Di usianya yang beranjak remaja, pengkhiatan menjadi cobaan dalam terjalnya kehidupan. Luka masa lalu, mempertemukan mereka di perjalanan waktu. Kembali membangun rasa percaya, memupuk rasa cinta, hingga berakhir saling menjadi pengobat lara yang pernah tertera
"Pantaskah disebut cinta pertama, saat menjadi awal dari semua goresan luka?"
-Rissaliana Erlangga-
"Gue emang bukan cowo baik, tapi gue bakal berusaha jadi yang terbaik buat lo."
-Raka Pratama-
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Caramels_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 11
Posisi mereka berdua sedang menepi dari keramaian pengunjung lain sehingga tidak ada yang peduli dengan mereka berdua sebab disebutkan oleh aktivitas masing-masing.
Rissa memejamkan mata merasakan nafas hangat Raka yang menerpa kulit wajahnya. Hingga…
Cuppp…
Raka mengecup kening Rissa begitu lembut, ia begitu bahagia karena Rissa mau menerimanya.
“Makasih ya udah beri gue kesempatan buat bahagiain lo,” ujarnya sembari tersenyum, Rissa membalas ucapan Raka hanya dengan senyuman yang begitu manis dan mencium pipi Raka dengan gerakan begitu cepat. Raka yang terkejut oleh kecupan singkat Rissa menjadi salah tingkah, ia mengeratkan pelukannya dan menikmati aroma parfum bunga mawar yang digunakan Rissa.
...****************...
Setelah puas menikmati Kawah Ijen, mereka pun bersiap untuk kembali pulang. Kali ini mereka memutuskan untuk menaiki pesawat saat kembali ke Jakarta. Pukul 04.00 sore, Raka dan Rissa telah berada di Jakarta. Setelah itu, mereka memutuskan untuk pulang ke rumah masing-masing. Awalnya, Raka ingin mengantarkan Rissa pulang ke rumahnya, namun ia lebih dulu di telepon papanya untuk membantu mengurus masalah di kantor hingga mengharuskannya langsung bergegas menemui Papanya.
“Kamu beneran nggak apa-apa pulang sendirian?” Raka bertanya dengan wajah khawatir.
“Iya, nggak apa-apa kok. Mending kamu bantuin Om Pratama di kantornya. Jangan khawatir, aku bisa pulang sendiri kok,” Rissa meyakinkan Raka bahwa dirinya baik-baik saja.
Sejak turun dari Kawah Ijen, mereka memutuskan untuk mengganti panggilan “lo-gue” menjadi “aku-kamu”. Kata Raka biar mereka semakin terlihat romantis. Terdengar aneh saat pertama kali mencobanya, namun lama-kelamaan mereka sudah terasa biasa.
Setelah itu, Raka menunggu Rissa hingga taksi yang menjemputnya datang.
“Kamu kalau mau duluan nggak apa-apa kok, aku bisa nunggu di sini sendiri,”
“Aku tetap mau nungguin kamu,” Raka tetap gigih dengan pendiriannya untuk menemani Rissa. Beberapa menit kemudian, taksi yang ditunggu-tunggu pun datang, Rissa pamit kepada Raka serta berterima kasih karena telah menemaninya dari tadi.
“Aku pulang dulu ya, makasih udah mau nemenin,” Rissa mengecup singkat pipi Raka lalu masuk ke dalam taksi. Ia pun melambaikan tangan kepada Raka. Setelah taksi yang ditumpangi Rissa hilang dari pandangan Raka, Ia segera bergegas menuju kantor Papanya.
...****************...
Sesampainya Rissa di rumah, ia dikejutkan oleh pemandangan di hadapannya. Pecahan kaca berserakan di lantai bahkan ia melihat televisinya sudah tergeletak di lantai dengan bentuk tak beraturan. Jantungnya pun mulai berdegup, ia merasa cemas tentang keadaan adik dan Mamanya. Di tengah perjalanan menuju kamar mamanya ia dikejutkan oleh suara bariton milik seorang pria.
“Main ke mana aja kamu?”
“A-aku habis liburan ke Bali sama temanku,” Rissa merasa terintimidasi oleh tatapan dingin Papanya sendiri.
