Michelle Valen seorang seniman muda terkenal yang meninggal karena penghianatan sahabat dan tunangannya, ia berpindah jiwa kedalam tubuh Anita Lewis.
Diberikan kesempatan hidup kedua ditubuh orang lain, ia memulai pembalasan dendam dan merebut kembali identitas dirinya yang telah direbut oleh mereka.
Pernikahan dadakan dengan Dion Leach sang CEO gila yang terkena racun aneh, menjadikannya batu loncatan demi bertahan hidup, keduanya sama-sama saling memanfaatkan dan menguntungkan.
Mau tau kelanjutan dan keseruan ceritanya?
Silahkan mampir guys....
Happy reading, semoga cukup menghibur...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ratu Darah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 29
Bab 29 Ngamuk Karena Cemburu
Ketegangan di ruangan itu begitu tebal hingga nyaris bisa dirasakan di udara. Jaccob menatap layar alat pemeriksa dengan mata tegang, jemarinya mengetuk-ngetuk meja tanpa sadar.
Ttak, tak, tak..... menandakan kegelisahan yang menular. Ini pertama kalinya mereka menggunakan obat itu pada Dion, dan Jaccob sama sekali tidak tahu apa efek sampingnya.
Ia tahu dari hasil risetnya bahwa Lidoderm 7 adalah satu-satunya pilihan paling ampuh untuk menekan penyakit aneh yang menggerogoti tubuh Dion. Namun tetap saja, satu kesalahan kecil bisa berakibat fatal.
Detik terasa seperti menit. Menit terasa seperti jam. Setiap orang di ruangan itu menahan napas, menatap grafik yang perlahan bergerak di layar.
Jaccob menelan ludah ketika garis itu mulai menurun, lalu berhenti pada angka tertentu. Sejenak, keheningan memekakkan. Hingga akhirnya ia terkekeh kecil, kemudian tertawa lega.
“Pak Drake Leach, nilainya turun... sudah normal lagi!” katanya sambil mengusap keringat dari pelipisnya. “0,5.”
Suara itu membuat semua orang seperti terbangun dari mimpi buruk.
Bagi Dion, angka nol berarti pulih sepenuhnya. Tapi 0,5 sudah lebih dari cukup untuk membuatnya stabil. Setidaknya, untuk sementara, hidupnya tidak lagi di ujung tanduk.
Pak Drake Leach mengembuskan napas panjang. “Syukurlah...” katanya lirih, bahunya yang tegang sedikit merosot. Namun kegelisahan kembali menyelip di wajah tuanya. “Tapi... apakah ini akan terus terjadi? Apakah serangannya akan semakin sering?”
Jaccob menggeleng pelan. “Aku juga belum tahu. Kita harus terus memantau. Tapi... yang aneh, hari ini bukan waktu dia seharusnya kambuh. Ada sesuatu yang memicunya.”
Pak Drake mengerutkan kening. “Dia baru pulang dari luar, langsung naik ke atas... lalu tiba-tiba jatuh sakit.”
Philip yang sejak tadi diam akhirnya bicara dengan suara hati-hati, “Mungkin... Nyonya Leach tahu alasannya.”
Semua mata beralih menatap Anita.
Perempuan itu menatap mereka balik dengan wajah datar. “Dia baik-baik saja saat di depan pintu. Tapi setelah aku bicara beberapa patah kata dengan Wawan, mendadak dia tampak gelisah dan jatuh pingsan.”
Jaccob menatapnya dengan sinis. “Wawan itu kekasihmu, kan? Jangan-jangan kau sengaja memprovokasi Dion sampai dia ngamuk karena cemburu.”
Anita menaikkan sebelah alis. “Menurutmu... dia cemburu?”
Nada suaranya datar, tapi ada sedikit senyum samar di bibirnya.
Jaccob mendengus. “Ayolah, Dion tidak pernah peduli dengan wanita paling cantik di Kota F sekalipun. Masa dia akan iri padamu? Jangan terlalu percaya diri, Anita.”
Anita menyandarkan diri di kursi, menatapnya dengan tatapan malas. “Oh, aku cukup percaya diri... sampai aku rela melompat ke sungai.”
Ucapan itu membuat ruangan hening. Semua tahu cerita itu tentang bagaimana Anita pernah mencoba bunuh diri demi menolak pernikahan paksa dengan Dion.
Pak Drake Leach terbatuk kecil, menundukkan kepala dengan rasa bersalah yang sulit disembunyikan. Dialah orang yang dulu memaksa keluarga Lewis menyerahkan Anita ke keluarga mereka.
