Tiga tahun menikah, Tania hanya menjadi bayangan di rumahnya sendiri. Baginya, Rey adalah semesta, tapi bagi Rey, Tania hanyalah 'obat penawar' saat hatinya hancur ditinggal masa lalu.
Tania sudah memberikan segalanya, sampai dia sadar—di hati suaminya, tetap ada nama wanita lain yang tak sanggup dilepaskan.
Saat Tania berhenti peduli dan berpapasan tanpa lagi menatap mata suaminya, Rey baru merasakan dingin yang sesungguhnya.
"Apakah mencintai harus sesakit ini? Jika kau cinta, mengapa tak menahannya, Rey?"
Terinspirasi dari lagu Arvian Dwi(Hatimu Milik Dia)
Dukung Authir yaa,,like,komen,gift hehehe
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadhira ohyver, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 11: Nyawa yang Hilang dari Rumah
Pukul 06.00 pagi.
Biasanya, indra penciuman Rey akan disambut oleh aroma kopi yang baru diseduh atau wangi roti panggang yang menggugah selera.
Biasanya, ada suara gemericik air dan denting piring yang menandakan rumah itu punya kehidupan. Tapi pagi ini, rumah itu sunyi senyap.
Hanya ada suara jarum jam dinding di ruang tengah yang berdetak, terdengar seperti suara palu yang menghantam kesadaran Rey.
Rey terbangun dengan leher yang kaku. Ia tertidur di sofa ruang kerja, tempat ia mengurung diri setelah mendapati nomornya diblokir Tania semalam.
Rey berjalan menuju dapur dengan langkah gontai, berharap—dengan keajaiban kecil—Tania ada di sana, memakai celemeknya, dan akan menyambutnya dengan senyum tipis meski sedang marah.
Tapi dapur itu kosong. Dingin. Dan berantakan.
Di atas meja makan, sisa piring kotor semalam saat Bianca pingsan masih ada di sana.
Kerumunan semut mulai mendatangi sisa steak yang mengering. Rey merasa mual melihatnya.
Tania tidak pernah membiarkan satu sendok pun kotor di atas meja lebih dari sepuluh menit.
"Rey? Sudah bangun?"
Rey menoleh. Bianca muncul dari arah kamar tamu. Wanita itu mengenakan salah satu kemeja kebesaran milik Rey—sesuatu yang seharusnya terasa seksi, tapi di mata Rey pagi ini, itu justru terlihat lancang. Rambut Bianca sedikit berantakan, dan wajahnya tampak pucat tanpa riasan.
"Kopi, Bi?" tanya Rey refleks, berharap Bianca akan melakukan apa yang biasa Tania lakukan.
Bianca mengerutkan kening, ia berjalan mendekati mesin kopi dengan bingung.
"Aduh, Rey... aku nggak tahu cara pakai mesin kopi kamu yang ini. Ribet banget kelihatannya. Terus... bahan makanan di kulkas kamu kok isinya bahan mentah semua? Nggak ada sereal atau roti yang tinggal makan?"
Rey terdiam. Ia baru sadar, selama ini dirinya hanya tinggal duduk manis karena Tania selalu menyiapkan semuanya dari nol. Tania yang menggiling biji kopi manual agar rasanya lebih segar, Tania yang membuat selai kacang sendiri agar Rey tidak mengonsumsi banyak pengawet.
"Pesan lewat ojek online saja kalau mau makan," ucap Rey dingin. Ia mengambil air putih dari dispenser, lalu duduk di kursi meja makan yang terasa sangat keras pagi ini.
"Kamu kok ketus banget sih, Rey? Aku kan tamu di sini. Harusnya kamu sedikit lebih perhatian," Bianca merengut, mencoba duduk di pangkuan Rey seperti yang sering ia lakukan dulu saat mereka masih berkencan.
Rey segera berdiri sebelum Bianca sempat menyentuhnya. "Aku harus ke kantor. Pak Lukman sebentar lagi sampai. Dia akan antar kamu pulang ke rumah orang tuamu."
Wajah Bianca berubah drastis. "Pulang? Rey, aku sudah bilang kan kalau ayahku marah? Aku nggak mau pulang dulu! Aku mau di sini, sama kamu. Bukannya ini yang kita mau selama ini? Tania sudah pergi, kan?"
Mendengar nama Tania disebut dengan nada meremehkan dari bibir Bianca, hati Rey mencelos.
"Tania pergi karena kamu datang ke sini malam-malam, Bianca."
"Kok jadi salah aku? Dia saja yang terlalu baperan! Istri mana yang ninggalin suaminya cuma karena ada teman yang lagi butuh bantuan?" Bianca mendengus, mulai menunjukkan sifat aslinya yang egois.
Rey tidak membalas. Memilih naik ke lantai atas untuk bersiap. Di dalam kamar mandi, ia meraih sikat giginya. Di sampingnya, ada sikat gigi warna merah muda milik Tania. Masih ada sisa tetesan air di wadahnya, seolah pemiliknya baru saja pergi sebentar. Rey menatap pantulan dirinya di cermin. Ia terlihat berantakan. Matanya sembab dan wajahnya kusam.
