NovelToon NovelToon
Red Flag VS Radar

Red Flag VS Radar

Status: sedang berlangsung
Genre:Kehidupan di Sekolah/Kampus / Cintamanis / Idola sekolah / Playboy
Popularitas:222
Nilai: 5
Nama Author: Nadhira Ramadhani

Lian punya segalanya untuk menghancurkan hati seorang gadis: wajah tampan yang mematikan, motor sport mahal, dan ego setinggi langit. Di SMA Garuda, dia adalah predator. Dia tidak butuh mengejar, karena para gadislah yang datang menyerahkan hati untuk ia patahkan. Baginya, cinta adalah permainan, dan dia selalu menang.
​Lalu datanglah Mori.
​Mori adalah anomali. Gadis manis dengan senyum sehangat musim semi yang ramah kepada siapa saja—kecuali kepada Lian. Sejak detik pertama mereka tidak sengaja bertabrakan di koridor, radar Mori menangkap sinyal bahaya yang sangat kuat. Bagi Mori, Lian bukan "idola sekolah", melainkan polusi visual yang harus dihindari demi kesehatan mental.
​Lian yang terusik egonya mulai melancarkan serangan. Dari mulai intimidasi halus, perhatian palsu, hingga jebakan-jebakan emosional yang biasanya membuat lawan jenis bertekuk lutut. Namun, setiap langkah Lian justru membentur tembok dingin yang dibangun Mori.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadhira Ramadhani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 11

​Pagi itu, suasana kelas 10-B terasa berbeda bagi Mori. Kejadian hujan-hujanan dan jaket denim Lian di sore itu masih membekas jelas di ingatannya. Mori berkali-kali menggelengkan kepalanya, mencoba mengusir bayangan tangan hangat Lian yang menggenggam jemarinya.

​"Fokus, Mori. Fokus. Dia tetep Lian yang sama," bisiknya pada diri sendiri sambil menata buku di meja.

​Tapi, begitu Lian masuk ke kelas, radar Mori langsung menangkap sesuatu yang aneh. Lian nggak masuk dengan gaya petenteng-petenteng sambil tebar pesona ke cewek-cewek di koridor. Dia jalan tenang, pakaiannya rapi sesuai aturan—bahkan kemejanya dikancing sampai nomor dua dari atas—dan dia nggak bawa gitar atau bola basket buat pamer.

​Pas ngelewatin meja Mori, Lian nggak ngedipin mata atau ngasih jari tengah. Dia cuma naruh sebuah kotak susu kotak rasa stroberi dingin dan satu bungkus roti isi kesukaan Mori tanpa suara. Di atasnya ada memo kecil: “Buat sarapan. Jangan lupa dimakan biar nggak gemeteran lagi kayak kemarin. – L”

​Mori tertegun. Dia ngelihatin susu itu, lalu melirik ke belakang. Lian udah duduk anteng di bangkunya, pura-pura baca buku—padahal Mori tau Lian paling anti baca buku sepagi ini.

​Tentu saja, aksi "diam-diam" Lian nggak luput dari penglihatan tiga detektif cinta: Jessica, Nadya, dan Alissa. Begitu mereka masuk kelas dan liat ada susu stroberi di meja Mori, mereka langsung lari ngerubungin meja itu.

​"Ehem... ehem... ada yang dapet upeti nih pagi-pagi," goda Jessica sambil nyenggol bahu Mori pake pinggulnya.

​"Susu stroberi? Bukannya ini merek yang susah dicari karena sering habis di kantin ya?" Nadya ikut nimbrung, matanya melirik-lirik ke arah Lian di belakang.

​Mori buru-buru masukin susu dan roti itu ke kolong meja. "Apa sih? Ini... ini gue beli sendiri tadi di depan."

​"Halah! Bohong banget!" Alissa ketawa ngakak. "Gue tadi bareng lo dari gerbang depan, Mor. Lo nggak mampir ke koperasi atau kantin sama sekali. Ngaku deh, dari si 'Red Flag' ganteng itu kan?"

​Wajah Mori yang biasanya putih bersih perlahan berubah warna jadi kemerahan. "Nggak tau. Mungkin salah naruh orangnya."

​"Salah naruh kok pas banget rasa stroberi kesukaan lo? Terus itu ada huruf 'L'-nya. L itu bukan Lontong kan? Tapi Lian," goda Jessica lagi, makin kenceng.

​Mori makin salah tingkah. Dia pura-pura sibuk buka buku paket Fisika, padahal dia bacanya kebalik. Jantungnya bener-bener nggak bisa diajak kompromi.

​"Ciee, Mori salting! Liat deh, kupingnya sampe merah!" seru Alissa sambil nunjuk telinga Mori yang emang udah kayak kepiting rebus.

​Sepanjang jam pelajaran, Lian bener-bener ngebuktiin kalau dia lagi ganti strategi. Dia nggak lagi gangguin Mori lewat suara berisik.

