu saja.
"Aku merasa seperti sedang berjalan dengan sebuah 'Pusat Racun' yang memiliki nyawa ..." gumam Duan Xue suatu malam, saat mereka sedang beristirahat.
Mo Yuyan yang sedang duduk bersila dibawah sebuah pohon tua mendengar gumaman itu.
"Bukankah memang begitu kenyataannya, ya?" sahut Mo Yuyan, tenang.
Duan Xue menyeringai, saat mendengar sahutan Mo Yuyan.
"Jika suatu hari aku mati keracunan karena dekat denganmu ... Sungguh akhir hidup yang ironis sekali ..." ujar Duan Xue, dramatis.
Mo Yuyan memutar bola matanya malas, saat mendengar ucapan Duan Xue.
"Bangsa Iblis itu justru tahan dengan racun! Walaupun kamu berdarah campuran antara Iblis dan manusia, tubuh kamu sudah kebal terhadap setengah dari racun yang aku punya ..." ujar Mo Yuyan dengan wajah datar.
"Hanya setengah??!!" beo Duan Xue dengan mata terbeliak.
"Ya, hanya setengahnya ... sisanya adalah kejutan ... Hahahahaha!" sahut Nenek Du sambil tertawa.
Duan Xue hanya bisa menggelengkan kepalanya dengan pasrah.
"Kalian berdua benar-benar menakutkan!"
"Hahahahahaha ...!"
☣
Memasuki minggu kedua perjalanan mereka, mereka akhirnya tiba di wilayah hutan beracun, yang dikenal dengan nama hutan 'Kabut Hijau'.
Dimana udara beracun disana lebih pekat, karena seluruh tanaman yang tumbuh disana mengeluarkan uap tipis berwarna kehijauan dari setiap daunnya.
"Apakah kita harus menahan napas?" tanya Duan Xue.
"Tidak perlu," jawab Mo Yuyan.
"Racun ini adalah racun ringan, tidak mematikan untukmu. Hanya saja ... jauhkan dirimu dari tanaman berdaun tiga yang bergerigi itu," lanjut Mo Yuyan.
"Kenapa?" tanya Duan Xue.
"Itu adalah tanaman pemakan daging ..." jawab Mo Yuyan.
Duan Xue langsung menarik tangannya dengan sigap, saat dia hampir saja menyentuh tanaman semak belukar disampingnya.
"Bisakah kamu memberitahuku informasinya sedkit lebih cepat?! Hampir saja aku menyentuhnya!" protes Duan Xue dengan nada kesal.
Mo Yuyan hanya mendengus pelan, saat mendengar ocehan Dua Xue yang tidak bermutu itu.
Tidak lama kemudian, Nenek Du tiba-tiba berhenti berjalan.
"Tunggu dulu ..." ujar Nenek Du.
Mo Yuyan langsung bersikap siaga satu.
"Ada apa, Nek?" tanya Mo Yuyan.
"Nenek mencium bau da-rah ..." jawab Nenek Du pelan.
"Aku juga menciumnya, mungkin itu bau da-rah dari binatang Iblis yang terluka karena berkelahi. Jangan perdulikan, Nek ... Ayo, lanjut jalan ..." ujar Mo Yuyan, sambil mengendurkan kewaspadaannya.
"Tapi aku tidak mencium bau apa-apa, tuh!" sahut Duan Xue.
"Tentu saja kamu tidak bisa! Semua inderamu tidak setajam indera milikku dan Nenek Du ..." sahut Mo Yuyan dengan nada bangga.
"Tapi, Yuyan ... Ini baunya seperti da-rah manusia," ujar Nenek Du.
Mo Yuyan memejamkan matanya sejenak, dengan hidung yang mengendus udara di sekitarnya.
"Arah sebelah timur ... Sekitar seratus langkah dari tempat kita," gumam Mo Yuyan.
Tanpa banyak kata lagi, mereka langsung bergerak menyibak semak-semak beracun yang ada di sektar mereka.
Dan benar saja ...
Tepat diarah yang Mo Yuyan katakan, tergeletak seorang pemuda yang terluka parah.
Pakaiannya sudah robek di beberapa bagian akibat sabetan senjata tajam, dan da-rah yang berada di bagan dadanya juga sudah mulai mengering.
Wajahnya pucat, dan napasnya sudah nyaris lepas dari raga.
Mo Yuyan melihat dada pemuda itu yang masih naik-turun dengan gerakan lemah.
"Masih hidup," gumam Mo Yuyan.
Duan Xue berlutut untuk memeriksa denyut nadinya.
"Lemah sekali ... Ada racun yang masuk ke dalam tubuhnya juga," ujar Duan Xue.
Mo Yuyan memindai tubuh pemuda itu dengan mata ungunya.
"Dia bukan terkena racun hutan ini ..." ujar Mo Yuyan.
