Dalam hujan deras yang menyesakkan, Yuki berlari menyelamatkan diri bersama bayi perempuannya, Ai Chikara, dari masa lalu yang mengancam nyawa mereka. Sebuah kecelakaan di tengah pelariannya justru mempertemukannya dengan Kai, pria asing yang tanpa ragu memberi perlindungan.
Di rumah keluarga Kai, Yuki dan bayinya menemukan kehangatan, perawatan, dan rasa aman yang belum pernah mereka rasakan. Di balik sikap dingin Kai dan kelembutan ibunya, perlahan tumbuh ikatan yang tak terduga—ikatan yang mungkin mampu menyembuhkan luka, sekaligus mengubah takdir mereka.
Namun, saat malam hujan berlalu, bayang-bayang masa lalu Yuki belum tentu ikut menghilang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mawarhirang94, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 11 Beberapa Bulan Lalu, Reaksi Yuki Terhadap Berita Teror Suaminya
Pagi itu, rumah Kai terasa tenang.
Yuki sedang menyiapkan sarapan ringan, Ai Chikara bermain dengan mainan di lantai.
Suasana hangat terpancar dari sinar matahari yang menembus tirai jendela.
Namun ketenangan itu segera terguncang ketika Kai masuk membawa berita terbaru dari anak buahnya.
Kai menatap Yuki dengan wajah serius, rahangnya menegang.
“Yuki… aku baru menerima laporan terbaru. Suamimu… dia sedang mengalami tekanan psikologis yang berat. Teror yang kami mulai… efeknya mulai terasa padanya,” ucap Kai, suaranya rendah tapi tegas.
Yuki berhenti sejenak, tangannya yang sedang memegang cangkir sarapan sedikit gemetar.
Matanya melebar, napasnya tertahan.
“Ter… teror? Apa maksudmu, Kai?” suaranya bergetar, campur antara takut dan tidak percaya.
Kai menunduk, mencoba menenangkan suasana.
“Anak buahku… mereka mulai melakukan tekanan psikologis halus terhadap suami dan selingkuhannya. Semua dilakukan secara aman, tapi efeknya membuat mereka kehilangan rasa aman, gelisah, dan mulai panik. Tujuannya… agar mereka merasakan konsekuensi dari tindakan buruknya.”
Yuki menelan ludah, perasaannya campur aduk.
Jantungnya berdebar kencang.
“Jadi… suamiku… sedang ketakutan… karena kami?” bisiknya pelan, hampir tak terdengar.
Rasa lega bercampur rasa bersalah muncul. Ia merasa aman sekarang, tapi ada sisi hatinya yang terguncang: melihat suaminya menderita, walau itu akibat kejahatannya sendiri, tetap membuatnya gelisah.
Kai menatap Yuki, matanya lembut tapi tegas.
“Yuki… kau tidak perlu merasa bersalah. Semua ini adalah konsekuensi dari perbuatannya sendiri. Ia yang menyakiti dirimu dan Ai Chikara, ia yang membuat kalian takut… kini ia merasakan efek dari tindakannya.”
Yuki menunduk, memeluk Ai Chikara lebih erat, hatinya terasa berat.
“Ya… tapi… rasanya aneh… aku merasa… lega tapi juga takut. Aku tidak ingin melihat siapapun menderita… walau dia telah menyakitiku,” ucapnya pelan, suaranya hampir serak.
Kai berjalan mendekat, menepuk bahu Yuki dengan lembut.
“Kau boleh merasa seperti itu. Itu wajar. Tapi ingat… ini bukan tentang membalas dendam untuk kesenangan. Ini tentang memastikan keselamatanmu dan Ai Chikara. Dan tentang keadilan yang harus ditegakkan. Kau aman di sini.”
Yuki menatap Kai dengan mata berkaca-kaca.
“Terima kasih, Kai… aku… aku benar-benar merasa aman karena kau ada di sini. Tapi… aku tidak menyangka mereka akan sampai se-tertekan itu… hanya karena kami berhasil kabur.”
Kai tersenyum tipis, menepuk kepala Ai Chikara.
“Semua berjalan sesuai rencana. Mereka merasakan konsekuensi dari kesalahan mereka sendiri. Kau dan Ai Chikara tetap aman. Itulah yang penting.”
Yuki menarik napas panjang, mencoba menenangkan diri.
Rasa cemburu halusnya pada perhatian Kai muncul kembali—tidak marah, tapi perasaan ingin lebih dekat.
“Kai… aku… aku ingin kau tetap di dekatku… walau aku tahu kau harus fokus pada rencana,” bisiknya pelan, tatapannya menembus mata Kai.
Kai menunduk, matanya lembut tapi serius.
