NovelToon NovelToon
NAFSU SUAMI IMPOTEN

NAFSU SUAMI IMPOTEN

Status: sedang berlangsung
Genre:Crazy Rich/Konglomerat / Romansa / Wanita Karir / CEO / Reinkarnasi / Balas Dendam
Popularitas:3.6k
Nilai: 5
Nama Author: Ratu Darah

Michelle Valen seorang seniman muda terkenal yang meninggal karena penghianatan sahabat dan tunangannya, ia berpindah jiwa kedalam tubuh Anita Lewis.
Diberikan kesempatan hidup kedua ditubuh orang lain, ia memulai pembalasan dendam dan merebut kembali identitas dirinya yang telah direbut oleh mereka.
Pernikahan dadakan dengan Dion Leach sang CEO gila yang terkena racun aneh, menjadikannya batu loncatan demi bertahan hidup, keduanya sama-sama saling memanfaatkan dan menguntungkan.

Mau tau kelanjutan dan keseruan ceritanya?
Silahkan mampir guys....
Happy reading, semoga cukup menghibur...

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ratu Darah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 26

Bab 26 Nafsu Suamiku

Rantai panjang itu menjerat erat kedua lengan Dion Leach, menahannya di tempat. Suara klang! klang! dari besi yang bergesekan menggema di ruangan yang sunyi.

Dion meraung pelan, napasnya berat, tubuhnya bergetar oleh amarah yang belum reda. Namun ketika bibir Anita Lewis tiba-tiba menyentuh bibirnya, waktu seolah terasa berhenti.

Kelembutan bibir Anita, aroma segar tubuhnya, dan hawa tenang yang menguar darinya membuat Dion terpaku sesaat. Tapi insting liarnya segera mengambil alih , ia kembali memberontak, menggeram seperti binatang terluka.

Rantainya tertarik keras, membuat Anita kesakitan. Ia tahu, jika Dion berhasil melepaskan diri kali ini, tidak akan ada kesempatan kedua.

Dengan cepat Anita mendongak, menatap matanya yang merah dan gelap, lalu menunduk dan kembali mencium bibirnya. Lidahnya menerobos, lembut namun tegas, memaksa Dion membuka diri pada rasa yang ia ciptakan.

“Tenanglah… hah.....” bisiknya di sela napas yang terengah. “Aku di sini.”

Ciuman itu semakin dalam, dan untuk sesaat, keganasan Dion berhenti. Napas dingin Anita bertemu dengan napas panas dan kasar miliknya, berpadu dalam pergulatan rasa yang aneh antara kasih sayang dan kemarahan, gairah dan penderitaan.

Bagi Dion, itu siksaan. Dunia yang terbakar dalam dirinya perlahan dilunakkan oleh kesejukan yang datang dari bibir Anita. Ia berjuang menolak, tapi semakin ia melawan, semakin kuat Anita memeluk dan menciumnya.

Slap!

Suara bibir mereka saling bertaut.

Crack!

Sedikit darah mengalir di sela bibir akibat gigitan tanpa sengaja.

Namun Anita tak berhenti. Ia menolak untuk menyerah. Ia tahu, hanya dengan cara ini ia bisa mengembalikan kesadarannya.

Perlahan, tatapan Dion yang semula merah semerah darah perlahan mulai surut. Nafasnya teratur, genggamannya tidak lagi sekuat tadi. Suara-suara menakutkan yang menghantui pikirannya sirna, tergantikan oleh bisikan lembut suara Anita dan degup jantungnya yang cepat.

Dion menarik napas panjang, lalu tangannya secara naluriah melingkar di pinggang Anita, membalas ciuman itu dengan desahan berat.

“Mmhh…” gumam Anita lirih ketika Dion membalas lebih dalam, membuat tubuhnya bergetar.

Namun ketenangan itu berubah arah. Hasrat Dion, yang baru saja menurun, tiba-tiba bergelora lagi , kali ini bukan karena amarah, melainkan keinginan yang lebih primal. Tatapannya berubah, bukan lagi marah, tapi membara.

