NovelToon NovelToon
Istriku Berubah Setelah Hilang Ingatan

Istriku Berubah Setelah Hilang Ingatan

Status: tamat
Genre:Selingkuh / Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Crazy Rich/Konglomerat / CEO Amnesia / Cinta Seiring Waktu / Pelakor jahat / Gadis Amnesia / Tamat
Popularitas:1.2M
Nilai: 4.9
Nama Author: Itha Sulfiana

Edward terkejut saat istrinya yang hilang ingatan tiba-tiba mengajukan gugatan cerai kepadanya.

Perempuan yang selama empat tahun ini selalu menjadikan Edward prioritas, kini berubah menjadi sosok yang benar-benar cuek terhadap apapun urusan Edward.

Perempuan itu bahkan tak peduli lagi meski Edward membawa mantan kekasihnya pulang ke rumah. Padahal, dulunya sang istri selalu mengancam akan bunuh diri jika Edward ketahuan sedang bersama mantan kekasihnya itu.

Semua kini terasa berbeda. Dan, Edward baru menyadari bahwa cintanya ternyata perlahan telah tumbuh terhadap sang istri ketika perempuan itu kini hampir lepas dari genggaman.

Kini, sanggupkah Edward mempertahankan sang istri ketika cinta masa kecil perempuan itu juga turut ikut campur dalam kehidupan mereka?

*Sedang dalam tahap revisi

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Itha Sulfiana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Menemui Nana

"Ini akan jadi kejutan besar untuk Edward," gumam Silva setelah menerima pesan dari salah satu teman baiknya di pagi hari.

Masih menggunakan piyama tidur, Silva keluar kamar untuk mencari keberadaan Edward. Dan, ternyata pria itu sudah berada di meja makan dengan semangkuk mie rebus dihadapannya.

"Ed, kamu sarapan apa?" tanya Silva berbasa-basi.

"Mie rebus," jawab Edward singkat. "Maaf, aku cuma bikin satu. Soalnya, aku harus buru-buru ke kantor. Kalau kamu mau, kamu bisa bikin sendiri."

"Nggak ada makanan yang lain?" tanya Silva. Mie instan adalah salah satu makanan yang sangat tidak ia sukai.

Menurutnya, makanan tersebut hanya cocok untuk rakyat jelata. Bukan calon istri seorang CEO, seperti dirinya.

"Nggak ada," geleng Edward. "Biasanya, Nana selalu masak sarapan yang sehat dan bergizi. Tapi, karena sekarang dia lagi nggak ada, makanya kita harus makan yang ada saja."

"Hmmm... Ed?" panggil Silva ragu-ragu.

"Kenapa?"

Wajah Silva dibuat sebimbang mungkin. Dan, hal tersebut cukup berhasil menarik perhatian Edward.

"Ada yang mau kamu sampaikan? Katakan saja! Nggak usah ragu," lanjut Edward.

Silva kemudian meletakkan ponselnya didekat Edward.

"Kamu harus lihat ini!"

Sedetik.

Dua detik.

Hingga tiga detik berlalu, mata Edward sontak langsung memerah. Tangannya mengepal dengan kuat. Foto yang sedang ia lihat, benar-benar membuat dadanya serasa terbakar.

"Kamu dapat foto ini darimana, Sil?" tanya Edward.

"Temanku yang kirim. Katanya, dia nggak sengaja lihat Nana di resto hotel Marriott tadi malam," jawab Silva. "Kamu kenal sama laki-laki itu, Ed?" lanjutnya bertanya.

"Nggak," geleng Edward dengan napas yang mulai memburu karena amarah.

"Kayaknya, laki-laki itu teman dekatnya Nana. Lihat saja! Gesture keduanya kelihatan seperti sudah sangat kenal lama sekali. Mereka kelihatan mesra kayak orang pacaran."

Brak!

Silva tersentak kaget saat Edward reflek memukul permukaan meja.

"Nana!" geram Edward. "Pantas saja dia begitu percaya diri untuk keluar dari rumah ini. Ternyata, karena dia sudah punya laki-laki lain yang bersedia menampungnya," lanjut Edward sambil tersenyum sinis.

"Apa Nana juga menginap di hotel yang sama?" tanya Edward lagi.

"Kayaknya sih, iya. Nana..."

Belum selesai kalimat yang ingin dikatakan Silva, namun Edward sudah lebih dulu bangkit kemudian menyambar jas yang ia sampirkan di sandaran kursi.

"Ed, kamu mau kemana?" tanya Silva sembari menahan pergelangan tangan Edward.

"Aku mau ke hotel Marriott," jawab Edward.

"Bukannya, kamu buru-buru mau ke kantor?"

"Urusan kantor bisa ditunda. Yang paling penting sekarang adalah menemukan Nana dan menghentikan dia untuk mempermalukan aku diluar sana."

"Kalau gitu, aku ikut, ya!" pinta Silva.

"Tapi..."

