Novel ini mengisahkan hubungan antara seorang pria kristen bernama David Emmanuel Erlangga seorang pria yang terlahir dari keluarga yang begitu kental dalam menjalankan agama,anak dari seorang pendeta yang terkenal di negeri ini yang bertemu dan menjalin cinta dengan seorang muslimah yang taat serta merupakan anak salah seorang kyai terkemuka .
bagaimana kisah rumit mereka? dan akankah mereka mempertahankan hubungan yang penuh dengan penentangan dari kedua keluarga dan lingkungan?atau justru memilih berpisah demi bertahan dengan keyakinan masingmasing?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Maya sabir, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 11
Rain mengangguk perlahan dengan senyuman hangat. "Ya, ayahku Wijaya adalah teman baik papa kamu semenjak masa muda. Kita bahkan pernah bermain bersama di halaman rumahmu waktu kecil lho, kamu masih kecil banget waktu itu , suka ngambil mainan mobilku terus menyembunyikannya."
Aisyah menatap Rain dengan mata yang semakin terbuka lebar, seolah mencoba mengingat kembali kenangan lama itu. Setelah beberapa saat, bibirnya sedikit mengangkat membentuk senyuman tipis. "Sekarang aku ingat... ada kakak yang selalu mau ajak aku main, tapi aku sering nangis karena kamu selalu menang saat kita main balap mobil kecil."
Keduanya tertawa bersama, suasana yang tadinya sedikit kaku pun lenyap. "Maaf ya waktu itu, aku memang suka bersaing dan tidak mau kalah sama siapa pun," ujar Rain sambil menggaruk kepalanya. "Tapi tahu tidak, sejak keluargaku pindah ke Dubai, aku selalu ingat ada adik kecil yang suka menangis tapi tetap mau bermain bareng dengan ku."
Aisyah menoleh kembali ke arah kolam, mata nya mengikuti gerakan ikan koi yang berenang tenang. "Aku juga tidak pernah melupakan kakak yang selalu membawaku makan es krim saat mama ku tidak mengizinkan. Tapi setelah kamu pergi, aku tidak tahu lagi kabarmu. Papa dan mama jarang cerita tentang teman-teman masa mudanya dulu."
" Dan kita tumbuh di tempat dan negara yang berbeda, kamu pasti punya banyak teman baru setelah aku pergi kan?" Potong Rain yang kini ekspresi wajah nya terlihat lebih serius.
Aisyah menunduk menatap rumput ,seolah rumput itu lebih menakjubkan daripada pria tampan yang ada di depannya. Ya semua telah berubah seiring berjalannya waktu.Waktu telah mengubah semua nya, Aisyah kecil yang manja dan periang itu kini tumbuh menjadi gadis cantik dan menawan,begitu pun dengan Rain setelah menetap di Dubai ia memiliki teman baru bernama Nisa yang pada saat itu mereka sama-sama menetap di Dubai karena mengikuti orang tua dan perlahan posisi Aisyah kecil tergerus oleh kehadiran Nisa kecil.
Rain mendekatkan tubuhnya sedikit, tetap menjaga jarak yang nyaman. "Keluargaku memang sudah lama tinggal di Dubai, tapi papa selalu cerita tentang Indonesia dan tentang keluarga Brawijaya. Bahkan saat dia bilang mau datang ke acara ulang tahun papa kamu, aku langsung bilang mau ikut , tapi tidak pernah menyangka akan bertemu denganmu lagi setelah sekian lama. Gadis ingusan itu ternyata ..." Rain menggantung ucapannya , ia terkekeh saat mengenang kembali kekonyolan nya saat remaja dulu, gadis yang ia lihat saat di taman waktu itu ternyata gadis kecil yang sering membuatnya naik tensi dan juga selalu mengikutinya meski kerap kali mereka bertengkar. Sungguh Aisyah begitu berubah dari bentuk fisiknya, ia benar-benar tak mengenali wajahnya atau kah karena Rain memang sudah tak lagi mengingat gadis kecil itu setelah bertemu dengan Nisa?.
Saat itu, suara musik kembali menyala dengan irama yang lebih meriah. Beberapa tamu mulai menari di area lantai dansa yang sudah disiapkan. Aisyah melihat ke arah sana kemudian kembali menatap Rain. " Ternyata dunia ini begitu sempit ,orang yang sudah tak ada di ingatan ternyata bisa kembali lagi tapi orang yang selalu ada di ingatan pergi entah kemana." Wajah Aisyah terlihat begitu sendu saat mengatakan kalimat terakhir nya,entah mengapa wajah David tiba-tiba muncul di benaknya,membuat suasana hatinya kembali kosong.