“Aku akan tetap dekat… tapi kau harus belajar percaya dan merasa aman, walau aku tidak selalu tepat di sampingmu. Itu bagian dari prosesmu untuk menjadi lebih kuat.”
Yuki mengangguk, meski hatinya masih campur aduk.
Ia memeluk Ai Chikara lebih erat, menatap Kai, dan berbisik dalam hati:
"Aku merasa lega… tapi hatiku tetap takut dan cemburu halus… aku ingin dia selalu dekat, tapi aku juga harus belajar percaya."
Kai menatap mereka berdua, perasaan protektifnya meningkat.
Ia tahu dilema emosionalnya semakin rumit: ingin menjaga jarak agar Yuki mandiri, tapi rasa ingin melindungi dan dekat selalu muncul.
Malam itu, mereka duduk bersama, Ai Chikara tidur di pangkuan Yuki, Yuki menatap Kai dengan perasaan campur aduk—legaan, cemburu halus, dan rasa aman yang belum pernah dirasakan sebelumnya.
Di luar rumah, tekanan pada suami Yuki terus meningkat, langkah-langkah misterius, suara-suara halus, dan pesan-pesan psikologis membuatnya gelisah.
Yuki mendengar semua dari laporan Kai, dan reaksinya adalah campuran rasa lega, takut, dan sedikit bersalah—tapi juga muncul perasaan ingin melindungi Kai dari bahaya yang mungkin ia hadapi.
Kai menyadari tatapan Yuki yang lembut tapi cemburu halus itu.
Ia menepuk kepala bayi, tersenyum tipis, dan berkata pelan pada dirinya sendiri:
"Aku harus melindungi mereka… tetap dekat tapi menjaga jarak… dan memastikan mereka tetap aman."
Malam itu, rumah terasa hangat, meski di luar, tekanan terhadap suami Yuki meningkat drastis.
Yuki duduk di sofa, pelukan Ai Chikara erat, matanya sesekali menoleh ke Kai—perasaan cemburu halus bercampur dengan rasa aman, dan kesadaran bahwa ia bergantung secara emosional pada Kai.
Kai menatap mereka, dilema batinnya semakin kompleks—antara menjadi pelindung, menjaga jarak emosional, dan menghadapi ancaman yang terus meningkat di luar sana.
---
Yuki Mulai Bereaksi Secara Emosional
Matahari baru saja merayap di balik tirai, cahaya lembut pagi menimpa lantai kayu kamar.
Yuki duduk di sofa, Ai Chikara tertidur pulas di pangkuannya, napas kecil bayi itu menenangkan sekaligus membuat hatinya terasa lembut.
Namun berita dari Kai semalam mengenai tekanan psikologis yang menimpa suami Yuki terus terngiang di benaknya.
Ia menatap wajah bayi kecilnya, pelukannya lebih erat.
Rasa lega bercampur rasa takut dan cemas muncul: “Aku aman… tapi suamiku… sedang menderita karena kami… aku merasa bersalah, tapi juga lega.”
“Bayiku… Ibu akan selalu melindungimu,” gumamnya lirih. Suara Yuki bergetar, seolah kata-kata itu lebih untuk menenangkan dirinya sendiri daripada bayi di pangkuannya.
Kai masuk membawa segelas teh hangat untuk Yuki. Matanya menatapnya dengan serius, namun ada kehangatan yang jelas dalam sorotnya.
“Kau terlihat lelah, Yuki… duduklah, minum ini,” ucap Kai sambil menyerahkan gelas teh.
Yuki menoleh, menatap Kai sejenak. Ada rasa campur aduk dalam matanya—legawa karena merasa aman, tapi ada sedikit cemburu halus yang muncul.
“Terima kasih, Kai… aku… aku merasa aman karena kau di sini,” ucapnya pelan, menunduk malu.
“Kau… kau tidak akan meninggalkan aku dan Ai Chikara, kan?” bisiknya lebih lirih, seperti meminta kepastian yang sulit diungkapkan.
Kai menatap Yuki dengan lembut, menarik napas dalam.
“Tidak, Yuki. Aku tidak akan meninggalkan kalian. Aku di sini untuk menjaga kalian, memastikan kalian aman. Tapi kau harus tahu… kau juga kuat. Kau bisa merasa aman, tapi kau harus percaya pada kemampuanmu sendiri juga,” jawabnya, nada suaranya menenangkan namun tegas.
Yuki menghela napas panjang, menatap bayi di pangkuannya.
Rasa cemburu halusnya muncul kembali—ia melihat Kai fokus pada laporan strategi, menjaga jarak emosional, tapi tetap hadir.
“Dia begitu serius… tapi tetap dekat dengan kita… aku merasa ingin dia lebih memperhatikanku,” batinnya.
