Wasiat dua kakek yang bersahabat sejak lama menetapkan Adam dan Hawa sebagai pasangan di masa depan. Namun ketika waktu itu tiba, Adam justru menolak perjodohan tersebut. Ia merasa belum siap dan memilih fokus pada hidup serta pekerjaannya di Australia. Demi menghindari perjodohan itu, Adam mendorong adiknya Harun untuk menggantikan posisinya menikahi Hawa. Keputusan itu ternyata menjadi titik awal munculnya berbagai masalah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sarah Mai, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Perasaan yang tidak biasa
Pukul dua malam, Adam tersadar dari tidurnya. Matanya berkedip beberapa kali. Tubuhnya terasa lebih hangat, lebih tenang.
Saat itulah ia menyadari kepalanya bersandar di pangkuan Hawa. Sementara Hawa tertidur sambil duduk, punggungnya bersandar lemah di kepala kasur. Kepalanya sedikit miring ke samping, napasnya teratur, wajahnya terlihat begitu damai.
Satu tangannya masih setia menggenggam jemari Adam, seolah takut ia akan terbangun dalam kesakitan dan membutuhkan pertolongannya.
Adam tercekat. Dadanya menghangat oleh perasaan yang tak bisa ia namai. Perempuan itu tidak pergi. Tidak meninggalkannya sendirian di tengah malam yang sunyi penuh ketakutan. Ia rela menahan pegal, hanya demi memastikan lelaki itu baik-baik saja.
Perlahan, Adam menggeser sedikit tubuhnya, takut gerakan kecilnya akan membangunkan Hawa. Diam-diam pandangannya menelusuri wajah lembut itu, bulu mata yang lentik, garis lelah di bawah mata, dan ekspresi tulus yang selama ini tak pernah ia dapatkan dari siapa pun.
"kenapa rasanya setenang ini… hanya dengan berada disisi Hawa? batinnya berbisik!" Adam menelan ludah, seketika pula ia tersadar jika Hawa adalah istri Harun.
kemudian dengan hati-hati Adam mengangkat tangannya yang masih berpegangan dengan Hawa, lalu memperbaiki posisi tidur wanita itu dengan baik, menarik selimut agar Hawa tidur lebih lelap.
Adam masih trauma dengan malam-malam yang mencekam dirinya selama ini, ia memperhatikan sekelilingnya kondisi begitu tenang.
“Tidak apa-apa… aman,” bisiknya lirih, lebih untuk meyakinkan dirinya sendiri dan hingga kembali tertidur di atas sofa akibat pengaruh obat yang membuatnya masih mengantuk.
*
Hawa datang setiap pagi dengan langkah ringan, membawa aroma antiseptik yang samar bercampur wangi sabun lembut di tubuhnya. Tanpa banyak bicara, pagi itu ia mengganti perban Adam, memeriksa suhu tubuhnya, lalu memastikan setiap sudut luka Adam dirawat dengan teliti.
"Bersama Hawa tadi malam aku benar-benar tidak bermimpi tentang kakek, bayangan hitam itu juga sirna seketika! Masak ia...aku harus tidur setiap malam di dekat Hawa!" pikirnya.
Adam menghela napas pelan. Hatinya semakin diliputi kebingungan. Antara rasa aman yang tak pernah ia rasakan sebelumnya, dan kesadaran bahwa Hawa bukanlah seseorang yang seharusnya sedekat itu dengannya. Ia tidak mengerti langkah apa yang harus diambil setelah ini, menjauh, atau justru membiarkan perasaan itu tumbuh tanpa kendali.
Dari hari ke hari, Hawa belum pernah absen memberikan perawatan intensif kepada Adam. Pagi, siang, hingga malam, ia hadir dengan ketulusan yang sama, menyuapi Adam perlahan, memastikan obat diminum tepat waktu, membersihkan luka-luka, dan mengganti perban dengan tangan yang begitu lembut seolah takut menyisakan rasa sakit sekecil apa pun.
Adam mulai memperhatikan hal-hal kecil tentang Hawa, bagaimana wanita itu merawat dirinya dan cara ia bersikap, berbicara, berjalan hingga tersenyum. Hawa tak pernah menunjukkan lelah ataupun mengeluh dalam mengurus Adam, meski matanya sering menyimpan bayangan keletihan.
Malam-malam pun dilaluinya dengan berkurangnya tidur. Hawa sering menemani Adam hingga terlelap di sisi ranjang, sesekali ia merapikan selimut atau mengusap kening Adam ketika lelaki itu kembali terjebak dalam mimpi buruk lagi.
Berkat ketelatenannya, perban di kaki dan tangan Adam mulai mengering, lukanya nyaris menutup sempurna. Tubuhnya berangsur pulih.
Suatu malam, ketika rumah telah tenggelam dalam keheningan, Adam memaksakan dirinya kembali bekerja di ruangan khusus, menelpon dan melakukan meeting secara online hingga pukul sepuluh malam.
Berkas-berkas terbuka di atas meja, layar laptop menyala, namun pikirannya tak sepenuhnya fokus. Rasa lapar perlahan menyergap, perutnya berbunyi pelan seolah mengingatkan bahwa tubuhnya belum sepenuhnya siap dipaksa beraktivitas seperti sedia kala.
