NovelToon NovelToon
Sistem Kepelatihan Xiao Han

Sistem Kepelatihan Xiao Han

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi Timur / Sistem / Kultivasi Modern
Popularitas:5.1k
Nilai: 5
Nama Author: MagnumKapalApi

Genre: Sistem, Sport, Tactical.
Sub-Genre: Romance, Drama, School, Slice of Life, Friendship.

Arc 1 : Kebangkitan Calon Pelatih Trainee (Chapter 1 — 21) - (22.691 kata)
Arc 2 : Asisten Pelatih yang Diremehkan (Chapter 22 - ... ) - (Ongoing)

Dari gelandang tengah SMA Hangzhou menjadi seorang pelatih muda? Dibekali Sistem Kepelatihan, Xiao Han merajut kembali mimpinya, setelah dokter memvonisnya tak bisa menjadi pesepak bola lagi karena cidera. Mampukah ia menapaki sepak bola sekali lagi?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MagnumKapalApi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 9

Siang hari ini halte bus Distrik Xiaoshan dipenuhi debu yang menari-nari di udara jalan beraspal. Terik matahari pun seakan merayakannya, tampak seperti dada yang terbusung angkuh di altar semburat biru angkasa.

Toooottt ...

Lalu lintas lalu-lalang kendaraan. Xiao Han, Shen Yuexi, dan Wei Ying menatap bus yang datang menuju halte.

“Nah, sudah sampai,” kata Xiao Han, lalu berdiri dari kursi prioritasnya. “Ayok masuk, Wei Ying, Yue.” Kemudian melangkah ke kepala bus, menuju tubuh dalam dengan kaki yang tertatih-tatih.

Wei Ying melihat langkah tidak seimbang Xiao Han, disusul dengan derapnya bersama Shen Yuexi, dan kerumunan yang lain.

“Aku kira ...” Wei Ying mengikuti Xiao Han masuk ke dalam bus. “Kakak ini hanya duduk di kursi prioritas, aku kira bukan sakit.”

Shen Yuexi tertawa kecil. “Dia itu bodoh.” Menuntun masuk Wei Ying dengan menyentuh punggungnya. “Dia itu cuman bodoh,” ulangnya. “Bukan tidak bermoral.”

“Yue ...” lirih panjang Xiao Han. “Hentikan itu.”

Hawa di dalam bus sangat dingin oleh AC kendaraan, ketiganya melewati supir yang duduk dengan senyuman, sembari menunggu para penumpang masuk bergiliran.

“Satu-satu masuknya,” kata Pak Supir pelan. “Mohon para penumpang memberikan kursi prioritas pada yang membutuhkan.” Dia melihat Xiao Han yang berjalan sulit di dalam busnya.

Xiao Han hanya menghela napas, dirinya seakan-akan merasakan tatapan serius dari belakang tubuh. Jika dia mencoba berdiri di dalam bus, dan memberikan tempat pada yang lain, ia akan mati diterkam galaknya Shen Yuexi.

Tapi jika ia duduk di kursi prioritas, Shen Yuexi akan berdiri sepanjang perjalanan, Xiao Han tahu, kursi ini diletakkan jauh dari kursi lainnya, dan dia kerap enggan berjauhan.

“Duduk saja, Han,” gumam Shen Yuexi. “Aku akan duduk bersama Wei Ying.”

Xiao Han menolehkan kepala pada Shen Yuexi.

Tumben, batinnya berkata.

“E-Eh?” Wei Ying merespon dengan alis terangkatnya. “Bukankah lebih baik kakak bersama teman kakak?”

“B-Baiklah.” Xiao Han pun terduduk di kursi penyandang cacat.

Tak menjelang lama.

Toooootttt ...

Roda menggiling aspal pelan, lalu bergerak dengan irama yang seimbang, meninggalkan perumahan sederhana Distrik Xiaoshan.

Para penumpang duduk tertib di dalam, yang berdiri diam dengan dunia di ponsel mereka masing-masing. Xiao Han hanya menatap Shen Yuexi yang mengobrol dengan Wei Ying jauh darinya.

Harusnya aku yang di sana, batin Xiao Han. Harusnya, aku PDKT sama itu anak untuk misi sistem.

Tapi bus yang melaju tidak peduli apa yang ia inginkan, terus menggerus aspal menuju rute-rute pemberhentian berikutnya.

Sementara Shen Yuexi.

***

—PoV Shen Yuexi—

Sudah lama aku tidak berpergian dengan Xiao Han, terakhir kalinya? Aku juga lupa kapan terakhir aku berkencan ... setidaknya, itu menurutku sendiri.

Di dalam bus, kami duduk berjauhan. Tapi bagiku, sudah lebih dari berbagi waktu satu sama lain, karena aku tahu dia sedang menaiki tangga kedewasaan.

