Malam itu, di Desa Gadhing yang damai, Tirta hanyalah seorang pemuda biasa yang lebih akrab dengan cangkul daripada pedang. Wajahnya selalu menunduk malu, bicaranya pelan, dan tubuhnya kurus. Ia tak punya minat pada dunia persilatan yang sering dibicarakan para tetua di gardu. Baginya, kebahagiaan adalah melihat ladang bapaknya subur dan senyum ibunya mengembang.
Namun, ketenangan itu hancur saat desa mereka diserang. Sekelompok perampok yang dipimpin oleh Lurah Karta, seorang demang serakah yang terkenal bengis, datang dengan tujuan menjarah. Tirta menyaksikan dengan mata kepala sendiri bagaimana kedua orang tuanya tewas di tangan mereka saat berusaha melindunginya. Suara pedang yang beradu dan jeritan pilu ibu masih terngiang-ngiang di telinganya. Dalam duka dan amarah yang meletup, sesuatu di dalam dirinya pecah. Sebuah kekuatan terpendam bangkit. Dengan tangan kosong, ia berhasil melumpuhkan beberapa perampok, membuat Lurah Karta terkejut dan mundur.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Restu Agung Nirwana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
DI ANTARA API DAN AIR MATA
Panas yang menjilat di bibir kawah Bromo tidak hanya membakar kulit, tapi seolah menghisap sisa-sisa napas dari paru-paru Tirta. Ia berdiri di tepian tebing yang rapuh, menatap ke dalam lubang raksasa yang menganga seperti mulut neraka. Asap belerang yang kuning pekat menyengat matanya hingga berair, namun Tirta tidak berpaling.
Di bawah sana, di kedalaman yang tertutup kabut api, terletak harapannya.
"Tirta! Jangan gila!" teriak Dimas. Suaranya pecah, bersaing dengan deru angin kawah. "Kau belum pulih benar! Sinar Gadhing-mu sedang kacau, tubuhmu bisa hancur sebelum sampai ke dasar!"
Tirta menoleh pelan. Wajahnya nampak kusam, kotor oleh jelaga, namun matanya memancarkan kesedihan yang amat dalam. "Jika aku diam di sini, Dimas, aku akan mati karena penyesalan. Itu jauh lebih menyakitkan daripada terbakar api."
Tirta teringat senyum Mayangsari saat terakhir kali mereka di tepi sungai. Ia teringat bagaimana jemari wanita itu gemetar saat memberikan pedang ibunya. Rasa bersalah karena gagal melindunginya adalah bahan bakar yang jauh lebih panas dari lava di bawah sana.
Tanpa peringatan, Tirta melompat.
Bukan lompatan pendekar yang gagah, melainkan terjunan yang penuh keputusasaan. Angin panas menghantam wajahnya, membuat kulitnya terasa seperti disayat sembilu. Tirta mencoba memusatkan napasnya, memanggil sedikit energi Sinar Gadhing yang tersisa untuk melapisi tubuhnya. Cahaya perak itu muncul tipis, bergetar hebat seolah-olah hendak padam ditiup hawa panas kawah.
Brak!
Tirta mendarat di sebuah tonjolan batu besar yang menjorok di dinding dalam kawah. Tubuhnya terguling, menghantam bebatuan tajam yang masih membara. Ia mengerang, rasa perih menjalar di bahu dan lengannya yang terluka. Bau kain bajunya yang terbakar mulai tercium.
"Uhukk!" Ia terbatuk hebat, menghirup gas beracun.
Tirta merangkak, jemarinya melepuh saat menyentuh batu, namun ia terus bergerak. Ia melihatnya. Di sebuah altar batu di tengah danau lava yang bergolak, sebuah kristal merah—Watu Geni Purba—berdenyut seperti jantung yang hidup.
Namun, ketenangan itu terusik. Permukaan lava di depan altar itu menyembur, menyiramkan cairan api ke segala arah. Dari balik lelehan api, muncul sesosok makhluk yang nampak seperti mimpi buruk yang menjadi nyata.
