°•°Serial Detektif/Kriminal°•°
S2 CLBK [Cinta Lama Belum Kelar].
Alangka baiknya membaca novel tersebut di atas, sebelum membaca novel ini. Agar bisa mengikuti lanjutan kisah 'Kasus Selokan' dan 'Asmara' serta 'Problem Hidup' dari tokoh-tokohnya.
Tawa dan tangis seiring sejalan dalam hidup seseorang. Tidak selamanya ada tangis, tidak selamanya tertawa. Semuanya silih berganti menghiasi hidup. Itulah romantika kehidupan'.
Mampukah Kaliana sang detektif dan 'Team Sopape' bisa menolong Chasina yang telah ditahan sebagai pelaku pembunuhan?
Bagaimana dengan 'Kasus Hati' Marons dan Kaliana? Siapakah yang akan menyelesaikan kasus ini?
"Kebenaran selalu menemukan jalannya, untuk menolong setiap orang yang berjalan di jalan-Nya."
Selamat Membaca
❤️🙏🏻💚
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sopaatta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
11. Warna Sari 2.
...~•Happy Reading•~...
Ke esokan hari ; Semua orang bangun kesiangan. Termasuk Kaliana, Yicoe dan Novie. Membuat mereka semua sibuk di pagi hari.
"Coe, kita pesan sarapan dari luar saja, ya. Apa saja yang bisa dan cepat buat sarapan." Ucap Kaliana setelah mereka mandi dan keluar kamar.
"Pagi Bu, Bapak belum siap? Hari ini saya diminta untuk berangkat pagi." Ucap sopir Marons yang mendekati Kaliana dan bertanya sopan dan hormat.
"Oh. Sebentar ya, Pak. Saya lihat dulu." Kaliana berkata lalu berbalik mencari Marons. Ketika belum terlihat, Kaliana menuju kamar tamu. 'Apakah Arrow belum bangun juga?' Tanya Kaliana dalam hati, sambil mencoba ketok pintu pelan.
Ketika tidak ada jawaban dan suara dari dalam kamar, Kaliana teringat kejadian di rumah saat Marons menginap di rumahnya. Dia langsung membuka pintu lalu masuk. Saat melihat Marons masih tidur, Kaliana tertegun. Dia mendekati Marons, lalu membangunkan dengan memegang kaki.
"Arrooow... Bangun." Kaliana memanggil beberapa kali sambil menggoyang kaki. Marons membuka mata perlahan dan melihat Kaliana sedang berdiri di dekat kakinya.
"Pagiii... Sudah jam berapa?" Tanya Marons sambil memicingkan mata. Kaliana mendekat dan menarik selimut Marons, karena dia masih mau menarik selimut untuk tidur lagi.
"Sudah jam ayam pukul bebek. Sudah ditunggu sopir. Sudah harus bagun. Jadi, cepaaatttt... Kita semua kesiangan, kami juga harus pergi." Kaliana serius melipat selimut Marons, agar tidak tidur lagi.
"Sopirku sudah datang?" Tanya Marons, langsung full loading lalu duduk dan menyisir rambutnya dengan tangan.
Marons segera turun dari tempat tidur. "Ni, ikut aku ke kamarku dan tolong lihat bajuku. Aku mau mandi, ada meeting." Marons berjalan cepat ke kamarnya dan diikuti Kaliana dengan bingung.
"Arrooow... Aku Kaliana. Bukan Rallita. Bagaimana aku tahu pakaianmu?" Tanya Kaliana sambil berjalan cepat mengikuti Marons dari belakang, karena Marons berjalan cepat dengan langkah panjangnya.
"Karena kau Kaliana, makanya aku minta tolong. Kalau dia, tidak akan, karena belum bangun. Bibi yang siapin pakaianku. Ayooo... Jangan bengong. Nanti baru ngobrol lagi." Marons segera masuk kamar dan langsung ke kamar mandi.
'Astagaaa... Dia tidak bilang pakaiannya ada di mana.' Kaliana berkata dalam hati, lalu membuka lemari-lemari yang ada di dalam kamar Marons.
'Astagaaa... Pakaian begini banyak, bagaimana pilihnya?' Tanya Kaliana dalam hati setelah menemukan lemari berisi jas digantungan berjejer. Kaliana mengambil kemeja, dasi dan jas lalu letakan di atas tempat tidur. Kemudian dia berjalan cepat keluar kamar sebelum Marons keluar kamar mandi.
"Ayooo, Putra. Jangan bicara apa pun dulu. Siapin semua peralatanmu, agar kita bisa jalan." Ucap Kaliana saat melihat Putra sudah bangun dan mandi. Putra mengangguk lalu masuk kembali ke kamar tamu.
"Ni, aku berangkat. Tolong kunci rumahnya. Kalau kalian masih di sini, info, ya. Biar aku bilang Bibi pulang ke sini." Marons berkata sambil berjalan keluar dengan dasi masih di tangan.
Kaliana segera berlari ambil air mineral hangat lalu berjalan cepat menyusul Marons yang sudah berada di dalam mobilnya. "Minum dan makan ini di jalan. Maaf, kami kesiangan, jadi tidak sempat siapin sarapan." Kaliana memberikan air mineral dan roti yang di pesan Yicoe untuk sarapan mereka.