Aku merasa, akhir-akhir ini dia seperti tidak membutuhkanku sama sekali.

Aku tahu, dia hanya menganggapku teman. Tak lebih, dia memang seperti itu, dari dulu.

Aku menatap Wei Ying.

Anak ini, mungkin menyakitkan bagi Xiao Han. Seorang remaja yang mengenakan jersey sepak bola kebanggaan kota Hangzhou.

Aku tahu, itu hanya akan membuka lukanya, memupus mimpi-mimpinya sebagai pesepak bola.

“Wei Ying, kan?” kataku lembut, tapi mata menjerit, ada bayang wajah Xiao Han kecil dari mata sipitnya yang serupa. “Kau mirip dengan Han saat kecil dulu.”

“Sama kakak yang pincang itu?”

“Ya, untuk anak kecil sepertimu yang pergi menonton bola tanpa didampingi orang tua.” Aku tersenyum simpul. “Sama dengannya setelah ayahnya pergi untuk selama-lamanya.”

“Itu ...” Wei Ying melemaskan dahinya, menatap iba ke arah Xiao Han.

“Menyedihkan, bukan?” gumamku melanjutkan apa yang ingin ia bilang.

“A-Aku tak bermaksud seperti itu.”

“Tak perlu merasa canggung, Han memang tidak suka dikasihani.”

Kemudian, Wei Ying menatapku lama, seperti ragu berucap dan bertanya padaku.

Sampai akhirnya kepalanya menunduk.

“Dia, kenapa ingin menonton bola di stadion? Bukankah harusnya di rumah saja, televisi lebih membuatnya aman.”

Aku terkekeh. “Sepak bola baginya adalah hati.” Membalas pandang irisnya. “Bukan logika, atau hiburan semata.” Punggungku bersandar pada kursi.

Itu memang dirinya, sedari kecil. Tentang sepak bola, tentang identitasnya.

“Kau juga tahu, Wei Ying?”

“Tahu apa itu kak?”

“Dia saat kecil selalu berbicara padaku tentang para pemain zaman dahulu, seakan mereka adalah makhluk dari cerita urban-fantasy.”

Aku memainkan jari jemariku tanpa sadar.

“Menceritakan kisah-kisah sepak bola layaknya dongeng dalam novel, dan kisah yang dirinya kisahkan selalu saja terdengar indah.”

“Ehh ... dia terlalu obsesi.”

Irisku kembali pada mata sipit Wei Ying.

“Lalu kau sendiri bagaimana? Xiao Han memiliki ketertarikan padamu, matanya selalu indah aku lihat jika dia tertarik sesuatu.”

“Kakak juga terlalu obsesi sama dia ...” kata Wei Ying sinis. “Memangnya semua orang dewasa itu selalu cinta-cintaan ya?”

Obsesi, ya? Mungkin.

Tapi ini tak sesederhana itu.

Saat kecil, hanya Xiao Han yang selalu ada untukku, hanya dia yang mau mengajakku berbicara.

“Mungkin ... Iya, aku terlalu suka sama dia.”

“Ehh ... kau sama seperti sepupu laki-lakiku, aku bisa menebak langsung dari nada bicaramu.”

Tawaku pecah begitu saja setelah mendengar kalimat bocah kecil ini. Para penumpang langsung menyorotiku, supir hanya melirik dari spion dalam bus, wajah Xiao Han yang terkejut dapat kulihat dengan jelas.

Aku beralih pandang ke jendela, menyaksikan bangunan-bangunan yang menjulang jarang, jalan raya dari Distrik Xiaoshan tertinggal seperti kenanganku bersama Xiao Han.

Sedikit lebih urban, lebih modern.

“Mungkin, Han sama sepertiku saat melihatmu,” kataku kembali memandang Wei Ying. “Dia mungkin, melihat bayangan kecilnya dulu dari dirimu.”

“Mana mungkin, kau pasti bercanda, kakak Yue ...”

“Tidak, aku benar. Matanya tak bisa berbohong, ketika dia menatapmu aku putuskan untuk pergi ke toilet, berdalih ingin pipis. Dan ketika aku kembali, dia sudah mengobrol denganmu,” gumamku panjang tanpa napas berlebih. “Aku paham dia bagaimana orangnya.”

“Ngomong-ngomong.” Tangan Wei Ying mendarat di dagunya. “Aku merasa seperti ... pernah melihat wajah teman kakak Yue, tapi dimana?”

“Kau pasti ingat nantinya,” kataku senyum terpejam. “Aku minta tolong, aku tak terlalu paham sepak bola, bisakah kau mengajaknya berdiskusi? Hanya itu yang bisa membuatnya gembira.”

