Mencintai ayah sahabat sendiri adalah bencana yang Sintia nikmati setiap harinya. Bersama Arga, ia menemukan kedewasaan yang tidak ia dapatkan dari laki-laki lain. Tapi, menyembunyikan status "kekasih" dari Ara, sahabat terbaiknya, adalah beban yang semakin berat.
Keadaan semakin rumit saat pihak ketiga muncul dengan niat busuk untuk merusak hubungan mereka. Satu rahasia terbongkar, maka semua akan binasa. Sanggupkah Arga melindungi Sintia saat badai mulai datang menghantam komitmen rahasia mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadhira Ramadhani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 11++
Hari Minggu tidak ada mata kuliah apapun, Sintia memutuskan untuk bangun tidur lebih siang. Ini masih terlalu pagi untuk ia membuka mata. Namun, suara ketukan pintu kamar, membuat gadis itu mendesah pelan. "Apa sih, Ma. Aku masih mau tidur."
Tapi, itu bukan suara Mama melainkan suara Arga. "Ini aku."
Detik itu juga Sintia bangun dan merapikan diri. Rambutnya tampak kusut dan pakaian tidurnya terbuka asal-asalan. Gadis itu kalo tidur tidak bisa diam. Lihat saja sekarang spreinya sudah menyumbul keluar dari kasur. Amat sangat berantakan sekali.
Sintia membuka pintu, Arga langsung masuk, kemudian duduk di pinggiran kasur. "Baru bangun?" tanyanya dan gadis itu mengangguk. Sesekali menguap dan mengucek mata.
"Kamu ngapain sih pagi-pagi kesini? Minggu ,kan aku libur."
"Terus?"
"Aku masih ngantuk, Ga."
Arga tidak menanggapi, laki-laki itu memberikan sebuah amplop berisi undangan pesta pernikahan "Glen & Amora".
"Siapa ini?" tanya Sintia setelah membolak-balikkan isi undang itu.
"Mamanya Ara."
Jawaban itu membuat Sintia diam ia tidak tau harus merespon atau bertanya apalagi.
"Aku diundang. Kamu ikut, ya?"
"Eh—maksudnya, aku—ikut kemana?"
"Itu." Arga menunjuk undangan yang Sintia taruh di atas nakas.
"Kan aku nggak diundang, Ga."
"Kata siapa itu undangan couple kok."
Sintia tidak percaya dan ia baca lagi ternyata benar undangan couple.
****
Sintia memakai pakaian yang tidak terlalu mencolok. Ia memakai gaun berwarna pink yang sederhana dan elegan milik Mama yang kebetulan sangat pas ditubuh gadis itu. Arga sudah menunggu dengan setelan jas berwarna hitam di depan mobil. Ia memandangi Sintia sejenak sebelum akhirnya menyuruh gadis itu masuk mobil.
Acaranya ternyata diadakan di salah satu hotel terbesar di Jakarta. Didatangi kolega-kolega besar dan juga beberapa teman SMA maupun kuliah mempelai. Ada yang menepuk bahu Arga. Zaidan, teman lama Arga dan juga Amora, mama Ara.
"Apa kabar lo? tanya Zaidan basa basi.
"Baik. Lo gimana udah ada istri?"
Zaidan menggeleng sedari tadi pria itu memperhatikan Sintia terus membuat gadis itu risih.
"Belum, sih. Samping lo siapa Ga? Jadi istri gue boleh tuh. Kenalin dong!"
"Dia Sintia calon istri gue."
Mendengar jawaban Arga membuat Sintia merasa lega. Karena pria didepannya sudah pasti tidak akan memperhatikannya lagi dan terbukti Zaidan langsung pergi setelah tahu jawaban Arga.
Begitu banyak hidangan yang tersaji di acara pernikahan Amora. Sintia sampai bingung harus makan yang mana dulu. Arga, pria itu lebih memilih meminum wine karena hanya itu yang cocok dilidahnya. Sintia sesekali memperingatkan bahwa jangan minum terlalu banyak karena ia nanti menyetir. Pria itu hanya bergumam. Sintia menikmati dessert yang tersaji begitu lembut saat ia masukkan ke mulut. Gadis itu menggerakkan kepala, pertanda enak.
Jam 21:00 acara resepsi selesai Sintia mengajak Arga pulang. Namun, pria itu mulai meracau. Sintia menyadari tadi Arga terlalu banyak minum—mabuk.
Sintia dengan perlahan menuntun tubuh Arga untuk masuk ke mobil sambil terus berusaha menelpon Ara, namun tidak diangkat juga.
Terpaksa ia harus menyewa supir taksi untuk menyetir mobil Arga. Sintia membawa Arga pulang ke rumahnya. Mama melihat itu membuka pintu dan membantu Sintia membawa Arga ke kamarnya.
Arga terbaring dikasur masih memakai setelan jas lengkap. Ia memegangi kepala, pusing sekali pasti karena efek alkohol semalam. Disampingnya ada seorang gadis yang tidur sembari memeluk guling. Menutupi setengah wajahnya dengan selimut. Nafas gadis itu beraturan. Sintia masih dengan posisi merem berbalik badan ia tanpa sadar memeluk tubuh Arga membuat pria itu menahan nafas. Masalahnya bukan cuma di situ Sintia juga sempat menyenggol 'adiknya' Arga membuat pria itu menggeram. Bisa gila dia. Sekarang benda itu sudah berdiri tegak membuat Arga frustasi. Sintia yang merasa ada sesuatu bergerak disampingnya terbangun. Belum sempat mengatakan apa-apa Arga sudah lebih dahulu membungkam bibir gadis itu.
Sintia awalnya menolak mencoba mendorong dada Arga. Namun pria itu semakin merapatkan tubuhnya. Pria itu beralih pada leher jenjang Sintia meninggalkan jejak kemerahan disana, membuat gadis dibawah mengaduh.
"Sssh, sakit Ga!"
Arga tidak mempedulikan pria itu masih sibuk membuat tanda dileher Sintia. Saat akan membuka piyama milik gadis itu Sintia langsung menghentikan. Gadis itu menepis tangan Arga. "Nggak ya! Kamu jangan aneh-aneh."
"Minggir, ih!"
Sintia mendorong Arga membuat pria itu menggeserkan badan. Sintia masuk ke kamar mandi agak lama kemudian keluar sudah ganti baju dengan setelan santai rumahan.
"Mandi sana!" usirnya. Arga hanya mengangguk dan segera berlalu. Sintia menatap dirinya di cermin. Ada beberapa bekas kemerahan dilehernya, itu pasti karena Arga tadi. Gadis itu mengambil foundation dan berusaha menyamarkan merah-merah itu.
Arga keluar dengan rambut agak sedikit basah. Pria itu dengan wajah lesu, menghampiri Sintia.
"Jangan deket-deket aku. Kamu bahaya, Arga!"
Arga menaikkan satu alis, Bahaya? Emang dia hewan berbisa?