Ada yang bilang anak perempuan itu kesayangan ayahnya
tapi, Anisa bukan putri kandung keluarga ini
Ia anak adopsi yang kebetulan bertemu dengan James Arthur didepan panti asuhannya.
Pertama kali melihat Anisa James langsung membawanya.
Anisa menjadi kesayangan James saja nyawanya hampir dalam bahaya.
Karena Anisa sadar ia kesayangan pria yang dianggapnya ayah sekarang semua bahaya itu ia tantang seperti masalah kecil.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon sky tulip, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bayangan yang bagus
"Ayah..."
Pintu yang di buka Anisa karena tidak terkunci, melihat kedalam yang gelap pandangannya hanya sebatas di terangi sebuah cahaya yang menembus dari tirai tipis di jendela amar.
"Ayah..." Pintu cepat terbuka bersamaan kilat dan gemuruh yang tiba-tiba muncul dengan suara yang besar lalu hujan turun lebat dan kilat terus menyala.
Seseorang dengan pakaian serba hitam dan wajah tertutup kain hitam hanya matanya yang terlihat jelas bertatapan dengan mata Anisa.
"Ayah!"
Berputar kepalanya dan jatuh tubuhnya diadapan kaki Anisa.
"Kau belum tidur?" Santai melihat sedikit terlonjak anak kecil yang baru saja melihat perbuatannya sampai korbannya jatuh didepan kaki kecilnya.
Anisa tidak menangis melihatnya, menarik.
"Mengejutkan!" Teriak nya kaget.
Berjalan masuk dan naik keatas kasur.
"Ayah ada apa?" Santainya bertanya melihat sekitar yang sesekali jelas karena kilat dari luar jendela. Suara gemuruh yang keras dan hujan lebat juga terdengar berisik.
"Kau tidak takut?" James membuka pintunya dan melangkah keluar.
Mata yang terbuka lebar melihat tumpukan orang yang ada di kamar ini. Matanya ikut berkilat bersamaan cahaya yang sesekali muncul.
"Bawa mereka semua dan kau... Tunggu aku mandi dulu." James masuk kedalam kamar mandi. Canaria dan Sol yang di panggil James juga langsung masuk memeriksa keadaan Anisa melihat tubuh kecil Anisa benar-benar disana duduk santai memeluk kelinci pink-nya, matanya melirik polos kearah kedatangan Sol dan Canaria.
"Nona!"
"Astaga! Nona!" Sol benar-benar syok bagaimana anak sekecil ini melihat semua ini, Sol saja belum terbiasa padahal sudah bertahun-tahun tau semua hal ini.
"Anda belum tidur nona?" Tanya Canaria.
Anisa yang polos menggeleng dan mulai merebahkan tubuhnya ke kasur.
"Aku gak bisa tidur di kamar aku kekamar ayah tapi, ternyata ayah sedang sibuk."
Sesantai itu jawabannya, telinga Sol tidak sedang sakit kan?
"Kalian bisa keluar." James keluar dari kamar mandi dengan rambut basah yang di lap handuk lalu berjalan ke depan cermin mengeringkannya.
James juga melihat pantulan Anisa yang tidur meringkuk memeluk bonekanya menatap kearahnya.
Canaria dan Sol sudah keluar setelah perintah James.
"Apa kau tidak takut?" Pertanyaan ini berulang. Anisa harus menjawabnya jujur atau bohong.
"Kalo aku jujur apa aku di marahi ?" Pertanyaan nya di jawab pertanyaan lagi. James menutup tirai dan mencium bau harum kamarnya seperti semula setelah perkelahian kelompok lawan satu orang.
"Tidak, jawab lah apa adanya, aku suka itu."
Melangkah kekasur setelah mematikan lampu yang tadi sempat di nyalakan para pelayan dan Sol untuk membersihkan kekacauan juga menyalakan pelembab udara di kamar lampu tidurnya ia nyalakan di bagiannya saja tidak di samping Anisa.
"Aku kaget dan hampir menangis ketakutan tapi, aku tidak mau melakukannya, karena itu seperti anak kecil."
"Kau anak kecil, nak?" Jawab James cepat.
Anisa kuat-kuat menggeleng.
"Iya tapi, aku harus jadi dewasa karena aku harus terbiasa dengan dunia yang kejam dan kenyataan yang selalu tak sesuai harapan."
Serasa bicara dengan orang hampir sebaya dengannya. James curiga dengan Anisa ini masih sepuluh tahun atau seratus tahun.
