"Apa? Anak perempuan lagi? Jika begini terus, maka kamu harus kembali hamil dan melahirkan anak laki-laki untuk ku."
"Tapi.."
"Tidak ada tapi-tapi. Sebagai seorang istri yang baik, kamu harus menuruti semua perkataan suami mu ini."
"Ya. Baiklah."
Nasib baik tidak berpihak pada seorang wanita yang bernama Seruni. Ia di tuntut untuk terus melahirkan anak oleh suami nya. Di karenakan, ia belum bisa melahirkan anak laki-laki. Suami nya sama sekali tidak pernah membantu nya. Dengan lima anak perempuan yang masih kecil, wanita itu berjuang sendirian. Hingga akhir nya anak ke 6 lahir dan malapetaka itu pun terjadi. Seruni menyerah. Ia pergi dengan anak-anak nya meninggalkan sang suami yang sibuk dengan wanita lain.
Bagaimana kah perjalanan Seruni dan anak-anak nya?
Jangan lupa berikan komentar supaya author nya tambah semangat.
Terima kasih dan selamat membaca.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Uul Dheaven, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 11
Suasana di sekolah tempat dilaksanakannya perlombaan sangat lah meriah. Tampak Rima dan juga Tari, berada di tempat mereka masing-masing. Seruni begitu sibuk. Sesekali ia melihat jalan nya perlombaan yang di ikuti oleh Rima. Setelah itu, ia kembali melihat Tari yang terus menyatu dengan warna.
Ia sangat bangga pada dua anak perempuan nya itu. Tidak apa jika kali ini mereka tidak menang. Seruni sudah menyiapkan hadiah khusus untuk mereka.
Ini adalah babak final yang di ikuti oleh mereka berdua. Rima dan Tari sudah dua kali memang di lomba sebelum nya.
Saat Seruni sedang melihat-lihat anak-anak nya, tanpa sadar mata nya mengarah ke Hamdan yang saat ini sedang mengikuti lomba lainnya bersama dengan Susan dan anak nya.
Lomba itu adalah lomba untuk keluarga bahagia. Luar biasa sekali Hamdan. Mengabaikan anak-anak dan juga istri nya. Namun malah membahagiakan anak dan istri orang lain.
Mereka sudah seperti pasangan yang serasi. Seruni hanya bisa merekam semua itu di ponsel milik nya. Suatu saat nanti, pasti rekaman itu akan berguna.
Sebenarnya ia malas sekali melakukan hal itu. Adelia yang mengajari nya untuk merekam apapun hal yang ada hubungannya dengan Hamdan. Supaya memudahkan diri nya untuk segera berpisah dengan pria itu.
Suara bel tanda perlombaan berakhir. Seruni langsung menghampiri dua anak perempuan nya. Mereka sedang menunggu hasil pengumuman langsung dari para juri.
Tidak lama kemudian, nama Rima dan juga Tari di panggil dengan peringkat pertama. Mereka mendapatkan medali, uang tunai, piala, sertifikat dan juga hadiah.
"Ibu,, kami jarang. Semua nya karena doa Ibu." Ucap Rima.
"Tidak. Semua ini karena anak-anak ibu pintar. Ibu hanya berdoa. Lebih nya kalian berusaha sendiri."
"Hmmm,, iya, Bu. Tapi, semua ini karena Ibu juga. Kalau seandainya ibu kami orang lain, pasti kamu tidak akan menang."
Dua anak itu paling bisa membuat air mata Seruni mengalir. Ia begitu bahagia saat ini. Siapa bilang anak perempuan membawa beban. Bukti nya Rima dan Tari malah juara.
"Dengan orang tua nya Mentari?" Suara asing terdengar dari arah belakang. Seruni sama sekali tidak tahu siapa pria itu. Ia pun berbalik arah dan melihat.
Pria dengan kaca mata dan rambut gondrong itu sama sekali membuat Seruni tidak bisa mengenali nya.
"Iya. Saya Ibu nya. Anda siapa?"
"Bu, ini pelukis terkenal yang menjadi salah satu juri di perlombaan kali ini. Nama nya Om Restu."
"Oh, maaf Pak Restu. Saya tidak tahu jika anda adalah juri."
"Tidak apa. Saya maklum. Mungkin karena penampilan saya yang seperti ini."
"Eh, iya sih. Saya juga tidak mau berbohong."
Pria yang bernama Restu malah tertawa saat mendengar kejujuran Seruni. Bagi nya, jarang ada wanita yang mau jujur. Apalagi saat tahu siapa diri nya saat ini.
