novel dengan universe berbeda dari novel
"hazel lyra raven", dimana pharma dan Lyra bisa bersama tanpa ada ledakan
Dokter Lyra (27), spesialis anak, dipindahtugaskan ke Rumah Sakit Delphi di London. Di sana, ia harus berhadapan dengan Pharma Andrien, kepala rumah sakit sekaligus spesialis saraf yang dijuluki "Ice King" karena sifatnya yang sangat cuek, dingin, dan perfeksionis di depan staf medis.
Namun, segalanya berubah saat mereka sedang berduaan. Di balik pintu tertutup, Pharma berubah drastis menjadi sosok yang sangat clingy dan manja hanya kepada Lyra. Kini, Lyra harus berjuang menjaga profesionalitas di rumah sakit sambil menghadapi tingkah "muka dua" atasannya yang tidak bisa jauh darinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AEERA-ALEA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
11
Lyra buru-buru bangkit sambil mengusap pergelangan tangannya yang memerah bekas ikatan. Ia menatap pria itu dari ujung kaki sampai ujung rambut. Pria itu memiliki rambut pirang yang tertata rapi, sangat kontras dengan jas bedah biru tuanya yang terlihat mahal. Wajahnya rupawan, tapi auranya sedingin es di kutub utara.
"Tunggu! Kamu... kamu dokter dari Delphi juga?" tanya Lyra dengan nada masih agak syok.
Pria itu menoleh sedikit, kunci mobil sport putihnya berdenting di jemarinya yang panjang. "Sama seperti kamu. Saya juga perwakilan dokter di sana," jawabnya pendek, tanpa senyum sedikit pun.
> HAH?! DOKTER MACAM APA YANG BISA NGEHAJAR PREMAN SAMPAI PINGSAN GINI?! Batin Lyra menjerit heran. Mana rambutnya pirang, pake mobil sport, terus tadi dia bilang perwakilan dokter juga? Kok beda banget sama gue? Gue perwakilan dokter dari Bandung datengnya keringetan karena kesiangan, dia dateng-dateng kayak James Bond versi medis!
"Tapi kok kamu tahu nama saya? Terus kok bisa tahu saya di sini?" Lyra mencoba mengejar pria itu yang sudah hampir masuk ke mobil.
Si pria pirang itu berhenti, matanya yang tajam menatap Lyra datar. "Seluruh London tahu siapa kamu, Dokter Raven. Berita tentang 'Dokter Heroik' di pesawat itu ada di mana-mana. Dan soal tempat ini... GPS taksi yang kamu naiki berhenti di area yang tidak seharusnya. Tidak sulit bagi orang yang punya akses untuk melacaknya."
> Oke, ini orang pinter banget atau emang tukang intip ya? Lyra merinding sendiri. Tapi bentar, kalau dia perwakilan dokter juga, berarti dia rekan kerja gue dong? Gila ya, dokter-dokter di London speknya begini semua? Yang satu jadi Kepala Kepolisian, yang ini dokter tapi jago berantem.
"Masuk ke mobil," perintah pria pirang itu lagi, suaranya tidak menerima bantahan. "Atau kamu mau nunggu penculik ini bangun lagi?"
Lyra melirik tiga preman yang masih terkapar tak berdaya di lantai beton, lalu melirik ke arah pria pirang itu.
> Aduh, Lyra! Lo tuh harusnya waspada, siapa tahu ini penculik jilid dua! Tapi kalau liat mobilnya yang seharga ginjal sekampung itu, kayaknya dia nggak butuh uang tebusan gue sih. Lagian, kalau gue telat lagi, mampus gue di depan bos Delphi!
"Oke, oke! Gue ikut!" seru Lyra sambil menyambar tasnya yang tergeletak di lantai.
Ia masuk ke kursi penumpang mobil sport putih yang aromanya sangat maskulin dan bersih. Begitu pintu tertutup, pria pirang itu langsung menginjak gas, membuat tubuh Lyra terdorong ke belakang kursi kulit yang empuk.
