NovelToon NovelToon
MENJADI PILIHAN KEDUA SAHABATKU

MENJADI PILIHAN KEDUA SAHABATKU

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Pengantin Pengganti / Nikah Kontrak
Popularitas:9.9k
Nilai: 5
Nama Author: Ibu Cantik

Sadewa dan Bianca sudah bersahabat dari kecil. Terbiasa bersama membuat Bianca memendam perasaan kepada Sadewa sayang tidak dengan Sadewa,dia memiliki gadis lain sebagai tambatan hatinya yang merupakan sahabat Bianca.

Setelah sepuluh tahun berpacaran Sadewa memutuskan untuk menikahi kekasihnya,tapi saat hari H wanita itu pergi meninggalkannya, orang tua Sadewa yang tidak ingin menanggung malu memutuskan agar Bianca menjadi pengantin pengganti.

Sadewa menolak usulan keluarganya karena apapun yang terjadi dia hanya ingin menikah dengan kekasihnya,tapi melihat orangtuanya yang sangat memohon kepadanya membuat dia akhirnya menyetujui keputusan tersebut.

Lali bagaimana kisah perjalanan Sadewa dan Bianca dalam menjalani pernikahan paksa ini, akankah persahabatan mereka tetap berlanjut atau usai sampai di sini?.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ibu Cantik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bagian 27

Bianca sampai lebih dulu di apartemen dan langsung bergerak cepat. Nafasnya masih tidak teratur antara gugup dan panik. Begitu pintu tertutup, ia menaruh tasnya dan langsung menuju kamar tamu. Barang-barang dikeluarkan dari lemari dengan gerakan tergesa.

Beberapa menit kemudian, terdengar bunyi pintu dibuka dari luar. Sadewa baru datang.

“Bianca?” panggilnya.

“Aku di sini!” jawab Bianca sambil menggenggam tumpukan baju.

Sadewa menghampiri dan refleks mengambil sebagian barang dari pelukan Bianca. “Biar aku bantu.”

Mereka berjalan berdampingan menuju kamar utama. Pintu kamar terbuka, aroma maskulin khas Sadewa memenuhi ruangan. Ini pertama kali Bianca masuk lebih dari sekadar mengetuk ambang pintu. Biasanya ia menjaga jarak.

Sadewa meletakkan koper dan pakaian itu di atas ranjang. Bianca ikut menata, mencoba rapi, mencoba cepat, mencoba tidak berpikir apa-apa.

Tapi rasa asing itu tetap datang.

Ada foto Sadewa di atas nakas. Ia tersenyum di sebuah pantai. Di foto lain, di rak kecil, Sadewa sedang tertawa memeluk seseorang seorang perempuan. Ada banyak tersenyum di restoran, bersandar di kaca jendela, saling memegang tangan. Nama itu terlintas sendiri di kepala Bianca. Sarah.

Perempuan yang pernah disebut sebagai belahan hati Sadewa. Yang kini menghilang tanpa jejak. Yang mengisi masa lalu Sadewa dengan begitu banyak momen sampai ruang itu terasa penuh sementara tempat Bianca seperti hanya seujung kuku.

Tangan Bianca terhenti di udara. Ia tidak menyentuh apa pun, hanya menatap.

Sadewa melihatnya. Wajahnya menegang. Napasnya tertahan.

Detik berikutnya, Sadewa bergerak ke arah nakas. Ia meraih pigura pertama foto yang paling mencolok dan tanpa berkata apa-apa, ia memutar bingkainya menghadap ke tembok. Satu per satu, ia lakukan hal yang sama pada semua foto itu. Tidak kasar, tapi tergesa. Tidak marah, tapi jelas tidak nyaman.

“Kamu nggak perlu—” suara Bianca patah sebelum selesai.

“Aku yang harusnya minta maaf,” Sadewa menyela, nadanya rendah. “Aku lupa kalau ini situasinya jadi canggung buat kamu.”

Bianca hanya mengangguk tipis. Tangannya kembali menata baju, kali ini lebih cepat, seolah ingin segera keluar dari sana.

Hening. Hening yang terlalu tebal.

Sadewa menatap Bianca dari belakang. Ada rasa bersalah yang aneh seharusnya tidak perlu ada rasa seperti itu. Mereka kan hanya menikah kontrak. Tidak ada kewajiban moral untuk menjelaskan masa lalu. Tidak ada hak untuk saling cemburu.

Tapi melihat Bianca mengunci ekspresi, melihat pergerakan tangannya yang kaku, Sadewa merasa dadanya menegang.

Saat semua barang tertata, Bianca berdiri.

“Aku ke dapur dulu. Mama kamu pasti sebentar lagi datang. Aku siapin minum.” Suaranya datar. Rapi. Terlalu profesional untuk ukuran seorang istri.

Sadewa refleks menyentuh lengannya.

“Bianca—”

Bianca menoleh, tapi tidak sepenuhnya. Tatapannya turun ke lantai.