"Oh ya, bolehkah saya meminta pada Bu Seruni untuk menjadikan Mentari sebagai murid saya? Keahlian nya dalam memainkan warna, membuat saya kagum. Saya penasaran, dari mana anak sekecil ini bisa mengaplikasikan warna yang begitu indah."
"Semua saya serahkan pada Mentari. Saya tidak mau menjadi beban untuk nya. Bagaimana, nak?"
"Tari mau, Bu. Tari suka Om Restu yang baik dan lucu. Oh ya, Om. Tari sering lihat Ibu buat kue lapis dan kue lainnya. Jadi, Tari jadi penasaran bagaimana kalau Tari memberi warna seperti itu pada saat mewarnai."
"Ternyata, yang memberi inspirasi buat kamu adalah Ibu mu sendiri. Lalu, dimana Ayah kalian?"
"Hmmm,, Om Ayah kami udah nggak ada. Dia lebih suka anak laki-laki daripada kami anak perempuan. Jangan tanya kan dia lagi. Kami tidak suka. Ayah jahat suka marah dan pukul Ibu."
Tari yang masih sekolah di taman kanak-kanak itu, ternyata memendam rasa sakit dari perlakuan ayah nya selama ini. Seruni tidak menyangka jika Tari malah percaya pada orang asing untuk mengungkap kan perasaan nya.
Restu hanya diam saat tahu. Sedangkan Seruni, ia begitu malu karena Tari malah membawa masalah pribadi orang tua nya di depan sang Guru.
"Tari, tidak boleh seperti itu di depan guru mu, nak. Minta maaf."
"Tidak apa, Bu Seruni. Ini nomor saya. Jika nanti Mentari mulai tertarik, bisa hubungi saya di sini."
"Baik, Pak. Terima kasih."
Restu pergi begitu saja. Tidak lama kemudian, beberapa pria dan wanita mulai mengerubungi nya untuk meminta tandatangan.
Seruni merasa heran. Entah untuk apa tandatangan itu bagi mereka. Ia bahkan sama sekali tidak tahu apa penting nya Restu.
"Ayo anak-anak, Ibu mau ajak kalian ke suatu tempat."
"Horee,, tapi, Bu. Adik-adik bagaimana?"
"Adik kalian ada kok. Mereka lagi main sama Tante Adel."
"Loh, apa mereka nggak buat rusuh? Kan kasihan Tante Adel."
"Cuma sebentar. Habis ini kita jemput mereka."
"Oke deh."
Seruni dan dua anak nya berjalan ke parkiran. Wanita itu memegang ponsel nya dan memesan taksi online. Akan tetapi, mereka malah bertemu dengan Hamdan dan Susan bersama anak nya.
"Seruni, apa yang kamu lakukan di sini? Apa kamu menguntit ku?"
"Kepedean! Ayo kita pergi anak-anak."
"Eh, tunggu dulu. Kok kalian banyak dapat hadiah sih? Kalian kan anak kampung Bawa ke sini semua hadiah nya." Ucap anak nya Susan.
"Nggak boleh. Ini punya kami. Kami menang lomba. Kalau kamu mau, kamu cari sendiri sana." Ucap Tari.
"Papa, aku mau hadiah dan piala itu." Ucap anak nya Susan kepada Hamdan.
"Tari, Rima. Berikan piala dan hadiah kalian pada Taro."
"Taro? Seperti nama ciki. Tidak. Hadiah kami, punya kami. Bukan punya anak itu."
"Kalian mau melawan Ayah!"
"Bang! Jangan kelewatan. Anak-anak mu adalah mereka. Bukan anak janda gatal itu. Mereka berdua bersusah payah menang lomba. Jangan kau buat mereka semakin membenci mu."
"Itu bukan urusan ku. Cepat berikan!"
Hamdan berusaha merebut hadiah dan piala milik Rima san Tari. Dua anak itu malah menangis karena perlakuan Ayah mereka.
"Ibuuuuu."
"Ibu, tidak mauuuu. Ini punya kami.."
Huhuhuhu.
Hamdan seakan tidak peduli. Laki-laki itu bahkan melukai anak nya sendiri dengan menarik paksa piala tersebut.
"Hentikan tingkah konyol mu, Pak. Anda tidak malu menyerang dua anak perempuan? Saya akan memanggil satpam jika anda masih saja membuat kerusuhan."
"Siapa kau? Berani sekali melarang seorang manajer seperti ku."
"Kenalkan. Aku Restu. Guru nya Mentari mulai saat ini. Aku akan melaporkan pada pihak berwajib tentang kekerasan yang kau lakukan pada anak-anak mu."
Restu bersiap merekam. Namun Hamdan dan Susan yang takut, langsung kabur sambil membawa Taro yang sedang menangis.
"Terima kasih, Pak Restu."
Huhuhuhu
bersinar 😮