NovelToon NovelToon
Menikah Karena Wasiat Kakek

Menikah Karena Wasiat Kakek

Status: sedang berlangsung
Genre:Dijodohkan Orang Tua
Popularitas:17.7k
Nilai: 5
Nama Author: Sarah Mai

Adam yang sejak awal menolak pernikahan, berusaha sekuat tenaga menghindari perjodohan yang telah diwasiatkan sang kakek. Perempuan yang ditentukan itu bernama Hawa Aluna, sosok yang sama sekali tak pernah ia inginkan dalam hidupnya. Demi membatalkan wasiat tersebut, Adam nekat melakukan langkah licik: ia menjodohkan Hawa dengan adiknya sendiri, Harun.
Namun keputusan itu justru menjadi awal petaka. Wasiat sang kakek dilanggar, dan akibatnya berbalik menghantam Adam tanpa ampun. Tak ada lagi jalan untuk lari. Demi menghindari malapetaka yang lebih besar, Adam akhirnya terpaksa menikahi Hawa Aluna.
Sayangnya, pernikahan itu berdiri di atas keterpaksaan dan luka. Adam menikah tanpa cinta, sementara Hawa pun sama sekali tidak menaruh rasa padanya. Dua hati yang kosong dipersatukan dalam satu ikatan suci, menyisakan pertanyaan besar tentang bagaimana nasib rumah tangga mereka ke depan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sarah Mai, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Perasaan yang tidak biasa

Pukul dua malam, Adam tersadar dari tidurnya. Matanya berkedip beberapa kali. Tubuhnya terasa lebih hangat, lebih tenang.

Saat itulah ia menyadari kepalanya bersandar di pangkuan Hawa. Sementara Hawa tertidur sambil duduk, punggungnya bersandar lemah di kepala kasur. Kepalanya sedikit miring ke samping, napasnya teratur, wajahnya terlihat begitu damai.

Satu tangannya masih setia menggenggam jemari Adam, seolah takut ia akan terbangun dalam kesakitan dan membutuhkan pertolongannya.

Adam tercekat. Dadanya menghangat oleh perasaan yang tak bisa ia namai. Perempuan itu tidak pergi. Tidak meninggalkannya sendirian di tengah malam yang sunyi penuh ketakutan. Ia rela menahan pegal, hanya demi memastikan lelaki itu baik-baik saja.

Perlahan, Adam menggeser sedikit tubuhnya, takut gerakan kecilnya akan membangunkan Hawa. Diam-diam pandangannya menelusuri wajah lembut itu, bulu mata yang lentik, garis lelah di bawah mata, dan ekspresi tulus yang selama ini tak pernah ia dapatkan dari siapa pun.

"kenapa rasanya setenang ini… hanya dengan berada disisi Hawa? batinnya berbisik!" Adam menelan ludah, seketika pula ia tersadar jika Hawa adalah istri Harun.

kemudian dengan hati-hati Adam mengangkat tangannya yang masih berpegangan dengan Hawa, lalu memperbaiki posisi tidur wanita itu dengan baik, menarik selimut agar Hawa tidur lebih lelap.

Adam masih trauma dengan malam-malam yang mencekam dirinya selama ini, ia memperhatikan sekelilingnya kondisi begitu tenang.

“Tidak apa-apa… aman,” bisiknya lirih, lebih untuk meyakinkan dirinya sendiri dan hingga kembali tertidur di atas sofa akibat pengaruh obat yang membuatnya masih mengantuk.

*

Hawa datang setiap pagi dengan langkah ringan, membawa aroma antiseptik yang samar bercampur wangi sabun lembut di tubuhnya. Tanpa banyak bicara, pagi itu ia mengganti perban Adam, memeriksa suhu tubuhnya, lalu memastikan setiap sudut luka Adam dirawat dengan teliti.

"Bersama Hawa tadi malam aku benar-benar tidak bermimpi tentang kakek, bayangan hitam itu juga sirna seketika! Masak ia...aku harus tidur setiap malam di dekat Hawa!" pikirnya.