Kai menyadari tatapan itu, tersenyum tipis.
“Yuki… kau boleh merasakan itu. Itu wajar,” ucapnya pelan.
Ia menepuk kepala Ai Chikara, matanya tetap menatap Yuki.
“Rasa cemburu yang wajar… tapi jangan biarkan itu membuatmu gelisah. Aku di sini, dan aku akan selalu menjaga kalian.”
Yuki tersenyum tipis, rasa lega bercampur rasa aman mulai terasa.
“Tapi… rasanya aneh… aku lega, tapi juga takut. Aku tidak ingin melihat siapapun… menderita, walau dia menyakitiku,” ucapnya pelan, matanya berkaca-kaca.
Kai duduk di sampingnya, menepuk bahu Yuki perlahan.
“Yuki… kau tidak sendiri. Aku mengerti perasaanmu. Semua ini wajar. Kita hanya perlu fokus pada keselamatanmu dan Ai Chikara. Semua yang lain… biarkan aku yang menanganinya,” ucapnya lembut.
Yuki menunduk, pelukan pada bayi semakin erat.
“Terima kasih… Kai… karena kau selalu ada. Aku… aku tidak tahu apa jadinya kalau kalian tidak menolong kami malam itu,” bisiknya.
Kai menatapnya, dilema batin kembali muncul. Ia ingin menjaga jarak agar Yuki tetap mandiri, tapi rasa ingin melindungi membuat hatinya bergolak.
“Yuki… aku harus tetap hadir, tapi aku juga harus memberimu ruang… agar kau tetap kuat. Tapi hatiku ingin selalu dekat denganmu,” gumam Kai dalam hati, menahan emosinya agar tidak terlalu terlihat.
Yuki mengalihkan pandangan ke jendela, mata sedikit berkaca-kaca.
“Rasanya aneh… aku ingin merasa aman… tapi aku juga ingin dia lebih memperhatikanku… aku cemburu halus, tapi aku juga lega dan bersyukur,” batinnya lirih.
Kai menepuk kepala bayi lagi, tersenyum tipis.
“Cemburu itu wajar… tapi jangan biarkan itu menghalangi kita untuk tetap fokus. Aku di sini untuk melindungimu, tapi aku juga ingin kau merasa kuat dan mandiri,” ucapnya lembut.
Ai Chikara terbangun sebentar, menatap Kai dan tersenyum.
Yuki menatap interaksi itu, hatinya tersentuh.
Rasa cemburu halusnya muncul kembali, tapi kini bercampur rasa hangat dan aman.
“Dia… selalu memperhatikan kita… tapi tetap fokus pada tanggung jawabnya… aku harus belajar percaya,” pikirnya.
Kai menunduk, menatap mereka berdua.
“Yuki… Nak… aku akan menjaga kalian. Tapi kau juga harus belajar percaya dan merasa aman, walau aku tidak selalu di sampingmu,” gumamnya pelan.
Yuki menarik napas panjang, mencoba menenangkan diri.
Pelukannya pada Ai Chikara semakin erat, hatinya mulai lega meski masih ada rasa cemburu halus.
“Dia begitu protektif… tapi juga bijak… aku harus belajar merasa aman dan percaya,” batinnya.
Malam itu, rumah tetap hangat.
Yuki duduk di sofa, pelukan bayi di pangkuannya, menatap Kai dari kejauhan.
Rasa lega, cemburu halus, dan rasa aman bercampur dalam hatinya.
Kai menatap mereka, dilema batinnya semakin kompleks—antara menjadi pelindung, menjaga jarak emosional, dan tetap menghadapi ancaman luar yang terus meningkat.
---
Interaksi Yuki Semakin Emosional Sehari-hari
Hari-hari di rumah Kai berjalan dengan ritme yang tenang namun penuh dinamika emosional.
Setiap pagi, Yuki mulai terbiasa dengan rutinitas sederhana: menyiapkan sarapan ringan, memastikan Ai Chikara mandi dan berpakaian hangat, serta menata rumah agar terlihat nyaman.
Namun setiap kali Kai berada di dekatnya, bahkan hanya duduk di ruang kerja atau ruang tamu, Yuki mulai merasakan perasaan yang campur aduk: lega, nyaman, tapi juga cemburu halus yang sulit diungkapkan.
---
Pagi Hari – Sarapan Bersama
Yuki menata meja sarapan, Ai Chikara duduk di kursi bayi dengan senyum ceria.
Kai masuk membawa laporan anak buahnya, matanya menatap dokumen tapi sesekali melirik ke arah Yuki.
Yuki menahan napas, hatinya berdebar.
“Dia… sibuk… tapi sesekali menatapku. Aku ingin dia lebih memperhatikanku,” pikirnya.
