NovelToon NovelToon
Misi Rahasia Dengan Kode Merah

Misi Rahasia Dengan Kode Merah

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / Misteri Kasus yang Tak Terpecahkan / TKP / Dokter / Permainan Kematian / Psikopat
Popularitas:907
Nilai: 5
Nama Author: `AzizahNur`

Seorang detektif ternama ditugaskan menyelidiki serangkaian kematian aneh yang tampak seperti kecelakaan, kelalaian kerja, bahkan bunuh diri. Namun, di balik kasus-kasus ringan itu, perlahan terbentuk pola yang mengarah pada sesuatu yang tak terduga.

Di tengah penyelidikan, ia bertemu seorang mahasiswi kedokteran yang aneh dan tak biasa. Gadis itu kerap muncul di saat-saat krusial—memberi analisis, menolong di lapangan, dan membantu mengungkap detail yang luput dari penyelidikan resmi. Hubungan mereka tumbuh akrab, meski bayang-bayang masa lalu gadis itu masih menyisakan luka.

Seiring waktu, kasus-kasus berkembang menjadi pembunuhan berantai yang semakin brutal. Kota yang sempat kembali tenang diguncang teror baru, kali ini tanpa upaya menyamarkan kejahatan. Luka-luka serupa tertinggal di setiap korban, seolah sang pelaku ingin dikenali.

Tak ada yang mengira.

apakah ia sedang memburu seorang pembunuh… atau justru telah berjalan di sampingnya sejak awal?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon `AzizahNur`, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 11 : Hadiah kecil Victoria

“Apa yang tadi kau lakukan?” suara Alexander datar, namun tajam menusuk, saat langkahnya menyusuri lorong sepi bersama gadis itu.

Tatapan matanya menusuri setiap gerak-gerik Victoria, tak ada detail yang terlewat. Namun yang dilihatnya hanyalah tingkah polos seorang gadis yang tampak lebih mirip anak kecil ketimbang dokter muda yang sedang berada di tengah kasus berbahaya.

“Memberinya hadiah…” jawab Victoria, senyumnya tipis namun tulus, seperti tidak menyimpan beban apa pun.

“Hadiah?” Alexander mengulang kata itu, keningnya sedikit berkerut.

“Setiap ada dokter, pasien, atau siapa pun yang meninggal di rumah sakit ini, aku biasa memberinya hadiah kecil… untuk terakhir kalinya,” ucap Victoria, suaranya pelan, kepalanya sedikit menunduk.

“Maksudmu apa?” Alexander menoleh sejenak, meski langkahnya tidak terhenti.

“Mereka sudah melewati rasa sakit yang begitu menyiksa,” jawab Victoria lirih. “Jadi aku berharap hadiah kecil itu… bisa sedikit meringankan beban mereka, meski hanya setelah semuanya berakhir.”

Alexander mendadak terdiam. Kata-kata itu menempel di pikirannya, membuat dadanya terasa aneh. Ia belum pernah mendengar ritual semacam ini, bahkan dari dokter senior sekalipun. Hadiah setelah kematian… terdengar konyol, namun di telinganya terasa begitu tulus sekaligus membingungkan.

Sorot matanya berubah, seakan mulai ingin memahami siapa sebenarnya gadis di sampingnya. Namun ia cepat memalingkan wajah, kembali menatap ke depan.

Lorong yang mereka lewati semakin sepi, sunyi seolah terpisah dari dunia ramai di luar. Di ujung lorong, sebuah pintu kayu dengan plat nama kecil menandai ruang pribadi yang dipersiapkan untuk Alexander oleh manajer Henry.

Ia meraih kenop, memutarnya perlahan, lalu membuka pintu. Ruangan itu sederhana, namun rapi. Aroma kertas bercampur kopi mengisi udara. Di balik meja, asistennya sudah menunggu dengan setumpuk berkas menumpuk tinggi.

“Tuan Reed…” Asisten itu segera berdiri, menyambutnya dengan sedikit membungkuk.

“Laporan dari pusat?” Alexander langsung masuk, langkahnya mantap menuju meja. Tangannya mengambil lembaran teratas, matanya segera membaca sekilas isi laporan.

