“Alasan untuk mencintaimu hanyalah soal sosial.”
Kalimat itu menghantam hatiku seperti ribuan duri. Aku terdiam, seakan waktu menarikku kembali ke masa lalu.Andai saja saat itu aku tidak menuruti egonya.
Andai saja aku lebih berani mengikuti kata hatiku… untuk menolak perjodohan itu. Mungkin sekarang, hatiku tidak akan dipenuhi luka.
— Cinta Ribuan Duri —
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon bidadari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 15 – Tangisan di Tengah Jalan
Mobil hitam itu melaju meninggalkan toko es krim dengan kecepatan stabil. Sore hari mulai berubah menjadi malam, lampu-lampu jalan sudah menyala satu per satu di sepanjang jalan kota. Di dalam mobil itu ada empat orang. Bodyguard Areksa yang duduk di kursi pengemudi, baby sitter di kursi depan, sementara di kursi belakang duduk Areksa bersama Resa yang masih berada di pangkuannya.
Namun suasana di dalam mobil tidak tenang.
Resa masih menangis.
Tangisannya tidak terlalu keras, tapi cukup membuat suasana di dalam mobil terasa tegang.
“Mama… mama…”
Anak kecil itu terus mengulang kata yang sama.
Baby sitter menoleh sedikit dari kursi depan dengan wajah khawatir. Ia tahu Resa biasanya tidak seperti ini.
“Resa… sudah ya, sayang,” ujarnya lembut.
Namun Resa justru semakin menangis.
“Mama… aku mau mama…”
Areksa yang sejak tadi duduk diam mulai mengerutkan kening. Ia menatap ke luar jendela, mencoba mengabaikan suara tangisan itu.
Namun Resa terus memanggil.
“Mama… mama…”
Tangannya kecilnya bahkan mencoba mendorong dada Areksa. Seolah ingin kembali ke toko es krim tadi. Kesabaran Areksa yang sudah tipis akhirnya habis.
“Cukup!”
Suara pria itu tiba-tiba meninggi. Resa terkejut.
Areksa menatap anak kecil itu dengan wajah tegang. “Kita sudah pergi dari sana.”
Namun Resa tidak mengerti. Ia hanya terus menangis. “Aku mau mama…”
Areksa tiba-tiba menyentak tubuh kecil itu sedikit menjauh dari dirinya.
“Berhenti menangis!”
Nada suaranya lebih keras dari biasanya.Baby sitter langsung menoleh kaget. Resa membeku beberapa detik. Matanya yang besar menatap Areksa dengan kaget.
Itu adalah pertama kalinya Areksa menyentaknya dengan kasar. Selama ini Areksa selalu bersikap tenang pada anak itu.
Namun sekarang… suaranya terdengar sangat berbeda. Bibir kecil Resa mulai bergetar.
Kemudian tangisannya pecah lebih keras.
“Huaaaaa…!”
Tangisan anak kecil itu memenuhi kabin mobil.Baby sitter langsung mencoba menenangkannya. “Resa… Resa… sudah ya…”
Namun Resa justru semakin menangis.
Tubuh kecilnya gemetar.
Seolah benar-benar ketakutan.
Areksa langsung menoleh ke arah jendela lagi. Rahangnya mengeras. Ia tidak mengatakan apa-apa lagi. Suasana di dalam mobil berubah sunyi.
Hanya suara tangisan Resa yang terdengar.
Bodyguard yang mengemudi melirik ke kaca spion sebentar. Ia bisa melihat wajah kecil Resa yang penuh air mata.
Namun ia tidak berkata apa-apa.Beberapa menit kemudian mobil itu masuk ke area pom bensin.
“Pak, kita isi bensin dulu,” kata bodyguard itu.
Areksa hanya mengangguk singkat.
Mobil berhenti di dekat pompa bensin. Bodyguard turun dari mobil untuk berbicara dengan petugas.
Baby sitter membuka sedikit pintu depan untuk mengambil udara segar. Sementara itu di kursi belakang, Resa masih menangis.
Tangisannya sekarang tidak terlalu keras, tapi terdengar seperti isakan kecil yang menyakitkan.
“Mama… mama…”
Areksa menutup matanya sejenak.
Ia tahu ia terlalu keras tadi.
Namun ia tidak tahu bagaimana menghadapi situasi seperti ini.
Beberapa detik kemudian ia membuka pintu mobil dan keluar untuk mengambil udara segar. Baby sitter ikut keluar sebentar untuk mengambil Botol susu Resa yang di taruh di tas yang ada di bagasi, karena botol satunya lagi sudah habis susunya.
Tanpa mereka sadari… Pintu belakang mobil tidak tertutup rapat.
Di dalam mobil, Resa masih duduk di kursinya. Air matanya masih mengalir. Anak kecil itu menatap ke arah luar. Ia melihat lampu-lampu terang pom bensin.Ia melihat orang-orang berjalan.
Namun di matanya hanya ada satu hal yang ia inginkan.
“Mama…”
Dengan tangan kecilnya, Resa mendorong pintu mobil itu pelan.
Pintu itu terbuka.
Anak kecil itu turun dari kursinya dengan langkah yang masih goyah. Tidak ada yang memperhatikannya.
Bodyguard sedang berbicara dengan petugas.
Baby sitter sedang mengambil tas dari bagasi.
Areksa berdiri tidak jauh dari sana sambil melihat ponselnya. Resa turun dari mobil.
Langkah kecilnya menyentuh lantai pom bensin yang dingin. Ia menoleh ke kiri dan kanan. Matanya yang masih basah mencoba mencari sesuatu.
“Mama…”
Anak kecil itu berjalan pelan menjauh dari mobil.
Satu langkah.
Dua langkah.
Tidak ada yang memanggil namanya.Tidak ada yang menyadari ia sudah turun.Di pom bensin itu ada banyak mobil keluar masuk.
Lampu-lampu terang menyilaukan.Resa berjalan ke arah trotoar kecil di pinggir jalan.
Tangannya kecilnya mengusap air mata.
“Mama…”
Beberapa orang yang lewat hanya menatapnya sekilas. Mereka mungkin mengira orang tuanya ada di dekat situ.
Sementara itu di dekat mobil, bodyguard akhirnya selesai mengisi bensin.
Ia kembali ke kursi pengemudi.
Baby sitter menutup bagasi. Areksa masuk kembali ke mobil.Ia duduk di kursi belakang.
Namun sesuatu terasa aneh.
Ia menoleh ke samping.
Kursi kecil itu kosong.
Areksa langsung mengerutkan kening.
“Resa?”
Tidak ada jawaban. Ia menoleh ke bawah kursi.
Kosong.
“Resa?” Suara Areksa berubah tajam. Baby sitter langsung menoleh dari kursi depan.
“Resa?” Ia menoleh ke belakang. Wajahnya langsung pucat.
“Pak… Resa mana?”
Areksa membuka pintu mobil dengan cepat.
“Dia tidak di sini!”
Baby sitter langsung turun dengan panik.
“Tadi dia di dalam!”
Bodyguard juga keluar dari mobil.
Areksa menatap sekitar pom bensin dengan mata tajam.
Namun anak kecil itu sudah tidak terlihat di dekat mobil.
“Cari dia!”
Suara Areksa terdengar dingin dan tegang.
Baby sitter hampir menangis.
“Tadi pintunya sedikit terbuka…”
Areksa langsung berlari ke arah area pom bensin.
Matanya mencari ke segala arah.
Namun Resa… sudah tidak ada di sana.
Anak kecil itu telah berjalan menjauh.
Sendirian.