NovelToon NovelToon
Nona Pengganti

Nona Pengganti

Status: sedang berlangsung
Genre:Obsesi / Pengganti / Pengantin Pengganti Konglomerat / Pengantin Pengganti / Cinta Seiring Waktu / Romansa
Popularitas:5.8k
Nilai: 5
Nama Author: Liaramanstra

Pramahita sering menganggap dirinya sebagai gadis yang tak beruntung. Selain sebagai anak tiri yang 'tidak diinginkan', Pramahita juga sering mendapatkan perlakuan semena-mena dari ibu tiri dan kakak tirinya—Loria.

Harapan Pramahita yang selalu ia panjatkan pada sang kuasa hanya satu—agar ia mendapatkan suami yang kelak bisa membuatnya merasa dicintai dan mampu merasakan bagaimana rasanya dihargai kelak oleh belahan jiwanya. Namun alih-alih mendapatkan kebahagiaan dari kesabaran yang ia tabur, Pramahita malah menikah dengan sosok yang bertolak belakang dari apa yang selalu ia harapkan.

Loria, kakak tirinya itu melarikan diri tepat sehari sebelum pernikahan, meninggalkan calon suaminya yang menahan amarah dan juga rasa malu dengan perlakuan yang tidak pantas ia dapatkan. Dengan ancaman serius yang dilontarkan oleh sosok yang seharusnya menjadi kakak iparnya kepada keluarga, Ayah Pramahita memutuskan untuk memilihnya sebagai pengantin pengganti.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Liaramanstra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Nomor

Saat pertama kali Dirga mendengar ucapan Lian bahwa Hita pingsan, ia mengira bahwa gadis itu mengalami pusing karena telat makan dan berakhir tak sadarkan diri.

Tapi saat Dirga melihat kerumunan, membelah lautan manusia dan mendapati istri penggantinya bersimbah darah diantara belahan kaca, pikirannya seketika kosong.

Ada sesuatu yang membuat Dirga tak bisa bernapas dengan benar, seakan oksigen menolak masuk ke dalam paru-parunya.

Itu adalah pemandangan paling buruk yang pernah Dirga lihat, dan hal yang mampu membuat topeng dinginnya retak dalam sekejap.

Aroma khas rumah sakit begitu menusuk, diiringi oleh ketenangan yang tampak tak nyaman saat Dirga duduk resah di kursi tunggu. Laki-laki itu mengusap wajahnya gusar, menyandarkan diri pada tembok rumah sakit.

"I-iya, tolong bawa mama juga."

Di pojok ruangan, Dirga bisa melihat Lian yang sedang menelpon Bram, melapor tentang apa yang terjadi pada orang-orang yang berada di rumah.

Dirga bisa membayangkan bagaimana resahnya Nadia jika tau kabar menantunya tak sadarkan diri, apalagi jika tau bahwa ini semua karena kelalaian Dirga yang tak bisa menjaga perempuan itu.

Hita hanya istri pengganti, namun tetap saja perempuan itu adalah tanggungjawabnya. Ia peduli bukan karena cinta, karena Dirga hanya mencintai Loria seorang. Ia hanya merasa bersalah akan kelalaiannya saat ini.

"Keluarga dari pasien atas nama Pramahita?"

Saat suara dokter terdengar, Dirga segera bangkit dan menghampiri dengan penampilannya yang acak-acakan, bahkan kemejanya yang rapi tampak kusut dan dikotori oleh bercak darah. Itu karena ia menggendong Hita kemari beberapa saat yang lalu.

"Saya anggota keluarganya," ucap Dirga mencoba untuk tenang, walaupun suaranya terdengar serak karena lelah.

Dokter itu mengangguk dan tersenyum tipis. "Silahkan masuk, ada yang ingin saya bicarakan mengenai kondisi pasien," ujarnya, langsung dibalas anggukan oleh Dirga.

Saat Dirga masuk ke ruangan, ia langsung mendaratkan diri pada kursi, berhadapan langsung dengan dokter yang memasang ekspresi tenang.