​Pas jam istirahat, biasanya Lian bakal bikin keributan di kantin. Tapi kali ini, dia cuma berdiri di deket mading, nungguin Mori lewat. Pas Mori papasan sama dia, Lian nggak ngehadang jalan. Dia cuma minggir, ngasih jalan luas buat Mori, sambil bilang pelan, "Laporannya udah gue kumpulin tadi pagi ke ruang guru. Lo nggak usah capek-capek ke sana lagi."

​Mori berhenti sebentar. "Laporan Kimia kita?"

​Lian ngangguk. Visual Gabriel Guevara-nya yang tenang itu bener-bener bikin Mori ngerasa... aneh. "Iya. Gue ngerjain bagian kesimpulannya tadi malem. Sori kalau tulisannya agak berantakan."

​Mori cuma bisa diem. Dia bingung mau respon apa. "O-oke. Makasih."

​Mori lanjut jalan, tapi hatinya makin nggak karuan. "Dia kenapa sih? Kok jadi waras gini?" batin Mori bingung.

​Di kantin, Jessica, Nadya, dan Alissa nggak berhenti-berhenti ngebahas perubahan Lian.

​"Gue rasa Lian beneran kena mental pas lo jutekin terus, Mor," kata Nadya sambil nyruput es tehnya. "Sekarang dia jadi kayak cowok soft di drakor-drakor. Lebih bahaya nggak sih kalau dia kayak gini?"

​"Banget!" sahut Alissa. "Kalau dia ugal-ugalan, kita gampang buat benci. Tapi kalau dia perhatian diem-diam gini, pertahanan lo bisa jebol, Mor."

​Mori diem aja, sibuk nusuk-nusuk baksonya. "Nggak akan. Gue tetep pada prinsip gue. Cowok kayak dia itu cuma lagi bosen aja, makanya cari tantangan baru lewat gue."

​"Masa sih?" Jessica nengok ke arah meja seberang. "Tuh, liat. Dia biasanya dikelilingi cewek-cewek kelas sepuluh kan? Sekarang dia malah duduk sendirian di sana, cuma sama Jojo, terus matanya... duh, matanya liatin lo terus, Mor, tapi pas lo nengok dia langsung buang muka."

​Mori nggak tahan buat nggak nengok. Dan bener aja, pas dia nengok, dia sempet nangkep basah Lian lagi merhatiin dia. Lian langsung pura-pura sibuk ngobrol sama Jojo, tapi senyum tipis di bibirnya nggak bisa bohong.

​"Tuh kan! Salting lagi dia!" teriak Jessica heboh sampe orang-orang di kantin nengok.

​"Jessica, pelan-pelan!" Mori nutup mukanya pake tangan, bener-bener pengen ngilang saat itu juga.

​"Mor, jujur deh. Lo sebenernya mulai keganggu... atau mulai ngerasa ada 'spark' dikit?" tanya Alissa dengan nada serius tapi tetep menggoda.

​Mori narik napas panjang. "Gue cuma... kaget aja sama perubahan dia. Dah ah, jangan bahas dia terus. Malu tau dilihatin orang."

​Pas bel pulang sekolah bunyi, Mori buru-buru beresin tasnya. Dia pengen cepet-cepet pulang biar nggak ketemu Lian lagi. Tapi pas dia sampe di parkiran motor, dia liat di atas jok motor matic-nya ada sebuah gantungan kunci kecil bentuk beruang pake pita biru—mirip banget sama pita Mori yang dirusak Alina kemarin.

​Mori ngambil gantungan itu. Di baliknya ada tulisan tangan yang rapi: “Ganti pita lo yang kemarin rusak. Gue nggak nemu yang pita beneran, jadi ini aja ya. Jangan dibuang. – Lian”

​Mori megang gantungan kunci itu erat-erat. Dia ngelihat sekeliling, dan dia liat Lian udah di atas motor ninja-nya di kejauhan. Lian cuma ngasih jempol ke arah Mori, terus dia gas motornya pergi gitu aja tanpa nunggu jawaban.

​"Ehem... gantungan kunci baru nih ye..." suara Jessica tiba-tiba muncul di belakang Mori.

​"Aduh, copot!" Mori hampir jatuhin gantungannya karena kaget.

​Tiga sahabatnya udah berdiri di sana dengan muka yang penuh kemenangan. "Fix sih ini. Lian beneran lagi mode ngejar 'High Class'. Dan Mori kita... kayaknya udah mulai kena radar cinta nih," goda Nadya.

​"Apaan sih! Nggak!" Mori buru-buru masukin gantungannya ke dalem tas, meskipun hatinya sebenernya lagi kerasa hangat banget.

​Malam itu, di kamarnya, Mori nggak nulis soal "Red Flag" lagi di buku hariannya. Dia cuma menatap gantungan kunci beruang itu lama-lama, sambil ngerasain pipinya yang masih kerasa panas. Dia tau, Lian masih punya banyak "warna merah" di dirinya, tapi cara Lian yang sekarang bener-bener bikin benteng Mori mulai retak pelan-pelan.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!