Pernikahan yang bahagia selalu menjadi dambaan bagi setiap wanita didunia ini, namun terkadang takdir tidak berjalan sesuai apa yang kita harapkan.
Begitupun dengan apa yang dialami Alyssa, wanita cantik berusia 26 tahun itu harus menerima kenyataan pahit. Bahwa pernikahan yang selalu ia jaga hancur oleh penghianatan sang suami.
Rasa kecewa dan sakit yang ia rasakan membuat ia trauma dan berjanji pada dirinya sendiri untuk tidak menjadi duri dalam rumah tangga orang lain. ia menutup dirinya rapat rapat namun semua itu tidak lantas mengubah prasangka buruk orang orang karena statusnya sebagai seorang janda.
Namun bagaimana jadinya jika takdir memintanya untuk menjadi istri kedua... akankah ia menolaknya mengingat janjinya. atau ia akan menerimanya karena keadaan yang begitu memaksa dirinya...
lalu sanggupkah ia menjalani kehidupannya.
penasaran intip kisahnya disini jangan lupa berikan kritik dan saran yang membangun...
terimakasih
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon yulia puspitaningrum, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
11. Keberanian Alyssa.
Malam itu Alyssa bergegas membawa ibunya kerumah sakit mengingat kondisinya yang semakin lemah.
Kini ia sendirian menatap pintu Icu dengan tatapan nanar, disana ibunya tengah ditangani oleh beberapa dokter yang ada, tak henti hentinya ia berdoa meminta keajaiban pada sang maha kuasa...
"Keluarga ibu Manda."
Alyssa langsung berdiri menghampiri dokter yang baru saja memanggilnya.
"Bagaimana keadaan ibu saya dok." Tanya Alyssa cemas.
Helahan nafas terdengar dari mulut dokter dihadapannya, wajahnya nampak murung dan itu sebagai pertanda untuk Alyssa bahwa keadaan ibunya sangat buruk.
"Kenapa mbak baru membawa Bu Manda kesini, tidak taukah mbak kondisi Bu Manda saat ini, dia kritis dan tidak sadarkan diri lagi?"
Hati Alyssa seperti diremas, dadanya terasa sesak sementara air mata mulai menggenang diujung kelopak matanya.
" Sekarang hanya ada dua pilihan, operasi atau membiarkan dia menyerah dengan hidupnya."
Tes...
Air mata jatuh membasahi pipinya, tubuhnya lemas hampir saja ia jatuh kelantai mendengar kenyataan pahit itu, beruntung dokter dihadapannya menahan lengannya.
"Apa tidak ada pilihan lain dok?"
Dengan berat hati Dokter menggelengkan kepalanya.
"Saya tau ini berat, tapi hanya itu satu satunya jalan yang Bu Manda punya. Kita harus segera memperbaiki kerusakan jantungnya jika tidak jantung itu akan segera terhenti."
Dunia Alyssa serasa runtuh, ia tau cepat lambat hal ini akan terjadi, tapi ia belum siap dengan segala kemungkinannya.
Ia tetap ingin menyelamatkan ibunya meskipun ia tidak tau dari mana ia mendapatkan uang untuk biaya operasi itu.
Sang ayah tidak mau meminjamkan uang, ia juga tidak mungkin meminta apalagi memohon pada mantan suaminya...
"Biarkan saya memikirkannya dok."
"Baik, tapi waktu mbak tidak banyak." Peringat dokter itu sebelum berlalu pergi dari hadapan Alyssa.
Ditengah tengah kegundahan hatinya ia memutuskan untuk melihat keadaan ibunya, disana ibunya masih terbaring lemah berbagai alat terpasang ditubuhnya.
Alyssa tidak tahan, ia mengurungkan niatnya untuk melihat sang ibu dan memilih untuk menenangkan dirinya.
Lorong demi lorong rumah sakit ia lalui sepanjang jalan langkahnya terasa semakin berat seiring beban dipundaknya yang semakin bertambah besar.
"Lepaskan aku Rio!!!" Teriakan itu mengalihkan perhatian Alyssa.
Disana tepatnya tidak jauh darinya ia melihat seorang gadis tengah berusaha membebaskan tangannya dari cengkraman seorang laki laki yang saat ini berusaha menahan kepergiannya.
"Tidak akan, aku tidak akan membiarkan kamu pergi sebelum kamu menarik kata katamu."
Kening Alyssa berkerut dalam ia tidak tau apa yang terjadi pada kedua sejoli itu tapi yang pasti mereka telah menjadi pusat perhatian banyak orang.
"Lalu bagaimana kalau aku tidak mau, apa kamu mau memukulku. Pukul saja aku tidak takut?" Tantang wanita itu semakin berani.
Alyssa menghela nafasnya ditengah tengah masalah yang ia hadapi ia harus melihat drama yang membuatnya semakin lelah ia ingin melangkahkan kakinya pergi.