"Nama kamu siapa?" tanya Lyra sambil mencoba merapikan rambutnya yang sudah seperti sarang burung lewat kaca rias mobil.Mobil sport putih itu membelah jalanan London dengan kecepatan yang membuat Lyra harus berpegangan erat pada handle pintu. Pria di sampingnya ini benar-benar tidak tertebak.
"Pharma," ucap pria itu tiba-tiba, memecah keheningan yang tegang di dalam kabin.
Lyra menoleh cepat. "Hah? Farmasi?"
Pria pirang itu meliriknya sekilas dengan tatapan datar yang sangat mengintimidasi. "Nama saya. Pharma Andriend. Dan sebaiknya kamu berhenti memanggil saya 'Ai' di depan staf yang lain nanti."
> PHARMA ANDRIEND?! Batin Lyra langsung bereaksi. Namanya unik banget, tapi kok auranya kayak malaikat pencabut nyawa ya? Mana tadi dia bilang dia perwakilan dokter juga. Berarti dia ini semacam senior gue atau rekan satu tim selama di Delphi? Duh, Lyra! Lo beneran harus jaga sikap, ini orang kayaknya nggak suka diajak bercanda.
"Oke, Dokter Pharma," jawab Lyra, berusaha terdengar seprofesional mungkin meski jantungnya masih berdisko. "Makasih sudah... ya, tahu lah, ngehajar mereka. Tapi jujur ya, dokter di London emang diajarin bela diri ya di kurikulumnya? Tadi itu keren banget, sumpah."
Pharma tidak menjawab pujian itu. Ia malah melirik jam di pergelangan tangannya yang bermerek mewah. "Kita sampai dalam tiga menit. Kamu punya waktu dua menit untuk merapikan penampilanmu sebelum kita masuk ke lobi utama. Saya tidak mau terlihat berjalan dengan dokter yang baru keluar dari tempat sampah."
> APA KATANYA?! TEMPAT SAMPAH?! Lyra melotot, nyaris ingin melempar tasnya ke wajah Pharma. Dokter syalan! Gue begini kan gara-gara diculik, bukan gara-gara main di TPA! Ganteng-ganteng mulutnya kayak dikasih formalin, pedes banget!
Meski dongkol setengah mati, Lyra tetap mengeluarkan bedak dan lipstik dari tasnya. Ia merapikan rambutnya secepat kilat.
"Dokter Pharma, kamu tahu soal Bos Delphi yang katanya 'The Best' itu?" tanya Lyra sambil memoles bibirnya. "Katanya dia galak banget ya? Kamu yang sesama perwakilan dokter di sana pasti sering kena semprot juga kan?"
Pharma hanya terdiam, namun ada kilatan aneh di matanya saat mendengar pertanyaan Lyra. Ia memutar setir dengan satu tangan, memarkirkan mobilnya tepat di depan pintu masuk utama Delphi Medical Centre yang sangat megah. Gedung itu menjulang tinggi dengan dinding kaca yang memantulkan langit London.
"Kamu akan segera tahu," jawab Pharma singkat. Ia mematikan mesin mobil dan keluar tanpa membukakan pintu untuk Lyra.
Lyra buru-buru menyusul, berlari kecil di belakang Pharma yang melangkah lebar. Begitu mereka masuk ke lobi, semua staf rumah sakit mulai dari resepsionis sampai perawat langsung berdiri tegak dan menundukkan kepala dengan hormat saat Pharma lewat.
> Eh... kok semua orang nunduk? Lyra mulai merasa ada yang nggak beres. Katanya dia perwakilan dokter? Tapi kenapa auranya kayak raja begini? Apa semua dokter di sini emang gila hormat?
Pharma tidak memberikan jawaban atas kebingungan Lyra. Ia hanya menunjuk ke arah sebuah koridor luas di mana sudah ada lima orang dokter lain yang tampaknya juga perwakilan dari berbagai negara sedang berdiri berbaris dengan sikap sempurna.