"Aku ganti baju dulu. Kamu tunggu sebentar, ya!" pangkas Silva dengan cepat.

Jika, Edward ingin menemui Nana maka Silva harus ikut. Silva tak mau jika Edward luluh terhadap perempuan muda yang manja itu.

Edward hanya boleh mendengar kata-katanya. Bukan kata-kata Nana.

"Ed, aku sudah siap."

Setelah menunggu selama hampir lima belas menit, akhirnya Silva keluar juga. Dia dan Edward pun segera berangkat menuju ke hotel Marriott.

Sampai di hotel yang dituju, Edward lekas menanyakan posisi kamar Nana. Begitu berhasil mendapatkannya, dia segera memasuki lift bersama Silva untuk menuju ke kamar Nana.

"Na, keluar!" teriak Edward sambil menggedor-gedor pintu.

"Ed, jangan-jangan... Nana lagi sama laki-laki itu didalam," ucap Silva memanas-manasi Edward.

Dan, usaha Silva nyatanya berhasil. Edward benar-benar semakin marah setelah mendengar ucapan Silva.

"Nana!! KELUAR! ATAU..."

Cklek!

Pintu kamar tiba-tiba terbuka. Ucapan Edward pun seketika menggantung di udara.

Tanpa permisi, Edward langsung memasuki kamar Nana. Diperiksanya setiap sudut ruangan untuk mencari keberadaan pria yang semalam tertangkap kamera bersama Nana.

"Tuan Edward! Apa yang Anda lakukan!?" tanya Nana dengan kesal.

Rencana untuk malas-malasan dan menghabiskan waktu seharian diatas kasur empuk hotel terpaksa batal gara-gara ulah sang suami bersama gundiknya.

"Mana laki-laki yang semalam bersama kamu, Na?" tanya Edward saat tak berhasil menemukan sosok lain didalam kamar sang istri.

"Laki-laki?" Nana mengerutkan keningnya. "Laki-laki yang mana?"

"Jangan pura-pura nggak tahu! Kamu pasti sengaja menyembunyikan dia di suatu tempat, kan? Ayo ngaku!" desak Edward sambil menyentak lengan Nana penuh emosi.

"Na, ayo jujur saja! Dimana laki-laki itu? Seharusnya, kalau kamu memang punya pria idaman lain, kamu jujur saja sama Edward! Jangan malah main belakang seperti ini! Kasihan, nama baik Edward bisa tercemar jika orang lain tahu kalau istrinya berselingkuh bersama pria lain bahkan tidur sekamar di hotel."

Silva tersenyum miring. Ucapannya akan semakin menyulut emosi Edward.

"Diam, kamu!" hardik Nana ke arah perempuan itu.

"Jangan bentak Silva! Dia nggak salah! Yang salah itu, kamu!" tukas Edward memberi pembelaan.

Nana pun seketika tersenyum begitu sinis. Edward selalu saja mempercayai ucapan Silva. Bahkan, tanpa perlu mencari tahu kebenaran pun, laki-laki itu akan terus percaya pada perkataan cinta pertamanya itu.

"Apa dia punya bukti?" tanya Nana dengan sorot mata tajam.

"Ya, aku punya bukti. Ini dia," sahut Silva sembari memperlihatkan foto Nana bersama Dylan di restoran hotel tadi malam.

Sontak, Nana pun tertawa. Dia memukul tangan Edward sehingga cengkraman pria itu terlepas dari lengannya.

"Foto ini hanya membuktikan kalau aku lagi makan bareng sama laki-laki lain. Bukan sekamar seperti yang tadi kamu tuduhkan, Silva!"

Silva kelabakan. Dia berusaha mencari alasan lain.

"Ta-tapi, kalian kelihatan mesra sekali. Bahkan, kamu tertawa lebar sekali saat bersama laki-laki ini. Sementara, waktu sama Edward, kamu jarang banget ketawa. Senyum juga nggak pernah."

Apa yang dikatakan Silva sangat benar sekali. Dan, Edward sangat setuju dengan semua itu.

"Na, sebagai seorang wanita, kita itu harus punya harga diri. Jangan mau menjadi simpanan! Itu hal yang sangat memalukan, Na!"

Nana memutar bola matanya malas. "Kamu lagi ngomongin diri sendiri, ya?"

Degh!

Mata Silva sontak melebar. Sial! Dia terjebak dalam kata-katanya sendiri.

"A-aku..."

"Aku dan Silva nggak selingkuh. Kami hanya berteman. Nggak lebih!" celetuk Edward membela dirinya dan juga Silva.

Silva pun mengangguk setuju.

"Hanya berteman, ya? Tapi, kok sering ciuman?"

"Kamu tahu darimana soal itu?" tanya Edward keceplosan.

Dan, Nana langsung menyeringai sinis. "Jadi, benar, ya? Kalian memang sering melakukan hal serendah itu?"

Edward langsung membuang muka. Sementara, Silva merasa semakin tersinggung akibat kata-kata Nana.

