Di sekolah Imperion Academy, dua fraksi berdiri saling berhadapan. Fraksi wanita yang dipimpin oleh Selvina Kirana , dan fraksi pria dipimpin oleh Varrendra Alvaro Dirgantara. selvina percaya bahwa laki-laki dan perempuan memiliki derajat yang sama, sedangkan Varrendra berpendapat bahwa perempuan seharusnya menunduk di bawah kaki laki-laki.
Pertarungan kata dan logika pun dimulai, panas dan penuh gengsi. Namun, di balik adu argumen yang tajam terselip sesuatu yang tak bisa mereka bantah - rasa yang perlahan tumbuh di antara dia pemimpin yang saling menentang.
Ketika cinta mulai menyelinap di antara ambisi dan prinsip, siapakah yang akan menang?
apakah cinta bisa menyatukan dua pemimpin yang terlahir untuk saling melawan atau justru menghancurkan keduanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon lee_jmjnfxjk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 11.Harga Sebuah Bantuan
Supermarket itu terlalu terang.
Lampu putih memantul di lantai bersih, rak-raknya tersusun rapi—seperti hidup yang tidak pernah retak. Selvina mendorong troli kecil, membaca daftar belanja di ponselnya. Tepung. Pita. Plastik bening.
Hal-hal yang bisa ia kendalikan.
“Selvina?”
Ia berhenti.
Menoleh perlahan.
Ayahnya berdiri di samping rak minuman, mengenakan kemeja mahal dan senyum yang tampak dilatih. Wajah itu tidak asing—hanya terasa jauh.
“Papa,” sapa Selvina. Suaranya datar, sopan. Tidak hangat, tidak dingin berlebihan.
Ayahnya tampak lega. “Kamu sendirian?”
“Iya,” jawabnya singkat.
Mereka berdiri canggung, dua orang yang punya hubungan darah tapi tidak lagi punya jarak yang wajar.
“Kamu… kelihatan sehat,” kata ayahnya akhirnya.
“Terima kasih,” jawab Selvina. “Papa juga.”
Kalimat formal. Aman.
Ayahnya mengangguk, lalu masuk ke topik tanpa berputar lama. “Papa dengar kamu lagi ada masalah ya di sekolah?.” tanyanya
Selvina mematikan layar ponselnya. “Berita cepat sampai, ya.”
“Papa masih punya kenalan,” katanya. “Apalagi di dunia pendidikan.” lanjutnya
Selvina mengangguk kecil. “Saya mengerti pa.”
Nada suaranya tenang. Terlalu tenang untuk seseorang yang sedang dijatuhkan hidupnya.
Ayahnya melirik sekeliling, memastikan tidak ada orang yang terlalu dekat dengan mereka. “Papa bisa bantu urus semua ini.”
Selvina menatapnya. “Dengan cara apa, Pa?”
Ayahnya menarik napas. “Papa punya kolega lama. Dia punya anak laki-laki… seumuran kamu. Sekolahnya bagus, latar belakangnya bersih, dia juga tampan.”
Selvina langsung paham, tapi tidak memotong.
“Papa pikir,” lanjutnya hati-hati, “kalau kalian dijodohkan, semuanya akan lebih mudah. Kasus di sekolahmu bisa diselesaikan. Nama baik kamu bersih lagi, dan kamu bisa lebih bahagia.”
Selvina diam beberapa detik.
Lalu ia tersenyum kecil. Sopan. Terukur.
“Terima kasih atas niat Papa,” katanya. “Tapi Papa baru menawarkan bantuan dengan syarat.”
Ayahnya sedikit mengernyit. “Ini bukan syarat. Ini solusi untuk kebebasan kamu sendiri.”
Selvina mengangguk pelan. “Saya mengerti sudut pandang Papa.”
Ia menatap ayahnya lurus. Tidak menantang. Tidak memohon. Hanya.... menghormati sebagian bawahan pada atasan.
“Tapi saya tidak bisa menerimanya.” ucapnya, masih dengan nada sopan yang berusaha ia pertahankan.
Ayahnya terdiam. “Kenapa?”
“Karena saya tidak ingin hidup saya diperbaiki dengan cara di jual kepada orang lain,” jawab Selvina lembut. “Apalagi dengan orang yang bahkan belum saya kenal.”
“Dia anak baik,” kata ayahnya cepat. “Dan usianya cocok. Papa tidak asal memilih jodoh untuk mu.”
“Saya yakin,” balas Selvina. “Tapi pilihan itu tetap bukan milik saya.”
Nada suaranya tetap sopan. Justru itu yang membuatnya menusuk.
“Kamu keras kepala,” kata ayahnya akhirnya.
Selvina menggeleng. “Tidak, Pa. Saya hanya belajar menentukan batas untuk diri saya sendiri.”
Ia meraih troli. “Terima kasih sudah memikirkan saya. Tapi biarkan saya menyelesaikan masalah saya sendiri.”
Ayahnya menatapnya lama. Ada sesuatu seperti kesal… atau kehilangan kendali.
“Dunia tidak ramah,” katanya pelan, “terutama untuk perempuan.”
Selvina mengangguk. “Saya sudah tahu itu sejak umur lima tahun.”
Ayahnya tersentak kecil.
“Sore, Pa,” ujar Selvina sopan. “Hati-hati di jalan.”
Ia mendorong troli pergi, langkahnya stabil meski dadanya sesak.
Di antara rak-rak yang rapi itu, ia menyadari satu hal:
Ayahnya masih melihat hidup sebagai kesepakatan.
Sedangkan ia—telah memilih menjadikan hidupnya keputusan.
Dan tidak semua bantuan pantas diterima,
terutama jika harganya adalah kebebasan.
-bersambung-
penasaran??baca ajaa seru..
bukan yapping yapping ini gess/Hey/
semangattt My authorr 🫶🏻🤍
aku kagett ternyata di sebutt..aku si dukung klo buat one shoot 🤍🤍