“Ini tentang kematian—” kalimat asistennya terhenti saat Victoria tiba-tiba melangkah masuk tanpa permisi. Matanya berbinar, seolah baru menemukan dunia baru. Ia menatap setiap sudut ruangan dengan rasa ingin tahu, menyentuh rak buku, lalu memperhatikan lampu gantung dengan ekspresi kagum yang polos.

Asisten itu menoleh pada Alexander, alisnya terangkat. “Tuan, anda yang membawanya?” suaranya dibuat serendah mungkin, takut mengganggu.

Alexander menghela napas panjang. “Biarkan saja. Aku sudah bilang jangan ikut, tapi dia tidak mau dengar.” Tangannya tetap sibuk membolak-balik halaman laporan, wajahnya dingin. “Lanjutkan. Apa isi laporan itu?”

Asisten itu kembali menunduk, lalu memilah beberapa lembar tambahan di atas meja dan menyerahkannya. “Saat interogasi, pasien mengaku dirinya menyelundupkan barang-barang bekas operasi. Organ yang dibuang, peralatan, bahkan darah. Tapi saat ditanya siapa yang menyuruhnya… ia baru sempat menyebut satu kata, sebelum tangannya meledak, tepat di bagian nadi.”

Alexander berhenti membaca. Kedua alisnya mengerut, sorot matanya tajam menatap tulisan di kertas. Urat halus di pelipisnya tampak menegang.

“Mereka menanamkan chip peledak di tangannya?” gumamnya pelan, lebih pada dirinya sendiri. Ia menutup berkas itu perlahan, lalu menatap asistennya dengan dingin. “Apa dia hanya pion? Seorang suruhan?”

Ruangan seketika terasa semakin berat. Kata-kata itu mengendap, meninggalkan rasa curiga yang jauh lebih besar dari sebelumnya.

“Mungkin saja, informasi yang kita dapat tidak mencukupi data.” Ucap asisten itu pelan sambil menyerahkan tumpukan kertas yang telah ia pilah dengan hati-hati kepada Alexander.

Alexander meraih lembaran itu, menelusuri isi tulisan singkat yang tak memberi kepastian. Guratan di wajahnya menegang, seolah setiap kalimat justru semakin menjauhkan dari jawaban yang ia harapkan. Ia melangkah ke kursinya, duduk dengan gerakan berat, lalu menyandarkan tubuh. Matanya tetap tertuju pada laporan yang kosong dari petunjuk.

Di sisi lain, Victoria duduk di dekat lemari penuh buku sejarah, kriminologi, dan psikologi kelam. Tatapannya terarah pada Alexander, memperhatikan ekspresi frustrasi yang tak bisa disembunyikan. Jemarinya meraih sebuah buku, ia lalu membukanya dan menurunkan tubuh ke lantai, duduk bersila dengan santai sambil membaca.

“Dia…” bisiknya lirih, nyaris tenggelam oleh sunyi ruangan.

Alexander menunduk, rambutnya jatuh menutupi sebagian wajah, lalu dengan nada rendah ia berkata, “Aku akan pikirkan caranya. Sekarang, pergilah beristirahat.”

“Baik, tuan…” sahut sang asisten sambil menunduk hormat, kemudian berbalik meninggalkan ruangan.

Kini hanya ada tumpukan kertas di meja dan kesunyian yang menekan. Rasa lelah terus menumpuk di kepala Alexander, menahan tidurnya setiap malam. Pandangannya kabur, hingga akhirnya kepalanya terjatuh di atas meja, terlelap dalam rasa penat yang tak bisa ia lawan.

1
Vie
lumayan seru juga sebenarnya... penuh dengan rahasia.... 👍👍👍👍
sahabat pena
hey nona sekali lagi tabrakan sama si kuttub Alexander dpt piring pecah loh🤣🤣🤣🤣
sahabat pena
tiba-tiba horor euy pintu ketutup sendiri🤣🤣🤣🤣
sahabat pena
apakah mereka berjodoh? tabrakan untuk ke-dua kali nya 🤣🤣🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!