Tangan Dion mulai bergerak, menyentuh bagian tubuh Anita dengan keinginan yang tak terkendali.

“Dion… ahhh.... ” Anita tersentak, matanya membesar. Ia mencoba mendorong, tapi pelukan Dion makin menguat. Ciumannya berubah, dari lembut menjadi mendesak, membuat Anita kehabisan napas.

Detik berikutnya, tubuhnya diputar kasar. Brakk! Ia terjatuh di atas tempat tidur, dan Dion menindihnya. Ciumannya berpindah ke leher, meninggalkan jejak panas yang membuat Anita gemetar.

Tangannya meraih ujung kemejanya dan ..... rip! kain itu robek di bawah genggamannya. Kulit Anita yang putih dan mulus terbuka sebagian.

“Ahhh.... Dion, jangan!” teriaknya dengan suara gemetar.

Dia bisa menerima jika pria itu memeluknya sebagai suami. Tapi bukan seperti ini. Bukan karena dorongan tak sadar.

Jika Dion benar-benar melakukannya sekarang, dia akan membencinya seumur hidup.

Namun Dion seolah tak mendengar. Ia menahan pergelangan tangan Anita dan terus menunduk, menciuminya tanpa kendali. Rantai di tangannya berbunyi keras, berdentang mengikuti gerakannya.

Tubuh Anita menegang, napasnya tercekat. Ia tahu dirinya tak akan bisa melawan kekuatan pria itu. Tapi sebelum semuanya melewati batas, ia menatap mata Dion yang berjarak hanya sejengkal dan bertanya dengan suara serak,“Dion… siapa aku?”

Suara itu lembut namun menusuk, seperti panggilan dari dalam kesadarannya.

Anita tidak ingin disakiti. Ia tidak ingin menjadi korban racun atau hasrat tanpa arti. Ia hanya ingin Dion mengenali dirinya kembali , wanita yang ia cintai, bukan bayangan yang harus dihancurkan.

Dan dalam detik itu, tatapan Dion sempat ragu, seperti ada sesuatu di dalam dirinya yang mulai bangun…

Dion Leach berhenti di tengah ciumannya. Bibirnya masih menyentuh bahu Anita Lewis, tapi gerakannya terhenti seolah seseorang baru saja menariknya kembali dari jurang kegilaan.

“...Nyonya Leach… Anita…” gumamnya lirih, suaranya serak, nyaris seperti geraman binatang yang terluka.

Nada itu kasar, namun di baliknya tersimpan secercah kesadaran , satu-satunya kewarasan yang tersisa dalam pikirannya yang porak-poranda.

Anita yang masih terbaring di bawahnya membuka matanya perlahan. Tubuhnya bergetar, napasnya kacau. Ia menatap wajah Dion yang basah oleh keringat dan darah kering di pelipisnya. Saat mendengar namanya disebut, Anita berhenti meronta. Ia memejamkan mata, seakan menyerahkan diri pada ketidakpastian di hadapannya.

Namun ketenangan itu hanya bertahan sebentar. Dion kembali menunduk, napasnya berat, huff… huff…, dan ciumannya kali ini bukan lembut, melainkan liar , penuh kekacauan dan rasa ingin memiliki.

“Dion, hentikan… akhhhhhh.... mmmmhhh.... ” Anita merintih, tapi suaranya tertelan di antara desir napas mereka.

Kain kausnya yang robek sebagian kini benar-benar terkoyak. Srekk! Suara benangnya putus, membelah udara. Tubuh Anita terbuka di hadapannya, dan Dion menatapnya seperti seseorang yang menemukan oasis di tengah gurun panas , ia haus, lapar, dan kehilangan arah.

Ia menunduk, ingin menyentuhnya lagi, tapi tiba-tiba.....

Hiks. Sebuah isak lirih terdengar.

