NovelToon NovelToon
Penantian Sheilla

Penantian Sheilla

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Penyesalan Suami / KDRT (Kekerasan dalam rumah tangga) / Tamat
Popularitas:5.3k
Nilai: 5
Nama Author: chocolate_coffee

Tujuh tahun Sheilla mencintai Ardhito dalam diam, sejak masa SMA yang polos hingga dewasa. Namun di tahun kedelapan, takdir justru memberinya luka. Akibat jebakan salah sasaran di sebuah kamar hotel yang dirancang teman-teman Ardhito, keduanya terpaksa menikah demi menutupi skandal.

Pernikahan yang Sheilla dambakan berubah menjadi neraka. Ardhito yang merasa dijebak melampiaskan amarahnya melalui pengabaian dingin dan kekerasan fisik (KDRT). Di tengah sisa-sisa cintanya yang hancur, Sheilla harus memilih: terus bertahan sebagai martir cinta yang tak terbalas, atau mengumpulkan keberanian untuk pergi dan menyembuhkan dirinya sendiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon chocolate_coffee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Resonansi Kehidupan

Pagi di kota kecil ini selalu memiliki cara tersendiri untuk menyapa. Bukan dengan deru klakson yang memekakkan telinga seperti di Jakarta, melainkan dengan suara sapu lidi yang beradu dengan aspal, kicauan burung gereja di atap toko, dan aroma roti manis dari dapur Bu Retno yang terbawa angin hingga ke lantai dua kos Sheilla.

Sheilla mengerjap, menatap langit-langit kamarnya yang kini dihias dengan beberapa helai bunga kering yang ia rangkai sendiri. Hari ini tepat satu tahun tiga bulan sejak ia meninggalkan apartemen Ardhito. Jika dulu setiap pagi ia bangun dengan perasaan waswas—bertanya-tanya apakah suasana hati suaminya sedang baik atau apakah ia akan melakukan kesalahan kecil yang berujung makian—kini ia bangun dengan satu pertanyaan sederhana: Warna bunga apa yang ingin kulihat hari ini?

Ia bangkit, meregangkan tubuhnya. Di cermin, ia melihat pantulan dirinya yang mengenakan kaos oblong longgar. Tidak ada lagi riasan wajah yang tebal demi menutupi pucatnya kulit karena stres. Wajahnya segar, matanya jernih. Memar di hatinya memang masih ada, tetapi sudah berubah menjadi jaringan parut; ia tahu luka itu pernah di sana, tapi ia tidak lagi merasakan perihnya saat disentuh oleh ingatan.

Rutinitas yang Menyembuhkan

Sheilla menuruni tangga kayu menuju toko bunganya. Setiap anak tangga yang ia injak seolah menjadi penanda kemandiriannya. Sesampainya di bawah, ia memutar kunci pintu kaca. Klik. Suara itu selalu memberikan kepuasan kecil.

Ia mulai bekerja. Mengambil ember-ember besar, mengisi air jernih, dan memotong batang-batang mawar, lili, dan krisan yang baru saja tiba dari perkebunan di dataran tinggi. Tangannya bergerak lincah. Dulu, Ardhito pernah menghina tangannya yang kasar karena terlalu banyak mencuci piring dan mengepel lantai. Kini, tangan itu mungkin tidak sehalus tangan model iklan sabun, tapi tangan inilah yang membangun dunianya sendiri.

"Selamat pagi, Sheil!" Bu Retno muncul dari balik pintu penghubung antara toko roti dan toko bunga. Wanita tua itu membawa sepiring kue bolu kukus yang masih mengepul. "Sarapan dulu. Jangan sampai tokomu penuh bunga tapi pemiliknya layu."

Sheilla tertawa, suara yang kini sering terdengar di sudut jalan itu. "Terima kasih, Bu. Ibu selalu tahu kapan aku mulai merasa lapar."

Mereka duduk di kursi kayu kecil di depan toko. Sambil mengunyah bolu, Bu Retno menatap Sheilla dengan tatapan seorang ibu yang bangga. "Kemarin ada pria kota yang tanya-tanya tentang kamu di pasar. Mobilnya bagus, tapi mukanya seperti orang yang kehilangan arah."

Jantung Sheilla berdegup satu kali lebih kencang. Ia tahu siapa yang dimaksud. Namun, alih-alih panik atau ingin tahu, ia hanya menarik napas panjang dan mengembuskannya perlahan.

"Biarkan saja, Bu. Mungkin dia hanya sedang tersesat. Di kota ini memang banyak jalan yang membingungkan bagi orang yang tidak tahu arah pulang," jawab Sheilla tenang.

