Rania Wiratama seorang gadis yang dipaksa menikahi pembully-nya di Masa lalu atas keinginan terakhir Eyang Kartika, Rania bekerja sebagai Photography dan penjual foto lewat website.
Arga Prananda seorang pria yang bekerja di anjungan laut lepas, nampak menyesali perbuatannya pada Rania. Rasa bersalah selama bertahun-tahun mengubahnya menjadi obsesi sekaligus cinta. Rania yang sudah memendam rasa benci dan trauma tak mampu menatap apalagi bersama Arga. Tapi Arga selaku suami dan Imam bagi Rania berjanji untuk membimbing dan menuntun istrinya ke jalan agama, sekaligus mencintai Rania. Bagaimana akhir pernikahan ini?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Putri Sabina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 25
Matahari pagi menyingsing ke arah timur, sinarnya menembus kaca memantulkan cahaya keemasan.
Udara sangat dingin di langit Bandung, Rania masih terlelap di ranjang tubuhnya mengenakan lingerie tipis---karena ibunya Lena mengisi satu koper khusus untuk Rania isinya Lingerie semua.
Rania yang mengenakan lingerie warna merah di tubuhnya, menahan dingin, napasnya naik turun pelan, wajahnya menahan dingin dengan kesan damai.
Arga terbangun mengedipkan matanya menyesuaikan matahari yang masuk ke kamar, kepala Arga menoleh ke samping.
Matanya menatap istrinya yang menggigil kedinginan, sontak tangannya menarik selimut menutupi tubuh istrinya dengan hati-hati.
Meski tubuh Rania terbalut lingerie yang tipis, tapi Arga tak menyentuh Rania---karena belum mendapatkan izin dari Rania.
Sesuai janji Arga, meskipun juniornya minta di puaskan---tapi Arga selaku laki-laki yang bertanggung jawab tak melakukan itu semua.
Selimut yang di tutupi ke tubuh Rania membuatnya secara refleks bergerak, dalam keadaan setengah sadar, Rania mendekat dan memeluk Arga.
Karena merasa Arga adalah tempat nyaman dan aman bagi Rania.
Tangannya melingkar, kepala Rania di letakan di atas dada milik suaminya.
Arga terdiam sejenak----Tubuhnya di peluk oleh Rania.
Tak mau kalah Arga juga memeluk istrinya, lalu mencium puncak kepala Rania dengan lembut, membenarkan rambut keriting yang menutupi wajahnya.
Baru pertama kali yang di rasakan Arga, dadanya terasa hangat saat Rania mulai mau menerimanya----ibu bukan sekedar pelukan tapi perasaan 'maaf' yang tak terucapkan sudah di terima.
Arga merasa ada dorongan yang di rasakan, keinginannya yang manusiawi----hal normal yang seharusnya suami dapatkan dari sang istri---yakni hubungan badan.
Tetapi itu semua Arga menahannya, dirinya sadar diri---tak bisa begitu saja meminta haknya sebagai suami, karena dulu Arga yang menoreh trauma dalam diri Rania.
Kaki Rania yang melingkar di paha Arga membuat----juniornya berdiri dan meminta di puaskan.
Tak berselang lama, kelopak mata Rania bergetar perlahan terbuka.
Matanya sedikit menyipit karena cahaya matahari pagi, lalu menatap Arga dari jarak dekat.
Kesadarannya kembali dan Rania menyadari jika tengah memeluk Arga.
"Maaf...," suara Rania lirih langsung melepaskan pelukannya.
Wajahnya nampak memerah menahan malu, selimut di tutup ke tubuhnya.
Arga tersenyum dan menggelengkan pelan, suaranya tenang dan tak terdengar marah.
"Nggak apa-apa, saya ini suami kamu...," ujar Arga dengan lembut.
Rania masih enggan menatap Arga karena sangat malu, pipinya memerah---entah karena cuaca dingin atau karena hatinya berdebar.
Keduanya diam sejenak, Rania menahan senyum saat Arga melihatnya---Tak ada rasa takut lagi.
Di jalan Braga Bandung.
Pagi ini di jalanan kota Braga, Bandung. Sepasang Suami istri tengah berjalan santai sambil menikmati seni lukisan di Braga.
Rania dengan mesra mengandeng lengan Arga, keduanya sudah tampak akrab meski belum melakukan hubungan badan.
