NovelToon NovelToon
DARI LAWAN HATI MENJADI CINTA SEJATI

DARI LAWAN HATI MENJADI CINTA SEJATI

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Crazy Rich/Konglomerat / Romansa Fantasi
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: Elvandem Putra

Di SMA Bhakti Nusantara, dua nama selalu jadi pembicaraan—Reina dan Kenzo. Reina adalah ketua OSIS yang disiplin, teliti, dan selalu mengutamakan aturan. Sedangkan Kenzo adalah kapten tim sepak bola sekolah yang populer, tapi sering mengabaikan peraturan dan membuat masalah.

Mereka saling membenci sejak awal tahun ajaran, ketika Kenzo sengaja merusak dekorasi acara pembukaan yang sudah Reina susun dengan teliti. Sejak itu, setiap pertemuan mereka selalu berujung pada argumen dan perselisihan. Reina menganggap Kenzo sombong dan tidak bertanggung jawab, sementara Kenzo menyebut Reina pelit dan terlalu serius.

Namun, takdir membawa mereka bersama ketika sekolah mengadakan program "Pasangan Tugas" untuk lomba ilmiah tingkat nasional. Mereka terpaksa bekerja sama, dan perlahan-lahan menemukan sisi lain satu sama lain. Reina melihat bahwa Kenzo sebenarnya memiliki hati yang baik dan selalu siap membantu teman, sedangkan Kenzo menyadari bahwa ketegasan Reina datang dari rasa peduli.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elvandem Putra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Ruang OSIS, Hujan, dan Rahasia di Balik Kertas

Seminggu setelah kedatangan Gisel, persiapan Festival Budaya memasuki tahap krusial. Ruang OSIS yang biasanya rapi, kini berantakan dengan gulungan kertas karton, kaleng cat, dan sisa bungkus kopi.

Reina duduk di sudut ruangan, jemarinya lincah mengetik di laptop. Kacamata frame tipisnya sedikit melorot ke ujung hidung. Di seberang meja, Kenzo sedang sibuk menekuk kawat untuk kerangka maskot festival. Kemeja seragamnya dilepas, menyisakan kaos hitam polos yang basah oleh keringat.

"Ken, kawatnya jangan terlalu kaku. Nanti susah dilapisi kertas semen," tegur Reina tanpa mengalihkan pandangan dari layar.

Kenzo mendongak, menyeka dahi dengan punggung tangannya. "Ini sudah fleksibel, Rein. Kamu saja yang terlalu perfeksionis. Kadang struktur itu butuh kekuatan, bukan cuma kelenturan."

Reina menghela napas, menutup laptopnya dengan suara klik yang tajam. "Kekuatan tanpa kelenturan itu gampang patah, Kenzo. Sama seperti caramu memimpin tim basket. Terlalu keras."

Kenzo meletakkan tanganya, menatap Reina lekat-lekat. "Atau mungkin kamu yang terlalu takut untuk mencoba hal yang keras? Kamu selalu main aman dengan aturan, Rein. Kamu takut buat salah."

"Aku tidak takut salah. Aku hanya benci kekacauan," balas Reina defensif.

Terjebak dalam Keheningan

Tiba-tiba, lampu ruangan berkedip-kedip lalu padam total. Gelap gulita. Suara petir menggelegar di luar, disusul hujan badai yang menghantam jendela kaca ruang OSIS.

"Sial, korsleting lagi," umpat Kenzo.

Reina terdiam. Tangannya meraba-raba meja, mencari ponselnya. Namun, dalam kegelapan, ia justru menyenggol tumpukan berkas hingga terjatuh. Saat ia mencoba memungutnya, tangannya bersentuhan dengan tangan seseorang yang kasar namun hangat.

"Jangan gerak, nanti kamu kena ujung kawat," bisik suara Kenzo yang tiba-tiba terasa sangat dekat.