Adam menghela napas pelan. Hatinya semakin diliputi kebingungan. Antara rasa aman yang tak pernah ia rasakan sebelumnya, dan kesadaran bahwa Hawa bukanlah seseorang yang seharusnya sedekat itu dengannya. Ia tidak mengerti langkah apa yang harus diambil setelah ini, menjauh, atau justru membiarkan perasaan itu tumbuh tanpa kendali.

Dari hari ke hari, Hawa belum pernah absen memberikan perawatan intensif kepada Adam. Pagi, siang, hingga malam, ia hadir dengan ketulusan yang sama, menyuapi Adam perlahan, memastikan obat diminum tepat waktu, membersihkan luka-luka, dan mengganti perban dengan tangan yang begitu lembut seolah takut menyisakan rasa sakit sekecil apa pun.

Adam mulai memperhatikan hal-hal kecil tentang Hawa, bagaimana wanita itu merawat dirinya dan cara ia bersikap, berbicara, berjalan hingga tersenyum. Hawa tak pernah menunjukkan lelah ataupun mengeluh dalam mengurus Adam, meski matanya sering menyimpan bayangan keletihan.

Malam-malam pun dilaluinya dengan berkurangnya tidur. Hawa sering menemani Adam hingga terlelap di sisi ranjang, sesekali ia merapikan selimut atau mengusap kening Adam ketika lelaki itu kembali terjebak dalam mimpi buruk lagi.

Berkat ketelatenannya, perban di kaki dan tangan Adam mulai mengering, lukanya nyaris menutup sempurna. Tubuhnya berangsur pulih.

Suatu malam, ketika rumah telah tenggelam dalam keheningan, Adam memaksakan dirinya kembali bekerja di ruangan khusus, menelpon dan melakukan meeting secara online hingga pukul sepuluh malam.

Berkas-berkas terbuka di atas meja, layar laptop menyala, namun pikirannya tak sepenuhnya fokus. Rasa lapar perlahan menyergap, perutnya berbunyi pelan seolah mengingatkan bahwa tubuhnya belum sepenuhnya siap dipaksa beraktivitas seperti sedia kala.

Sejak dirinya pulih, Hawa justru semakin sering mengurung diri di kamar. Tak lagi ada suapan bubur, sentuhan lembut saat mengganti perban, atau obrolan kecil yang menenangkan. Jarak itu membuat Adam gelisah, sebuah perasaan asing yang tak bisa ia abaikan.

Untuk pertama kalinya, ia sadar yang ia inginkan bukan hanya sekedar ditemani atau ataupun rasa kasihan, melainkan karena ia memang ingin berada di sisi Hawa yang membuat suasana hatinya terasa nyaman.

Dengan langkah lambat, Adam berjalan menuju kamar Hawa. Ia berhenti di depan pintu kamarnya, Adam terdiam sejenak. Ia sendiri tak yakin apa yang ingin ia katakan.

lalu nekat mengetuk pelan pintu kamar Hawa, kegelisahan yang bergejolak seolah-olah memerintahkan anggota tubuhnya untuk memanggil Hawa keluar.

"Tok… tok…"

belum ada jawaban. Adam menghela napas, menunggu beberapa detik sebelum hendak berbalik. Namun tepat saat itu, pintu terbuka sedikit.

Hawa berdiri di ambang pintu dengan rambut yang setengah terjepit.

“Mas Adam?” ucapnya lirih.

Adam tersenyum tipis, canggung.

“Maaf… aku ganggu, ya?”

Hawa menggeleng pelan dan membuka pintu lebih lebar.

“Tidak. Ada apa, Mas?”

“Hawa,” panggilnya lirih. “Aku lapar… apa kau bisa membuatkan aku roti dan kopi?”

“Baik, Mas,” jawabnya singkat sambil mengangguk. Ada gurat murung yang tidak bisa ia sembunyikan.

Adam menangkapnya dengan jelas. Dadanya mendadak terasa tak nyaman, ada kekhawatiran yang menyelinap tanpa ia mengerti sebabnya.

“Kamu tidak apa-apa?” tanya Adam pelan, suaranya mengandung rasa bersalah yang mulai tumbuh.

