Zielga Nadine adalah seorang forensik kepolisian yang terkenal karena kecerdasannya dalam memecahkan kasus-kasus tersulit. Kemampuannya membawa banyak penghargaan dan membuat namanya dikenal sebagai salah satu ahli forensik terbaik.
Namun di balik sosoknya yang brilian, Zielga menyimpan masa lalu yang kelam. Semasa SMP, ia mengalami perundungan brutal dan kehilangan harga dirinya berkali-kali. Luka itu tak pernah sembuh—dan menjadi api yang membakar seluruh hidupnya.
Bagaimana jika forensik jenius yang dipercaya semua orang ternyata menyimpan agenda gelap?
Inilah kisah benturan antara dendam yang membara dalam diri Zielga dan upaya polisi mengungkap kebenaran.
Siapa yang akan menang: Zielga, yang bertekad membalas semua rasa sakitnya, atau aparat kepolisian yang tanpa sadar sedang memburu rekan mereka yang paling mereka hormati?
Di atas kertas bertuliskan “Keadilan”, sebuah pertempuran dimulai.
cerita ini hanya fiksi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Gdc Hb vl, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 10
Di sebuah ruangan yang agak gelap terdapat seorang wanita yang duduk di kursi interogasi berhadapan dengan azri, sementara ziel duduk di sebelah azri.
Ruang tersebut memiliki nuansa yang sunyi dengan satu dinding kaca di bagian kiri agar para polisi lain bisa melihat kejadian yg mungkin di luar prediksi mereka, hingga membuat mereka secepatnya bertindak.
Di balik dinding kaca tersebut aska, mika dan davis mengamati mereka, dan mendengarkan percakapan mereka.
"Suami anda bilang semalam anda pergi ke luar bersama teman anda, apa itu benar nona tiska!?" Azri bertanya dengan nada dingin sambil memegang pulpen dan buku di tangannya.
"Ya, saya semalam saya pergi bersama teman saya hingga jam 12 malam lebih" jawab tiska menatap ke arah azri.
Tatapan azri kini lebih tajam ke arah tiska "Tapi suamimu bilang ia tak tau kau pulang jam berapa karena ketiduran, terlebih lagi tetangga mu bilang kau semalam pulang pukul 2 dini hari, apakah kau bisa menjelaskan tentang hal itu" ucap azri dengan menusuk.
Mendapatkan tatapan dingin dari azri tiska diam sebentar, matanya sedikit lelah karena kurang tidur, dia menghela nafas perlahan lalu menjawab"Setelah pergi dengan teman saya, saya berjalan-jalan sebentar menikmati pemandangan kota yang idah di malam hari hingga tak terasa sudah hampir pagi" ucapnya dengan nada lesu.
Ziel yang dari tadi di samping azri hanya diam terus mengamati apa yang gerak gerik tiska, mulai dari reaksi tiska dan yang lainnya.
Matanya terus mengamati tiska, mencoba mencari celah untuk menemukan petunjuk.
Mendengar jawaban tiska, azri diam jari-jarinya bergerak memegang pulpen mencatat semua perkataan tiska dengan detail, setelah selesai mencatat dia bertanya kembali "Orang yang tinggal di samping rumah adik anda bilang bahwa kalian kemarin bertengkar hebat hingga kau membanting pintu pagar rumah adik mu, apa itu benar?"
Tiska mengangguk, mengakui apa yang azri katakan "ya kami memang bertengkar, aku sangat marah padanya hingga membanting pagar rumahnya, tapi hanya karena hal itu aku di tuduh membunuh adik kandungku sendiri, kalian pasti salah tangkap, aku ini kak kandungnya bukan sembarang orang, aku tak mungkin membunuh reza, yang satu-satunya kelurga juga saudaraku!!" Tiska mengepakkan tangannya menatap azri dan ziel dengan marah dan jengkel.
Mendapatkan respon dari tiska, azri tetap tak bergeming, ia dengan tenang mencatat semua jawabannya tiska di buku, sedangkan ziel hanya diam menyilangkan kedua tangannya ke dada sambil bersandar di kursi, terus mengamati semuanya dengan tenang.
Saat azri sedang mencatat, matanya tak luput dari buku dan tulisannya namun mulutnya terbuka dan berkata "kalau begitu apa alasan kalian berdua bertengkar?" Tanyanya seolah tak peduli dengan amarah tiska tadi.
Tiska terdiam, tubuhnya sedikit kaku "kami, hanya bertengkar biasa, karena uang" jawabnya dengan kaku, tangannya yang ada diatas meja mengepal dengan keras hingga buku-buku jarinya memutih.
Azri menghentikan gerakan menulisnya, ketika mendapatkan respon aneh dari tiska dia kemudian menatap tiska yang sedang meneguk ludah terlihat gugup.
Setelah melihat respons tiska azri menoleh ke samping, menatap ziel dengan tatapan seolah ingin sebuah konfirmasi darinya.
