NovelToon NovelToon
Gairah Sang Janda

Gairah Sang Janda

Status: sedang berlangsung
Genre:Janda / Konflik etika / Selingkuh / Romantis / Trauma masa lalu / PSK
Popularitas:11.7k
Nilai: 5
Nama Author: LaQuin

Warning!! Hanya untuk pembaca 21 tahun ke atas.

Lyra menjadi wanita yang haus akan kasih sayang setelah kepergian suaminya. Usia pernikahannya baru berjalan 2 bulan, namun harus berakhir dengan menyandang status janda di tinggal mati. Bertemu Dika seorang lelaki yang bekerja di daerah tempat tinggalnya. Membuat mereka terlibat dengan hubungan cinta yang penuh dosa.Tapi siapa sangka, ternyata Dika sudah menikah, dan terobsesi kepada Lyra.
Lyra akhirnya memutuskan untuk sendiri menjalani sisa hidupnya. Namun ia bertemu Fandi, rekan kerjanya yang ternyata memendam rasa padanya.

Bagaimana kisah kehidupan dan cinta Lyra selanjutnya?
Yuk simak kisahnya..

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon LaQuin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

25. Hati Yang Hancur

Bab 25

Hati Yang Hancur

POV Lyra

"Saya Novia... istrinya Mas Dika." Istrinya. Kata itu berputar-putar di kepalaku, menciptakan pusaran rasa sakit yang tak tertahankan. Bagai belati yang menghujam jantungku, merobek setiap harapan dan impian yang pernah kubangun. Dunia yang selama ini kurajut dengan penuh cinta dan keyakinan, seketika runtuh menjadi puing-puing kehancuran.

Mataku nanar menatap wanita di hadapanku. Novia. Wajahnya menyimpan jejak kesedihan yang mendalam, tatapannya menyimpan amarah yang membara. Aku bisa merasakan betapa hancurnya hatinya, betapa sakitnya ia dikhianati. Dan aku... aku adalah penyebabnya.

Rasa bersalah menghimpit dadaku, menyesakkan nafasku. Aku telah merusak rumah tangga orang lain, menghancurkan kebahagiaan seorang wanita. Aku telah menjadi duri dalam hubungan mereka, menjadi perusak keharmonisan keluarga. Air mata mengalir deras di pipiku, membasahi hatiku yang terluka.

Sejujurnya juga nggak mau jadi selingkuhan. Aku ingin menjelaskan, aku ingin membela diri, namun kata-kata itu terasa hambar dan tak berarti. Aku tahu, nggak ada alasan yang bisa membenarkan perbuatanku. Aku telah melakukan kesalahan besar, dan aku harus menanggung akibatnya.

Mas Dika pembohong. Dan aku juga korban dari kebohongannya. Aku ingin mereka tahu, bahwa aku juga merasa dikhianati, dipermainkan. Namun, aku ragu apakah istri Mas Dika itu akan percaya padaku. Aku adalah orang asing baginya, orang yang telah merebut suaminya.

Aku benar-benar menyesal. Menyesal karena telah percaya pada Mas Dika, menyesal karena telah larut dalam kebahagiaan semu, menyesal karena telah menyakiti hati seorang wanita.

Aku menundukkan kepala, nggak berani menatap istri Mas Dika. Aku merasa malu, merasa hina. Aku nggak pantas mendapatkan maafnya. Aku hanya pantas mendapatkan hukuman.

Nggak ada lagi yang harus aku pertahankan di kota kecil ini. Aku harus pergi, aku harus menjauh dari Mas Dika. Aku nggak ingin menjadi perusak yang lebih besar lagi.

Aku akan melupakan Mas Dika, melupakan kebahagiaan semu yang pernah kurasakan, dan memulai hidup baru yang lebih baik.

Aku menatap Novia sekali lagi, mencoba menyampaikan rasa terima kasihku yang mendalam. Ia mungkin nggak akan pernah bisa memaafkanku, tapi setidaknya, ia telah memberiku kesempatan untuk memperbaiki kesalahanku. Aku berjanji pada diriku sendiri, aku akan meninggalkan Mas Dika, aku akan meninggalkan kota ini, dan aku akan memulai hidup baru yang lebih baik. Aku akan menebus semua kesalahanku, dan aku akan berusaha menjadi wanita yang lebih baik lagi. Hati ini hancur, namun aku akan berusaha menyusunnya kembali, menjadi hati yang lebih kuat dan lebih bijaksana.