“Aku baik-baik saja, Mas. Tunggu sebentar ya.” Adam hanya bisa mengangguk, menatap punggung Hawa yang menjauh menuju dapur. Dalam hatinya, muncul perasaan asing, campuran antara hangat dan cemas yang perlahan membuatnya sadar bahwa keberadaan Hawa telah menjadi sesuatu yang jauh lebih penting.

Tidak lama kemudian, Hawa kembali dengan membawa sepiring roti bakar yang masih hangat dan segelas kopi hitam. Langkahnya terus mendapatkan Adam yang tengah fokus dihadapan leptop. Aroma kopi itu menguar pelan, memenuhi ruangan yang sejak tadi sunyi.

Hawa meletakkannya di atas meja kerja Adam dengan gerakan hati-hati, seolah takut menimbulkan suara yang terlalu keras.

“Ini, Mas,” ucapnya singkat.

Namun wajah Hawa masih terlihat murung, sperti ada beban yang menggelantung di kepalanya. Sorot matanya redup, senyumnya tak lagi mengembang seperti biasanya.

Setelah memastikan roti dan kopi itu berada pada tempatnya, ia pun berbalik hendak pergi, langkahnya tergesa, seakan ingin segera keluar dari ruangan itu.

“Hawa!” panggil Adam spontan. Langkah pun Hawa terhenti. Ia menoleh perlahan.

“Iya, Mas?” jawabnya lembut.

Adam menelan ludah. Jantungnya berdetak sedikit lebih cepat. Ia mengangkat tangan kanannya, lalu berkata dengan nada dibuat-buat.

“Bisa temenin aku di sini sebentar? Tangan kananku terkadang masih terasa sakit. Aku khawatir tidak bisa mengangkat kopi ini," ujarnya.

Padahal rasa nyeri itu sudah jauh berkurang. Adam hanya mencari alasan-alasan paling sederhana agar Hawa kasihan dan tidak meninggalkannya.

Hawa terdiam beberapa detik. Matanya menatap ke tangan Adam, lalu beralih ke wajah lelaki itu. Ada keraguan yang melintas, seakan ia sedang menimbang sesuatu dalam hatinya. Akhirnya, ia menghela napas pelan dan mengangguk.

“Baik, Mas,” katanya lirih.

Hawa menarik kursi dan duduk di sebelah Adam. Suasana mendadak terasa berbeda. Jantungnya mulai riuh, tingkat kefokusan bekerja 80% memudar. Keheningan yang ada bukan lagi hampa, melainkan sarat oleh perasaan-perasaan yang tak terucap.

Adam berpura-pura meraih cangkir kopi dengan tangan kaku, sementara matanya sesekali mencuri pandang ke arah Hawa.

Dari jarak sedekat itu, Adam bisa melihat jelas raut wajah Hawa yang lelah, lingkar tipis di bawah matanya, dan bibirnya yang terkatup rapat seolah menyimpan beban berat.

Hawa membantu Adam mengangkat gelas kopi. Hatinya bergetar, entah mengapa hal itu muncul secara spontan.

“Hawa,” ucap Adam pelan, nyaris berbisik,

"kamu capek ya...”

Hawa tersenyum tipis, senyum yang lebih mirip upaya menenangkan orang lain daripada dirinya sendiri.

“Tidak apa-apa, Mas. Hawa sudah terbiasa.”

Jawaban itu justru membuat dada Adam terasa sesak.