Ketika Kai menunduk menatap Ai Chikara, Yuki merasakan cemburu halus, meski ia tahu itu tidak rasional.
Ia melangkah pelan mendekat, menyentuh lengan Kai dengan ringan.
“Kai… kau yakin Ai Chikara aman hari ini?” tanyanya sambil tersenyum lembut.
Kai menatapnya, tersenyum tipis.
“Selalu aman. Dan kau juga, Yuki. Tidak perlu khawatir,” jawabnya hangat.
Yuki tersenyum, hatinya sedikit lega, tapi rasa ingin perhatian lebih dari Kai tetap muncul.
“Dia selalu menjaga Ai Chikara… tapi aku ingin perhatian itu sedikit padaku juga,” batinnya dalam hati.
---
Siang Hari – Aktivitas Rumah
Saat Yuki sedang menjemur pakaian, Ai Chikara bermain di halaman rumah dengan mainan, Kai ikut menatap dari jendela ruang kerja.
Yuki menatap Kai, sedikit cemburu melihat fokusnya tetap pada pekerjaan.
“Dia… begitu serius… tapi aku ingin dia memperhatikan aku,” pikirnya.
Ia memanggil Ai Chikara, lalu berjalan ke Kai, pura-pura ingin memperlihatkan mainan bayi.
Kai menoleh, tersenyum tipis, menunduk agar sejajar dengan pandangan Yuki.
“Mainan ini lucu ya?” tanya Yuki, menahan nada cemburu yang muncul.
Kai tersenyum hangat, “Sangat lucu. Dan Ai Chikara juga senang.”
Yuki mengangguk, hatinya sedikit lega karena Kai tetap menatap mereka meski sibuk.
“Dia memperhatikanku juga… walau sedikit… aku harus bersyukur,” batinnya.
---
Sore Hari – Waktu Istirahat
Ketika Ai Chikara tidur siang, Yuki duduk di sofa dengan tubuh lelah.
Kai duduk di kursi dekatnya, matanya menatap laporan keamanan.
Yuki menatap Kai, hatinya berdebar.
“Dia fokus pada pekerjaan… tapi aku ingin dia memperhatikanku… aku merasa cemburu halus,” pikirnya.
Ia mencondongkan badan, menyentuh tangan Kai.
“Kai… kau selalu begitu sibuk… tapi tetap di sini untuk kami,” ucapnya pelan.
Kai menatapnya, menepuk bahu Yuki lembut.
“Yuki… aku selalu di sini. Kau boleh bergantung padaku, tapi juga harus belajar mandiri. Aku ingin kau tetap kuat, walau aku tidak selalu di sampingmu,” jawabnya lembut tapi tegas.
Yuki menunduk, hatinya campur aduk.
“Dia begitu bijak… tapi aku ingin perhatian lebih… aku merasa cemburu halus… tapi aku juga lega dan aman,” gumamnya dalam hati.
---
Malam Hari – Menyelesaikan Kegiatan Bersama
Saat malam tiba, Yuki menyiapkan Ai Chikara untuk tidur.
Kai membantu menenangkan bayi ketika menangis sedikit.
Yuki menatap interaksi itu, rasa cemburu halus muncul kembali.
“Dia begitu protektif terhadap Ai Chikara… tapi aku ingin perhatian itu padaku juga,” batinnya.
Kai menatap Yuki, tersenyum tipis.
“Yuki… kau boleh merasa cemburu. Itu wajar. Tapi jangan khawatir… aku di sini untuk kalian berdua,” ucapnya lembut.
Yuki memeluk Ai Chikara, menatap Kai dari kejauhan.
Hatinya terasa hangat, rasa lega dan aman semakin jelas.
“Kai… aku merasa aman… tapi aku tetap ingin perhatianmu,” bisiknya dalam hati.
Kai menepuk kepala Ai Chikara, tersenyum tipis, lalu menatap Yuki.
“Perasaanmu wajar, Yuki. Aku akan tetap dekat, tapi kau juga harus percaya pada dirimu sendiri,” jawabnya lembut.
Kai menyadari dilema emosionalnya semakin kompleks:
Ingin menjaga jarak agar Yuki tetap mandiri,
Tapi ingin dekat karena rasa protektif dan tanggung jawab.
Malam itu, Yuki menatap Kai, Ai Chikara tertidur di pangkuannya, dan hatinya penuh perasaan campur aduk—lega, cemburu halus, dan ketergantungan emosional yang nyata.
Kai menunduk, tersenyum tipis, dan berkata pelan pada dirinya sendiri:
"Aku harus melindungi mereka… tetap dekat tapi tidak mengekang… menjaga mereka sambil menghadapi ancaman luar yang terus meningkat."