"Ya, dia terkena racun buatan manusia ..." sahut Nenek Du membenarkan.
Duan Xue menoleh ke arah mereka berdua, dengan wajah bo-doh.
"Jadi, dia diracun orang, gitu?" tanya Duan Xue.
"Bukan! Tapi diracun sama setan!" jawab Mo Yuyan dengan nada dongkol.
"Hahahahahaha!"
Nenek Du tertawa puas, saat melihat wajah kesal Mo Yuyan.
Sementara Duan Xue langsung terdiam sambil menundukkan kepalanya.
Dengan wajah datar, Mo Yuyan memperhatikan sebuah pola kehitaman di leher pemuda itu.
"Ini adalah racun lambat yang ganas. Fungsinya untuk menyumbat meridian manusia secara perlahan ..." ujar Mo Yuyan dengan analisanya.
"Kenapa dia bisa sampai kesini?" tanya Duan Xue.
Mo Yuyan mengamati sekitarnya dengan pandangan tajam.
"Ada jejak perkelahian dibelakang sana. Mungkin saja dia melarikan diri ,,," ujar Mo Yuyan.
"Apa yang akan kamu lakukan terhadapnya, Yuyan?" tanya Nenek Du.
Mo Yuyan terdiam beberapa saat, seperti sedang menimbang sesuatu.
"Jangan bertindak gegabah, Yuyan. Siapa tahu semua ini adalah jebakan. Kita tidak tahu siapa dia, loh!" ujar Duan Xue memperingatkan Mo Yuyan.
"Jika semua ini adalah jebakan, maka yang bersembunyi pasti akan langsung keluar dan menyerang kita ..." sahut Mo Yuyan dengan nada santai.
Suasana hening kembali, hanya terdengar suara angin yang berdesir diantara dedaunan.
"Aku akan menetralkan racun pemuda itu, namun aku butuh penjagaan selama menetralisir racunnya ..." ujar Mo Yuyan kepada Nenek Du dan Duan Xue.
"Perjalanan kita ke Kota Hitam Utara itu masih jauh, loh! Bagaimana jika musuhnya mengejar kita? Kita tidak ada urusan dengan pemuda ini!" ujar Duan Xue, tidak setuju.
Mo Yuyan menatap pemuda yang sekarat itu dengan hati gundah.
Wajahnya masih sangat muda, mungkin usianya tidak jauh beda dengan usia raga yang dia tempati sekarang.
"Duan Xue ..." panggil Mo Yuyan dengan suara lirih.
"Jika kamu yang tergeletak seperti ini beberapa minggu lalu, sedangkan aku belum mengenalmu saat itu, apakah kamu pikir aku akan meninggalkanmu begitu saja?" tanya Mo Yuyan.
Duan Xue terdiam, saat mendengar pertanyaan Mo Yuyan.
"Jawab, Duan Xue!" bentak Mo Yuyan, yang membuat Duan Xue tersentak kaget.
" ... Tidak, Ratuku!"
"Kalau begitu ... Aku juga tidak akan meninggalkanya!" ujar Mo Yuyan dengan nada dingin.
"Ternyata hatimu belum sepenuhnya beku, Ratuku ..." ujar Nenek Du sambil tersenyum samar.
"Aku memang masih punya hati untuk menolong manusia yang membutuhan, Nek. Dan hatiku hanya akan membeku terhadap musuh-musuhku saja ..." sahut Mo Yuyan dengan wajah datar.
"Haaah, baiklah! Apa yang harus aku lakukan sekarang?" ujar Duan Xue dengan nada pasrah.
"Kamu awasi sekitar dengan baik, jika ada gerakan yang mencurigakan, beritahu Nenek, karena aku akan fokus terhadap pemuda ini ..." perintah Mo Yuyan.
"Siap, Ratuku!"
-
Mo Yuyan berlutut disamping pemuda itu, sambil mengeluarkan jarum perak tipis dari ruang penyimpanan miliknya.
"Ini akan terasa menyakitkan ... Aku harap, kamu bisa menahannya ..." gumamnya pelan, walau dia tahu jika pemuda itu tidak sadarkan diri.
Tus ... Tus ... Tus!
Jarum-jarum itu menusuk dibeberapa titik meridian pemuda itu, membuat napas pemuda itu tersentak.
"Kamu menarik racun itu keluar?" tanya Nenek Du.
"Tidak .... aku menariknya dan memaksanya berkumpul di satu titik," jawab Mo Yuyan.
Telapak tangan Mo Yuyan mengeluarkan cahaya berwarna ungu samar, dia memasukkan energi Yin ke dalam tubuh pemuda itu.
Beberapa saat kemudian, noda hitam yang berada dileher pemuda itu bergerak turun perlahan ke arah lengannya.
"Kendalikan aliran energinya ..." bisik Nenek Du, mengingatkan Mo Yuyan.
"Aku tahu, Nek ..." jawab Mo Yuyan.