Bu Retno menepuk tangan Sheilla. "Kamu sudah hebat, Nak. Kamu sudah sampai di tahap di mana masa lalu cuma jadi spion. Sesekali dilirik boleh, tapi fokusmu tetap di kaca depan."

--

Siang harinya, toko bunga Sheilla cukup ramai. Ada seorang remaja laki-laki yang malu-malu membeli satu tangkai mawar merah untuk menyatakan cinta, ada seorang bapak-bapak yang mencari karangan bunga duka cita, dan ada beberapa turis lokal yang sekadar ingin berfoto di depan estetiknya "The Second Bloom".

Saat toko mulai agak sepi, Sheilla duduk di meja kerjanya. Ia membuka sebuah majalah bisnis yang ditinggalkan salah satu pelanggan. Di halaman dalam, ia melihat wajah Ardhito. Pria itu tampak sukses, memenangkan penghargaan sebagai pengusaha muda paling berpengaruh tahun ini. Dalam foto itu, Ardhito tersenyum, tapi Sheilla bisa melihat bahwa senyum itu tidak mencapai matanya. Mata itu kosong.

Dulu, melihat foto Ardhito saja bisa membuat Sheilla menangis berjam-jam. Sekarang? Ia hanya menatap foto itu dengan rasa iba. Iba pada pria yang memiliki segalanya di dunia, kecuali kedamaian di hatinya sendiri. Ia merasa kasihan pada Ardhito karena pria itu harus hidup dengan beban penyesalan yang mungkin tidak akan pernah selesai.

Ia kemudian menutup majalah itu dan meletakkannya di tumpukan koran bekas untuk alas pot. Ardhito bukan lagi pemeran utama dalam hidupnya. Pria itu kini hanyalah "latar belakang" yang statis.

--

Sore harinya, saat ia sedang mengantar pesanan bunga ke gereja tua di ujung jalan, ia melihat sosok pria berdiri di dekat gerbang. Bukan Ardhito, bukan pula Adrian. Pria itu adalah teman SMA mereka dulu, salah satu orang yang ikut menjebak Sheilla dan Ardhito di kamar hotel delapan tahun silam. Namanya Beni.

Beni tampak ragu, wajahnya menunjukkan rasa bersalah yang mendalam. Begitu melihat Sheilla, ia mendekat dengan langkah ragu.

"Sheilla... aku nggak menyangka bakal ketemu kamu di sini," ujar Beni pelan.

Sheilla berhenti, memegang erat keranjang bunganya. "Dunia memang sempit, Beni. Ada perlu apa kamu di sini?"

Beni menunduk. "Aku... aku sudah dengar semuanya. Tentang perceraian kalian, tentang apa yang terjadi selama kamu jadi istrinya Dhito. Aku datang cuma mau bilang... maaf. Kalau malam itu kami nggak bercanda keterlaluan, mungkin hidupmu nggak akan sehancur ini."

Sheilla diam sejenak. Ia melihat Beni, seseorang yang dulu ia anggap sebagai salah satu penyebab nerakanya. Namun, di dalam hatinya, tidak ada lagi amarah yang berkobar. Amarah itu sudah habis terbakar bersama waktu.

"Beni, malam itu memang titik balik yang pahit," kata Sheilla dengan nada yang stabil. "Tapi aku sudah berhenti menyalahkan keadaan. Kalau bukan karena kejadian itu, mungkin aku akan terus mencintai Ardhito dalam diam selama sisa hidupku, tanpa pernah tahu betapa beracunnya dia. Kejadian itu memberiku luka, tapi luka itu yang membantuku bangun."

Beni menatap Sheilla dengan tidak percaya. "Kamu benar-benar sudah memaafkan kami?"

"Aku memaafkan diriku sendiri karena pernah membiarkan diriku terjebak. Dan setelah itu, memaafkan kalian jadi jauh lebih mudah. Pulanglah, Beni. Bilang pada teman-temanmu yang lain, aku baik-baik saja. Aku lebih dari sekadar baik-baik saja."

--

Malam harinya, Adrian mampir ke toko bunga. Kali ini ia membawa dua tiket pertunjukan teater kecil yang diadakan oleh komunitas seni lokal.

"Aku tahu kamu sedang sibuk menata stok bunga untuk besok, tapi aku pikir kamu butuh udara segar yang berbeda," ajak Adrian.

Sheilla menatap tiket itu, lalu menatap Adrian. Ada kejujuran di mata pria itu. Tidak ada manipulasi, tidak ada niat terselubung untuk menguasai.

