Pernah sesekali terlintas untuk pergi dari dunia ini selamanya. Mengakhiri takdir yang telah digariskan, yang terkesan tak adil. Karena sudah terlalu lelah dengan semuanya. Akan tetapi hati kecilnya kerap berkata, 'Jangan...!!'
Hingga suatu ketika dia benar-benar tak ingin melawan lagi. Bahkan untuk protes saja tak bisa dia lakukan lagi. Karena menurutnya itu tidak akan mengubah apapun pada kehidupannya...
Karena ketidakadilan sudah terlanjur mendarahdaging dalam dirinya...
Menjalani semuanya, apapun itu. Hingga tiba waktunya. Itulah keputusan terakhirnya...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Itsaku, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
11. Rahasia yang Terkuak
Di dalam sebuah toko buku dan alat tulis, Niko dengan luwesnya mendorong kursi roda Elbara. Meski sebenernya Elbara bisa melakukannya sendiri hanya dengan memencet tombol yang ada di kursinya. Tapi Niko selalu menuntut dirinya sendiri untuk berada di samping Elbara. Menjaganya dari segala kemungkinan yang bisa saja terjadi. Kecuali Elbara sendiri yang memintanya menjauh.
Sedangkan Yumna sibuk memilih barang yang di butuhkan oleh Aluna.
"Pak Bara...?!" panggil Yumna tiba-tiba sambil menoleh ke samping kiri. Tempat Elbara berada.
"Aluna lagi suka sekali menggambar dan bermain warna. Boleh ambil beberapa buku mewarnai dan krayon baru buat Aluna?" tanya Yumna.
"Apapun yang menurut kamu cocok buat Aluna. Ambil saja." jawab Elbara.
"Baik..." balas Yumna dengan senyuman manisnya.
Tak di sangka, di tengah aktivitas yang sangat menyenangkan bagi Yumna itu. Dia bertemu dengan Nasya dan Damar.
"Kakak...?!!" sapa Nasya.
Nasya mencoba menarik tangan Yumna, tapi Yumna lebih dulu mengangkat tangannya menjauh. Seolah sangat jijik dengan Nasya.
Sementara itu Niko berbisik pada Elbara.
"Itu adalah adik nona Yumna dan mantan pacarnya."
"Kakak kemana saja? Kenapa semalam tidak pulang? Aku minta maaf, kak. Tapi aku mohon, kakak pulang ya...?!!" ujar Nasya.
"Di sini bukan panggung kamu. Berhentilah berpura-pura, Nasya. Kamu tahu betul kenapa aku tidak pulang!" balas Yumna.
"Yumna!" sahut Damar menegur Yumna. "Memang harus ya, bicara sekasar itu pada Nasya?!" ujarnya penuh penekanan.
"Siapa yang memberimu izin bicara seperti itu pada Yumna?!!" sahut Elbara yang kini sudah berada di samping Yumna.
Sontak saja Damar dan Nasya mengalihkan pandangan mereka ke arah sumber suara.
"Kakak..., ini siapa?" tanya Nasya pada Yumna.
"Sudah selesai. Kita bisa pergi." Yumna tersenyum sangat manis pada Elbara, setelah memasukkan buku terakhir yang dia pilih untuk Aluna.
Elbara pun balik tersenyum pada Yumna, sambil menganggukkan kepalanya.
"Berani sekali dia tersenyum seperti itu pada pria itu...?!!" geram Damar dalam hati.
"Kak..., tunggu...!! Kak Yumna...!!" Nasya mengejar Yumna.
Elbara memberi kode pada Niko, untuk mengurus Nasya. Niko pun menghadang Nasya, dan membiarkan Yumna dan Elbara pergi lebih dulu.
"Cukup! Jangan ganggu nona Yumna!" ujar Niko sambil merentangkan tangannya.
"Nasya, sudah." Damar menarik tangan Nasya.
"Tapi, kak. Aku mau bicara sama kak Yumna..." kata Nasya.
"Sudah, ayo pergi!" ajak Damar.
"Siapa orang-orang itu? Mereka terlihat sangat melindungi Yumna?" batin Nasya.
___
Yumna mendorong kursi roda Elbara keluar dari toko. Meninggalkan Niko yang masih antri di kasir.
"Terimakasih, tadi pak Bara sudah bantu saya." kata Yumna.
Saat ini Yumna duduk di sebuah bangku, dan Elbara ada di sampingnya.
"Kamu punya masalah sama mereka?" balas Elbara. Dia berpura-pura tidak tahu apapun.
