Rania Wiratama seorang gadis yang dipaksa menikahi pembully-nya di Masa lalu atas keinginan terakhir Eyang Kartika, Rania bekerja sebagai Photography dan penjual foto lewat website.
Arga Prananda seorang pria yang bekerja di anjungan laut lepas, nampak menyesali perbuatannya pada Rania. Rasa bersalah selama bertahun-tahun mengubahnya menjadi obsesi sekaligus cinta. Rania yang sudah memendam rasa benci dan trauma tak mampu menatap apalagi bersama Arga. Tapi Arga selaku suami dan Imam bagi Rania berjanji untuk membimbing dan menuntun istrinya ke jalan agama, sekaligus mencintai Rania. Bagaimana akhir pernikahan ini?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Putri Sabina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 13
Hari ini Arga dan Rania tiba di rumah keluarga Prananda.
Menjelang siang udara terasa hangat, mobil sedan hitam yang di kendarai Arga melintasi jalan raya.
Mobil sedan hitam itu melaju ke dalam sebuah gerbang hitam dengan halaman yang cukup luas, karena keluarga Prananda memiliki bisnis properti dan bisnis kecil lainnya.
Pagar besi dengan cat hitam, itu terbuka perlahan.
Mobil itu terparkir di depan rumah minimalis dengan tingkat, begitu mereka keluar dari mobil seorang perempuan paruh baya sudah menunggu di teras dengan tangan terlipat.
"Rania! Arga!" panggilnya dengan tegas.
Rania dan Arga langsung saling menatap heran, lantaran baru saja tiba mengapa sang ibu begitu amat marah.
"Ayo masuk, Mama mau ngomong sama kalian!" ajaknya dengan bahasa yang tegas.
"Bibi! Ambilkan cemilan dan minuman!" pinta Dian.
"Siap Nyonya," sahut asisten rumah tangga.
Arga mengandeng tangan Rania masuk, dan tanpa sadar Rania hanya menuruti langkah Arga.
Keduanya masuk dan duduk di ruang tamu dengan gaya 70-an, terlihat jadul dengan furniture jati.
Dian Prananda.
Tengah duduk sambil melipat tangannya, menatap putra dan menantunya.
Wanita yang mengenakan baju warna jingga dengan rambut sanggul, dan di lehernya di hiasi kalung mutiara itu duduk di samping menantunya.
"Mama ada apa? Aku ama Rania baru sampai loh," ujar Arga.
Dian memejamkan matanya, lantaran dirinya amat marah saat ini.
"Kalian berdua duduk!" titahnya, seperti seorang Ratu sebuah negara.
Arga dan Rania langsung menurut dan duduk di sofa dengan ukiran kayu jati, setelah keduanya duduk---Dian Prananda langsung membuka percakapan.
"Rania!" panggil tegas Dian kepada menantunya.
Rania menatap ibu mertuanya dengan tersenyum ramah lalu mengangguk.
"I-iya Mah ada apa?" tanya Rania.
"Mama baru dapat telepon dari eyang kamu, Rania. Beliau meminta sprei darah malam pertama sebagai tradisi."
"Kenapa kalian belum lakukan malam pertama?" tanya Dian.
Arga tersenyum dan mengatakan alasan yang sama, saat Kartika Wiratama menanyakan hal serupa.
"Aku ama Rania belum lakukan hubungan, Mah."
Arga menjelaskan, kepala Dian berubah posisi dan alisnya mengkerut---lalu matanya meminta jawaban kenapa belum lakukan.
"Rania saat malam pengantin masih lemah karena baru pingsan, baru hari ini---Rania datang bulan," ujar Arga.
Dian menghela napas, ingin melanjutkan percakapan tiba-tiba asisten rumah tangga datang membawa camilan dan minuman.
"Taruh di meja Bi," pinta Dia.
"Baik Nyonya," patuhnya.
"Kamu bisa pergi saya mau bicara hal pribadi sama anak dan menantu saya, dan tolong tutup pintunya!" pinta Rania nadanya tegas namun sopan.
"Iya Nyonya," patuh asisten rumah tangga itu.
Setelah kepergian asisten rumah tangga itu, Rania hanya bisa menunduk tapi Arga terus bergumam dalam hatinya.