Suara itu memecah segalanya. Dion menegang, matanya yang merah perlahan kehilangan fokus. Ia mendongak, dan pandangannya bertemu dengan wajah Anita , bibir bawahnya tergigit, matanya terpejam rapat, dan air mata jatuh dari sudutnya, menuruni pipi.

Tetes.

Tetesan air mata itu jatuh ke dada Dion. Hangat. Terasa nyata.

Dan di detik itu juga, ada sesuatu di dalam dirinya yang retak.

“Jangan…” suaranya bergetar. Ia mengulurkan tangan gemetar untuk menyentuh pipi Anita, menyeka air mata itu dengan gerakan kikuk. “Jangan menangis…”

Tapi air mata itu tidak berhenti. Malah semakin deras. Tik… tik… tik… jatuh satu per satu, membakar hati Dion yang mulai sadar.

“Aku…,” Dion tergagap. Ia tidak tahu bagaimana mengungkapkan rasa bersalah yang menyesak di dadanya. Ia hanya tahu bahwa ia tidak tahan melihat wanita ini menangis karena dirinya.

Anita membuka mata perlahan. Pandangannya masih kabur, tapi kali ini ia menatap Dion dengan ekspresi yang sulit dijelaskan, rasa takut, namun juga penuh iba.

Dion mematung, masih di atasnya. Matanya kini benar-benar jernih, tapi masih lembab oleh air mata. Kilauan itu membuat sorotnya seperti bintang yang bergetar di langit malam.

Melihatnya, Anita juga menahan napas. Ada luka dan penyesalan dalam pandangan itu. Luka yang begitu dalam.

“Dion…” panggilnya lirih.

Nama itu keluar selembut embusan angin, tapi bagi Dion, suaranya seperti cambuk yang membangunkannya dari mimpi buruk.

Ia segera menjauh, bangkit dengan terburu-buru. Brak! Kursi di belakangnya terjatuh. Napasnya memburu, tubuhnya gemetar hebat. Bukan karena amarah tapi ketakutan.

Ketakutan bahwa ia hampir melukai wanita yang ia cintai.

Dengan tangan yang masih gemetar, Dion meraih rantai di lantai, membelitkannya kembali ke pergelangan tangannya sendiri. Krek! Suara logam menggema, dingin, menyayat telinga.

“Dion…” Anita memanggil pelan, masih duduk di lantai. Suaranya serak dan lembut, seperti doa di tengah badai.

Namun suara itu justru membuat dada Dion semakin sesak. Hasrat yang baru saja ia tekan kembali berkobar liar. Nafasnya tersengal.

Tidak! Ia menggigit bibir bawahnya keras-keras hingga berdarah. Lalu, crash! ia meraih pecahan porselen di lantai dan menusukkannya ke lengannya sendiri. Darah langsung mengalir, menetes di lantai.

Drip… drip… drip…

Rasa sakitnya nyata. Begitu menyengat hingga membuat pikirannya jernih lagi. Ia menatap Anita dengan mata berair dan berteriak.

“LARI!”

Suara itu serak, parau, tapi penuh makna. “Lari, Anita! Sebelum aku… sebelum aku menyakitimu lagi!”

Tubuh Dion gemetar hebat. Setiap urat di lehernya menegang, napasnya kasar, antara menahan amarah dan rasa sakit yang tak tertahankan.

Ia ingin melindunginya , meski itu berarti menyakiti dirinya sendiri.

Anita menatapnya tanpa bergerak. Ia tahu Dion sedang berjuang mati-matian melawan sisi gelap dalam dirinya. Darah di lengannya menetes di lantai, menandai setiap detik perjuangannya.

“Dion…” suaranya nyaris tak terdengar.

Tapi Dion menggeleng keras, rahangnya mengeras, rantai di tangannya berbunyi nyaring, krek! krek!

“Pergi!” bentaknya lagi. “Aku tak bisa menahan diriku… Pergi sekarang juga!”