Hari ini Rania mengenakan gaun warna hitam dengan motif bunga sakura warna merah muda, tak lupa rambutnya yang keriting panjang di ikat setengah dan membiarkan sisa gerai.
Sementara Arga mengenakan kaos santai warna navy dengan tulisan Polo, dan celana pendek jeans warna biru muda.
Keduanya bergandengan tangan saling menatap satu sama lain, "kamu mau sarapan apa?" tanya Arga.
"Aku sih ngikutin kamu aja, Mas," Jawab Rania sambil menggandeng tangan sang suami.
"Yaudah nasi kuning aja Mas, yang di ujung jalan sana," tunjuk Rania.
Rania adalah tipe gadis yang sederhana, dirinya tak masalah makan makanan yang di pinggir jalan.
Keduanya nyebrang dan melangkah ke gerobak nasi kuning, Arga yang membayar semua.
Setelah makan, keduanya melanjutkan berjalan.
"Kamu mau ke seni art galery di Braga?" tanya Arga.
Rania yang penasaran hanya menganggukkan kepalanya, lalu keduanya berjalan lagi menuju museum seni art galery.
Saat keduanya berjalan mau memasuki Museum tanpa sengaja, lengan Arga bertabrakan dengan seorang pria.
Bonar Salim.
Pria yang dulu waktu masa SMA dan SMP juga ikut membully Rania-----Bahkan Bonar dulu juga ikut memukuli Rania.
Penampilan Bonar sekarang rambutnya tipis, mengenakan kacamata bening dengan jambang di sekitar wajahnya.
Sementara baju yang dikenakan kaos santai warna hijau muda, dan celana jeans panjang warna biru tua.
Bukk.
"Maaf Mas, saya enggak senga---" kalimat Arya terpotong saat melihat Bonar teman lamanya.
"Bonar?" ucap Arga.
"Arga ya?" kata Bonar.
Keduanya merasa mengenal satu-sama lain, lalu saling bicara.
"Hay Broo apa kabar??" tanya Arga, keduanya bersalaman.
Rania yang mengingat masa lalu, wajahnya langsung pucat.
Takdir yang bisa di bilang kebetulan, dirinya malah di pertemukan dengan para penindasnya di masa lalu yang telah menoreh trauma padanya.
Keduanya berbicara, Rania tetap di belakang suaminya sambil memeluk lengan Arga karena ketakutan.
"Eh ini Rania ya?" tanya Bonar memperhatikan Rania yang sudah berubah.
"I-iya," sahut Rania dengan canggung tangannya memeluk lengan Arga.
Dulu Rania kulitnya coklat, rambutnya keriting dan tubuhnya kurus.
Sekarang Rania kulitnya lebih cerah, tubuhnya nampak semok, dan rambutnya yang keriting panjang tercium aroma aloevera.
"Cantik juga sekarang," ujar Bonar melihat Rania.
Akhirnya mereka tak masuk ke museum seni Art Galery, keduanya memutuskan mencari cafe terdekat.
Rania memesan Capucino sementara Arga memesan Americano----Berbeda dengan Bonar yang malah memesan Matcha.
"Bro lu kenapa mesen Matcha tanpa gula, biasanya lu paling demen minum kopi gula aren," kata Arga melihat sahabatnya.
"Jaga kesehatan gua," jawab Bonar.
"Dih tumben lu," kata Arga dengan terkekeh.
Sementara Rania merasa masih canggung, saat di hadapkan dengan dua orang yang membullynya di masa lalu.
"Kan gua Dokter," jawab Bonar dengan santai.
"Dokter??" ujar Arga.
"Iya Dokter bedah," jawab Bonar.
Bonar Salim menjelaskan bahwa sekarang dirinya menjadi Dokter di sebuah rumah sakit di Jakarta, dan dirinya ke Bandung hanya sekedar liburan sekaligus melihat pasiennya---Pasien pribadi.
"Lu kerja dimana, Ga?" tanya Bonar sambil meminum matchanya.
"Di tambang minyak sebagai supervisor," jawab Arga.
"Rania sendiri gimana?? Jadi ibu rumah tangga kah?" tanya Bonar menatap Rania dengan ramah.
"Enggak kok, gua freelance penjual foto sekaligus membuka jasa pembuatan website."
Rania menjawab dengan rasa canggung.
*