Kenzo menyalakan senter ponselnya. Cahaya putih itu menyinari wajah mereka berdua. Jarak mereka hanya beberapa inci. Reina bisa melihat dengan jelas bulir keringat di leher Kenzo dan aroma maskulin yang bercampur dengan bau hujan.

"Ken... lepasin tangan aku," bisik Reina, suaranya bergetar kecil.

Bukannya melepaskan, Kenzo justru menggenggamnya lebih erat. "Rein, kenapa kamu selalu pasang tembok tinggi tiap ada aku? Apa aku seburuk itu di matamu?"

Reina menunduk, tidak berani menatap mata cokelat gelap itu. "Kamu itu pengganggu, Ken. Kamu datang dan merusak semua keteraturan yang aku bangun. Aku nggak suka perasaan... nggak terkontrol kayak gini."

Kenzo tersenyum tipis, jenis senyum yang tidak pernah ia tunjukkan pada siapa pun. "Perasaan nggak terkontrol itu namanya hidup, Reina. Kamu nggak bisa merencanakan segalanya, termasuk siapa yang bakal bikin jantungmu detak lebih cepat."

Sebuah Pengakuan Tak Terduga

Keheningan kembali menyelimuti mereka, hanya suara hujan yang menjadi latar belakang. Kenzo perlahan menarik tangan Reina, membimbingnya berdiri.

"Dengar," Kenzo merogoh saku celananya, mengeluarkan sebuah gantungan kunci kecil berbentuk buku catatan mini yang terbuat dari kayu. "Aku nemu ini di pasar antik kemarin. Aku tahu kamu suka hal-hal yang berbau literatur klasik."

Reina menerima benda kecil itu dengan tangan gemetar. "Kamu... beli ini buat aku?"

"Anggap saja permintaan maaf karena sudah menyirammu dengan ejekan selama dua tahun ini," Kenzo menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, tampak salah tingkah. "Dan satu lagi, Rein. Cowok berprestasi dari SMA sebelah yang kirim pesan ke kamu tadi siang... jangan dibalas."

Reina mengerjap. "Maksudmu Aris? Dia cuma tanya soal koordinasi festival."

"Aku nggak suka cara dia lihat kamu waktu rapat koordinasi kemarin," potong Kenzo cepat, nada suaranya berubah posesif. "Dia nggak tahu kalau di balik wajah galakmu ini, kamu itu sebenarnya gampang panik kalau lampu mati."

Reina tertawa kecil, tawa pertama yang benar-benar tulus di depan Kenzo. "Jadi, Kapten Basket kita ini sedang cemburu?"

Kenzo terdiam sejenak, lalu menatap Reina dengan intensitas yang membuat napas Reina tertahan. "Ya. Aku cemburu. Dan aku benci mengakuinya."

Sebelum Reina sempat membalas, pintu ruang OSIS terbuka lebar. Lampu darurat di koridor menyala, memperlihatkan sosok Gisel yang berdiri di sana dengan payung basah.

"Kak Kenzo! Kak Reina! Kalian di dalam? Aku bawain martabak—" ucapan Gisel terhenti saat melihat posisi kakaknya yang masih memegang tangan Reina di bawah cahaya senter ponsel.

"Eh... sepertinya aku ganggu ya?" Gisel nyengir lebar, matanya berbinar penuh kemenangan.

Reina segera menarik tangannya, wajahnya semerah tomat. Sementara Kenzo hanya mendesah, mengacak rambutnya dengan frustrasi.

"Gisel, tepat waktu banget ya kamu datang merusak suasana," gerutu Kenzo.

Kehadiran Gisel di ambang pintu ruang OSIS yang remang-remang itu benar-benar menghancurkan momen "hampir-pengakuan" Kenzo. Reina segera menjauh, pura-pura sibuk merapikan tumpukan kertas yang berhamburan, sementara jantungnya masih berdentum keras seirama dengan tetesan air hujan di jendela.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!