Jaccob hendak bicara lagi, tapi tatapan tajam sang kakek langsung membuatnya bungkam.
“Sudahlah,” kata Pak Drake dengan suara berat. “Anita wanita yang tangguh. Aku percaya dia yang terbaik untuk Dion.”
Jaccob berdecak, bergumam pelan, “Takhayul. Aku malah merasa dia membawa sial bagi suaminya.”
Dukk! Tendangan ringan mendarat di betisnya. “Diam!” bentak Pak Drake.
Jaccob mengerang pelan dan menutup mulut, meski wajahnya masih cemberut.
Pak Drake lalu menatap Hendra Yates dengan sikap tulus. “Terima kasih atas bantuanmu hari ini, Nak Yates. Seratus juta akan segera kutransfer. Dan soal... kowtow itu, tolong sampaikan pada kakekmu, aku akan melakukannya kapan pun dia mau.”
Hendra yang sejak tadi duduk bersandar di kursi malah tak menatapnya. Ia hanya memainkan gelas air di tangannya, lalu berkata datar, “Tak perlu. Aku tak butuh uang atau kowtow itu. Obat ini... untuk Anita.”
Pak Drake sempat mengerutkan dahi, “Ini urusan antara aku dan kakekmu.”
Hendra akhirnya mengangkat wajahnya. Matanya tajam, suaranya berat tapi dingin. “Urusan orang tua dengan dendam lama kalian bukan urusanku. Aku kasih obat ini karena Anita. Kalau kau yang bayar, dia akan salah paham padaku.”
Nada suaranya mengandung ketidaksabaran yang kentara.
Pak Drake tidak ingin berutang apa pun pada keluarga Yates, apalagi musuh lamanya itu. “Tolong tetap sampaikan pada kakekmu. Aku tidak akan mengambil keuntungan dari keluarga kalian.”
Hendra mendecak keras.... tsk! lalu menatap tajam. “Kalau kau memaksa, aku tarik kembali semua bantuan ini. Obat itu takkan kuberikan pada siapa pun.”
Ia menggeleng pelan, menahan kekesalan. “Sudah kubilang, ini untuk Anita, bukan untuk kalian semua.”
Tatapannya lalu melembut sedikit, menoleh ke arah perempuan itu, yang hanya memandangnya dengan senyum samar dan mata teduh.
Dalam sekejap, ruangan itu hening lagi. Hanya terdengar bunyi jarum jam berdetak pelan, tik... tak... tik... tak... seiring waktu yang terasa berhenti bagi mereka semua.
Anita menunduk perlahan, menyentuh tangannya sendiri yang dingin. Dalam diam, ia sadar... sesuatu yang lain sedang tumbuh di antara mereka bertiga, ketegangan yang bukan lagi soal nyawa, tapi rasa.
Suasana di kamar masih tegang, tapi Pak Drake Leach akhirnya menghela napas panjang dan menepuk bahu Hendra Yates. “Kau akan dipukuli suatu hari nanti, Nak,” katanya setengah bercanda namun juga separuh khawatir.
Hendra hanya mengangkat bahunya dengan santai. “Kalau itu harga yang harus kubayar sebagai murid guruku, aku siap menerimanya.”
Ucapan ringan itu membuat Jaccob menatapnya dengan rasa ingin tahu yang mencampur heran. “Lucu. Bukankah kau dulu paling membenci Anita?” tanyanya setengah mencibir.
Ia masih mengingat gosip lama, bahwa Anita pernah memberinya obat bius dan hampir memperkosanya setelah gagal ditangkap. Waktu itu Hendra nyaris menghajarnya sampai mati. Sejak kejadian itu, pria itu menghindarinya seperti menghindari wabah.
Namun Hendra menjawab cepat tanpa ekspresi, “Kudengar kau juga menyukai laki-laki.”
Brakk!
Tatapan Jaccob langsung tajam, rahangnya menegang. “Apa katamu?”
Anita, yang sejak tadi memperhatikan keduanya, langsung berdiri dan menengahi sebelum perdebatan itu berubah jadi perkelahian. “Hendra, pulanglah dulu. Kakek, kalian semua istirahat. Aku akan berjaga di sini.”
Pak Drake menatap Anita lama, lalu mengangguk pelan. “Baiklah. Kalau ada apa-apa, panggil kami segera. Jaccob, kau tunggu di luar saja. Jangan biarkan dia sendirian.”