"Kamu menantang ku, dasar wanita murahan kamu pikir kamu siapa ha... Jangankan memukulmu aku juga bisa melenyapkan nyawamu..."
Tangan pria itu terangkat dan menampar gadis dihadapannya dengan keras hingga membuat gadis itu terjatuh dan menangis memegangi pipinya.
Alyssa menghentikan langkahnya kala melihat kejadian itu, ia mengurungkan niatnya itu pergi.
Darahnya mendidih, ia menatap ke sekelilingnya berharap ada orang yang mau menolong, tapi mereka semua diam seolah olah telah buta.
Alyssa tidak tahan lagi, tangannya terkepal dengan erat.
Tanpa ragu ia kembali melangkahkan kakinya bukan untuk pergi melainkan untuk menghampiri mereka.
"Kamu tidak apa apa?" Tanya Alyssa membantu gadis itu berdiri, tak lupa ia juga ikut membersikan pakaian gadis itu yang kotor akibat terkena lantai yang basah.
Sementara gadis itu yang ditolongnya itu hanya diam, sepertinya ia terkejut dengan apa yang sudah laki laki didepannya lakukan.
"Siapa kamu jangan ikut campur masalahku?" Tanya Rio mengalihkan perhatian Alyssa, mata yang semula teduh berubah nyalang. Rio sampai bergeridik ngeri melihat tatapan yang Alyssa berikan.
"Siapa aku itu tidak penting, aku memang tidak berhak ikut campur masalah kalian tapi kamu sudah keterlaluan tidak seharusnya kamu mengangkat tanganmu pada seorang wanita. Apa kamu merasa hebat, atau kamu merasa kuat. Tidak malu kah kamu melawan seorang gadis... ?" Cerca Alyssa menatap pria dihadapannya dengan pandangan jijik.
"Memangnya kenapa, dia yang menantang ku lebih dulu." Ucap Rio membela diri, ia tidak mau mengalah apalagi merasa bersalah.
Karena menurutnya ia tidak salah, jika Bela tidak memulai pertengkaran itu maka ia tidak akan hilang kendali dan melampiaskan emosinya.
"Meskipun dia menantang mu kamu tidak seharusnya bersikap kasar seperti itu, apa kamu tidak berpikir tenaganya tidak ada apa apanya dibandingkan kamu, dia bisa saja terluka atau bahkan celaka karena ulahmu. Tidak bisakah kamu bersikap lembut kepadanya dan menjelaskan secara perlahan, ajak dia duduk beri dia perhatian agar dia mau mengerti, jika dia tidak mau mendengarkan maka tunggu sampai emosinya reda bukan malah memaksanya apalagi sampai memukulnya."
Rio terdiam, ia menundukkan kepalanya merasa bersalah atas apa yang ia lakukan.
"Ibumu juga seorang wanita, bagaimana perasaanmu jika ibumu diperlakukan sama dengan apa yang sudah kamu lakukan. Sebelum berbuat berpikirlah dulu, emosi tidak akan menyelesaikan segalanya sekarang pergi dari sini dan biarkan dia memikirkannya dulu." Pinta Alyssa menatap Bela sejenak yang saat ini sudah tidak menangis dan menatapnya tanpa berkedip.
"Tapi bagaimana dengan masalah kami...?" Tanya pria itu masih enggan meninggalkan bela.
"Beri dia waktu... "
Rio menghela nafasnya kasar, ia tidak mungkin terus berdebat disana apalagi orang orang sudah memperhatikan mereka akhirnya ia memutuskan untuk pergi dan memberikan bela waktu untuk berpikir.
"Tidak usah takut dia sudah pergi." Ucap Alyssa mengusap pundak gadis itu untuk menenangkan nya, ia pikir Bela masih terkejut pasalnya gadis itu masih terdiam dan terus menatapnya.
Tidak tau saja dirinya jika bela begitu karena terlalu kagum pada Alyssa baru kali ini ia melihat seorang wanita yang berani berdebat dengan laki laki yang tidak dikenalnya.
"Kenapa kakak membantuku?" Pertanyaan itu terlontar dari mulut bela ia sungguh penasaran dengan alasan Alyssa membantunya.
"Tidak ada alasan untuk itu, aku hanya tidak suka melihat laki laki kasar sepertinya. Siapa dia apa dia suamimu?" Tanya Alyssa yang langsung dijawab gelengan kepala oleh Bela.
"Apa aku terlihat seperti wanita yang sudah menikah?" Alyssa terkekeh Pelan ia melupakan masalahnya untuk sejenak, Tawa renyah Alyssa justru membuat Bela semakin kagum padanya apalagi Alyssa terlihat cantik saat tertawa dan tersenyum.
"Cantik sekali... Apa ini yang dinamakan bidadari." Batin Bela terpana.
"Kenapa kamu masih menatapku seperti itu, ayo ikut aku." Bagai kerbau yang dicucuk hidungnya Bela menurut dan membiarkan Alyssa menarik tangannya membawanya kemanapun Alyssa mau.