Sejak dirinya pulih, Hawa justru semakin sering mengurung diri di kamar. Tak lagi ada suapan bubur, sentuhan lembut saat mengganti perban, atau obrolan kecil yang menenangkan. Jarak itu membuat Adam gelisah, sebuah perasaan asing yang tak bisa ia abaikan.
Untuk pertama kalinya, ia sadar yang ia inginkan bukan hanya sekedar ditemani atau ataupun rasa kasihan, melainkan karena ia memang ingin berada di sisi Hawa yang membuat suasana hatinya terasa nyaman.
Dengan langkah lambat, Adam berjalan menuju kamar Hawa. Ia berhenti di depan pintu kamarnya, Adam terdiam sejenak. Ia sendiri tak yakin apa yang ingin ia katakan.
lalu nekat mengetuk pelan pintu kamar Hawa, kegelisahan yang bergejolak seolah-olah memerintahkan anggota tubuhnya untuk memanggil Hawa keluar.
"Tok… tok…"
belum ada jawaban. Adam menghela napas, menunggu beberapa detik sebelum hendak berbalik. Namun tepat saat itu, pintu terbuka sedikit.
Hawa berdiri di ambang pintu dengan rambut yang setengah terjepit.
“Mas Adam?” ucapnya lirih.
Adam tersenyum tipis, canggung.
“Maaf… aku ganggu, ya?”
Hawa menggeleng pelan dan membuka pintu lebih lebar.
“Tidak. Ada apa, Mas?”
“Hawa,” panggilnya lirih. “Aku lapar… apa kau bisa membuatkan aku roti dan kopi?”
“Baik, Mas,” jawabnya singkat sambil mengangguk. Ada gurat murung yang tidak bisa ia sembunyikan.
Adam menangkapnya dengan jelas. Dadanya mendadak terasa tak nyaman, ada kekhawatiran yang menyelinap tanpa ia mengerti sebabnya.
“Kamu tidak apa-apa?” tanya Adam pelan, suaranya mengandung rasa bersalah yang mulai tumbuh.
“Aku baik-baik saja, Mas. Tunggu sebentar ya.” Adam hanya bisa mengangguk, menatap punggung Hawa yang menjauh menuju dapur. Dalam hatinya, muncul perasaan asing, campuran antara hangat dan cemas yang perlahan membuatnya sadar bahwa keberadaan Hawa telah menjadi sesuatu yang jauh lebih penting.
Tidak lama kemudian, Hawa kembali dengan membawa sepiring roti bakar yang masih hangat dan segelas kopi hitam. Langkahnya terus mendapatkan Adam yang tengah fokus dihadapan leptop. Aroma kopi itu menguar pelan, memenuhi ruangan yang sejak tadi sunyi.
Hawa meletakkannya di atas meja kerja Adam dengan gerakan hati-hati, seolah takut menimbulkan suara yang terlalu keras.
“Ini, Mas,” ucapnya singkat.
Namun wajah Hawa masih terlihat murung, sperti ada beban yang menggelantung di kepalanya. Sorot matanya redup, senyumnya tak lagi mengembang seperti biasanya.
Setelah memastikan roti dan kopi itu berada pada tempatnya, ia pun berbalik hendak pergi, langkahnya tergesa, seakan ingin segera keluar dari ruangan itu.
“Hawa!” panggil Adam spontan. Langkah pun Hawa terhenti. Ia menoleh perlahan.
“Iya, Mas?” jawabnya lembut.
Adam menelan ludah. Jantungnya berdetak sedikit lebih cepat. Ia mengangkat tangan kanannya, lalu berkata dengan nada dibuat-buat.
“Bisa temenin aku di sini sebentar? Tangan kananku terkadang masih terasa sakit. Aku khawatir tidak bisa mengangkat kopi ini," ujarnya.
Padahal rasa nyeri itu sudah jauh berkurang. Adam hanya mencari alasan-alasan paling sederhana agar Hawa kasihan dan tidak meninggalkannya.
Hawa terdiam beberapa detik. Matanya menatap ke tangan Adam, lalu beralih ke wajah lelaki itu. Ada keraguan yang melintas, seakan ia sedang menimbang sesuatu dalam hatinya. Akhirnya, ia menghela napas pelan dan mengangguk.
“Baik, Mas,” katanya lirih.
Hawa menarik kursi dan duduk di sebelah Adam. Suasana mendadak terasa berbeda. Jantungnya mulai riuh, tingkat kefokusan bekerja 80% memudar. Keheningan yang ada bukan lagi hampa, melainkan sarat oleh perasaan-perasaan yang tak terucap.
Adam berpura-pura meraih cangkir kopi dengan tangan kaku, sementara matanya sesekali mencuri pandang ke arah Hawa.
Dari jarak sedekat itu, Adam bisa melihat jelas raut wajah Hawa yang lelah, lingkar tipis di bawah matanya, dan bibirnya yang terkatup rapat seolah menyimpan beban berat.
Hawa membantu Adam mengangkat gelas kopi. Hatinya bergetar, entah mengapa hal itu muncul secara spontan.
“Hawa,” ucap Adam pelan, nyaris berbisik,
"kamu capek ya...”
Hawa tersenyum tipis, senyum yang lebih mirip upaya menenangkan orang lain daripada dirinya sendiri.
“Tidak apa-apa, Mas. Hawa sudah terbiasa.”
Jawaban itu justru membuat dada Adam terasa sesak.
pesen 1 yg seperti Hawa ya Allah
🤤🏃🏃🏃