Perjalanan hidup sebuah nyawa yang awalnya tidak diinginkan, tapi akhirnya ada yang merawatnya. Sayang, nyawa ini bahkan tidak berterimakasih, malah semakin menjadi-jadi. NPD biang kerok nya, tapi kelabilan jiwa juga mempengaruhinya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Osmanthus, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Langkah awal
Bu Tere mulai mengolah bahan untuk membuat kulit risol, sedangkan pak Guntur membantu membersihkan bahan mentah seperti wortel dan kentang.
Beruntung pak Guntur pernah jadi asisten chef di kota mereka. Awalnya pak Guntur belajar masak hanya untuk sekedar bisa memasak saja, jadi nanti nya ketika menikah, bu Tere jadi tertolong. Tapi nasib malah mempertemukan pak Guntur dengan Chef dari hotel terbesar di kota mereka saat sedang ke pasar.
Kala itu sang Chef sedang membeli bahan masakan untuk di rumahnya, tiba-tiba dia dicopet seseorang dan sang Chef ini mengejar pencopet itu. Sayang larinya terlalu jauh.
Tapi disaat copet semakin jauh, sang Chef berusaha meneriaki nya "Copeeeet". Dengan harapan ada yang menangkap.
Sayang banyak yang kalah sigap, tapi malang bagi si copet, di persimpangan jalan dia menabrak pak Guntur yang sedang memegang semangka, pas tepat semangka menghantam kepala si copet. Memang ini reaksi pak Guntur seketika mendengar kata copet dan melihat copet yang lari mendekat.
Akhirnya dompet chef itu terselamatkan. Pak Guntur menyerahkan dompet itu dan sang sang chef sangat berterimakasih sekali. Ternyata gaji bulan itu semuanya di dompet, kalau hilang ntah bagaimana nasib sang chef.
"Terimakasih bro. Untung saja berhasil mendapatkan dompet ini lagi. Nasib saya bulan ini berada disini." ujar Chef.
"Sama-sama. Lain kali hati-hati, kalau ke pasar lebih baik jangan bawa uang sebanyak ini." ujar pak Guntur memberi nasihat.
"Iya, biasanya saya simpan dulu tapi ini buru-buru karena mau memasak untuk beberapa teman" ujar chef.
"Oh, anda bisa masak?" tanya pak Guntur.
"Ya, saya chef di hotel X" ujar chef tadi.
"Wah, seandainya saya juga bisa masak seperti anda" jawab pak Guntur.
"Anda mau belajar masak?" tanya chef lagi.
"Ya, karena saya berjanji dengan calon mertua akan belajar masak supaya calon istri saya tidak kesulitan nanti setelah menikah." jelas pak Guntur.
"Jarang-jarang loh pria mau inisiatif begitu, apalagi di tahun kita ini masih memalukan bagi laki-laki untuk masuk ke dapur memasak." terang chef.
"Hahaha...benar, mereka berpikir memasak adalah pekerjaan wanita. Padahal tidak ada salahnya pria juga bisa memasak." lanjut pak Guntur.
"Bagus...bagus..anda punya pemikiran terbuka. Oh ya, kenalkan nama saya Thomas. Panggil saja Tom" dia mengulurkan tangan kepada pak Guntur
"Saya Guntur." diiringi dengan menyambut uluran tangan Chef Thomas.
"Kalau kamu mau, kamu boleh bantu-bantu saya di hotel." ujar chef Tom.
"Ha? Bukankah ngga boleh sembarangan orang masuk ke sana?" kaget pak Guntur.
"Tenang saja, saya punya hak memasukkan orang yang bisa membantu pekerjaan dapur. Asal kamu tidak berbuat hal yang merugikan. Saya akan ajarkan dasar memasak di kala senggang" ujar chef Tom.
"Tapi saya ada pekerjaan juga, takutnya saya tidak bisa membagi waktu" ujar pak Guntur.
"Berhenti saja, saya akan gaji kami 2x lipat dari upah sebelumnya." jawab chef Tom.
"Benarkah? Wah, saya jadi ngga enak" jawab pak Guntur lagi.