Akankah kau temui hati sebaik dia...
Lirik itu terus menghantuinya. Rey mencoba mandi dengan air dingin untuk mengusir bayangan Tania, tapi setiap sudut kamar mandi itu adalah pilihan Tania. Mulai dari wangi sabun aromaterapi sampai penataan handuk. Semuanya adalah Tania.
Saat Rey turun ke bawah, ia melihat Bianca sedang asyik bermain ponsel di sofa, mengabaikan piring-piring kotor yang masih memenuhi meja makan.
Bianca bahkan tidak menoleh saat Rey lewat. Kontras sekali dengan Tania yang akan selalu memastikan jas Rey rapi dan dasinya simetris sebelum pria itu menginjakkan kaki keluar rumah.
Di dalam mobil menuju kantor, Rey hanya diam menatap jalanan Jakarta yang macet.
"Tuan... maaf," suara Pak Lukman memecah keheningan. "Tadi pagi Ibu Tania menelepon saya."
Rey langsung menegakkan duduknya. "Dia bilang apa, Pak? Dia di mana?"
Pak Lukman tampak ragu. "Beliau cuma minta saya mengantarkan sisa barang-barangnya yang tertinggal. Beliau bilang, beliau nggak akan kembali lagi ke rumah. Beliau juga minta saya jaga kesehatan Tuan, karena sekarang nggak ada yang perhatikan jadwal makan Tuan lagi."
Rey mengepalkan tangannya kuat-kuat. Matanya terasa panas. Bahkan setelah disakiti sehebat itu, Tania masih memikirkan kesehatannya? Masih memikirkan jadwal makannya yang berantakan?
"Di mana dia sekarang, Pak? Bapak antar ke mana sisa barangnya?" tanya Rey dengan nada mendesak.
"Ibu minta diantar ke sebuah apartemen di daerah pusat, Tuan. Tapi beliau melarang saya kasih tahu alamat detailnya ke Tuan. Katanya... Ibu butuh waktu untuk sendiri."
Rey menyandarkan punggungnya dengan lemas. Ia merasa seperti seorang raja yang baru saja kehilangan seluruh kerajaannya dalam semalam.
Harta, jabatan, dan rumah mewahnya tidak ada artinya jika saat ia pulang nanti, tidak ada suara lembut yang menyambutnya.
Sesampainya di kantor, Rey tidak bisa fokus. Rey membatalkan tiga rapat penting. Pikirannya hanya tertuju pada satu hal: Adrian. Ia tahu Tania ada bersama Adrian. Pikiran bahwa pria lain sedang menghibur istrinya, memberikan bahu untuk istrinya menangis, membuat Rey ingin menghancurkan apa pun yang ada di depannya.
Rey membuka laptopnya, mencoba mencari tahu keberadaan Adrian melalui koneksi bisnisnya. Tapi, sebuah notifikasi email masuk ke akun pribadinya. Email dari sebuah firma hukum.
Subjek: Permohonan Gugatan Cerai - Tania Putri
Dunia Rey serasa berhenti berputar. Email itu berisi lampiran dokumen yang menyatakan bahwa Tania telah resmi mendaftarkan gugatan cerai.
Tidak ada tuntutan harta gono-gini. Tidak ada tuntutan apa pun. Tania hanya ingin satu hal: kebebasan.
Rey tertawa sumbang, tawa yang kemudian berubah menjadi isakan kecil yang tertahan di tenggorokannya. Ia baru sadar, selama ini Tania tidak bertahan karena harta. Tania bertahan karena cinta. Dan sekarang, saat cinta itu telah ia hancurkan sendiri sampai jadi debu, tidak ada lagi alasan bagi Tania untuk menetap.
Tiba-tiba ponselnya berdering. Nama Bianca muncul di layar.
Rey mengangkatnya dengan perasaan muak. "Ada apa?"
"Rey, aku bosan di rumah. Aku pesan makanan mewah ya pakai kartu kredit kamu yang ada di laci meja kerja? Oh ya, aku juga pecahin vas bunga di ruang tengah, nggak sengaja. Nanti panggil tukang bersih-bersih aja ya!"
Rey menutup teleponnya tanpa menjawab. Ia menatap ke luar jendela kantornya yang tinggi.
Rey baru saja menukar berlian dengan batu kali yang berisik.
Ia meraih kunci mobilnya, tidak peduli pada pekerjaan yang menumpuk. Rey harus menemukan Tania. Ia harus berlutut jika perlu. Karena lirik lagu itu kini menjadi kenyataan yang paling pahit bagi hidupnya:
Jika kau cinta, mengapa tak menahannya?
Rey baru sadar, dia tidak pernah menahan Tania karena dia terlalu sombong. Dia pikir Tania tidak akan pernah berani pergi. Dan sekarang, saat Tania benar-benar melangkah menjauh, Rey baru menyadari bahwa hatinya ternyata sudah lama berpindah dari Bianca ke Tania—hanya saja egonya terlalu buta untuk melihatnya.