Niat hati menjalani KKN dengan tenang, Mikayla (25) malah mencatat skor buruk di hari pertama: memaki pria berjaket denim yang ternyata adalah Alvaro (30), sang Kepala Desa Asih yang dingin dan otoriter.
Bagi Mika, Alvaro adalah penghambat kelulusannya yang sangat menyebalkan. Bagi Alvaro, Mika hanyalah mahasiswi kota manja yang terlalu banyak bicara. Namun, di antara riset perairan dan debu jalanan desa, arus perasaan mulai mengalir di luar kendali. Di Desa Asih, mampukah Mika menaklukkan kerasnya hati Pak Kades, atau justru ia yang tenggelam dalam pesonanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadhira Ramadhani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 17
Pagi yang seharusnya diawali dengan semangat baru justru berubah menjadi mimpi buruk bagi tim KKN Universitas Perairan. Kabar itu datang dari salah seorang warga yang hendak menjala ikan. Dengan napas tersengal, ia mendatangi posko dan mengatakan bahwa konstruksi di tikungan sungai telah hancur.
Mika tidak menunggu sedetik pun. Tanpa mencuci muka, ia berlari kencang menuju tepi sungai, diikuti oleh Siti, Asia, dan Arga. Namun, sesampainya di sana, langkah Mika mendadak lemas.
Di tengah aliran sungai yang tenang, alat filter perairan yang mereka bangun dengan cucuran keringat dan air mata itu kini sudah menjadi puing. Kayu ulin penyangganya digergaji paksa hingga patah, kabel-kabel sensornya dipotong kasar, dan tabung filter mekaniknya pecah berkeping-keping di atas bebatuan.
Mika jatuh terduduk. Ia berjongkok di tepi sungai yang berlumpur, tidak peduli lagi dengan celana kainnya yang kotor. Tangannya gemetar saat menyentuh sisa potongan kabel yang hanyut ke pinggir.
"Kenapa ada orang jahat kayak gini sih? Ini kan tugas KKN kita..." bisik Mika parau.
Air mata mulai menggenang di pelupuk matanya. Ia membayangkan malam-malam tanpa tidur saat merancang alat ini, bayangan saat ia harus berendam di lumpur dingin, dan bagaimana ia meyakinkan Mbah Darmo tempo hari. Semuanya hancur hanya dalam satu malam oleh tangan-tangan jahil yang tidak bertanggung jawab.
"Kenapa harus dirusak? Ini kan buat kebaikan warga juga..." Mika mulai menangis sesenggukan. Bahunya terguncang hebat. Perasaan gagal, marah, dan sedih bercampur menjadi satu, menghantam dadanya hingga terasa sesak.
Siti dan Asia mencoba menenangkan Mika dengan mengusap punggungnya, namun tangis Mika justru semakin pecah. Arga berdiri kaku di belakang, wajahnya merah padam karena amarah yang tertahan.
Di saat suasana sedang kelam-kelamnya, suara langkah sepatu boots yang berat mendekat. Alvaro datang dengan wajah yang sangat mengerikan. Rahangnya mengatup rapat, matanya berkilat tajam menatap puing-puing alat di sungai. Ia tidak perlu bertanya siapa yang melakukannya; ia tahu ada beberapa oknum yang merasa terancam dengan kemajuan teknologi yang dibawa mahasiswa ini.
Alvaro melihat Mika yang sedang hancur di tepi sungai. Tanpa mempedulikan tatapan warga yang mulai berkumpul, Alvaro melangkah mendekat dan berjongkok di samping Mika.
"Mikayla," panggilnya rendah.
Mika mendongak dengan wajah sembap dan mata yang memerah. Begitu melihat sosok Alvaro, pertahanan Mika benar-benar runtuh. Ia tidak lagi peduli pada ego atau gengsinya. Secara spontan, Mika menghambur ke arah Alvaro, menenggelamkan wajahnya di dada bidang pria itu.
"Pak... kalau kayak gini tugas KKN saya nggak selesai dan saya pasti dapat C! Tolongin saya, Pak... Huaaaaa!" Mika merancau, tangisnya meledak di pelukan Alvaro. Ia mencengkeram kemeja Alvaro dengan kuat, seolah pria itu adalah satu-satunya pegangan yang ia miliki di dunia yang sedang runtuh ini.
Alvaro tertegun sejenak. Tubuhnya sempat kaku saat merasakan pelukan erat Mika yang penuh keputusasaan. Namun, melihat betapa hancurnya gadis yang biasanya ceria dan cerewet ini, hati Alvaro luluh. Ia perlahan melingkarkan lengannya di bahu Mika, menepuk-nepuk punggungnya dengan gerakan yang sangat lembut, mencoba menyalurkan kekuatan.