-

-

-

POV Novia

Pintu rumah Lyra tertutup di belakang kami, namun bayangan wajahnya yang penuh air mata masih terpatri jelas di benakku. Ada kelegaan. Ya, sedikit kelegaan karena setidaknya dia bersedia melepaskan Mas Dika. Tapi, kelegaan itu terasa hambar, bercampur dengan rasa pahit yang menderai air mataku.

Dalam perjalanan pulang aku menangis. Air mata yang sejak tadi aku tahan kini terjun bebas di pipi. Aku nggak tahu perasaan mana yang membuat air mata ini turun tanpa ingin berhenti. Sesakit ini dikhianati, perih, hancur, dan sesak.

Aku menatap keluar jendela, melihat pemandangan yang berlalu begitu cepat, namun pikiranku melayang jauh ke belakang.

Mas Dika. Suamiku. Pria yang kucintai dengan sepenuh hati, pria yang kujadikan sandaran hidupku, pria yang kuhormati dan kupercayai. Ternyata, semua itu hanyalah ilusi. Di balik senyumnya, di balik perhatiannya, tersimpan kebohongan yang begitu menyakitkan.

Bagaimana bisa dia tega melakukan ini padaku? Bagaimana bisa dia mengkhianati cintaku, mengkhianati pernikahan kami, mengkhianati keluargaku? Pertanyaan-pertanyaan itu menghantuiku, mencari jawaban yang nggak mungkin kutemukan.

Aku tahu, wanita itu mungkin juga korban dalam situasi ini. Dia dibohongi, dipermainkan, dimanfaatkan oleh Mas Dika. Aku bisa melihat penyesalan di matanya, aku bisa merasakan sakitnya hatinya. Tapi, itu nggak menghapus rasa sakitku oleh perbuatan mereka. Oleh cinta yang bersemi di atas duka yang aku terima. Itu nggak menghapus fakta bahwa dia telah merebut suamiku, meskipun tanpa disadarinya. Aku benci padanya, tapi juga sedikit iba. Entahlah...

Aku hanya diam ketika hati mulai lelah menangis, ketika air mata tak lagi ingin membasahi pipi. Iqbal berusaha mengajakku berbicara, namun aku nggak sanggup. Kata-kata masih terasa berat di lidahku, emosiku terlalu bergejolak untuk diungkapkan.

Aku menggenggam jemari ku. Ibra, putraku. Kekuatan dan harapanku. Aku harus kuat demi dia. Aku nggak boleh menyerah pada kesedihan dan kemarahan. Aku harus bangkit, aku harus berjuang, aku harus memberikan yang terbaik untuk masa depannya.

Tapi, bagaimana caranya? Bagaimana aku bisa kembali mempercayai Mas Dika setelah semua yang terjadi? Bagaimana aku bisa mencintainya lagi setelah ia menghancurkan hatiku? Bagaimana aku bisa menjalani hidup bersamanya seolah nggak terjadi apa-apa?

Aku nggak tahu. Aku benar-benar nggak tahu. Hatiku hancur berkeping-keping, dan aku nggak yakin, apakah aku bisa menyusunnya kembali. Aku merasa kosong, hampa, seolah sebagian dari diriku telah hilang.

Aku menatap Iqbal. Dia menatapku dengan tatapan khawatir dan kurasa juga kasihan. Aku tahu, dia selalu ada untukku, dia selalu siap menjadi sandaranku. Tapi, aku nggak ingin membebaninya. Aku nggak ingin membuatnya terlibat dalam masalahku.

"Terima kasih," ucap ku lirih. Satu kalimat itu yang hanya mampu aku katakan saat ini.

Iqbal tersenyum lembut menatap ku.

"Terima kasih untuk apa?"

"Terima kasih untuk semua sampai detik ini."

"Aku senang membantu mu. Jika perlu apa-apa, aku akan selalu ada di sini untukmu."

Aku tersenyum pahit. Aku tahu dia akan selalu ada untukku. Tapi, masalah ini adalah masalahku. Aku harus menghadapinya sendiri. Aku harus mencari jalan keluarnya sendiri.

Aku kembali menatap ke luar jendela. Memandangi pohon-pohon dan sawah-sawah yang kami lewati. Ku turunkan jendela, sengaja agar angin menerpa wajahku dengan kasar. Agar aku tetap sadar, bahwa ini lah kenyataan yang nggak hanya ada manis yang terasa, tapi juga pahit yang menyiksa.