"Jadi bagaimana kondisinya, dok?" tanya Dirga, menatap dokter dengan tatapannya yang tampak lelah karena cemas.

"Pasien bisa dibilang mengalami banyak luka, namun bukan luka-luka yang begitu parah," jelas Dokter, suaranya begitu tenang. "Kami telah membersihkan luka-luka pasien dan membalutnya agar tetap bersih. Untuk malam ini, saya rasa pasien disarankan untuk tetap berada di sini dan bisa dipulangkan besok pagi," lanjut dokter itu.

Dirga mengangguk, mengerti dengan apa yang baru saja dikatakan oleh dokter. Setidaknya luka yang dialami oleh istrinya itu tidak terlalu parah, meskipun tadi ia panik setengah mati dibuatnya.

"Jadi, apakah pasien sudah bisa ditemui sekarang?" tanya Dirga, entah mengapa ingin melihat kondisi Hita secara langsung.

"Tentu saja, tapi pastikan bahwa pasien juga mendapatkan istirahat yang cukup untuk pemulihan," pesan dokter, langsung disetujui oleh Dirga dengan sebuah anggukan.

Setelah berpamitan, Dirga keluar dari ruangan dan menuju kamar rawat tempat Hita berada. Langkah laki-laki itu tak seperti biasanya, tampak sedikit goyah.

Tangan Dirga melayang di atas knop pintu, sebelum menekannya dan mendorong pintu terbuka.

Dirga terdiam saat melihat tubuh mungil istrinya yang rapuh tergeletak di atas bangsal rumah sakit. Luka-luka di sekujur tubuh Hita dibalut dengan perban, begitu banyak hingga hampir menutupi seluruh tangan dan kaki. Sebuah plaster kecil juga ditempel pada dahi perempuan itu yang untungnya tak terlihat parah.

"Kak Dirga?"

Suara Hita terdengar lemah dan begitu pelan saat menyebut nama Dirga, membuat pemilik nama itu menghela napas dan mendekat.

"Kenapa kakak di sini?" tanya Hita, begitu polosnya.

"Menurutmu kenapa?" Dirga bertanya balik, dengan nada ketus namun tak sedingin biasanya. "Kau ceroboh sekali, baru saja aku tinggal sebentar sudah... terluka seperti ini."

Dirga memperhatikan perban di tubuh Hita sekali lagi, sebelum kembali menatap Hita.

Dirga melangkah mendekat, menutup pintu di belakangnya dengan gerakan pelan.

"Lain kali berusahalah untuk tidak menyusahkan orang lain, Hita. Kau membuat terlalu banyak kekacauan hingga semua orang di mall memperhatikan aksi superheromu itu," kata Dirga dingin, bahkan di saat seperti ini masih menceramahi Hita.

"Maaf."

Entah sudah keberapa kali Hita meminta maaf, tapi perempuan itu selalu saja melakukan sesuatu yang membuat Dirga kesal.

"Lalu bagaimana dengan... Jojo?" Hita mencoba mengingat nama anak yang dia selamatkan. "Apakah dia baik-baik saja?"

"Dia baik-baik saja," balas Dirga dingin, entah kenapa merasa kesal saat Hita malah menanyakan kondisi orang lain saat dia sendiri terkapar tak berdaya.

Hita tersenyum mendengar jawaban Dirga, merasakan usahanya untuk menyelamatkan anak itu tak sia-sia.

Meskipun Hita melihat Dirga yang tampak tak suka dengan dirinya yang terus menyusahkan, tapi kali ini Hita tak menyesal karena berhasil menyelamatkan nyawa orang lain.

Saat ketegangan yang dingin menjalar diantara keduanya, Hita mulai menjadi gugup lagi. Suasana menjadi begitu canggung saat tak ada salah satu dari mereka yang bicara.

Dirga yang begitu dinginnya tampak tak berniat mengajaknya bicara lagi, tapi Hita ingin berusaha.

"Tadi... Kakak pergi kemana?" tanya Hita, mengingat momen di mana Dirga yang menghilang dari Toko.