Wei Ying menatap Xiao Han, lalu kembali padaku.

“Untuk apa?” balas Wei Ying. “Ya, sebenarnya aku penasaran sama kakinya, apa dia cacat dari lahir?”

Lagi-lagi aku tertawa kecil. “Terima kasih adik kecil, sepertinya aku menyukaimu juga.” Senyum kupasangkan jujur, wajah Wei Ying meledak semerah tomat. “Tanyakan saja pada dirinya langsung, kau akan tahu seberapa lugasnya dia bercerita.”

“A-Apa-apa— Apa-apaan maksudmu itu?”

Tanpa sadar bus sudah melewati beberapa rute jalur busway.

***

—PoV 3rd—

Tooottttt ...

“Pemberhentian selanjutnya, SMA Hangzhou No. 9 Highschool.”

Bus telah sampai di bagian utara Xiaoshan, kota Hangzhou, Provinsi Zhejiang, bagian Timur China.

Shen Yuexi tersadarkan, dari obrolan panjangnya dengan Wei Ying. Sementara Xiao Han, menatap sistem.

...\=~\=~\=~\=~\=~\=...

...Host : Xiao Han....

...Pelatih tingkat Trainee berambut hitam pendek dengan mata tajam yang visioner....

...Trainee : 50 - 1.000 EXP (menuju tingkat Junior)....

...Vision Tactical....

...Visi Taktis : 12/100....

...Manajemen pelatih : 8/100....

...Analisis Lawan : 5/100....

...Komunikasi : 7/100....

...Motivasi : 50/100....

...\=~\=~\=~\=~\=~\=...

“Jika aku menyelesaikan event dadakan ini apa akan dapat sesuatu yang bagus? Apa statistik ini akan bertambah? Tapi apa dampak dari semua ini?”

Baru kupikirkan setelah dua bulan hidup dengan sistem.

1
Hong Biyeon Adolebit
keren bgt kak, Xiao Han😍
Bapack Haryadi: berakkkkkk
total 1 replies
Apakah transgender disunat?
sudah 39 chapter dan tidak ada insect😡
Bapack Haryadi: /Smug//Smug//Smug/
total 1 replies
Ren si Pegawai Kantoran
Pak Chen Hao kerjanya ngapain? Eh iya motivasinya kan kecil 🗿
Limian Avina
Iyap, aku pun malas baca itu, jadi diskip/Proud/
Limian Avina: /Facepalm//Facepalm/
total 2 replies
Limian Avina
Ini kayaknya enggak terlalu diperlukan deh/Sweat/
Bapack Haryadi: skill issue aja kak, maklumin, cmn ngindarin yg repetitif aja
total 3 replies
Limian Avina
Kebelet ganti PoV😂
Limian Avina
Kenapa jadi PoV satu/Sweat/
Bapack Haryadi: ahh iya, bocor POV, nanti saya revisi kak
total 3 replies
Limian Avina
Iya, mengerikan seperti ...
Limian Avina: Enggak jadi/Blackmoon/
total 2 replies
Limian Avina
Beliau terlalu percaya diri :v
Limian Avina: 🗿🗿🗿🗿🗿
total 2 replies
Limian Avina
Gambarnya kayak kamar pribadi🗿
Manusia Biasa: wkwkw tapi masih bagus kok kak, dari ai sih😂🙏
total 1 replies
Limian Avina
Ada gacha-nya/Scare/
Bapack Haryadi: masih jauh sih di gacha sistem itu /Facepalm/
total 1 replies
Limian Avina
/Curse//Curse/ Namanya kenapa harus Gacheng?!
Bapack Haryadi: Kepikiran itu aja 🗿
total 1 replies
Limian Avina
Nulisnya "Goal" deh seharusnya/Sweat/
Limian Avina: /Scare//Scare/ Secara arti goal = tujuan/sasaran/Facepalm/
total 2 replies
Limian Avina
Woah~! Riset sejarah .../Blush//Blush/
Bapack Haryadi: huum 🗿🗿
total 1 replies
Ren si Pegawai Kantoran
cukup menghibur
Bapack Haryadi: makasih kak
total 1 replies
Penjaga Gerbang
keren
Ren si Pegawai Kantoran
ditunggu Thor updatenya
Ren si Pegawai Kantoran
developmentnya sedikit terasa di sini, sistem gak semata-mata Deus ex machina, ada konsekuensi juga dari analisa MC, dan emang jadi pelatih itu harus mikirin pemain, bukan semata2 sistem novel lain yg bikin pemain jadi OP kah? 🤔
Ren si Pegawai Kantoran
Thor, jangan lupa huruf miring kalo monolog batin PoV 3 ya 🗿
Ren si Pegawai Kantoran
kambek 4-3
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!