Tanpa sadar aku tertidur. Mungkin karena lelah, lelah tubuh juga hatiku. Iqbal membangunkan ku saat mobil berhenti di depan rumahku, aku menarik napas dalam-dalam dan keluar dari mobil. Aku menatap rumahku, rumah yang seharusnya menjadi tempatku berlindung, tempatku merasa aman dan nyaman. Tapi, sekarang, rumah itu terasa asing dan menakutkan.

Aku melangkah masuk, mencoba menenangkan diri. Aku harus kuat. Aku harus tegar. Aku harus menghadapi Mas Dika. Aku harus mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi. Dan aku harus membuat keputusan yang terbaik untuk diriku dan untuk Ibra.

Namun, satu hal yang pasti, hatiku telah hancur. Dan entah bagaimana caranya, aku harus mencari cara untuk menyembuhkannya..

"Nggak masuk dulu Iq?" Tanya ku melihat lelaki yang dulu adalah sahabat ku kini menjadi adik iparku.

"Aku langsung ke rumah Pak Lek Leman saja, biar kamu juga bisa istirahat cepat. Lagian ini sudah malam, nggak enak sama tetangga jika kita hanya berdua."

Aku tersenyum tipis. Adiknya saja masih tahu batas. Tapi Abangnya malah melewati batas.

"Ya sudah. Sekali lagi, terima kasih ya Iq."

"Sama-sama Nov. Ingat, hubungi aku kalau ada apa-apa. Jangan kamu simpan sendiri."

Aku mengangguk.

"Kalau begitu, aku pamit. Assalamualaikum..."

"Wa'alaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh."

-

-

-

Bersambung...

Jangan lupa dukung Author dengan like dan komen ya, terima kasih 🙏😊

1
༄༅⃟𝐐.𝓪𝓱𝓷𝓰𝓰𝓻𝓮𝓴_𝓶𝓪
orangnya kan rada beda
༄༅⃟𝐐.𝓪𝓱𝓷𝓰𝓰𝓻𝓮𝓴_𝓶𝓪
woiii diruang tamu 😭😭
༄༅⃟𝐐.𝓪𝓱𝓷𝓰𝓰𝓻𝓮𝓴_𝓶𝓪
serasa di lockdown ya ly 😂
Author abal-abal
Waduh kasihan temen-temen kamu Lyra, bener kata Dea udah keluar aja bilang di wa. udah gitu langsung blokir tuh Hardi biar gak gangguin kamu
🏘⃝Aⁿᵘ🍒⃞⃟🦅♉🍃⃝⃟𝟰ˢ🫦Kᵝ⃟ᴸ➢‮
udah bener kamu berhenti Ra, udah pamit di WA, sebaiknya lgsg Ganti nomor baru..biar aman
🏘⃝Aⁿᵘ🍒⃞⃟🦅♉🍃⃝⃟𝟰ˢ🫦Kᵝ⃟ᴸ➢‮
gila si Hardi 😄
benerannn psikopat cinta 🤣
💜Bening🍆
ya coba aja lyra kerja di sna dr pd berurusan ama atasan gila kayak hardi
💜Bening🍆
lah pdhal sendirinya yg nyampurin urusan kerja sma urusan pribadi, emang si pak hardi ini ora beres
💜Bening🍆
ealah, menyalah gunakan kekuasaan ini. inget pak anak bini di rumah, ganjen n cemburu buta di tempat kerja
💜Bening🍆
untung lyra orgnya waras
💜Bening🍆
ya klo atasannya single ora apa.. lah ini bapak2 genit
💜Bening🍆
dihhh, dahlah nov mending tinggalin aja manusia spt dika ini... egoisnya gk ketulungan
💜Bening🍆
dasar si dika, lah novia begitu ke kamu y krn perbuatanmu sendiri
༄༅⃟𝐐.𝓪𝓱𝓷𝓰𝓰𝓻𝓮𝓴_𝓶𝓪
apa ini awal lyra akan bertemu orang lama itu?
༄༅⃟𝐐.𝓪𝓱𝓷𝓰𝓰𝓻𝓮𝓴_𝓶𝓪
padahal yg nyampurin justru manager gelok ituu
༄༅⃟𝐐.𝓪𝓱𝓷𝓰𝓰𝓻𝓮𝓴_𝓶𝓪
apa semua yg dekat dgn lyra bakal dipecat?
Author.N.
buruan laporin aja sama pemilik cafe ga sih, biar dia yang dipecat
Author.N.
Huff malah pada dipecat. Ga beres itu si boss.
Author.N.
semoga yg ini baik
Author.N.
Yang kontainer yang bisa menyembuhkan otak dika 🤣😆
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!