Elara Wynther, seorang gadis yatim dari pinggiran kota Firenze, tak pernah membayangkan hidupnya akan bersinggungan dengan dunia gemerlap kaum bangsawan. Hidupnya sederhana, penuh luka kehilangan, tapi hatinya tetap bersih.
Di sisi lain, Lucien Kaelmont, pewaris tunggal keluarga Kaelmont yang kaya raya, tumbuh dengan beban besar. Kehidupan mewahnya hanya terlihat indah dari luar, sementara di dalam dia merasa hampa dengan kehidupan yang sudah ditentukan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aulia risti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mansion pribadi
Esoknya.Elara menarik nafas dalam-dalam, entahlah dirinya merasa takut saja.
"Baiklah, Elara. Kau pasti bisa." Ucap Elara menyemangati diri nya.
Perlahan Elara masuk kedalam mansion pribadi Lucien. Didalam masih terlihat rapih, pernak-pernik mewah tergantung disana. Sofa yang elegan, lukisan yang indah dan beberapa ukiran diatas rak meja.
Elara segera melangkahkan mengambil lap, sapu. Gadis itu berniat untuk segera membersihkan mansion itu dan keluar secepatnya dari tempat tersebut.
Namun langkah Elara terhenti saat seseorang tiba-tiba keluar dari bilik kamar, seorang pria tinggi, dengan tubuh yang kekar.
"Kau, siapa? " Tanya dengan suara dalam.
Sejenak Elara masih membeku di tempatnya. Dia seolah tak percaya dengan apa yang dilihatnya.
"Tuan Marquis.. anda.." ucap Elara terdengar gagap.
Bagaimana bisa orang yang selalu dihindari selama tujuh tahun kini berada didepannya.
"Aku tanya siapa kau?" Lucien mengulangi perkataannya.
"Ak-aku..."
"Siapa? Aku siapa? Apa kau tidak bisa bicara lebih cepat?"
Lucien naik pita, pria itu tak sabar mendengar perkataan Elara yang terbelit.
"Aku Elara wyhther tuan, aku kemari diminta paman Alden membersihkan mansion." Jawab Elara cepat.
Elara menundukkan kepalanya tak berani menatap.
Rasanya seperti tujuh tahun lalu, saat Lucien mempermalukan nya didepan teman-temannya. Elara membenci sikap Lucien yang seperti itu.
"Alden?"
Elara mengangguk diam, dia masih tetap menundukkan.
Lucien memperhatikan Elara, pria itu baru mengingatnya.
"Dia gadis kecil itu? seperti nya dia tumbuh dengan baik." Batin Lucien, yang mengingat Elara.
"Baiklah, lanjutkan." Katanya lalu berbalik meninggalkan Elara.
Elara mengangkat kepala nya, dia langsung mengerutkan keningnya.
"Apa yang baru terjadi, dia marah lalu pergi begitu saja? Apa dia tidak bersalah membentaku?" Kesal Elara karena sepertinya tuan Marquis ini tidak berubah bahkan setelah tujuh tahun.
**
Menjelang siang hari, Elara telah selesai membersihkan mansion. Elara hendak pulang namun langkahnya terhenti saat Lucien memanggil nama nya.
"Iya tuan Marquis." Elara berbalik, menjawabnya.
"Nona wyhther, bisakah kau membuatkan aku makanan?"
"Maaf tuan. Tapi, bukankah makan siang sudah disiapkan dimeja makan?"
Elara bertanya. Tentu saja Elara, jelas-jelas Elara melihat sendiri pelayan dari rumah utama sudah menyiapkan makanan.
"Apa sekarang kau sedang membantah aku?"
"Bukan begitu tuan Marquis... baiklah, aku buatkan."
Elara akhirnya mengalahkan, bagaimana pun pria dihadapannya ini adalah tuan nya, semua orang diwilayah kaelmont hormat padanya, jika Elara menolak pasti paman alden akan terkena dampak nya.
Elara memasak untuk Lucien. Kurang lebih satu jam, Elara selesai memasak. Elara menata makanan nya di atas meja tak lama Lucien, terlihat menuruni tangga.
"Silahkan tuan, kalau tidak ada lagi aku pamit pulang..."
Elara akan berbalik tapi Lucien segera menghentikan nya.
"Tunggu sampai aku selesai makan, baru kau boleh pergi." Katanya.
"Hah?!" Elara tercengang mendengar nya tetapi juga tidak berani menolak.
Pada akhirnya Elara pasrah menunggu pria itu menyantap makanan nya hingga selesai.
Setelah selesai, Elara membersihkan meja dan mencuci piring nya sementara Lucien duduk diruang tamu membaca surat kabar di tangannya.
Tak ingin berlama-lama, Elara segera pamit pulang, untung nya kali ini pria itu tak menahannya lagi.
**
Sesampainya dia pondok, Alden yang sudah sampai lebih dulu segera menghampiri Elara.
"Kau baru pulang? Maaf paman-"
"Paman kenapa tidak bilang, kalo tuan Marquis sudah berada di mansion?" Elara bertanya tapi nada bicara terdengar marah.
"Maaf Elara, paman juga tidak tahu. Saat sampai diperbatasan, pasukan bilang tuan Marquis sudah pulang lebih dulu dengan mobil."
Elara masih mengatur nafasnya, wajar saja dia berlari dari mansion sampai pondok.
"Apa tuan Marquis memarahimu?" Tanya Alden mengingat, jika Lucien pernah berkata tidak ada yang boleh memasuki mansion tanpa izinnya.
**
Sesampainya dia pondok, Alden yang sudah sampai lebih dulu segera menghampiri Elara.
"Kau baru pulang? Maaf paman-"
"Paman kenapa tidak bilang, kalo tuan Marquis sudah berada di mansion?" Elara bertanya tapi nada bicara terdengar marah.
"Maaf Elara, paman juga tidak tahu. Saat sampai diperbatasan, pasukan bilang tuan Marquis sudah pulang lebih dulu dengan mobil."
Elara masih mengatur nafasnya, wajar saja dia berlari dari mansion sampai pondok.
"Apa tuan Marquis memarahimu?" Tanya Alden mengingat, jika Lucien pernah berkata tidak ada yang boleh memasuki mansion tanpa izinnya.
Elara menggeleng.
"Tidak paman, sudahlah, lupakan."
"Sekali lagi maafkan paman Elara,"
"Tidak apa-apa paman. Apa paman sudah makan?"
"Jangan tanya paman, tanyakan saja dirimu. Lihatlah bibirmu terlihat pucat."
Elara melihat pantulan di kaca jendela.
"Yasudah ganti pakaianmu dan istirahatlah. Paman akan keluar sebentar.
Elara mengangguk lalu, bergegas masuk kedalam kamar mandi.