"Ya allah maafkan hamba...Hamba akan tanggung dosa bohong ini demi istri hamba," ucap Arga dalam hati menatap sang ibu.
"Baru kemarin? kamu dapat mens?" tanya nyonya Prananda.
Rania menelan salivanya dan kepalanya tertunduk nampak tak berani menatap wajah atau mata ibu mertuanya, dan Arga secara perhatian merangkul istrinya.
Mata Rania menoleh ke samping menatap sang suami.
Karena masa lalu yang berat, Rania memiliki rasa trauma yang dalam----ketika bicara serius gadis ini tak berani menatap mata lawan bicaranya.
"Mah...Kasih Arga dan Rania seminggu, Arga dan Rania janji akan kasih sprei darah malam pengantin itu."
Arga bicara lembut seolah meyakinkan sang ibu, sementara wajah Dian alisnya terangkat dan perlahan tersenyum.
"Bagus, mama tunggu...dan mama sangat setuju dengan Nyonya Kartika Wiratama ingin kalian segera memiliki anak," ujar Dian.
Dian berdiri dan mengambil ponselnya di tangannya sambil memakan pastel.
"Mama akan telepon Dokter Sella, agar memeriksa masa subur kalian berdua!" ujar Dian dengan antusias.
Terlihat sepatu hak tinggi Dian makin terdengar di lantai marmer rumah ini, Arga menatap sang istri----Rasa lelah mulai terasa kepala Rania sudah berdenyut.
Lalu entah sihir apa, Kepala Rania jatuh di pelukan Arga.
Arga terperanjat kaget sekaligus senang, sang istri sudah berada di pelukannya.
"Makasih," ujarnya menelan salivanya, "makasih kamu mau berbohong demi saya," lanjut Rania.
Sementara, Dian Prananda masih asik menanyakan jadwal kunjungan kepada Dokter Sella demi memeriksa menantu dan putranya.
"Baik bulan depan, Nyonya Prananda di tanggal 9."
"Ok siap terimakasih Bu Dokter," ujar Dian mematikan telepon.
Lalu saat menoleh Dian senang, langsung menanyakan apa yang terjadi pada Rania.
"Kamu sakit sayang?" tanya Dian.
"Nggak Mah, kami nanti mau jalan-jalan sore sekalian pulang," ujar Arga.
Dian Prananda tersenyum, akhirnya diantara menantu dan putranya tak ada masalah----di lain sisi Arga senang dan berharap selama seminggu bisa mengambil hati Rania.
Arga tak peduli soal izin menyentuhnya atau tidak, yang jelas saat mendapatkan izin dari Rania soal hubungan sex pasti akan jalan.
"Kalian nggak nginep?" tanya Dian.
Arga tersenyum dan menolaknya, dan mengatakan membutuhkan waktu berdua.
"Ingat Arga jika dalam seminggu Mama belum mendapatkan sprei malam pengantin."
"Terpaksa...Mama minta kalian berdua melakukan hubungan badan disini!" ucap tegas Dian kepada Rania maupun Arga.
Sore ini.
"Mah aku ama Rania mau ke alun-alun biasa malam minggu," ujar Arga.
"Oh ok, habiskanlah waktu kalian, semakin kalian habiskan waktu mama bisa gendong cucu," kata Dian.
Dari tadi Rania hanya diam dan tersenyum canggung, jujur dirinya masih trauma pada Arga di tambah tekanan dari keluarga yang terus mendesaknya agar memiliki anak.
Di dalam mobil Rania masih diam, sementara Arga menyetir.
"Sayang," panggil Arga.
Rania hanya tetap diam tak menyahut, karena dirinya tahu Rania sedang dalam pikirannya.
"Ehm," dehem Arga, tapi Rania terus diam tanpa respon.
"Sayang nggak usah di pikirkan lah apa kata mama sama eyang," ujar Arga.
"Gimana nggak di pikirin, mereka minta kita seminggu buat nyerahin sprei noda darah."
"Dan bagaimana kalo mereka tahu kalo aku lagi nggak haid, alasan apalagi yang harus kita kasih?" tanya Rania pada musuh masa lalunya.
Arga hanya menghelakan napas, akhirnya lanjut menyetir menuju alun-alun kota demi mengenal lebih dekat istrinya.
*
*
*