"Benar, saya bukan penipu. Ini kartu nama saya." chef Tom mengulurkan kartu nama putih bertuliskan namanya Thomas Martin Kennedy dan ada nama hotel X disana. Juga nomor telepon hotel.
"Bagaimana kalau begini, saya akan selesaikan kerja saya sampai akhir bulan ini dan bulan depan saya akan menghubungi anda?" jawab pak Guntur berusaha juga memastikan dulu benarkah orang ini chef di hotel X atau hanya penipu.
"Boleh, awal bulan hubungi ke nomor ini dan kamu bisa langsung bekerja di bawah saya" ujar chef Tom.
"Baiklah, terimakasih banyak saya ucapkan sebelumnya" jawab pak Guntur gembira.
"Sampai ketemu. Saya mau buru-buru kembali karena waktunya sudah mepet" jawab chef Tom sembari melambaikan tangan perpisahan dan berjalan menuju sepeda motor yang terparkir di parkiran.
"Ya, sampai ketemu lagi, hati-hati di jalan" ujar pak Guntur.
Mereka berpisah dan pak Guntur mulai menimang-nimang tawaran ini.
"Apa benar dia chef disana?" gumam pak Guntur.
"Ah, coba aku ke wartel saja, mencoba menelpon nomor ini dan memastikan" tekad pak Guntur dan dia melangkahkan kaki ke wartel terdekat.
Sesampainya di wartel, pak Guntur memasuki salah satu bilik wartel yang kosong dan mengangkat gagang telepon serta menekan nomor yang ada.
"Tuuut....Tuuuut" terdengar suara sambungan di seberang sana.
"Selamat siang, Hotel X bersama saya Dian. Ada yang bisa dibantu?" terdengar suara lembut di ujung sana.
"Ah...ha halo...saya mau tanya apa benar ada nama Thomas Martin Kennedy yang jadi chef di sana?" tanya pak Guntur tergagap sedikit.
"Oh ya, benar pak. Tapi kebetulan sekarang jam nya chef sudah selesai dan sudah pulang. Apa ada yang perlu disampaikan?" tanya suara diseberang sana.
"Oh, tidak ada. Nanti saya langsung ketemu dengan orangnya saja" jawab pak Guntur berbohong.
Ya, sekarang dia tau nama ini memang adalah chef di hotel X. Berharap semoga orang ini benar adalah orang asli, pak Guntur seakan sedang bermain judi dengan nasib pekerjaan nya. Tapi demi janjinya kepada calon mertua, maka dia akan lakukan apapun.
"Baiklah, kalau begitu besok aku akan kabari ke pemilik toko bahwa aku akan berhenti akhir bulan ini." gumam pak Guntur bertekad kuat meskipun sedikit ragu.
Waktu berlalu dengan cepat dan sampailah di akhir bulan dimana pak Guntur menerima upahnya untuk bulan itu.
"Benar kamu mau berhenti Guntur?" Tanya Ko Akiong pemilik toko.
"Iya ko, saya mau belajar masak" jawab pak Guntur jujur.
"Gila kau ya, masa berenti cuma untuk belajar masak. Mau makan apa anak bini mu nanti?" cecar ko Akiong.
"Kan dari masakan bisa ko" pak Guntur sedikit cengengesan
"Ada-ada ajalah kau ini" jawab ko Akiong tau keras kepala pak Guntur.
"Ya sudah, begini saja. Karena kau itu rajin, coba dulu lah sebulan belajar disana. Kalau nda betah, balik lagi sini ya." kata ko Akiong.
Dia merasa rugi juga jika pak Guntur berhenti, karena karyawan yang paling pintar, sopa dan rajin serta jujur ya pak Guntur ini. Selalu datang cepat dan pulang selalu terakhir.
Semua barang-barang toko diperiksa dengan teliti, jika ada cacat langsung dikabari ke ko Akiong, jadi mereka jarang merugi.
"Ya ko, nanti kalau saya nda betah disana, saya cari koko lagi ya." jawab pak Guntur senang.
Tidak sia-sia selama ini dia berdedikasi dalam pekerjaan. Jadi jika dia tertipu oleh chef itu, dia bisa kembali bekerja ke tempat lamanya. Masih aman juga lah pikirnya.