Anita menatapnya lama, air mata menetes sekali lagi bukan karena takut, tapi karena iba.

Dan untuk pertama kalinya, ia melihat sosok Dion bukan sebagai monster… melainkan manusia yang terluka, berjuang mati-matian agar tidak menyakiti orang yang ia cintai.

Anita Lewis menatap Dion Leach yang berdiri di hadapannya, tubuhnya gemetar hebat, darah menetes dari lengan yang baru saja ia lukai sendiri. Drip… drip… Suara itu seperti detik jam kematian yang menggantung di udara.

Namun ketika Anita melihat matanya masih merah, tapi kini menyimpan sisa-sisa kesadaran ,dan ia tahu, masih ada harapan.

Selama Dion masih bisa mengenalinya, berarti dia belum sepenuhnya hilang.

Ia menatapnya lembut. Aku bisa menyembuhkanmu, batinnya yakin.

Dengan langkah hati-hati, Anita bangkit dari tempat tidur. “Dion…” panggilnya perlahan.

Tapi suara itu justru membuat Dion tersentak. Ia meraung marah, seperti binatang yang merasa terpojok.

“JANGAN MENDEKAT!” suaranya parau, nyaris seperti lolongan. “Jangan bersuara! Pergi dariku!”

Anita berhenti seketika. Napas Dion terengah-engah, dadanya naik turun cepat. Aroma tubuhnya, parfum yang biasanya menenangkan, kini justru menjadi racun bagi Dion. Setiap hembusan udara dari arah Anita terasa seperti godaan yang menjerat kewarasannya.

Dengan geraman tertahan, srek! Dion menusukkan lagi pecahan kaca ke lengannya. Darah mengucur deras. Cesss…

Rasa sakit itu ia gunakan untuk bertahan , agar pikirannya tidak kembali dikuasai amarah dan hasrat yang membutakan.

“Dion…” Anita menatapnya pilu. Ia ingin menolong, tapi satu langkah saja bisa membuat segalanya hancur. Ia menggenggam tangannya sendiri, mencari cara lain. Pandangannya lalu tertuju pada dinding di sana, jarum obat penenang masih menancap, pantul cahaya logamnya berkilau samar.

Itu dia.

Obat itu memang tidak sekuat yang digunakan Jaccob, tapi jika ditembakkan ke titik yang tepat, efeknya bisa langsung terasa dalam hitungan detik.

Anita mengambil jarum itu dengan hati-hati. Tangannya bergetar halus. Klik. Ia menyiapkan penusuknya, menimbang jarak dan arah dengan pandangan terukur.

“Baiklah,” bisiknya lembut. “Aku akan pergi. Tenang saja… aku tak akan mendekat.”

Ia perlahan melangkah mundur, pura-pura menyerah. Tapi detik berikutnya, Anita menatap ke arah jendela dan berteriak, “Kakek! Awas!”

Dion spontan menoleh, refleks melindungi sosok yang ia kira datang dari luar. Dalam sekejap, syut! — Anita melemparkan jarum suntik itu dengan presisi sempurna.

Thuk!

Jarum itu menancap tepat di leher Dion, di titik saraf yang ia incar.

Dion tertegun. Matanya menatap Anita, setengah sadar, sebelum tubuhnya goyah dan bruk! jatuh menghantam lantai.

Keheningan menyelimuti ruangan. Anita menahan napas, dadanya naik turun cepat. Lalu ia menutup mata, melepaskan desahan panjang. “Hah…”

Akhirnya… berakhir.

Namun tak lama, suara langkah kaki berat terdengar mendekat. Dum! Dum! Dum!

Para pengawal naik ke lantai atas dengan panik.

“Nyonya Leach! Kami sudah sampai! Silakan menyingkir!”

Suara tegas itu membuat Anita cepat-cepat menarik selimut, membungkus dirinya rapat-rapat hingga hanya wajahnya yang terlihat.

