Rowena Scarlett adalah manusia setengah vampir, tetapi sama sekali tidak menyadari jati dirinya. Tante dan om, satu-satunya keluarga yang ia miliki, justru menganggap Rowena mengalami gangguan mental. Anggapan itu berujung pada keputusan untuk menitipkannya di rumah sakit jiwa.
Rowena didiagnosis mengidap gangguan delusi akibat obsesinya terhadap darah. Kondisi tersebut bahkan membuatnya hampir melakukan percobaan pembunuhan demi memuaskan rasa penasarannya. Padahal, dorongan itu merupakan insting yang wajar bagi seseorang yang memiliki darah vampir.
Nahas, di tempat itu Rowena bertemu Darcel, dokter terapis barunya yang ternyata seorang vampir psikopat. Ketika Rowena terjebak dalam genggamannya, ia dijadikan kambing hitam atas pembunuhan-pembunuhan yang dilakukan oleh Darcel.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DityaR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Eps. 27
Rowena mendengus kesal sambil asal mengeklik kuesioner kepribadian di komputer. Mereka berada di sebuah ruangan kecil yang entah mengapa disebut lab komputer.
Lantainya dilapisi laminasi putih pucat berbintik abu-abu, dindingnya ditempeli poster bertuliskan “Tetap Sehat” dengan gambar anak kucing yang nyaris jatuh dari dahan. Ruangan itu berbau aneh.
Ia mulai curiga bahwa Perawat Agnes sebenarnya tidak pernah berniat membawanya menemui dokter, dan semua ini hanyalah akal-akalan agar ia menurut.
Tes kepribadian itu bodoh. Isinya pertanyaan benar atau salah yang terlalu mudah untuk dibohongi.
Bagian favorit Rowena justru pertanyaan tentang apakah ia menyayangi ibu dan ayahnya.
Mengingat ia tidak memiliki keduanya.
Ia mengeklik benar. Ia sangat menyayangi mereka.
Tentu saja.
Jika ia jujur dan harus mengganti sosok ayah dan ibu dengan tante dan pamannya, ia akan mengatakan mereka pantas masuk neraka. Namun itu jika ia memilih jujur.
“Nanti,” desah Agnes sambil memeriksa berkas-berkas yang telah diisi Rowena. Di tangannya juga ada dokumen lama.
Di formulir alergi, Rowena menuliskan semua obat yang bisa ia ingat, ditambah kentang goreng, sayuran, daging, milkshake merah, junk food, dan Perawat Agnes.
Toh Agnes sudah membencinya, jadi sekalian saja ia menikmatinya. Ia bahkan sengaja menulis dengan tulisan berantakan sebagai balas dendam karena tusukan kecil sebelumnya.
Pertanyaan berikutnya muncul di layar.
Mengapa Anda TIDAK menjelaskan apa yang terjadi semalam?
Jawaban:
A. Semuanya terasa kabur.
B. Mungkin karena obat-obatan yang—
“Kalian yang maksa aku menelannya,” gumam Rowena.
Jiwa kamu kadang meninggalkan tubuh kamu.
Jawaban:
A. Benar
B. Salah
Rowena mendengus dan mengeklik benar.
“Cepat,” kata Agnes. “Sesi kelompok pertama kamu mulai dalam…” Ia melirik jam tangan. “…sepuluh menit.”
Rowena memutar mata dan melewati sekitar dua puluh pertanyaan. Lalu ia condong ke depan ketika menemukan satu set pertanyaan yang belum pernah ia lihat di tes kepribadian mana pun.
Apakah kamu memakan manusia?
Jawaban:
A. Benar
B. Salah
Alisnya terangkat, tetapi ia terus membaca.
Apakah sinar matahari membakar tubuh kamu?
Jawaban:
A. Benar
B. Salah
Apakah kamu telah membunuh lebih dari sepuluh orang?
Jawaban:
A. Benar
B. Salah
Rowena mengeklik salah.
Belum.
Belum ada yang terbunuh.
Meski, sejujurnya, ia berharap sudah membunuh setidaknya sepuluh orang.
Ia menggaruk kepala.
“Kalau aku membunuh kurang dari sepuluh orang, berarti aku harus klik salah?” tanyanya sarkastis.
“Iya,” jawab Agnes datar tanpa menoleh, sibuk mengetik data ke komputer.
“Kalau sembilan?”
“Klik salah.”
“Kalau aku cuma nonton temanku yang membunuh mereka?” lanjut Rowena sambil tersenyum geli.
Bayangan mayat-mayat tergantung tiba-tiba menyerbu kepalanya. Ia menggeleng, tetapi otaknya mendadak terasa seperti diserbu lebah. Kilasan-kilasan muncul, pisau mengiris leher seorang pria, darah menyembur ke mana-mana.
Jantungnya langsung berdegup tiga kali lebih cepat. Keringat mengucur di dahinya. Ia menunduk di atas keyboard sambil mengerang tertahan, kepalanya berdenyut hebat.
“Apa-apaan ini?” erangnya sambil memegangi kepala dengan kedua tangan.
Barusan itu apa?
“Menonton teman membunuh tidak dihitung,” kata Agnes santai sambil meninggalkan meja dan memasukkan berkas Rowena ke dalam map cokelat. Suaranya terdengar sangat jauh.
Ada sensasi panas berdenyut di pergelangan tangan Rowena. Ia refleks menggaruk lengan kemejanya yang kebesaran. Ada sesuatu yang terjadi dalam dua hari terakhir. Sesuatu yang membuatnya berada di tempat ini, mengenakan kemeja pria, dengan kepala dipenuhi kilasan-kilasan kacau yang terasa terlalu nyata.
Ia mengepalkan tangan dan menatap pembuluh darahnya dengan mulut sedikit terbuka. Kulitnya yang pucat membuat semuanya terlihat jelas. Pembuluh darah biru itu kini tampak menggelap.
Rowena mengusap telapak tangannya ke kulit dan menarik napas dalam-dalam lewat sela gigi. Dengungan di kepalanya semakin parah saat muncul kilasan seseorang berjalan mendekatinya sambil membawa pisau, tangan bersarung kulit hitam.
“Cepat!” teriak Agnes dari belakang.
Rowena tersentak. Dengungan itu langsung berhenti, dan sensasi panasnya pun lenyap.