Yumna tidak menjawab. Bagi Yumna, tidak etis sekali kalau dia menceritakan masalah pribadinya pada Elbara.
"Kalau tidak nyaman bercerita, tidak apa. Tapi kamu harus selalu ingat. Kamu bisa memanfaatkan saya jika dibutuhkan." tutur Elbara.
Lagi-lagi Yumna diam. Tapi dia menatap Elbara yang sedang sibuk dengan ponselnya, dengan penuh rasa penasaran. Beberapa detik kemudian Elbara menoleh padanya, Yumna langsung menundukkan kepala.
"Mau langsung pulang?" tanya Elbara. Karena melihat Niko sudah keluar dari toko.
"Em." Yumna mengangguk.
Mereka pun keluar dari pusat perbelanjaan itu.
Dalam perjalanan, Yumna mengatakan kalau dia akan pulang ke rumah orang tuanya. Niko pun mengambil jalur yang menuju rumah Yumna.
"Terimakasih pak Bara, pak Niko." ujar Yumna.
Setelah mobil melaju, Yumna melangkah pelan menuju halaman rumahnya. Pak Igam sama sekali tak peduli dengan kedatangannya. Yumna pun tak ambil pusing. Setidaknya dengan begitu, Yumna bisa masuk rumah tanpa harus ribut dengan pria itu.
"Yumna!!"
Itu suara Bu Indri. Dia langsung berdiri dan menghampiri Yumna.
"Bukannya kamu bilang sudah tidak ada hubungan lagi dengan Damar? Lalu kenapa mamanya Damar masih sibuk memikirkan pertunangan kalian?"
"Ma..., mama salah orang kalau menanyakan hal ini ke aku." balas Yumna. "Mama kenapa tidak tanya sama Tante Kinan. Atau sama Damar...?" imbuhnya lagi.
"Tidak usah pura-pura. Kamu pasti tidak mau melepaskan Damar buat Nasya kan? Jadi kamu masih berusaha mendekati mamanya Damar. Dan ngaku ke dia kalau kamu masih pacaran sama Damar." ujarnya dengan ketus.
"Mama seyakin itu aku melakukannya?" Yumna tersenyum miring. "Ya sudah, terserah mama saja mau menilai aku seperti apa. Aku sudah tidak peduli dengan penilaian mama dan papa!! Karena memang di mata kalian, aku tidak ada harganya sedikitpun!" ujar Yumna menegaskan.
Lidah bu Indri tiba-tiba kaku, dia tidak membalas ucapan Yumna sedikitpun. Dia diam. Hanya memandang punggung putri pertamanya yang semakin menjauh. Suasana hatinya tiba-tiba jadi tak terdefinisikan.
___
"Ma, aku tadi ketemu kak Yumna di mall. Dia sama dua orang pria." Nasya mulai mengadu sama mamanya.
"Mungkin temannya?" balas Bu Indri.
"Mana mungkin, mama...!!" bantah Nasya. "Aku nggak pernah lihat mereka sebelumnya." katanya kemudian.
"Ma..., aku khawatir kak Yumna salah jalan." ujar Nasya seolah peduli sama sang kakak.
"Apa sebaiknya aku mundur saja. Biar kak Damar tetap bersama kak Yumna. Agar kak Yumna tidak berbuat yang aneh-aneh. Kasihan kak Yumna..."
"Nasya..., Damar yang memilih kamu. Kalian saling mencintai. Kamu sudah cukup baik, karena selalu peduli sama kakakmu. Padahal Dia sering menyakiti kamu. Dia saja yang sekarang berubah. Mama seperti tak mengenalinya lagi. Yumna yang manis itu, sekarang tidak ada lagi..."
Bu Indri tiba-tiba meneteskan air matanya. Tentu saja hal itu membuat Nasya semakin kesal dengan Yumna. Bagi Nasya, setetes air mata orang tua pun, tidak boleh Yumna dapatkan.
Nasya melihat papanya dari ujung matanya. Dia pun menyeringai tipis, tanpa disadari oleh siapapun.
"Aku hanya khawatir kalau pria-pria itu sudah memiliki keluarga. Karena usia mereka jauh dengan kak Yumna. Aku tidak rela kakak jadi simpanan mereka. Bagaimana kalau istri mereka tahu. Kasihan kak Yumna, ma..."
"Apa maksud kamu?!" sahut pak Jodi dengan nada tinggi.
"Pa..., pa...?!!" Nasya pura-pura ketakutan.
"Papa sudah pulang?" Bu Indri sangat gugup.
"Katakan Nasya!! Apa benar Yumna sekarang jadi simpanan suami orang?!" bentak pak Jodi.