Makhluk itu tidak bersisik indah seperti naga dalam dongeng. Ia adalah gumpalan daging dan batu obsidian yang mengerikan, kepalanya besar dengan mata yang tertutup selaput putih karena ribuan tahun hidup di kegelapan kawah. Penjaga ini tidak menyerang dengan gagah; ia menyerang dengan kebrutalan seekor binatang lapar.
DUARR!
Ekor batu makhluk itu menghantam tebing tempat Tirta berdiri. Tirta terlempar ke udara, nyaris jatuh ke dalam danau lava. Ia berhasil mencengkeram sebuah celah batu di menit terakhir, tubuhnya berayun di atas cairan maut.
"Tidak sekarang... belum sekarang!" jerit Tirta di dalam hati.
Rasa takut yang nyata mulai menyergap. Kematian terasa begitu dekat, hanya sejarak jengkal dari telapak kakinya yang bergelantungan. Di saat itulah, Tirta menyadari sesuatu. Kekuatannya selama ini selalu muncul saat ia ingin membunuh atau saat ia marah. Tapi sekarang, di ambang maut, ia hanya merasakan rindu yang menyesakkan pada Mayangsari.
Ia memejamkan mata, membiarkan rasa rindu itu menyatu dengan hawa panas yang mengepungnya. Ia berhenti melawan panas kawah. Ia membiarkan panas itu masuk ke tubuhnya, menyatu dengan energi dingin Sinar Gadhing yang tersisa.
Aura di sekitar Tirta tidak lagi berwarna perak tajam, melainkan berubah menjadi jingga keperakan yang lembut namun sangat padat. Logika narasinya: Ia tidak lagi mencoba "menahan" api dengan "es", tapi ia menyerap energi panas itu untuk memperkuat lapisan pelindungnya.
Tirta menarik dirinya ke atas dengan satu hentakan bertenaga dalam. Saat makhluk penjaga itu menerjang dengan mulut menganga, Tirta tidak menghindar. Ia berdiri tegak, merentangkan tangannya.
"Aku bukan musuhmu," bisik Tirta, suaranya parau namun mantap. "Aku hanya seorang pria yang ingin menjemput jiwanya yang hilang."
Aura jingga keperakan itu memancar keluar, menyentuh kulit berbatu makhluk tersebut. Keanehan terjadi. Makhluk yang selama ini hanya mengenal rasa sakit dari api dan kesunyian dari kawah, merasakan sebuah getaran emosi yang tenang dari Tirta. Makhluk itu terhenti, napas apinya mereda menjadi uap hangat.
Makhluk penjaga itu mendengus, lalu perlahan kembali tenggelam ke dalam lava, membiarkan jalan menuju altar terbuka.
Tirta berjalan dengan kaki gemetar menuju kristal merah itu. Saat tangannya menyentuh Watu Geni Purba, ia tidak merasakan panas yang membakar. Ia merasakan kehangatan yang luar biasa, seolah-olah ia sedang menggenggam tangan Mayangsari kembali.
Tirta jatuh berlutut di altar itu, menggenggam kristal itu di dadanya, dan menangis sesenggukan. Tangisan seorang manusia yang telah menanggung beban terlalu berat, di tengah kawah yang membara, sendirian.
Di atas kawah, Mpu Sengkala yang sejak tadi memperhatikan melalui getaran bumi, perlahan melepaskan palunya.
"Bocah itu... dia tidak menaklukkan penjaga dengan ilmu silat," gumam Mpu Sengkala dengan suara yang bergetar kagum. "Dia menaklukkannya dengan kejujuran jiwanya. Lingga... kau benar-benar menemukan permata di tengah lumpur."
Tirta akhirnya berhasil merangkak keluar dari bibir kawah beberapa jam kemudian. Tubuhnya penuh luka, pakaiannya compang-camping, dan wajahnya menghitam oleh abu. Namun saat ia menunjukkan kristal merah di tangannya kepada Dimas, ada sebuah binar di matanya yang kini jauh lebih dewasa.
"Aku mendapatkannya, Dimas," bisik Tirta sebelum akhirnya jatuh pingsan di pelukan sahabatnya.
Malam itu, di bawah langit Bromo yang bertabur bintang, bukan hanya pedang yang akan ditempa. Tapi jiwa seorang petani yang hancur, sedang dipersatukan kembali menjadi sesuatu yang jauh lebih kuat dari baja mana pun.