Pintu dibuka paksa. Brak! Para pengawal berdiri terpaku di ambang pintu. Ruangan berantakan, lampu miring, pecahan kaca berserakan di lantai — dan hampir semua orang tak sadarkan diri.

Bahkan Dion Leach , sosok yang paling mereka takuti kini tergeletak tak berdaya di lantai, tubuhnya berlumuran darah.

Salah satu pengawal ternganga. “Tuan… Leach…?”

Anita menghela napas, suaranya pelan tapi tegas. “Tak apa. Semua sudah terkendali. Pindahkan Tuan Leach ke kamar sebelah.”

Mereka menunduk dan langsung mematuhi perintahnya. Krek, krek. Suara rantai yang masih menggantung di tangan Dion terdengar saat tubuhnya diangkat.

Anita menatapnya sejenak wajah Dion tampak damai, seperti anak kecil yang tertidur, jauh dari amarah dan penderitaan yang tadi membara.

Setelah mereka pergi, Anita membuka lemari, menarik pakaian baru, dan masuk ke kamar mandi. Cklek… Air mengalir, membasuh darah dan keringat di tubuhnya. Ia berganti baju, lalu melangkah ke kamar sebelah.

Dion sudah terbaring di atas ranjang. Di sampingnya berdiri Tuan Leach tua, wajahnya pucat pasi, garis keriput di dahinya tampak lebih dalam dari biasanya. Ia seperti menua sepuluh tahun dalam satu malam.

Mendengar langkah Anita, lelaki tua itu menoleh. “Anita… kau tidak terluka, kan? Biarkan dokter memeriksamu.”

Anita menggeleng lembut. “Aku baik-baik saja, Kakek. Aku hanya ingin memastikan keadaan Dion dulu.”

Di sudut ruangan, penembak jitu melapor dengan suara tegang. “Tuan, Jaccob juga pingsan. Kami sudah panggil dokter.”

Tuan Leach tua menatap ke bawah, menghela napas berat. “Astaga… dasar anak-anak bodoh ini.”

Anita mendekat, memeriksa luka di tubuh Dion. Tangannya cekatan saat membuka kotak obat yang tadi dibawa Jaccob. “Kakek, tolong semua keluar dulu. Aku akan menjaganya.”

“Tapi Dion.....” sang Kakek tampak ragu.

“Percayalah padaku,” ujar Anita tegas. “Kalau nanti Hendra datang membawa obat, biarkan dia masuk. Aku sudah menghubunginya.”

Tuan Leach tua menatap menantunya lama, masih khawatir, namun akhirnya mengangguk perlahan. “Baiklah… tapi hati-hati, Nak.”

Anita tersenyum tipis dan menunduk sopan. “Terima kasih, Kakek.”

Begitu pintu tertutup dan ruangan menjadi sunyi kembali, Anita duduk di sisi ranjang. Ia menatap wajah Dion yang tertidur dengan napas berat dan dada yang masih naik turun tidak beraturan.

Huff… huff…

Tangannya perlahan menyentuh pipi Dion, lembut seperti belaian angin. “Aku tak akan biarkan kau terluka lagi,” bisiknya.

Di luar kamar, langkah kaki para pengawal menjauh. Hanya suara detak jam dinding yang tersisa, berdetak perlahan , tik… tak… tik… tak… seiring dengan degup jantung Anita yang masih berusaha menenangkan diri dari badai malam itu.

---

Bersambung...

1
Maycosta
Tetap sehat dan semangat sukses selalu ya
Noona Manis Manja: Terimakasih kk 😍
Salam sukses untukmu juga 🤗
total 1 replies
Binay Aja
tetap semangat nulisnya 💚
Noona Manis Manja: Terimakasih kk , tetap semangat juga untukmu ... salam kenal juga 🙏🏻
total 1 replies
Binay Aja
Hai, kak. Salam kenal cerita nya seru. jika berkenan singgah ke rumah ku yuk, Sentuhan Takdir
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!