"Baris di sana," perintah Pharma dingin. "Dan jangan berisik."
Lyra mendengus, merasa harga dirinya sedikit terusir. "Iya, iya! Nggak usah diperintah juga gue tahu prosedur, Dokter Pharma! Lagian, lo kan sama-sama perwakilan kayak gue, nggak usah sok jadi mandor deh," bisik Lyra ketus sambil melangkah menuju barisan.
Pharma hanya mengangkat satu alisnya, menatap Lyra dari balik kacamata tipis yang entah sejak kapan sudah ia pakai lagi. Ia tidak membalas ucapan Lyra dan justru berjalan santai ke arah depan barisan, berdiri dengan tangan masuk ke saku jas bedahnya.
Lyra masuk ke barisan paling ujung, tepat di samping seorang dokter pria asal Jerman yang badannya seperti atlet binaraga.
> Dih, sombong banget sih si rambut pirang itu! Batin Lyra masih mengomel. Oke, dia emang jago berantem dan bawa mobilnya keren, tapi kita kan setara di sini. Sama-sama dokter tamu! Mentang-mentang dia dokter lokal sini, gaya bicaranya kayak yang punya rumah sakit aja. Dokter syalan! Liat aja nanti, kalau soal nanganin pasien anak, gue nggak bakal kalah sama dia!
Karena rasa dongkolnya belum hilang, Lyra sengaja menyenggol bahu Pharma sedikit saat pria itu lewat di depan barisannya untuk mengecek dokumen.
"Dokter Pharma," panggil Lyra setengah berbisik saat Pharma berada tepat di depannya. "Ehem, kancing jas bedah lo itu miring satu. Kayaknya tadi pas berantem di gudang ada yang geser. Rapihin gih, malu sama perwakilan negara lain kalau lo kelihatan berantakan."
Pharma menghentikan langkahnya tepat di depan Lyra. Atmosfer di sekitar mereka mendadak turun beberapa derajat. Dokter-dokter lain di barisan itu langsung menahan napas, menatap Lyra dengan pandangan 'lo-cari-mati-ya?'.
Pharma menunduk sedikit, mendekatkan wajahnya ke arah Lyra sampai Lyra bisa mencium aroma parfum maskulinnya yang tajam. "Dokter Raven," suara Pharma sangat rendah, "fokus saja pada laporan medis Timmy yang seharusnya sudah ada di meja saya sepuluh menit lalu. Dan satu lagi... jangan pernah mengomentari penampilan saya jika kamu sendiri datang ke sini dengan sisa debu gudang di kerah blazermu."
Lyra tersentak, refleks meraba kerahnya. > KURANG AJAR! "Gue begini kan gara-gara nolongin lo pas... eh, gara-gara diculik dan lo yang jemput! Harusnya lo simpati dikit napa!" sahut Lyra, mulai lupa kalau ini adalah lobi rumah sakit bergengsi.
"Simpati tidak menyelamatkan nyawa pasien," balas Pharma telak. Ia kemudian berbalik membelakangi Lyra dan berseru pada asistennya, "Panggil Direktur sekarang. Saya tidak punya waktu seharian untuk melihat barisan dokter yang bahkan tidak bisa menjaga kebersihan baju mereka sendiri."
Lyra mengepalkan tangannya di samping paha.
> Sumpah ya, Pharma Andriend! Lo beneran kandidat kuat jadi orang paling nyebelin se-Inggris Raya! Oke, lo pinter, lo jago bela diri, tapi mulut lo itu minta banget dikasih resep obat kumur biar nggak pedes banget kalau ngomong! Liat aja nanti pas kita kerja bareng, gue bakal buktiin kalau gue lebih kompeten dari lo!
Tepat saat Lyra sedang membayangkan cara membalas dendam pada Pharma, pintu besar di depan mereka terbuka, dan seorang pria tua berwibawa keluar dengan wajah tegang.