“SAMA SIAPA? PACARMU ITU? OHHH, SEKARANG UDAH BERANI PACARAN YA KAMU!? SAMPE IKUT PACARMU ENTAH KEMANA ITU? MAU JADI APA KAMU INI!?” ujar Pak Ryand dengan suara mengeras.
“MAU NIRUIN MAMAMU YANG BEJAT ITU!?” Rissa muak mendengar ucapan papanya yang selalu menghina istrinya sendiri.
“STOP PA! Kenapa sih Papa selalu menghina Mama?!” intonasi Rissa meninggi hingga membuat Pak Ryand semakin terbakar api amarah.
“KAMU MULAI BERANI SAMA PAPA?! JADI, KAYAK GINI DIDIKAN MAMAMU SELAMA INI?”
“Semua ini bukan salah Mama! Jadi berhenti nyalahin Mama. Semua ini terjadi karena Papa yang selalu bertindak kasar. Ingat pa, buah jatuh tak jauh dari pohonnya, aku kayak gini ya gara-gara perlakuan Papa,” Rissa terisak.
“ANAK KURANG AJAR!” untuk pertama kalinya tangan Pak Ryand melayang di pipi Rissa, namun sebelum tangan kekar itu menyentuh pipinya ada tangan lain yang menghalanginya.
“Pa, Papa kenapa sih belum puas udah nyakitin Mama sekarang mau nyakitin Kak Rissa? Papa beneran tega mau nyakitin satu-satunya anak perempuan yang Papa miliki? Kakak udah nyimpen luka sendirian gara-gara Papa sama Mama selalu bertengkar,” sahut Daeren sambil melepas cakalan tangannya.
Pak Ryand mulai luluh oleh ucapan Daeren lalu memilih untuk pergi dari tempat itu dengan mimik wajah yang tak bisa dideskripsikan. Rissa langsung memeluk adik satu-satunya yang ia miliki itu. Ia tidak pernah tau mengapa papanya semakin kasar kali ini. Beruntung ia masih memiliki adik yang begitu perhatian di hidupnya.
...****************...
Malam pun tiba, kini Rissa sedang berada di balkon kamarnya sambil menelepon seseorang yang telah menjadi kekasihnya. Ia menceritakan kejadian yang baru saja ia alami tadi kepada Raka. Hal itu membuat Raka sedikit khawatir tentang keadaan Rissa.
“Kamu nggak apa-apa kan?”
“Aku nggak papa kok, untung tadi ada Daeren yang nyekal tangan papaku, kalau nggak gitu mungkin sekarang pipiku udah merah lebam,” ujar Rissa.
“Emangnya kenapa papamu bisa sampai semarah itu?
“Aku juga nggak tau kenapa Papa bisa sampai semarah itu. Ini juga pertama kalinya Papa mau nampar aku,”
“Ehhmm, Ya udah doain aja semoga Om Ryand berubah. Kamu jangan sedih terus, aku tau kamu kuat,” Raka berusaha menyemangati Rissa. Ia pun membuat beberapa lelucon agar Rissa tertawa dan sedikit terhibur olehnya. Tak hanya itu, Raka terkadang membuat gombalan sederhana namun tetap bisa membuat hati Rissa begitu bahagia.
Dua jam kemudian, Rissa mulai mengantuk.
“Udah ngantuk?” tanya Raka yang melihat Rissa beberapa kali menguap.
“Iya, Kamu nggak ngantuk?”
“Nanti kalau kamu tidur, Aku juga tidur kok. Kalau udah ngantuk tidur aja,” ujar Raka.
“Tapi teleponnya jangan dimatiin,” rengek Rissa mulai bersikap manja kepada Raka.
“Iya deh aku temenin sampai kamu tidur. Gimana kalau aku nyanyiin?”
“Hmmm, boleh deh,” Raka pun menemani Rissa sambil menyanyikan sebuah lagu dengan suara yang begitu merdu. Suara Raka yang begitu halus berhasil membuat Rissa sampai di dunia mimpinya.
“Good night cantikku, mimpi indah ya… jangan sedih terus, aku ada disini buat nemenin kamu,” Raka berbicara dengan Rissa yang sudah tertidur pulas. Ia tersenyum memandangi wajah damai Rissa saat tertidur melalui ponselnya, kemudian Raka mematikan teleponnya dan lanjut untuk menyusul Rissa ke alam mimpinya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...