“Aku ngerti. Ini cuma kontrak. Masa lalu kamu bukan urusanku.” Ia tersenyum kecil, senyum yang lebih mirip garis tipis.

Sadewa membuka mulut, kata-kata menumpuk di kerongkongan, tapi tidak ada yang berhasil keluar. Entah harus bilang apa. "Itu cuma masa lalu?" atau "Aku nggak mau kamu salah paham?"semua terdengar salah.

Bianca mengangkat wajahnya sedikit. “Yang penting kita bisa meyakinkan Mama kamu.”

Setelah itu, ia keluar. Pintu kamar tertutup pelan.

Sadewa berdiri di tengah ruangan yang tiba-tiba terasa sempit. Ia melihat foto-foto yang kini membelakangi dirinya.

"Kenapa aku merasa seperti orang yang menaruh Bianca di tempat yang salah?"

Ia meremas jembatannya, mengumpulkan napas. Lalu perlahan, ia membuka satu foto yang sudah dibalik. Hanya sebentar cukup untuk melihat senyum Sarah. Lalu ia menutupnya lagi, meletakkannya menghadap tembok.

Untuk pertama kalinya sejak hubungan kontrak itu dimulai, Sadewa bertanya pada dirinya sendiri,"Apakah aku siap menghapus sisa-sisa masa laluku?"

"Dan… kenapa aku ingin Bianca melihat ruangan ini tanpa bayangan siapa pun?"

Di dapur, bunyi gelas beradu dengan meja mengembalikan Sadewa ke dunia nyata. Mama bisa tiba kapan saja. Tidak ada waktu untuk tenggelam dalam pikiran.

Namun satu hal jelas Bianca berubah.

Dan Sadewa merasakannya.

Dan entah kenapa, perubahan itu membuatnya tidak tenang.

...****************...

Di dapur, Bianca sedang membuatkan teh. Tangannya bergerak otomatis menuang air panas, meraih gula, mengaduk tanpa benar-benar menyadari seberapa banyak ia memasukkan. Pikiran Bianca masih tertinggal di kamar, di antara foto-foto yang dibalik dan tatapan Sadewa yang tak sempat menjelaskan apa pun.

Sadewa muncul di ambang pintu, bersandar, melipat tangan di dada. Kemeja yang tadi kusut kini sudah dirapikan. Ia membersihkan tenggorokannya.

“Tehnya kebanyakan gula.”

Bianca tersentak kecil. Ia menatap gelas itu dan benar saja, airnya tampak lebih keruh dari seharusnya. Bianca buru-buru mengaduk lagi, mencoba menambah air panas.

“Maaf,” ucap Bianca singkat.

“Kenapa minta maaf?”

“Karena aku ceroboh.”

Sadewa menatap punggung Bianca. Sunyi menyelimuti dapur, hanya terdengar bunyi sendok beradu dengan gelas. Bianca berusaha tetap fokus, tapi detak jantungnya terlalu keras.

“Bianca,” panggil Sadewa perlahan.

Bianca menoleh setengah, wajahnya netral. “Ya?”

Sadewa menunduk sedikit, seolah merangkai kata. “Tentang foto-foto itu, itu—”

“Aku mengerti,” potong Bianca dengan cepat, terlalu cepat. “Tidak perlu dijelaskan. Aku bukan siapa-siapa untuk—”

Kata-katanya terhenti ketika Sadewa memandangnya, langsung, tanpa berkedip. Ada kalimat yang hampir keluar dari mata laki-laki itu, tapi bibirnya tetap diam.

“Bianca,” katanya lagi, lebih pelan, “kamu istri aku.”

Bianca mengedip. Setengah napas menghilang,“Kontrak,” jawabnya akhirnya. “Istri kontrak.”

Sebelum Sadewa sempat membalas, bel apartemen berbunyi. Suara nyaring yang seolah menyambar udara di antara mereka.

Keduanya refleks mendongak. Mata mereka saling bertemu sejenak, dan Bianca bisa melihat kepanikan kecil di sorot mata Sadewa.

“Dia datang,” gumam Sadewa.

Mereka bergerak cepat. Tanpa berkata apa-apa, Sadewa membuka laci dapur dan menarik apron. Ia menyerahkan pada Bianca. Bianca memakainya dengan tangan gemetar.

“Rambutmu,” kata Sadewa sambil menunjuk poni Bianca yang berantakan. Bianca buru-buru merapikan.

Bel berbunyi lagi.

Kali ini lebih gencar.

Sadewa menghela napas dan berjalan ke arah pintu. Sebelum membuka, ia sempat berbalik menatap Bianca. “Kita harus terlihat seperti pasangan normal.”

Bianca mengangguk. “Aku tahu.”

Pintu dibuka.

Dan di sana berdiri Mama Hanum, dengan coat pastel dan senyum yang selalu hangat. Tapi di balik itu, ada sorot mata tajam khas seorang ibu yang tidak bisa dibohongi.