Marons mengambil yang diberikan Kaliana lalu mengatakan 'TQ'. Kaliana mengangguk, lalu memberi semangat dengan mengepalkan tangan dan mengatakan 'sukses'.
Semua yang dilakukan Kaliana tidak luput dari perhatian Yicoe dan Novie yang sedang sarapan di meja makan. Begitu juga Putra yang sudah keluar dari kamar bersama Pak Yosa. Mereka semua tersenyum sambil melihat Kaliana yang baru masuk dengan berjalan cepat.
"Mengapa kalian senyum-senyum begitu? Apa sudah siap semua?" Tanya Kaliana, mengalihkan perhatian mereka darinya untuk fokus pada sarapan dan rencana mereka selanjutnya.
"Mbak Anna sudah seperti seorang istri yang mengantar suaminya berangkat kerja." Putra tidak bisa menahan ucapannya melihat yang dilakukan Kaliana. Hal itu membuat Yicoe dan Novie melempar dia dengan potongan roti. Putra menangkap potongan roti, lalu makan dengan wajah tersenyum, sambil mengangkat kedua jari ke arah Kaliana, tanda peace.
Kaliana mendekati Putra lalu memukul punggungnya, kemudian duduk di sampingnya untuk sarapan. "Kita segera ke kantor. Ada banyak yang mau kita kerjakan, sebelum aku bertemu dengan orang tua Ibu Chasina." Kaliana mengalihkan perhatian anggota team darinya dan Marons.
Dia menyadari, apa yang dilakukannya terhadap Marons tadi, memang seperti seorang istri. Hal itu baru disadarinya, setelah semua dilakukan. Dia hanya mengikuti insting dan dorongan hatinya.
...~°°°~ ~°°°~ ~°°°~...
Beberapa waktu kemudian, saat tiba di kantor mereka mulai sibuk. Putra merapikan semua peralatannya, lalu semua anggota team berkumpul di ruang meeting. Kaliana membicarakan rencana Pak Adolfis yang akan memakai jasa mereka untuk menolong Chasina.
Mendengar itu, semua anggota team tersenyum senang. Mereka akan sibuk lagi dan juga hanya meneruskan sedikit lagi penyelidikan mereka. Saat mereka sedang membahas semuanya, tiba-tiba Danny menghubungi Kaliana.
"Hallo, Mbak Anna. Sudah dihubungi Pak Adolfis?" Tanya Danny, saat Kaliana merespon panggilannya.
"Hallo, Pak Danny. Iyaa, Pak. Tadi malam, beliau sudah hubungi saya. Bagaimana, Pak?" Kaliana berkata sambil berpikir, apakah Danny sudah dihubungi untuk jadi pengacara Chasina.
"Oh, ok. Kalau begitu, kita bisa bertemu saat makan siang nanti? Ada yang mau aku bicarakan sebelum kita bertemu dengan beliau." Danny mau berbicara dengan Kaliana sebelum bertemu dengan Pak Adolfis berhubungan dengan peluang Chasina.
"Baik, Pak. Shareloc saja tempatnya, nanti saya ke sana." Ucap Kaliana, lalu mengakhiri pembicaraan mereka setelah saling memberikan salam.
Setelah berbicara dengan Danny, Kaliana kembali ke ruang meeting untuk berbicara dengan Putra. Dia ingin mengetahui perkembangan berita yang disampaikan Bram saat konferensi pers.
...~°°°~ ~°°°~ ~°°°~...
Di tempat lain; Setelah meeting, Marons bertemu dengan Ayahnya di ruang kerja. Ayahnya tidak kembali ke ruang kerja, tapi ikut Marons ke ruang kerjanya karena menyadari, Marons sedang menghindar untuk berbicara dengannya.
"Ada apa denganmu? Tadi kau hampir terlambat." Ayah Marons berkata sambil duduk di sofa yang ada di ruang kerja Marons.
"Tadi bangun kesiangan, Yah. Kemarin sampai tadi malam lumayan lelah, jadi tidur seperti kebo." Ucap Marons asal sambil duduk di sofa depan Ayahnya.
"Lalu apa yang terjadi dengan penampilanmu itu? Kenapa tiba-tiba berubah seperti itu?" Tanya Ayah Marons heran melihat Marons tidak mengenakan dasi saat meeting.
"Bukan berubah, Yah. Ini akibat kesiangan. Aku tidak pakai dasi dari rumah, turun dari mobil, dasinya ketinggalan. Yaaaa... weeesss... Ganti penampilan dikit dengan lepaskan kancing." Marons jadi tersenyum ingat semua yang terjadi tadi pagi.
Ayahnya hanya bisa menggelengkan kepala mendengar penjelasan putranya. "Lalu sekarang, jawab Ayah tentang semua yang terjadi tadi malam. Penjelasan polisi saat konferensi pers membuat Ayah makin tidak mengerti dan bingung." Pak Petter serius menatap Marons menanti jawabannya.
"Sebenarnya, aku mau bicara dengan Ayah setelah di rumah. Tapi karena Ayah sudah tanya, aku akan jelaskan yang bisa dijelaskan di sini saja. Pak Ewan berusaha menjebakku, supaya punya alasan dan bukti. Aku merencanakan pembunuhan terhadap anaknya." Marons langsung menjelaskan.
...~°°°~...
...~●○¤○●~...
haadeehh...aneh aneh rekan kerjamu bram🤦🤦