Di belakang mereka, Siti menyikut lengan Asia. Keduanya berdiri agak menjauh untuk memberikan privasi, meski mata mereka tetap tidak bisa lepas dari pemandangan langka di depan mata.
"Itu dia nangis karena sedih atau sekalian nyari kesempatan sama Pak Alvaro sih, As?" bisik Siti dengan nada antara prihatin dan gemas.
Asia menghela napas, matanya sedikit berkaca-kaca melihat Mika. "Kayaknya kali ini dia beneran hancur, Ti. Tapi ya... dapet bonus pelukan Pak Kades mah lumayan lah buat obat penenang."
"Ssst! Arga denger nanti," Siti memperingatkan, sementara Arga sendiri masih sibuk memotret kerusakan alat sebagai bukti laporan ke polisi desa.
Alvaro membiarkan Mika menangis di dadanya selama beberapa menit. Ia menghiraukan kemejanya yang mulai basah oleh air mata dan kotor oleh sisa lumpur dari tangan Mika. Baginya, ketenangan Mika saat ini adalah prioritas utama.
"Diamlah, Mikayla," ucap Alvaro pelan, suaranya terdengar sangat menenangkan di dekat telinga Mika. "Kamu tidak akan dapat C. Saya jamin itu."
Mika melepaskan pelukannya sedikit, menatap Alvaro dengan wajah yang masih berantakan. "Gimana caranya, Pak? Alatnya hancur. Waktunya tinggal dikit lagi..."
Alvaro menghapus sisa air mata di pipi Mika dengan ibu jarinya. Tatapannya kini tidak lagi dingin, melainkan penuh dengan tekad. "Siapa pun yang merusak milik tamu saya, berarti dia berurusan langsung dengan saya. Saya akan kumpulkan warga sore ini. Kita akan bangun kembali alat ini bersama-sama. Kali ini, warga sendiri yang akan menjaganya."
"Tapi komponen elektroniknya mahal, Pak..." gumam Mika sambil sesenggukan.
"Saya yang akan urus biayanya. Kamu hanya perlu fokus pada teknisnya lagi. Jangan menangis lagi, wajahmu jadi mirip ikan mas koki kalau begini," canda Alvaro tipis, mencoba mengembalikan senyum Mika.
Mika memukul dada Alvaro pelan. "Bapak masih sempet-sempetnya ngeledek!"
Perburuan Dimulai
Alvaro berdiri, membantu Mika bangkit dari lumpur. Ia berbalik menatap warga yang menonton dengan wajah serius.
"Bapak-bapak! Siapa pun yang melihat atau tahu siapa yang melakukan sabotase ini, lapor ke saya sebelum matahari terbenam. Jika tidak, saya sendiri yang akan menyisir setiap rumah!" suara Alvaro menggelegar, menunjukkan otoritasnya sebagai pemimpin tertinggi di desa itu.
Warga tampak ketakutan sekaligus kagum melihat pembelaan Alvaro terhadap mahasiswi KKN tersebut. Tak lama kemudian, Mbah Darmo datang mendekat dengan tongkat kayunya.
"Neng Mika," panggil Mbah Darmo. "Jangan berkecil hati. Sungai ini memang punya ujiannya sendiri. Tapi saya pastikan, besok pagi, para nelayan akan turun membantu memasang kembali kayu-kayunya. Kami tidak mau dianggap sebagai warga yang tidak tahu terima kasih."
Mika tersenyum haru. Dukungan dari Mbah Darmo dan ketegasan Alvaro membuatnya merasa bahwa kegagalannya kali ini bukanlah akhir dari segalanya.
Sore harinya, saat Mika sedang membersihkan sisa komponen yang masih bisa diselamatkan di teras posko, Alvaro datang membawa sekotak martabak manis.
"Makan ini. Gula darahmu pasti rendah karena kebanyakan menangis tadi pagi," ucap Alvaro sambil meletakkan kotak itu di meja.
Mika menatap kotak itu, lalu menatap Alvaro. "Pak Kades..."
"Ya?"
"Bapak beneran bakal nemenin saya pasang alatnya lagi dari awal?"
Alvaro menyandarkan tubuhnya di pilar posko, menatap langit sore yang mulai jingga. "Bukan cuma menemani. Saya akan pastikan tidak ada satu ekor nyamuk pun yang berani mengganggumu saat bekerja nanti."
Mika tertawa kecil. Rasa sedihnya perlahan memudar, digantikan oleh rasa hangat yang menetap di hatinya. Ternyata, puing-puing alat yang hancur justru membangun sesuatu yang lebih kokoh di antara mereka: kepercayaan dan perasaan yang semakin tak terbendung.