"Mama..., aku takut...!!" Nasya merengek sambil memeluk mamanya.
"Paa, jangan buat Nasya takut. Mama mohon...!" pinta Bu Indri.
"Maafkan papa, nak." pak Jodi lantas mengecup puncak kepala Nasya.
"Tenangkan Nasya." ujar pak Jodi.
Pak Jodi kemudian pergi ke kamar Yumna. Saat itu Yumna baru saja menerima panggilan dari Aluna.
"Tidak ada habisnya kamu buat ulah!!" teriak pak Jodi.
Saking terkejutnya, Yumna menjatuhkan ponselnya tanpa mematikan panggilan video yang sedang berlangsung.
Pak Jodi menarik tangan Yumna, lalu menghempaskan tubuh Yumna hingga menabrak sebuah kursi kayu di kamarnya.
"Pantas kamu jarang pulang! Karena di luar sana kamu sedang melayani para pria hidung belang!! Iya...?!!" bentak pak Jodi.
Baru saja Yumna ingin membuka mulutnya, tapi tangan besar itu mendatanginya lagi. Kali ini menarik kerah piyamanya hingga kancing bagian atas terlepas dan jatuh ke lantai. Tamparan demi tamparan mendarat dengan kasar di pipi Yumna.
"Inikah orang tua yang sebenarnya...?" batin Yumna.
"Papa...!!" teriak Bu Indri.
Bu Indri berlari ke arah mereka, lalu menarik tangan suaminya.
"Nona...!!" kali ini bi Nuri membantu Yumna berdiri.
"Tolong hentikan, pak..." ujar bi Nuri memohon.
"Anak yang tak diinginkan orang tuanya, pasti hasil perbuatan kotor yang tak senonoh. Pantas saja kelakukan kamu jadi begini. Ternyata benar, buah memang jatuh tak jauh dari pohonnya." gerutu pak Jodi.
Baik Yumna maupun Nasya sama-sama terkejut. Sedangkan bi Nuri merasakan sakit di hatinya, mendengar Yumna dihina oleh pak Jodi.
"Anak tak diinginkan? Hasil perbuatan kotor?" batin Yumna.
"Sekarang juga kamu pergi dari rumah ini!! Tinggal saja sama pria-pria brengsek di luar sana! Saya tidak mau nama baik keluarga hancur hanya karena anak pungut seperti kamu!!" teriak pak Jodi dengan lantang.
"Anak pungut...?! Aku anak pungut...?!!"
Hati Yumna kembali hancur untuk kesekian kalinya. Ternyata dia bukanlah anak kandung mama dan papa. Pantas saja sejak ada Nasya, kasih sayang mereka seketika menghilang.
"Waoh...!! Kehebohan apa ini??? Jadi dia yang selalu dibanggakan teman-temannya dan banyak prestasi. Ternyata hanya anak pungut yang orang tuanya tidak jelas. Waaah...!! Tante Kinan harus tahu berita ini. Biar dia menyesal sudah mengidamkan Yumna." kata Nasya.
Nasya merasa menang telak. Tak disangka pertemuan di mall tadi, yang mau dia jadikan senjata untuk menyakiti Yumna. Ternyata bisa membuka aib Yumna yang diluar ekspektasinya. Nasya benar-benar merasa berada di atas awan.
Pak Jodi keluar dari kamar Yumna dengan langkah lebar dan cepat. Bu Indri tidak mengikutinya, dia justru menghampiri Yumna dan mengusap air mata Yumna.
"Kenapa kamu jadi seperti ini, Yumna...? Mama sungguh kehilangan Yumna mama yang dulu..." katanya dengan suara bergetar.
Yumna menjauhkan tangan Bu Indri dari wajahnya. Dia pun beranjak dari tempatnya. Mengambil jaket, tas yang biasa dia pakai, dan memasukkan handphone ke dalam tas itu.
"Nona, bibi akan pergi bersama nona." ujar bi Nuri.
Yumna menoleh pada perempuan yang selama ini sangat baik padanya. Satu-satunya orang di rumah itu, yang selalu percaya padanya.
"Yumna, jangan pergi. Mama akan bujuk papa. Kamu tunggu saja di sini." bujuk Bu Indri.
Tapi Yumna menulikan telinganya. Dia pergi begitu saja meninggalkan kamarnya.
"Yumna...!!" seru Bu Indri.
"Mama, biarkan saja dulu. Kak Yumna pasti butuh waktu untuk sendiri. Besok aku akan menemuinya. Mama jangan sedih ya." ujar Nasya.
......................