Wasiat dua kakek yang bersahabat sejak lama menetapkan Adam dan Hawa sebagai pasangan di masa depan. Namun ketika waktu itu tiba, Adam justru menolak perjodohan tersebut. Ia merasa belum siap dan memilih fokus pada hidup serta pekerjaannya di Australia. Demi menghindari perjodohan itu, Adam mendorong adiknya Harun untuk menggantikan posisinya menikahi Hawa. Keputusan itu ternyata menjadi titik awal munculnya berbagai masalah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sarah Mai, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kegelisahan Adam.
“Dreet…” Ponsel Hawa bergetar di genggamannya.
Begitu melihat nama yang tertera di layar, wajahnya langsung berseri.
“Mas Harun!” sautnya dengan suara riang yang tak mampu ia sembunyikan.
“Insyaallah besok pagi Mas sudah sampai,” suara Harun terdengar hangat dari seberang sana.
“Kamu mau dibelikan apa? Baju, tas, atau perhiasan?”
“Terserah Mas saja,” jawab Hawa sumringah. Senyumnya mengembang, seolah semua penat yang ia rasakan selama ini luruh seketika.
“Oh ya,” lanjut Harun, “setelah Mas pulang, kita cari rumah sendiri ya. Mas pikir-pikir, ada baiknya kita tidak terus tinggal di rumah Adam.”
“Beneran, Mas?” Mata Hawa berbinar, dadanya berdebar tak terkendali.
Kebahagiaan itu terasa begitu nyata.
“Bener. Masa Mas bohong sama kamu?” Harun tertawa kecil dengan nada menggoda, membuat Hawa ingin melompat kegirangan memeluk Harun.
“Ya sudah, Hawa tunggu ya, Mas. Hawa benar-benar nggak sabar,” ujarnya penuh antusias.
“Oh ya, terima kasih juga ya… kamu sudah merawat Mas Adam sampai sembuh.”
“Iya, Mas,” jawab Hawa lembut.
“Tutup.”
Panggilan itu berakhir, namun senyum Hawa tak juga pudar.
Ia serasa ingin segera pulang, menghitung detik demi detik untuk menyambut kepulangan sang suami tercinta.
Di tempat yang jauh berbeda, di sebuah ruang kerja dengan dinding kaca tinggi, Harun berdiri menatap gemerlap kota Sydney di senja hari.
Lampu-lampu gedung memantul di matanya, sementara senyum tipis terukir di bibirnya.
“Aku memang butuh istri seperti Hawa,” gumamnya pelan. “Penurut, menenangkan, tidak berisik seperti Raisa.”
Ia terkekeh kecil, lalu meneguk minumannya dengan santai.
“Dapat perusahaan di Sumatera, dapat dua istri pula,” katanya sambil tertawa puas.
"Punya dua istri siapa takut? Sah… sah saja, yang penting bisa adil.” Tawa Harun menggema di ruangan itu, tawa seorang pria yang tak merasa bersalah sedikit pun atas permainan hatinya.
Sementara itu, di Jakarta, setelah menemani Adam ke salon, Adam kembali memaksa Hawa untuk berkeliling mall. Padahal, pikirannya hanya ingin segera pulang dan bersiap menyambut Harun.
“Kamu mau beli apa? Pilih saja, apa pun,” kata Adam sambil menunjuk deretan pakaian bermerek di salah satu butik mewah.
“Enggak usah, Mas,” jawab Hawa pelan.
“Nanti saja dengan Mas Harun.” Jawaban itu sukses membuat Adam mengernyit. Rasa jengkel merayap tanpa ia sadari. Namun ia belum menyerah. Adam menggiring Hawa ke toko tas branded, lalu ke gerai perhiasan ternama.
“Silahkan pilih,” katanya lagi, suaranya begitu lembut membujuk. Seperti wanita pada umumnya sangat menyukai shoping.
“Tunggu Mas Harun saja,” jawab Hawa tetap pada pendiriannya.
“Hawa,” Adam akhirnya berhenti melangkah. Nada suaranya terdengar kesal. “Ini tidak ada hubungannya dengan Harun.
Aku menawarkan ini sebagai ungkapan terima kasih karena kamu sudah merawatku dengan sangat baik.”
Namun Hawa hanya terdiam, wajahnya menunduk.
Adam mengusap wajahnya frustrasi.
“Benar-benar ya… ini perempuan terlalu setia atau terlalu bodoh?” gumamnya pelan. “Dia tidak tahu kalau Harun sedang bersenang-senang dengan wanita lain.”
Entah mengapa, kesetiaan Hawa justru membuat Adam semakin gelisah dan semakin penasaran pada sosoknya.
Melihat wajah Hawa yang cemberut, Adam akhirnya mengalah.
“Ya sudah. Kalau begitu kita makan malam saja.” Hawa mengangguk pelan, menuruti keinginan Hawa. Namun sepanjang makan malam, wajahnya dingin, responnya singkat, tanpa ketertarikan.
Adam kehilangan chemistry yang biasanya begitu mudah ia bangun dengan wanita mana pun.
“Tling!” Sebuah pesan masuk ke ponsel Adam. Dari Felix.
Adam membuka pesan itu dengan cepat dan napasnya seketika tertahan.
Foto-foto kemesraan Harun dan Raisa terpampang jelas, pelukan, senyum, bahkan satu foto pernikahan siri mereka.
Felix benar-benar berhasil meretas ponsel Harun. Adam menarik napas panjang, lalu melirik Hawa yang benar-benar polos tidak mengerti apa-apa.