"Seenggaknya, kami nggak tidur bareng kayak kamu sama laki-laki itu," pekik Silva.

Plak!

Telapak tangan Nana reflek mendarat di pipi kiri Silva dengan begitu keras.

"Coba katakan lagi!" titah Nana dengan suara penuh penekanan.

"Aku bilang, kamu sama laki-laki itu sering tidur ba..."

Plak!

Lagi, Nana menampar pipi Silva dengan sangat keras.

"Na! Jangan keterlaluan!" ucap Edward tak terima.

Sementara, Silva tampak memegang pipinya sambil tersenyum penuh kemarahan.

"Heh! Nggak usah mengelak, Na! Laki-laki sama perempuan ketemuan di hotel nggak mungkin cuma sekadar makan. Pasti, mereka juga akan check-in dan melakukan sesuatu yang nggak pantas."

Silva meradang. Dua kali tamparan yang diberikan oleh Nana akan dia kembalikan secepatnya.

"Kok, kamu tahu sekali? Sudah pengalaman, ya?" sahut Nana tak mau kalah.

1
guntur 1609
bertahan...... emangnya loe siapa nyet. ganteng gak. kaya apalagi.... 🤭🤭🤭🤭
guntur 1609
mampus kau. kwkkwwk😄😄🤣🤣
guntur 1609
gk da kesempatan tk manusia gk tahu diri sprtimu 🐒
guntur 1609
tu lh karena kau terlalu baik sm nana mknya hal yg sepenting tu pun kau tdk tahu🐒
guntur 1609
mknya klu miskin jngn sombong. rasain lie
guntur 1609
yg kau byr 2 jt. tp yg sdh dibyr dilan 198 juta
guntur 1609
dasar kang selingkuh. banyak x alasanmu. dadar👹
guntur 1609
lah tuntutan yang gmna. nada menghilang gtu ja
guntur 1609
👍👍👍👍 bagus tuh na
guntur 1609
bagus tuh na.. jngn mau di tindas lg sama si sampah edward
guntur 1609
kkwkwkwk rasain kau. ganteng tdk. tapi banyak tingkah
guntur 1609
kepedean kau.. sampah.
Windi Triana
Aku baru sadar, setelah baca bab ini kalo adiknya Edward itu laki-laki. Aku pikir perempuan. Waktu baca bab sebelumnya, saat Edward memukuli adiknya hingga babak belur, aku merasa kok laki-laki berani mukul perempuan, setelah melihat namanya baru ngeh, oh iya kan namanya Elliot, itu kan nama laki-laki, karena terlalu fokus sama ceritanya, jadi gak fokus, maaf ya Thor /Pray/
Neti Herawati
bgs cerita'y padat jelas tdk btele2👍
ℳ𝒾𝒸𝒽ℯ𝓁𝓁 𝒮 𝒴ℴ𝓃𝒶𝓉𝒽𝒶𝓃🦢
lu siape ngajarin ngajar2in anak orang? guru BK kah 🤣 kalo bukan anak lu sendiri tp lu nanganin padahal masih ada bapaknya lu yg ga sopan bambang 😌
ℳ𝒾𝒸𝒽ℯ𝓁𝓁 𝒮 𝒴ℴ𝓃𝒶𝓉𝒽𝒶𝓃🦢
tiap ada "ndro" aku baca nya bernada pake nada nya dono warkop 🤣
ℳ𝒾𝒸𝒽ℯ𝓁𝓁 𝒮 𝒴ℴ𝓃𝒶𝓉𝒽𝒶𝓃🦢
lah hubungannya sm numpang gimana sih bos? kalo orangtua nya mahira meninggal trus rumah di sita bank okelah numpang di rumah sodara, kalo cuma krisis ekonomi trus kenape? emang orangtua mahira ga punya rumah apa gimana main nitap nitp aja, mana yg di titip modelan nya enggak tau diri masa mau di kamar anak yg punya kan kampring 🤬
ℳ𝒾𝒸𝒽ℯ𝓁𝓁 𝒮 𝒴ℴ𝓃𝒶𝓉𝒽𝒶𝓃🦢
nah ini siluman rubah ketemu siluman ular, mantep licik nya setara 🤣
ℳ𝒾𝒸𝒽ℯ𝓁𝓁 𝒮 𝒴ℴ𝓃𝒶𝓉𝒽𝒶𝓃🦢
😂🤣 bener2 ya beda pasangan langsung beda rejeki nya si edward, sm nana dia banyak cuan sama silva dapet amsyong nya 👍
ℳ𝒾𝒸𝒽ℯ𝓁𝓁 𝒮 𝒴ℴ𝓃𝒶𝓉𝒽𝒶𝓃🦢
baju habis? emang baju nya di makan mbak wkwk ya kalo baju nya mau habis di cuci dong masa di rumah edward kaga ada mesin cuci 😂 aku tau sengaja tp tetep aja agak dongdong alesan nya 🙏
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!