"Beri aku sepuluh menit untuk berganti pakaian," jawab Sheilla sambil tersenyum.

Sepanjang pertunjukan teater, Sheilla merasa sangat ringan. Cerita di panggung adalah tentang seorang pelaut yang tersesat di samudra dan akhirnya menemukan pulau kecil yang indah. Sheilla merasa cerita itu adalah metafora hidupnya. Dia pernah tenggelam, dia pernah hampir menyerah pada ombak, tapi sekarang, kakinya sudah berpijak di tanah yang kokoh.

Setelah pertunjukan, mereka berjalan kaki menyusuri trotoar yang diterangi lampu temaram.

"Sheilla," Adrian memulai pembicaraan. "Aku tahu kamu baru saja melewati masa yang sangat sulit. Aku tidak ingin terburu-buru. Aku hanya ingin kamu tahu bahwa aku sangat menghargai setiap waktu yang kamu berikan padaku. Kamu adalah orang terkuat yang pernah aku temui."

Sheilla berhenti melangkah, menatap rembulan yang bersinar terang di atas sana. "Terima kasih, Yan. Dulu, aku pikir kekuatanku ada pada seberapa lama aku bisa bertahan dalam rasa sakit. Sekarang aku sadar, kekuatan yang sebenarnya adalah berani pergi dari rasa sakit itu dan membangun kebahagiaan sendiri."

Ia menoleh ke arah Adrian. "Aku belum siap untuk komitmen yang besar. Hatiku masih butuh waktu untuk benar-benar pulih tanpa bayang-bayang masa lalu. Tapi, aku tidak keberatan jika kita terus berjalan seperti ini.

Sebagai teman yang saling mendukung."

Adrian tersenyum lebar, senyum yang membuat Sheilla merasa aman. "Itu sudah lebih dari cukup untukku."

--

Malam itu, di dalam kamarnya, Sheilla duduk di depan jendela. Ia mengambil selembar kertas dan pulpen. Ia ingin menulis surat, bukan untuk Ardhito, bukan untuk orang tuanya, melainkan untuk Sheilla remaja yang tujuh tahun lalu menangis di pojok perpustakaan sekolah karena diabaikan oleh cintanya.

“Untuk Sheilla yang dulu...

Maafkan aku karena butuh waktu lama untuk membawamu pulang. Maafkan aku karena pernah membiarkanmu merasa tidak berharga. Sekarang, lihatlah kita. Kita punya toko bunga sendiri. Kita punya teman-teman yang tulus. Dan yang paling penting, kita punya diri kita sendiri.

Jangan takut lagi pada sunyi. Karena di dalam sunyi, kita akhirnya bisa mendengar suara hati kita sendiri yang selama ini tenggelam oleh teriakan orang lain.

Kita sudah sampai. Kita sudah bebas.”

Sheilla melipat surat itu, lalu memasukkannya ke dalam sebuah toples kaca kecil. Ia tidak membakarnya, ia tidak membuangnya. Ia menyimpannya sebagai prasasti kemenangannya.

Di kejauhan, ia mendengar suara kereta api yang melintas, membawa orang-orang pergi dan datang. Namun Sheilla tidak ingin pergi ke mana-mana lagi. Ia sudah menemukan tempat di mana ia tidak perlu lagi menanti.

Penantian Sheilla telah bermuara pada satu titik yang paling indah: Penemuan jati diri yang tidak akan pernah bisa direnggut oleh siapa pun lagi.

Di bawah naungan malam yang damai, Sheilla akhirnya tertidur dengan senyum yang tetap terpatri di bibirnya. Tanpa air mata, tanpa ketakutan. Hanya ada kedamaian yang mendalam, seindah bunga yang mekar di saat yang paling tepat.

To Be Continue...

-- Hallo terimakasih sudah selalu memberikan support kepada Author, Sehat selalu untuk kalian semua ya. Dukung selalu Author setiap harinya, dan jangan lupa komen selalu agar author makin semangat buat uploadnya hihi --

1
falea sezi
uda end kah
Alif
smoga saja kamu menderita dhito
Siti Chadijah Siregar
sangat mengena sekali bahasanya hatiku tersentuh
Rubiyata Gimba
baru kau tahu
Rubiyata Gimba
sedarlah jangan makan hati sendiri, jangan terlalu mengharap pada orang yang tidak pernah memandang mu
Rubiyata Gimba
siapa suruh nenyintai orang yang tidak mencintainya
Rubiyata Gimba
sialan punya teman2
Lilla Ummaya
Lanjut thor.. ini asa kelanjutannya atau engga
Maira
tolong cpt update nya kakk
Maira
seruuu banget
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!