Ziel mengangguk, ketika mendapatkan tatapan azri, dia tau azri bertanya padanya apakah tiska berbohong atau tidak dan apakah instingnya benar, dan ziel menjawab dengan anggukan bahwa itu benar.
Mendapatkan anggukandari ziel, tatapan azri kini lebih tajam, dia meletakkan buku dan pulpennya di meja seolah memberikan ruang untuk dirinya sendiri agar lebih fokus pada tersangka.
"Apa Hanya karena itu" tiska mengangguk ketika mendapatkan pertanyaan dari azri.
"Adikmu di temukan meninggal dengan rumah yang terkunci rapat, satu-satunya carq untuk pergi dalam keadaan itu adalah kunci cadangan!, terlebih lagi pintu kunci adikmu dapat di kunci dengan dua arah, dan satu-satunya yang memiliki kunci itu anda nona tiska, apa anda bisa jujur tentang pertengkaran anda dulu sebelum semuanya makin jelas!" Kedua tangan azri menyatu menatap tajam tiska dengan meminta jawaban yang benar.
Suara gertakan gigi terdengar dari mulut tiska, dia terlihat menahan kekesalan nya pada azri "kami bertengkar karena dia begitu mudah menghabiskan uang yang aku berikan untuk biaya hidupnya membuat ku begitu marah dan kesal kemarin" Jawab tiska sambil menatap garang pada azri.
Ziel yang dari tadi diam menatap ke samping sejenak lalu menatap tiska dengan senyuman kecut dan berkata "adik anda adalah reza agraha, pemilik restoran Sakura Sushi yang memiliki banyak pengunjung hampir setiap harinya, kenapa anda perlu memberikan nya uang saku!" Ucapnya dengan nada judes.
Setetes keringat mengalir dari kening tiska ketika mendapatkan pertanyaan dari ziel, dia tersenyum canggung, bibirnya bergetar "itu kar..na kar_
" karena alasan anda membunuh nya, bisakah anda jujur saja!" Suara azri meninggi memberi penekanan pada tiska agar dia mengaku.
Namun tiska diam menggigit bibir bawahnya menahan semuanya.
"Anda jujur saja, agar adik anda mati dengan tenang nona tiska!!" Nada azri kini semakin menekan tiska untuk berkata jujur.
"NA****A!!!" Teriak tiska, azri dan, ziel terdiam begitu pula yang melihat dari dinding kaca ketika mendengar ucapan tiska.
"Apa kalian puas, adikku seorang pecandu karena itulah kami bertengkar" kedua tangan tiska yang di borgol terangkat menutupi seluruh wajahnya, dia terlihat menangis dengan putus asa ketika mengatakannya.
"Bisa anda jelaskan" tanpa basa basi ziel yang tadi terkejut segera meminta penjelasan lebih lanjut.
"Sejak kecil aku yang masih usia 7 thn dan adikku yang usia 5 tahun kami berdua mengalami masa yang berat, kedua orang tua kami berpisah dan mencari kebahagiaan nya masing-masing, saat kami ingin tinggal bersama ayah, kami di buang begitu pula saat ingin tinggal bersama ibu, kami juga di buang hingga kami menjadi anak gelandangan di usia yang muda, di usir, dan di hina banyak orang.
" waktu demi waktu kami lewati hingga keadaan kami mulai membaik, kami mulai berjalan bersama membangun restoran dari nol sampai sekarang hingga mampu memiliki rumah sendiri yang di tingali oleh adikku saat ini, dan kemudian aku menikah dengan suamiku saat ini, tak lama setelah aku menikah dia bertunangan dengan gadis yang dia cintai
namun sehari sebelum pernikahan mereka, gadis tersebut kabur dari pertunangan meninggalkan adikku sendiri, waktu itu aku bertanya apakah dia baik-baik saja dan dia menjawab iya" tiska yang telah menjelaskan dengan panjang lebar menarik nafas dan menghapus air matanya di pipi.
"Tapi kemarin aku berkunjung ke rumahnya menemukan obat-obatan yang tidak seharusnya di konsumsi, aku sangat marah besar ketika mengetahui hal itu hingga mengatakan padanya bahwa kau bukan adikku dan jangan temui aku lagi" air mata tiska mengalir kembali saat mengatakan apa yang sebenarnya terjadi.
"Harusnya aku..Tak mengatakan itu aku tak lerna tau bahwa kemarin adalah hari terakhir aku melihat nya..aku benar-benar tidak membunuhnya..tolong percaya padaku...." Punggung tangan tiska terus bergerak menghapus setiap cairan bening yang keluar dari matanya.
Krikk
Tiba-tiba pintu ruang interogasi terbuka menampilkan aska yang berdiri sambil memegang benda pipih di tangannya.
"Jika bukan anda bisa anda jelaskan tentang ini" aska berjalan ke arah mereka meletakkan ponsel di atas meja sambil memutar rekaman telepon di sana.
Rekaman tersebut mulai memutar sebuah suara milik korban "Kak aku minta maaf, harusnya aku tak melakukan itu, kak maaf kan aku!"