Rain tersenyum lagi, matanya tidak bisa lepas dari wajah Aisyah yang semakin terlihat cantik di bawah cahaya lampu taman. "Mungkin memang ada yang mengatur jalannya ya? Kalau dulu kita bermain sebagai anak-anak, sekarang kita bertemu lagi sebagai orang dewasa."
" Ya...ceritakan padaku kehidupan mu di Dubai, apakah aku akan sebentar lagi memiliki kakak ipar?" Ujar Aisyah tiba-tiba, membuat Rain sedikit terkejut namun segera menenangkan diri.
Belum sempat Rain menjawab, suara Firdaus terdengar dari kejauhan. "Aisyah! Papa memanggil kita untuk bergabung dengan keluarga tamu penting lainnya."
Aisyah berdiri perlahan, kemudian menoleh ke arah Rain dengan senyuman hangat. "Maaf ya, sepertinya aku harus pergi dulu. Tapi mungkin kita bisa melanjutkan pembicaraan ini nanti?"
"Tentu saja," jawab Rain dengan senyum lebar. "Nanti aku akan menghubungi kamu, boleh kan? Kalau tidak keberatan, aku ingin mengajak kamu keluar makan es krim , untuk mengulang kenangan lama kita."
Aisyah mengangguk dengan senyum manis. "Baiklah, kak Rain. Aku tunggu saja kabarmu ya." Setelah itu, dia berbalik dan berjalan menuju arah Firdaus yang sudah menunggu di kejauhan.
Rain tetap berdiri di situ, menatap sosok Aisyah yang semakin jauh. Hatinya terasa hangat dan penuh harapan. Siapa sangka, kenangan masa kecil yang sudah lama terkubur ternyata akan menjadi awal dari sesuatu yang lebih dalam di masa depan. Sementara itu, di area tengah halaman, Tuan Brawijaya dan Wijaya sedang asik bercerita tentang masa muda mereka, sementara Mama Retno dan Delia sedang merencanakan untuk mengadakan kumpulan keluarga lagi segera , kali ini di rumah Wijaya yang baru saja mereka beli di Jakarta. Pesta masih berlangsung meriah, dan siapa tahu, malam ini tidak hanya menjadi perayaan ulang tahun, tetapi juga awal dari hubungan baru yang akan menghubungkan kedua keluarga tersebut kembali seperti dulu.
...----------------...
Di sudut dunia lain,tampak seorang pria tampan baru saja keluar dari gereja bersama seorang wanita cantik yang berjalan di sisi nya,mereka baru saja melakukan ibadah Minggu .
Pria tampan itu adalah David, wajahnya yang biasanya tenang kini sedikit kerutan karena pikirannya masih terpaut pada sosok perempuan yang selalu menghiasi setiap sudut ingatannya. Wanita di sisinya, Naina, melihatnya dengan tatapan penuh perhatian.
"Kau masih memikirkannya, bukan?" ujar Naina dengan nada lembut sambil mengangkat tangan untuk menyapu sedikit dedaunan yang menempel pada bahu David.
David menghela nafas perlahan, kemudian menoleh padanya dengan senyuman yang sedikit paksa. "Maaf ya, Naina. Aku tahu kita sudah sepakat untuk memulai yang baru, tapi kadang kala ingatan itu seperti ombak yang tak bisa aku halangi."
Naina mengangguk dengan pengertian. Mereka telah bertemu setahun lalu saat David sedang menjalani masa sulit setelah kehilangan kontak dengan Aisyah. Ia adalah sahabat baik teman David dan selalu ada untuknya, namun hati David seolah masih terjebak pada masa lalu.
"Kamu tidak perlu meminta maaf, David. Cinta tidak bisa dipaksakan begitu saja," ujarnya sambil menyandarkan bahunya pada lengannya. "Kau tahu kan, aku hanya ingin kamu bahagia, apa pun bentuknya."
Ya Naina sudah mengetahui semua kisah masa lalu David. David dan Naina sepakat memulai kehidupan baru ,namun David belum bisa begitu saja melupakan kisahnya dengan Aisyah. Ia begitu mencintai wanita itu begitu dalam meski ia sadar mereka tak bisa di persatukan oleh kenyataan. Dinding kokoh itu tak mampu mereka runtuhkan .