"Sepuluh tahun lalu, Victor menyebut cinta Achell sebagai 'lelucon'. Sekarang, Achell kembali untuk memastikan Victor merasakan betapa pahitnya akhir dari lelucon itu. Sebuah kisah tentang penyesalan yang terlambat, cinta yang mati rasa, dan harga mahal dari sebuah keangkuhan."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ra H Fadillah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 11: Fitnah di Tengah Euforia
Suasana kemenangan yang tadinya begitu hangat mendadak berubah menjadi mencekam. Di saat Achell dan kedua sahabatnya baru saja hendak melangkah keluar aula, pekikan Clara menghentikan langkah semua orang.
"Astaga! Kalungku! Victor, kalung zamrudku hilang!" teriak Clara dengan nada histeris. Ia meraba lehernya yang kini kosong, matanya melotot panik ke arah lantai seolah-olah perhiasan itu jatuh.
Victor mengernyitkan dahi, matanya menyapu sekitar. "Coba periksa lagi, Clara. Mungkin terlepas di mobil."
"Tidak mungkin! Aku masih memakainya saat kita berbincang dengan Gabriella tadi!" Clara menoleh dengan tajam ke arah kerumunan. "Itu kalung edisi terbatas yang kau belikan untukku di New York, Victor! Harganya ribuan poundsterling!"
Suasana yang tadinya ceria berubah menjadi bisik-bisik yang tidak nyaman. Di tengah ketegangan itu, seorang siswi bernama Beatrice—rival abadi Achell yang selalu kalah dalam nilai akademis—maju ke depan dengan senyum miring yang licik.
"Yah, tidak mengherankan sih," celetuk Beatrice dengan suara yang cukup keras hingga menggema di aula. "Bukankah tadi Gabriella yang berdiri paling dekat dengan Nona Clara? Aku bahkan melihat mereka sempat bersentuhan."
Sophie langsung memutar tubuhnya, wajahnya memerah padam. "Apa maksudmu, Beatrice? Jaga bicaramu kalau tidak punya bukti!"
"Bukti?" Beatrice tertawa meremehkan, matanya beralih ke arah Victor. "Tuan Edward, saya tidak bermaksud ikut campur, tapi Gabriella akhir-akhir ini memang terlihat sangat terobsesi untuk terlihat mewah. Mungkin dia butuh sesuatu yang lebih berkilau daripada sekadar medali dari tembaga?"
"Kau... dasar ular!" bentak Sophie, ia hampir saja menerjang Beatrice jika Julian tidak menahan bahunya.
"Hentikan, Sophie," gumam Julian, tatapannya beralih ke arah Achell yang berdiri terpaku.
Achell menarik napas dalam-dalam. Ia tidak tampak panik, justru tatapannya sangat tenang, yang malah membuat Victor merasa semakin tidak nyaman. Achell menatap Clara dengan datar. "Nona Clara, silakan periksa tasku jika itu bisa membuatmu tenang. Aku tidak menyentuh kalungmu."
"Oh, tentu saja kau akan bilang begitu," sela Beatrice lagi. "Mungkin kau sudah memberikannya pada salah satu pengawal pribadimu ini? Siapa tahu mereka bekerja sama?"
"Cukup, Beatrice!" bentak Julian dengan suara bariton yang tegas. "Tuduhanmu sangat tidak berdasar. Achell adalah siswi terbaik di sini, dia tidak punya alasan untuk mencuri."
Clara mendekat ke arah Achell, matanya penuh kecurigaan. "Victor, lakukan sesuatu. Periksa dia! Dia satu-satunya orang yang bersentuhan denganku tadi."
Victor berdiri di tengah-tengah dua kubu. Matanya menatap Achell, mencari tanda-tanda ketakutan, namun ia hanya menemukan kekecewaan yang mendalam di mata cokelat gadis itu.
"Achell," ucap Victor dengan suara rendah. "Hanya untuk meluruskan semuanya agar tidak ada fitnah, bisakah kau—"
"Kau ingin aku mengosongkan tasku di depan semua orang, Uncle?" potong Achell dengan suara bergetar karena emosi yang tertahan. "Kau lebih percaya pada ocehan Beatrice dan tuduhan wanita ini daripada mengenalku selama sepuluh tahun?"
"Ini prosedur, Achell. Agar semuanya jelas," balas Victor dingin, meski hatinya merasa teriris melihat tatapan Achell.
"Idih! Prosedur matamu!" umpat Sophie tanpa saringan. "Tuan Edward, kau benar-benar tidak punya hati! Kau membiarkan istrimu—eh, maksudku wanita ini mempermalukan Achell di hari kelulusannya?"
Achell tidak menunggu lagi. Dengan gerakan kasar yang mengejutkan semua orang, ia mengambil tas kecilnya dan membalikkan isinya di atas meja jamuan. Bedak, beberapa buku catatan, sapu tangan, dan kunci asrama berserakan di meja. Tidak ada kalung.
"Sudah puas?" tanya Achell, suaranya kini terdengar sangat dingin.
Beatrice mendengus. "Mungkin ada di saku gaunmu?"
Achell hendak merogoh sakunya, namun tiba-tiba Julian maju. "Tunggu. Sebelum kau mempermalukan Achell lebih jauh, bagaimana kalau kita periksa sela-sela kursi tempat Nona Clara duduk tadi? Atau mungkin... di dalam tas Nona Beatrice sendiri?"
Wajah Beatrice mendadak pucat. "Kenapa jadi aku?"
"Karena aku melihatmu membungkuk di dekat kursi Nona Clara saat semua orang bertepuk tangan untuk Achell tadi," sahut Julian dengan nada menuduh yang tenang.
Benar saja, setelah petugas keamanan asrama datang dan memeriksa kursi depan, mereka menemukan kalung itu terselip di balik bantal kursi, seolah-olah ada yang sengaja menyembunyikannya di sana agar mudah diambil nanti.
Suasana menjadi sangat memalukan bagi Clara dan Beatrice.
Achell membereskan barang-barangnya kembali ke dalam tas dengan tangan gemetar. Ia tidak menatap Victor. Ia hanya menatap Julian dan Sophie.
"Ayo pergi dari sini," bisik Achell.
"Achell, tunggu" Victor mencoba meraih lengan Achell.
Achell menepis tangan Victor dengan kasar, gerakan yang membuat Victor terpaku di tempatnya. "Jangan sentuh aku, Uncle. Hari ini kau sudah membuktikan satu hal padaku. Bahwa di matamu, aku bukan hanya seorang anak kecil, tapi juga seseorang yang tidak cukup berharga untuk kau bela."
"Aku hanya ingin bersikap adil"
"Keadilanmu adalah sebuah lelucon, Victor Louis Edward," ucap Achell, pertama kalinya ia memanggil nama lengkap pria itu tanpa embel-embel 'Uncle'. "Nikmatilah malammu dengan orang-orang yang setara denganmu."
Achell berjalan pergi, diikuti oleh Sophie yang sempat memberikan jempol terbalik ke arah Victor, dan Julian yang menatap Victor dengan tatapan penuh rasa kasihan.
Victor berdiri mematung di tengah aula yang kini terasa sangat luas dan hampa. Ia melihat kalung zamrud itu di tangan petugas, namun baginya, perhiasan itu kini tidak lebih dari sekadar sampah. Ia baru saja melakukan kesalahan yang tidak akan pernah bisa ia perbaiki dengan uang sebanyak apa pun.