arif dan Erika sudah menikah selama 3 tahun. Namun, Erika harus melepaskan pernikahan dan orang yang sangat dia cintai karena arif lebih memilih sepupunya, Lanni. Arif Wistan berhutang budi pada Lanni Baswara karena telah menyelamatkan nyawanya hingga gadis itu jatuh koma selama 3 tahun. Dibalik sikap lemah lembutnya, tidak ada yang tahu apa yang telah direncanakan Lanni selama ini, kecuali Erika. Erika bertekad akan membalaskan dendamnya pada keduanya karena telah menghancurkan hidupnya. Ada apakah sebenarnya diantara mereka bertiga?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hasri Ani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
EMPAT
Erika mengangguk tapi terlihat tidak peduli.
"Abaikan saja. Dia hanya mengikuti dan sepertinya tidak berniat jahat."
Setelah sibuk seharian, Erika tidur dengan nyenyak pada malam harinya.
Sebelumnya, dia selalu merasa khawatir akan kehilangan Gardan. Tetapi sekarang setelah benar-benar kehilangannya; entah kenapa Erika sudah menerima kenyataan itu dan menjadi lebih tenang.
Awalnya, dia mengira akan sulit untuk tidur sendirian, tapi pada akhirnya dia justru tidur dengan nyenyak.
Sepertinya dia benar-benar sudah bisa melepaskan Gardan.
Erika membuka maranya setelah mendengar suara jam alarm di pagi buta.
Dia bangun dengan suasana hati yang baik dan pergi mencuci muka. Dia tersenyum dengan gembira melihat sarapan yang sudah tertata, dengan rapi di atas meja.
Erika menyukai sarapan ala Perancis dengan roti croissant dan cokelat panas. Namun, Gardan tidak suka dengan itu dan terbiasa makan daging untuk sarapan. Oleh karena itu, dia harus menyesuaikan diri dengan kesukaan pria itu selama bertahun-tahun.
Sekarang, akhirnya dia bisa mengurus dirinya sendiri dan makan makanan yang dia suka, itu membuat suasana hatinya menjadi rileks.
Pagi itu, dia menerima panggilan dari Cindy, mengatakan bahwa orang yang bertanggung jawab atas departemen hukum Grup Dikara ingin bertemu dengannya. Lalu, Gindy membantu Erika mengatur tempat pertemuannya.
Erika sudah selesai sarapan dan pergi keluar.
Pada saat yang sama, di dalam sebuah mobil di luar vila, seorang pria berpakaian serba hitam diam-diam menelepon seseorang, "Bos, dia sudah pergi meninggalkan rumah."
"Ikuti dia"
Ekspresi wajah Gardan menggelap. Dia tidak pernah tahu bahwa Erika memiliki vilanya sendiri. Dia bahkan mendesaknya untuk bercerai. Wanita ini... Dia tiba-tiba bertingkah seperti orang yang berbeda.
Erika sampai di tempat pertemuan dan melihat Cakra Wijaya duduk di samping jendela. Dia menghampiri pria itu dan menyapanya dengan tersenyum, "Cakra, kau sudah dari tadi di sini?"
Cakra mendongak dengan terkejut dan syok melihat Erika. "Erika?"
Erika tersenyum seraya menjawab, "Kau harus memanggilku Ines."
Jawabannya bahkan membuat pria itu lebih terkejut lagi. "Erika, kau..."
Cakra selalu mengagumi kecerdasan yang dimiliki oleh Erika saat masih di bangku di sekolah dulu. Dia tidak menyangka saat tahu bahwa Erika adalah Ines.
Sehingga, dia tidak bisa menyembunyikan kegembiraan di hatinya.
Mereka berdua pun segera membicarakan tujuan utama pertemuan itu dan membahas tentang kasusnya.
Namun, Erika tidak menyadari bahwa Gardan
Sedang mengawasinya dari dalam mobil. Ekspresinya berubah suram seperti langit yang dilanda badai.
Dia tidak bisa melihat wajah pria yang duduk di depannya dan tidak tahu siapa orang itu. Yang bisa dia lihat hanyalah Erika yang tersenyum cerah pada pria itu.
Tatapan mata Gardan menjadi ganas seolah-olah dia ingin melahap Erika seutuhnya.
Dia tidak pernah merasa sefrustrasi ini sebelumnya.
Dulu, Erika hanya akan menatapku. Sekarang, bagaimana bisa dia tersenyum begitu cerah pada pria lain? Apa dia pikir aku sudah mati?
Erika tidak mencurigai apapun. Setelah selesai berdiskusi, dia makan siang dengan Cakra sebelum pergi.
Lalu, dia ingat kalau dirinya sudah lama tidak pergi berbelanja. Jadi, dia pergi berbelanja dan membeli banyak hal untuk dirinya sendiri.
Langit sudah hampir gelap saat dia kembali ke vilanya.
Para pembantu menghabiskan waktu berhari-
Hari untuk merapikan barang-barang yang dia bawa kembali dari vila Gardan. Mereka melihat bosnya sudah kembali dan menyerahkan daftar barang-barang tersebut.
Erika menyadari ada yang hilang dari daftar itu. Dia refleks menyentuh lehernya, lalu matanya pun melebar.
Di mana kalungnya? Aku tidak boleh kehilangan kalung itu!
Apa aku lupa memakainya saat berkemas dengan buru-buru waktu itu?
Dia mempertimbangkan dan memutuskan kembali ke Kediaman Wistam untuk mencarinya.
Namun, ketika melangkahkan kaki masuk ke kamarnya, Erika tidak menyangka akan melihat Gardan yang sedang berdiri di depan meja rias, menatap jam tangan di tangannya.
Erika merasa heran. Selama tiga tahun pernikahan mereka, Gardan tidak pernah menginjakkan kakinya di kamar mereka.
Sekarang, dia terlihat melamun sambil melihat jam tangan pemberiannya dan tidak menyadari dirinya yang masuk ke dalam kamar.