Mendengar pertanyaan itu, Dirga terdiam sejenak, rasa bersalah menggerogotinya. Ia tau bahwa ia tak mengatakan apapun saat meninggalkan Hita di toko sendirian dan berakhir membuat perempuan itu kebingungan mencarinya.

itu semua karena Dirga terlalu gembira mendengar Wisnu yang mengetahui kabar mengenai Loria.

"Aku pergi menemui Wisnu," jawab Dirga. "Dia mengetahui kabar tentang Loria."

Dirga menatap Hita, mencoba melihat ekspresi perempuan itu. Alih-alih amarah, Dirga malah melihat ekspresi senang di wajah Hita.

"Benarkah? Kak Loria sudah di temukan?" Hita tersenyum, mencoba mengubah posisi tubuhnya untuk duduk dengan susah payah.

Dirga yang melihat hal itu entah mengapa malah melangkah maju, memegangi siku istri penggantinya itu dan membantunya menemukan posisi ternyaman.

"Tidak," gumam Dirga, tangannya memposisikan bantal di punggung Hita. "Loria belum ditemukan."

"Kenapa? Bukankah tadi kakak mengatakan bahwa Wisnu..."

Ucapan Hita menggantung di udara saat Dirga menoleh, wajahnya hanya berjarak beberapa inci dari laki-laki itu.

Hita bisa melihat jelas warna indah dari mata tajam yang selama ini menatapnya dengan tatapan dingin, menatap setiap sudut pahatan sempurna dari mahakarya tuhan yang kini berstatus sebagai suaminya, walaupun hanya karena keterpaksaan.

Dirga juga sontak membeku saat mendapati wajahnya begitu dekat dengan Hita, satu tangannya memegangi bantal, sedangkan satunya lagi menyentuh pinggang perempuan yang berstatus sebagai istrinya itu.

"Ya," bisik Dirga, mengangguk pelan dan sedikit melirik ke arah bibir pucat Hita. "Wisnu memang tau kabar mengenai Loria, tapi tidak dengan keberadaannya."

Seakan sadar, Dirga perlahan-lahan menarik tubuhnya menjauh dan berdehem pelan.

"Istirahatlah, dokter mengatakan bahwa besok pagi kau sudah bisa pulang," kata Dirga kembali pada sikap dinginnya. "Lain kali hubungi aku jika butuh sesuatu, aku tidak ingin dianggap lalai dan tidak bertanggungjawab seperti sekarang ini," timpalnya, melemparkan tatapan peringatan.

Hita mengangguk. "Maaf kalau aku banyak menyusahkan kakak hari ini," kata Hita dengan ekspresi tak enak hati. "Lain kali aku akan berusaha untuk tidak menyusahkan."

"Bagus, memang harusnya kau berpikir seperti itu." Dirga mengangguk pelan. "Pastikan kau melakukannya."

Dirga merogoh sakunya, mengeluarkan ponsel sekali lagi, tapi kali ini bukan untuk menelpon ataupun mengangkat telepon.

"Berapa nomormu?"

"Apa?"

"Berapa nomormu," ulang Dirga geram saat melihat ekspresi tak percaya di wajah Hita saat ia menanyakan nomor teleponnya.

Hita mengerjap di tempat. "Tapi untuk apa?"

"Agar kau bisa menghubungiku jika perlu," balas Dirga mulai kehilangan kesabaran. "Agar kau tak berakhir menyusahkanku lagi."

"Dan jangan salah paham," peringat Dirga. "Aku melakukan ini demi diriku sendiri, agar aku tak dianggap lalai lagi hanya karena kau yang ceroboh dan tak mengerti apapun."

Kata-kata Dirga berhasil kembali membuat Hita terdiam. Ternyata benar, laki-laki itu hanya mencoba untuk memenuhi tanggungjawabnya, tidak lebih.

"Aku tidak punya nomor telepon."

Hita menatap Dirga yang balas menatapnya tak percaya.

"Tidak punya nomor telepon?" ulang Dirga, mendengus sinis dan tak percaya. "Kau kira aku bodoh? Tidak mungkin di zaman sekarang ini ada orang yang tidak memiliki nomor telepon."