Hendra menegakkan tubuhnya dan menatap Anita sambil tersenyum miring. “Baiklah... aku pulang dulu. Tapi kalau butuh sesuatu, cukup panggil aku... aku akan datang secepatnya.”
Anita tersenyum kaku, mencoba tetap sopan, dan melambaikan tangan untuk mengusirnya. “Pergilah, sebelum kakekku berubah pikiran.”
Begitu mereka keluar, keheningan menyelimuti kamar. Hanya suara detak jarum jam yang terdengar samar... tik... tak... tik... tak...
Dion masih terbaring di tempat tidur. Napasnya stabil, wajahnya tenang, tapi di balik ketenangan itu, Anita tahu badai bisa datang kapan saja. Ia duduk di kursi di samping ranjang, menatap pria itu lama, dalam, dengan pikiran yang campur aduk.
Malam bergulir perlahan. Waktu seolah berhenti.
---
Ketika fajar menyingsing, cahaya keemasan menerobos masuk melalui jendela dan jatuh di rambut Anita, membuatnya tampak seperti malaikat yang tersesat di antara bayangan pagi.
Dion mengerjap pelan, lalu membuka mata. Pandangannya kabur sesaat, tapi segera tertuju pada sosok perempuan di depannya.
“...Aku... terkena serangan lagi semalam?” suaranya serak dan lemah.
Anita segera berdiri dan menuangkan air ke dalam gelas. “Ya. Tapi kamu sudah stabil sekarang. Masih terasa tidak nyaman di bagian mana?”
Dion buru-buru duduk, wajahnya penuh kekhawatiran. “Kamu... kamu tidak terluka, kan?”
Nada suaranya begitu tulus dan cemas, membuat dada Anita menghangat. Ia tahu Dion tak pernah ingat apa pun setiap kali kambuh, bahkan, dulu dia sempat memukuli kakeknya sendiri hingga dirawat tiga bulan di rumah sakit.
Anita menggeleng lembut. “Aku baik-baik saja.” Ia menyodorkan gelas itu. “Minumlah. Badanmu masih lemah.”
Dion menatapnya tak percaya. Ia menurunkan gelasnya dan perlahan membantu Anita berdiri, matanya menyapu tubuhnya dengan hati-hati, seperti memastikan bahwa perempuan itu benar-benar tak terluka.
Namun ketika ia melihat bekas kemerahan di leher dan tulang selangkanya, wajahnya seketika menegang. “Apa aku... mencekikmu lagi?” suaranya gemetar.
Anita terkejut, lalu menunduk cepat. Pipi halusnya memanas. “Bukan,” jawabnya pelan.
Dion masih menatapnya tak yakin. “Tapi itu terlihat seperti.....”
Anita memotong ucapan Dion dengan suara nyaris berbisik, “Itu bukan karena tersedak... tapi karena...” Ia menelan ludah, menundukkan wajah yang kini memerah seluruhnya. “Karena ciumanmu.”
Hening.
Dion membeku. Otaknya tak sanggup memproses kalimat itu dengan segera. Ciuman? Ia? Selama bertahun-tahun setiap kali kambuh, ia hanya tahu menghancurkan, menyakiti... bukan mencium seseorang.
Mulutnya terbuka, tapi tak ada suara keluar.
Dia memandang Anita dengan campuran kaget, bersalah, dan sesuatu yang lain, sesuatu yang asing baginya yang terasa hangat. “Aku... aku minta maaf,” katanya akhirnya, lirih. “Aku tak tahu apa yang kulakukan. Aku.....”
Anita menggeleng cepat. “Sudahlah. Aku tahu kamu tidak sadar waktu itu.”
Dion menarik napas dalam, lalu menatapnya lagi. “Tapi kamu... pasti ketakutan tadi malam, kan?”
Anita menggigit bibir bawahnya, menunduk, wajahnya memerah sampai ke telinga. Ia tak tahu harus menjawab apa.
Akhirnya ia hanya mengalihkan topik pembicaraan, berusaha memulihkan ketenangan. “Kamu masih merasa tidak enak badan? Mungkin biar Jaccob masuk untuk memeriksamu. Kalau tidak ada masalah, kita bisa turun untuk makan bersama.”
Dion mengangguk pelan, meski matanya masih menatap Anita lama, seolah berusaha mengingat kembali apa yang sebenarnya terjadi malam itu.
Namun Anita justru menunduk makin dalam, menatap jemarinya sendiri yang bergetar halus, sembari membatin dalam hati.
“Kalau saja itu bukan karena penyakitmu... mungkin aku tidak akan merasa sekacau ini.”
---
Bersambung.....