"Ayah, apa aku boleh tidur bersama aku takut." James mengangguk, merebahkan tubuhnya juga menghadap Anisa dan menepuk-nepuk lengannya tak lupa menarik selimut tebal menutupi tubuh mungil putri nya yang langsung pulas.
Terkadang di dalam kepala kecil ini isinya membuat James agak kaget, kenapa anak sekecil ini punya jawaban yang aneh-aneh.
Seolah harus di paksa dewasa padahal James tak membuatnya harus melakukan itu, cukup sehat dan tumbuh dengan baik di kediamannya, dan ini baru beberapa waktu ia membawa Anisa sudah ada kejadian yang aneh-aneh juga di rumahnya, dasar orang sibuk merek selalu saja membuat masalah.
James terjaga sampai ia merasa ada yang aneh kenapa ada pembunuh dalam kediamannya, ini aneh.
Bangun James dari kasur setelah memastikan Anisa tidur. Ia keluar melihat Canaria didepan pintu bersama Rudolf. Anisa pasti sulit tidur karena merasa tak nyaman, James ingat ia juga begitu dan akhirnya ayahnya menemukan orang asing dalam kamarnya berniat membunuhnya, semoga saja perkiraan James tentang Anisa yang tak nyaman hanya hal biasa bukan karena ada penyusup.
"Jaga sebentar kau didalam, aku akan memeriksa kamarnya." James memberikan perintah pada Canaria yang langsung di jalankan, Rudolf adalah salah satu bawahannya yang bisa menangani masalah dalam rumah selain Canaria dan Silva.
Di dalam kamar Anisa, yang cahaya kamarnya redup, James menyalakan lampunya hingga sesuatu membuatnya curiga. Rudolf memeriksa belakang pintu.
Suara keras hantaman dan di balik horden James menangkap lehernya dan mencekiknya kuat tapi, di saat sama ia melawan dengan pisau. Selahan tangan yang cepat bergerak menjatuhkan pisau dan menendangnya masuk kebawah kolong laci.
Seketika itu Rudolf mendapatkan dua orang, satu di kamar mandi dan belakang pintu, James mendapatkan satu di belakang horden kamar putrinya.
Di bawah tepatnya di halaman agar Anisa tak terganggu semuanya di kumpulkan bahkan mereka yang belum sadar di paksa duduk dengan tangan terikat di belakang. Wajah panik dan tubuh bergetar ketakutan karena merasa tertekan dengan sesuatu yang tak terlihat oleh mereka.
"Apa yang membuat kalian berani? Suara bosan kalian?"
"Kami lebih baik mati!"
Ternyata mereka masih bisa melawan ya.
Sesuatu membuat orang bicara barusan terbatuk darah sampai mengeluarkan darah dari hidungnya erangan kesakitan membuat semuanya menatap ketakutan.
"Bicara atau kalian mati dengan rasa sakit luar biasa?"
Tidak ada yang bicara sampai gerakan mulut mereka mengigit bagian bawah lidah membuat semuanya mati satu persatu dan semuanya tak bernafas saat Rudolf dan Cazer memeriksanya.
"Semuanya tak bernafas Tuan."
Menghela nafasnya.
James berbalik badan meninggalkan mereka semua.
"Sialan! Buang mereka aku lelah, siapa yang mengirim mereka cari tau cepat, besok aku harus mendatangi pesta orang tua ku."
Semuanya mengangguk mengiyakan perintahnya.
Suara benda jatuh membuat Anisa terbangun di saat yang sama James melihat didalam kamarnya seorang wanita dengan bayangan yang terlihat dari balik jendela horden tipis.
Anisa berdiri menatapnya.
"Anisa!" James menariknya menggendong memeluknya erat.
Bayang itu tak langsung hilang sampai James menarik hordennya tiba-tiba dan ya, hanya hujan saja.
"Kenapa kamu bangun, Hem... Ayah hanya keluar sebentar nak?"
"Heum, itu tadi ada barang yang jatuh aku kaget aku bangun dan ada perempuan berdiri disana dia bilang kamu harus tidur lagi, aku kira itu kakak Canaria."
James mengusap kepala Anisa yang kembali terlelap dan tidur dalam pelukannya. Kembali kekasur perlahan James membaringkannya dan mulai tidur bersama.
Bayangan cantik dan rapi itu kembali terlihat tapi, kali ini melambai dan muncul kunang-kunang yang terbang entah kemana tak terlihat lagi.
James belum tertidur ia merasa kalo bayang itu ada lagi tapi, rasanya seperti gak asing.