"Aku tidak mengatakan bahwa kakak bodoh," ucap Hita polos dan menghela napas. "Aku memiliki nomor telepon, tapi percuma saja karena... ponselku tidak bisa digunakan untuk menelpon."

Dirga menaikkan sebelah alisnya. "Kenapa?"

"Tidak tau," balas Hita dengan gelengan pelan. "Waktu itu aku mencoba menelpon ayah, tapi suaranya tidak terdengar, padahal teleponnya tersambung," jelasnya.

"Mungkin karena saat itu tak sengaja terjatuh ke dalam mesin cuci, makannya seperti itu."

Dirga memijat pelipisnya, tak habis pikir dengan apa yang baru saja dikatakan oleh perempuan yang berada di hadapan.

"Baiklah, kalau begitu lupakan saja."

Benar-benar kesal rasanya Dirga jika berurusan dengan Hita. Gadis itu ceroboh, polos, bodoh, semua hal-hal buruk tergabung menjadi satu di dalam diri gadis itu.

"Istirahatlah, sepertinya ibu dan Kak Bram akan datang beberapa saat lagi," ujar Dirga, melangkah ke arah pintu keluar dengan kepala menggeleng pelan.

Namun tepat saat laki-laki itu memegang gagang pintu, tiba-tiba Pramahita kembali membuka suara, yang sontak membuat laki-laki itu membeku.

"Terimakasih, Kak."

Bersambung...

1
Lilla Ummaya
Please thor jangan satu bab
Lilla Ummaya
Ditunggu segera thor updatenyaa
Lilla Ummaya
Pleasee update banyk penasaran
PURPLEDEE ( ig: _deepurple )
Halo kak aku mampir. kalo berkenan boleh mampir keceritaku juga yang judulnya "Istri pengganti " mari saling suport🤗 makasih👋
Elvia Rusdi
Thor..jangan sampai bikin Hita hamil ya..dan pengen lihat penyesalan Dirga atas sikap nya ke Hita
Elvia Rusdi
cukup menarik
partini
wow double wow ini mah buka pedas lagi Thor ini di luar Nurul seorang lelaki yg suka lendir nya loria Weh Weh nyesek nya
aku ko ga rela dia sama Dirga ending nya kata" itu loh menjijikan
partini: ngemis seperti apa ya Thor
dia like Casanova 🤣
total 2 replies
partini
Dirga otaknya geser ya Thor udah lihat masih aja bego ini akibat nya lihat pakai mata dengkul
Hita kalau udah pergi atau dekat sama orang lain baru terasa ,,Bram boleh juga Thor biar panas
partini: patut lah ukuran kecil tuh otak udang pantas ga nympe yah Thor 🤣🤣🤣
total 2 replies
partini
semoga Hita ga kaya yg lain jatuh cinta duluan 😭
partini
sangat bangus cerita nya tapi muak sama Dirga Thor jaharaaa bnggt plus bego nya dihhh gumussss
Liaramanstra: Wahh makasii ya kakk🤍
total 1 replies
partini
tuh kabur sama laki laki,masih Bege jg ga melek tuh mata
partini
Bram sering dah ketemu ma Hita biar tuh tuan sombong plus songong esmosi
partini
yah di gantung Thor
suka cerita nya biarpun Dirga kasar banget sih rada nyesek
i give coffee 4 u
partini
good story
Liaramanstra: Wahh makasi banyak ya kakk, semoga suka sama ceritanya🤍
total 1 replies
partini
jirr CEO koplak pantas harus ketemu udah lihat yg polos polos dasar CEO kamu yang murahan bukan Hita
baru baca novel sperti ini CEO ledhoooooooooo ga ketulungan mulutnya pedes luar biasa macam ibu komplek dihhh najis tralala deh kamu Dirga
partini
tuh mulut kaya bon cabe ,, Ampe Kemabli use your brain Dirga cari tau tuh Liora kenapa macam ferek
partini
dasar laki" BEGE
partini
nice
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!