1
🅝🅤🅡🅨ᵇᵃˢᵉ🍻
raisaa bisaa pergi aja gak sih kamu.. reseeeekk bangeeet jadi orang 😆😆
🅝🅤🅡🅨ᵇᵃˢᵉ🍻
edyaaan.. jangan2 raisaaa ini bohongg
☠ᵏᵋᶜᶟҼɳσᵇᵃˢᵉ
Dah wa jgn terlalu percaya dengan omongan Raisa,dia itu cuma iri kamu terpilih langsung dan bisa masuk ke keluarga Sulaiman.Berbeda dengan dia yg sampai harus memanipulasi pacarnya jadi kakak kandungnya.
☠ᵏᵋᶜᶟҼɳσᵇᵃˢᵉ
nah kan bener klo rumah sakit itu punya Adam lebih tepatnya keluarga kakek Sulaiman.
Raisa sepertinya sebelum masuk ke kehidupan Harun dia lebih banyak mencari tahu keluarga Sultan ini makanya sengaja goda Adam namun gak berhasil,dan Harun lah yg dijadikan mangsanya
☠ᵏᵋᶜᶟҼɳσᵇᵃˢᵉ
pasti ada campur si Adam karena tidak rela Hawa tersenyum terus klo bersama dokter Wahyu
☠ᵏᵋᶜᶟҼɳσᵇᵃˢᵉ
betul tuh sering bersama biasanya menimbulkan rasa nyaman terus tumbuh benih2 lope deh 😂
☠ᵏᵋᶜᶟҼɳσᵇᵃˢᵉ
emang orang tuanya Raisa udah meninggal semua kah 🤔
☠ᵏᵋᶜᶟҼɳσᵇᵃˢᵉ
omegat😱
jadi selama ini Harun bener2 ditipu bahkan dikadalin habis2an, selingkuhan berkedok kakak kandung
☠ᵏᵋᶜᶟҼɳσᵇᵃˢᵉ
keren ya,uang bener2 bisa bekerja untuk mengungkapkan kebusukan Raisa tanpa diketahui mungkin oleh semut sekalipun.
𝓡⃟⎼ᴠɪᴘᵇᵃˢᵉ fjR ¢ᖱ'D⃤ ̐🍻
nanti juga terungkap kebenarannya,Hawa.
gak usah pusing lah mikirin Adam ataupun Raisa.jalani hidupmu dengan baik.gak usah terprovokasi dengan ucapan2 yang berusaha menjatuhkan mental.rugi banget mikirin omongan orang.bikin capek hati capek pikiran.sementara yang menyebarkan berita enak2 ongkang2 kipas2 melihat Hawa panik dan stres.
Sarah Mai: betul kk, ga mau mikir tapi kdang kepikiran kata Hawa.
total 1 replies
𝐙⃝🦜🅰🆈🅰𒈒⃟ʟʙᴄ
pantesan aja hawa di perlakukan spesial ternyata oh ternyata😇
Sarah Mai: ada udh di balik bakwan gitu ya kk🤣
total 1 replies
☠ᵏᵋᶜᶟGalangᵇᵃʰᵃ❀∂я
raisa di percaya , author wa yg dipercaya
Sarah Mai: wkwkw🤣 author juga g bisa dipercaya
total 1 replies
🍁𝑴𝒂𝒎 2𝑹ᵇᵃˢᵉ🍁
Hawa masih percaya aja sama omongan Raisa
Sarah Mai: ih malas kali ya kan🤦
total 1 replies
¢ᖱ'D⃤ ̐𝖆𝖓𝖎𝖊ՇɧeeՐՏ🍻
jangan percaya sama semua omongan Raisa demi kesehatan mentalmu hawa
Sarah Mai: semua hoaks di percaya sama si hawa🤣
total 1 replies
¢ᖱ'D⃤ ̐𝖆𝖓𝖎𝖊ՇɧeeՐՏ🍻
iya hawa,,Adam cemburu kamu deket² sama dokter Wahyu makanya dipindah tugasnya ke Padang
☠ᵏᵋᶜᶟGalangᵇᵃʰᵃ❀∂я: keren ya an😁😁
total 1 replies
¢ᖱ'D⃤ ̐𝖆𝖓𝖎𝖊ՇɧeeՐՏ🍻
itu wanita yg kamu bangga²kan Harun
¢ᖱ'D⃤ ̐𝖆𝖓𝖎𝖊ՇɧeeՐՏ🍻
awas kau menyesal kedepannya Harun karena gak dengerin nasihat dari Kakak mu
¢ᖱ'D⃤ ̐𝖆𝖓𝖎𝖊ՇɧeeՐՏ🍻
aku gak yakin kalau itu anak Harun
¢ᖱ'D⃤ ̐𝖆𝖓𝖎𝖊ՇɧeeՐՏ🍻
kompor meleduk si Raisa
¢ᖱ'D⃤ ̐𝖆𝖓𝖎𝖊ՇɧeeՐՏ🍻
rumah sakitnya punya Adam kan sebenarnya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!