“Kenapa jadi runyam begini…” gumamnya lirih.
Ia mengusap dahinya yang mulai berkeringat, bersandar lesu.
“Aku tidak pernah berpikir akan tertarik pada Hawa,” batinnya kacau. “Tapi kenapa sekarang… hanya membayangkan dia terluka saja, sudah cukup membuatku panik?”
“Kamu baik-baik saja, Mas?” tanya Hawa khawatir. Ia mengira Adam kembali merasa sakit dan ketakutan
Adam tersentak, lalu berdiri.
“Sebaiknya… kita pulang saja.” ajak Adam.
Dan di balik kalimat dingin itu, ada badai besar yang tengah diam-diam menghantam Adam.
Sepanjang perjalanan pulang, suasana di dalam mobil terasa berat. Hawa dan Adam duduk di kursi penumpang, menatap jalanan Jakarta yang dipenuhi lampu-lampu malam.
Wajah Hawa terlihat tenang, namun sorot matanya gelisah, seolah pikirannya merasa bersalah karena jalan dengan kakak ipar yang seharusnya kurang pantas.
Sedangkan di kepala Adam, muncul foto-foto kemesraan Harun dan Raisa yang dikirim Felix, seketika menghantam kesadarannya tanpa ampun. Senyum Harun yang begitu lepas di pelukan Raisa, membuat dada Adam terasa sesak karena Hawa tidak tahu apa-apa.
“Kenapa kamu diam saja?” Adam akhirnya bersuara, memecah keheningan.
“Tidak apa-apa, Mas,” jawab Hawa pelan. “Mungkin aku cuma capek.”
Jawaban sederhana itu justru membuat Adam semakin gelisah. Ia melirik Hawa sekilas. Perempuan itu tetap seperti biasa, santun, lembut, dan terlalu tulus untuk dunia yang kejam.
"Terlalu baik untuk Harun," batinnya getir.
Adam menghela napas panjang.
“Kenapa kamu menolak kalau aku belikan sesuatu?” tanyanya lagi, kali ini lebih pelan, nyaris seperti bertanya pada dirinya sendiri.
Hawa terdiam beberapa detik sebelum menjawab.
“Karena aku istri Mas Harun,” katanya mantap. “Aku tidak ingin melukai perasaannya, meski hanya soal kecil.”
Kalimat itu menghantam Adam tepat di dada.
Istri yang menjaga perasaan suaminya… sementara suaminya sendiri sedang mengkhianatinya.
Adam mengepal tangannya, Ada rasa marah bukan pada Hawa, melainkan pada Harun. Juga ada perasaan menyesal, Andai sejak awal ia tahu Harun akan memperlakukan Hawa seperti ini, mungkin dirinya lebih baik yang menikahi Hawa.
"Bahkan sampai detik ini Hawa masih perawan" gumamnya.
Namun di balik kemarahan itu, terselip rasa lain yang membuatnya semakin takut pada dirinya sendiri. Cemburu.
“Kalau suatu hari…” Adam ragu melanjutkan ucapannya. “Kalau suatu hari kamu tahu sesuatu yang menyakitkan tentang Harun...apa yang akan kamu lakukan?”
Hawa menoleh, menatap Adam dengan kening berkerut.
“Maksud Mas?”
“Tidak ada,” Adam cepat-cepat mengalihkan pandangan, ia tidak tega mengatakannya.
“Lupakan saja.” Namun pertanyaan itu terus menggema di kepalanya.
"Apa aku akan sanggup melihat dia hancur?
Apa aku akan sanggup berpura-pura tidak tahu apa-apa?" kepala Adam terasa berputar-putar
Tidak terasa Mobil berhenti di halaman rumah. Sebelum turun Hawa mengucapkan terima kasih seperti biasa kepada Adam. wanita itu turun lebih dulu berjalan tergesa-gesa menuju kamarnya, sedangkan Adam perlahan menyusul keluar dari mobil, menatap punggung Hawa yang kian menghilang dari balik pintu.
Setelah memastikan Hawa sudah masuk ke kamar dan tak keluar lagi, Adam pun melangkah ke kamarnya sendiri. Pintu ia tutup perlahan, lalu tubuhnya bersandar lemah di sana. Dadanya terasa sesak, seolah ada beban berat yang menekan napasnya.
“Apa yang sebenarnya aku inginkan?” gumamnya lirih penuh kebingungan.
"Sampai detik ini aku masih enggan meninggalkan jakarta padahal di Australia banyak sekali pekerjaan!"
Ia menunduk, mengusap wajahnya kasar.
“Aku ini kakak iparnya… aku seharusnya melindunginya, bukan memikirkan perasaan terlarang seperti ini.”
Namun semakin Adam mencoba menepisnya, bayangan Hawa justru semakin kuat. Cara perempuan itu merawatnya dengan sabar dan santun penuh adab yang tinggi. Serta tatapan khawatirnya setiap kali Adam kesakitan. Dan kesetiaannya yang nyaris menyakitkan untuk dilihat.
"Mungkin aku tidak jatuh cinta!" ia mencoba membela diri.
"Mungkin aku hanya… tidak tega." Tapi hatinya tahu, itu kebohongan.
Malam itu, Adam duduk sendirian di kasurnya, Ponselnya masih terbuka pada pesan Felix. Jarinya bergetar, ragu antara menghapus bukti itu atau menyimpannya sebagai senjata.