“Assalamualaikum,” ucap Mama Hanum, memeluk Sadewa tanpa menunggu balasan.

“Waalaikumsalam,” jawab Bianca muncul dari belakang, suaranya terdengar ringan namun terkontrol.

Mama Hanum melepas pelukan Sadewa dan langsung menuju Bianca. Ia meraih tangan Bianca, mencium pipinya. “Akhirnya Mama bisa lihat sendiri. Kalian tinggal bersama. Alhamdulillah…”

Senyum Bianca terbit, sedikit kaku tapi tetap manis. “Silakan masuk, Ma.”

Sadewa menutup pintu, dan seketika apartemen terasa mengecil. Mama Hanum berjalan menyusuri ruangan, matanya mengamati detail dekorasi, tata letak, dan dua pasang sandal di depan kamar utama.

Bianca merasa perutnya mencelos.

Mama Hanum mengangguk kecil, seolah satu detail itu saja sudah cukup untuk menilai semuanya.

“Aduh, Mama kangen. Papa kamu nitip salam. Katanya jangan bikin cucu papa nunggu lama,” canda Mama Hanum sambil terkekeh.

Sadewa hampir tersedak udara, sementara Bianca menegang.

Mama? Cucu?

Bianca buru-buru mengalihkan sebelum Sadewa panik duluan. “Ma, teh-nya sudah jadi. Yuk ke meja makan.”

Mereka bertiga duduk. Bianca menuang teh dengan hati-hati, memastikan tidak goyah walaupun tangannya sedikit bergetar.

Mama Hanum menatap keduanya bergantian, seperti sedang membaca buku terbuka.

“Bianca, kamu kelihatan capek. Sibuk, ya?”

Sedikit lengah, Bianca menjawab jujur. “Iya, Ma. Kerjaan lumayan padat.”

Sadewa terbatuk keras.

Bianca langsung menyadari kesalahan dan membetulkan ucapannya buru-buru. “Maksudnya… pekerjaan rumah. Bersih-bersih. Hehe…”

Mama Hanum menyipitkan mata.

Sadewa menegakkan tubuh.

“Sadewa,” Mama Hanum bersuara. “Kamu harusnya bantu istrimu. Jangan biarkan dia kerja sendirian di rumah. Mama lihat Bianca anak baik. Jangan sampai kamu sia-siakan dia lagi.”

"Lagi?"

Bianca melirik Sadewa. Kata itu menggantung di udara.

“Aku nggak akan sia-siakan, Ma,” jawab Sadewa pelan, serius. Bahkan Bianca terkejut dengan ketulusan dalam nada suaranya.

Mama Hanum mengangguk puas, lalu bangkit. “Mama menginap, ya? Sudah lama nggak makan masakan menantu Mama.”

Bianca dan Sadewa saling memandang.

Tidak ada tempat lain untuk Mama tidur kamar tamu kosong, seharusnya. Tapi jejak Bianca masih berantakan di kamar utama. Aroma parfumnya bercampur dengan Sadewa. Bukti-bukti kecil berserakan.

Bianca menelan saliva.

“Aku siapin, Ma,” katanya.

Mama Hanum tersenyum. “Kalau begitu, Mama mandi dulu. Kalian berdua beresin kamar Mama, ya.”

Saat Mama menuju kamar mandi, Bianca menghembuskan napas berat yang baru ia sadari sejak tadi ia tahan.

Sadewa menghampiri, suaranya rendah.

“Kita harus tidur di kamar yang sama malam ini.”

Bianca mendongak. Matanya membesar.

Jarak mereka terlalu dekat.

“Tenang,” lanjut Sadewa cepat, menyingkirkan kesalahpahaman. “Aku nggak akan melakukan apa pun tanpa izin kamu.”

Hening.

Bianca mengangguk pelan. “Aku tahu.”

Sadewa membuka mulut, ingin menambahkan sesuatu mungkin soal kamar, atau soal masa lalu, atau soal sesuatu yang lebih besar.

Namun Mama Hanum tiba-tiba keluar dari kamar mandi dan berkata,

“Eh, Sadewa putar foto-fotomu dong. Masa foto kamu sama Bianca malah sembunyi semua?”

Dan jantung Sadewa jatuh ke perutnya.

1
mheldaaa
🥰
Reni Anjarwani
lanjut thor doubel up
Reni Anjarwani
rasain , tp bentar lg sarah datang yg sakit hati bianca kasihan yaa
Dian Fitriana
update
Reni Anjarwani
sdh bi mending kamu sama orang lain dati pada sama, sadewa yg blm bisa melupakan laki2 lain
Dian Fitriana
update
Reni Anjarwani
lanjut thor
Dewi Susanti
lanjut kak
Dewi Susanti
yang banyak up nya kak
Dewi Susanti
lanjut kak
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!