Keringat mulai muncul di pelipis Mo Yuyan, sementara Duan Xue yang berdiri tidak jauh dari sana mulai cemas.
"Bisa cepat sedikit, tidak?" ujar Duan Xue dengan nada khawatir.
"Hey! Aku sedang berusaha mengeluarkan racun, bukan sedang merebus teh!" sahut Mo Yuyan dengan nada ketus.
Tidak lama kemudian, Mo Yuyan memasukan jarum terakhir ke arah pergelangan tangan pemuda itu.
Tus!
Cuur!
Cairan hitam pekat menyembur keluar dari luka kecil yang dibuat oleh Mo Yuyan.
Baunya sangat menyengat, sehingga membuat Duan Xue mengernyit mual saat melihatnya.
"Iyuuuh! Menjijikkan sekali!" gumam Duan Xue.
Mo Yuyan menarik napas panjang, lalu dia menarik energinya kembali.
Wajahnya terlihat memucat, membuat Nenek Du sedikit khawatir melihatnya.
"Untuk sementara, dia sudah aman ..." ujar Mo Yuyan dengan nada lirih.
"Uhuuk ... Uhuuk ..."
Terdengar suara batuk dari pemuda itu, sebelum dia membuka matanya.
Saat matanya terbuka, dia menatap bingung ketiga sosok yang berada di depannya.
"S-siapa ... kalian ...?" tanya pemuda itu dengan suara serak.
"Orang-orang yang baru saja menyelamatkan nyawamu!" jawab Duan Xue sambil menyeringaai sinis.
Pemuda itu mencoba untuk bangkit, namun tubuhnya lemas seperti tidak ada tulangnya.
Mo Yuyan berinisiatif menyangga tubuhnya dengan satu tangan.
"Jangan terlalu banyak bergerak dulu ..." ujar Mo Yuyan dengan nada dingin.
Dia menatap lurus ke arah mata pemuda itu, seolah-olah ingin menembus ke dalam jiwanya.
"Siapa yang meracunimu?" tanya Mo Yuyan.
Tubuh pemuda itu menegang ...
Bukannya menjawab pertanyaan Mo Yuyan, dia malah bertanya balik.
"K-kenapa ... kamu menolongku ...?" tanya pemuda itu dengan suara parau.
Mo Yuyan menyipitkan matanya.
"Jawab dulu pertanyaanku, baru aku jawab pertanyaanmu!" perintah Mo Yuyan dengan nada tegas.
Suasana mendadak hening ...
Lalu, pemuda itu berkata dengan kepala yang tertunduk lemas.
"Keluargaku ... mereka mengejarku ..." jawab pemuda itu dengan suara pelan yang terbata.
"Keluargamu?!" tanya ulang Duan Xue.
"Ya ..." jawab pemuda itu dengan napas tersengal.
"Kenapa mereka mengejarmu?" tanya Duan Xue.
"Karena aku melarikan diri ... membawa sesuatu yang tidak boleh aku bawa ..." jawab pemuda itu.
Mo Yuyan bertukar pandang dengan Nenek Du dalam diam.
"Jika kami boleh tahu, apa yang kamu bawa kabur itu?" tanya Mo Yuyan dengan suara lembut.
Pemuda itu terlihat ragu untuk menjawabnya.
"Hey! Ingat, ya ... kamu berhutang nyawa pada kami! Jadi, lebih baik kamu katakan semuanya dengan jujur!" ujar Duan Xue dengan nada sinis.
Pemuda itu menelan salivanya dengan susah payah, saat melihat tatapan ketiga orang yang telah menyelamatkan nyawanya itu.
"S-sebuah ... Peta ..." jawabnya.
Mo Yuyan memiringkan sedkit kepalanya, sehingga wajah cantiknya terlihat polos dan imut.
"Peta apa?" tanya Mo Yuyan.
"Peta ... Lembah ... Emerald Hitam ..." jawab pemuda itu.
Keheningan kembali melanda, saat mendengar jawaban pemuda itu.
Duan Xue menatap Mo Yuyan dengan tatapan tajam, seolah-olah Mo Yuyan adalah 'jimat' keberuntungan miliknya.
"Sungguh sebuah kebetulan yang menarik ..."
Mata ungu Mo Yuyan berkilat samar, seolah sedang melihat 'harta karun' yang diletakkan Dewa ditangannya.
"Sepertinya ... perjalanan kita akan sedikit jauh lebih rumit dari yang aku kira ..."
Dan untuk pertama kalinya sejak dia meninggalkan Sekte Abadi~
Senyuman diwajahnya bukan hanya dingin ... tapi juga penuh dengan ... perhitungan.
"Sepertinya Dewa mempermudah sekaligus menguji perjalanan awalku di dunia ini ...."
"Dan aku tidak akan mundur, sebelum aku menemukan kedua orangtuaku ..."
☣☣☣