Tahun 2042.
Manusia hidup seperti biasa dengan teknologi modern. Tidak ada yang tahu bahwa energi spiritual di Bumi mulai bangkit kembali setelah menghilang selama ribuan tahun.
Arkana Wijaya, mahasiswa berusia 20 tahun, menjalani hidup biasa hingga menemukan cincin kuno peninggalan kakeknya. Saat darahnya menyentuh cincin itu, jiwa seorang kultivator legendaris dari ribuan tahun lalu terbangun.
Namun, alih-alih mengambil alih tubuh Arkana, jiwa itu justru menghilang setelah mewariskan seluruh ingatan dan teknik kultivasinya.
Arkana menjadi satu-satunya orang yang mengetahui cara kultivasi sejati.
Sementara dunia mulai berubah, organisasi rahasia, keluarga kuno, dan makhluk yang selama ini bersembunyi juga mulai bergerak.
Bumi ternyata hanyalah dunia tingkat terendah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bagus Dwi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 7: Pemurnian Inti dan Isyarat Bahaya
Arkana melesat menembus kegelapan malam Jakarta, menyelinap di antara celah-celah gedung bertingkat seperti sekelebat bayangan hantu. Tubuhnya yang telah diperkuat oleh ranah Spirit Gathering Tingkat Satu bergerak dengan efisiensi yang mutlak. Setiap kali kakinya menyentuh permukaan aspal atau dinding beton, energi perak di dalam dadanya meredam getaran suara, menjadikannya sepenuhnya tak kasat mata bagi sensor lingkungan yang bising. Hanya dalam hitungan menit, ia sudah kembali berada di dalam keamanan kamar kosnya yang sempit.
Ia segera mengunci pintu rapat-rapat, menarik napas dalam-dalam untuk menstabilkan aliran Qi yang sempat bergejolak akibat konfrontasi singkat di gang tadi. Suasana kamar kosnya yang berukuran tiga kali tiga meter itu terasa kontras dengan kekuatan dewa yang baru saja ia tunjukkan di dunia luar. Namun bagi Arkana, tempat kumuh ini adalah satu-satunya benteng perlindungan yang ia miliki saat ini.
Arkana duduk bersila di tengah lantai, mengeluarkan benda bulat sebesar kelereng dari saku jaketnya. Itu adalah Beast Core yang ia ambil dari dahi anjing mutan. Di bawah pencahayaan lampu neon darurat yang redup, inti tersebut tampak memancarkan pendaran warna merah darah yang kotor dan tidak stabil. Fluktuasi energinya terasa kasar, dipenuhi dengan residu emosi negatif—kemarahan, rasa lapar, dan kegilaan makhluk tersebut sebelum mati.
"Jika kultivator biasa memaksakan diri untuk menyerap energi sekotor ini, mereka pasti akan mengalami kerusakan pada Dantian mereka," batin Arkana, menatap jeli ke arah inti merah di telapak tangannya. "Tapi, Kitab Primordial Kaisar Abadi tidak memiliki batasan seperti itu."
Arkana memejamkan mata, memfokuskan pikirannya pada lembaran memori kuno yang terpatri di dalam jiwanya. Ia mencari teknik pemurnian energi tingkat dasar yang bisa digunakan oleh kultivator pemula di ranah Spirit Gathering. Detik berikutnya, sebuah mantra batin yang rumit namun familier mengalir dengan alami di benaknya: Teknik Api Pemurni Primordial.
Arkana mengangkat tangan kanannya, memposisikan Beast Core melayang tepat beberapa sentimeter di atas telapak tangannya. Pusaran energi di dalam Dantian-nya berputar cepat, mengirimkan gelombang Qi perak keemasan langsung menuju ujung-ujung jarinya.
Wusss!
Sebuah api imateriel berwarna perak redup meletup keluar dari telapak tangan Arkana, menyelimuti seluruh permukaan inti merah kotor tersebut. Api ini tidak memancarkan hawa panas fisik yang bisa membakar kamar kosnya, melainkan memancarkan tekanan spiritual yang sangat tinggi. Di bawah panggangan api perak tersebut, lapisan energi kotor dan residu kegilaan pada Beast Core perlahan-lahan mulai menguap ke udara, berubah menjadi asap hitam pekat yang langsung dihancurkan oleh medan energi Arkana sebelum sempat menyebar.
Proses pemurnian ini membutuhkan fokus yang luar biasa. Keringat dingin mulai membasahi pelipis Arkana saat ia dengan teliti memisahkan esensi energi murni dari racun-racun biologis yang melekat pada inti makhluk mutan tersebut. Perlahan namun pasti, warna merah darah yang kotor pada kelereng itu mulai memudar, digantikan oleh cairan kristal bening yang memancarkan cahaya spiritual yang sangat menenangkan.
Setelah setengah jam berlalu, Beast Core itu telah lenyap, berubah sepenuhnya menjadi setetes cairan energi spiritual murni berukuran sekecil biji kacang yang melayang di udara. Cairan itu berkilau dengan warna perak keemasan yang sangat pekat—indikasi dari Qi Primordial sejati.
Tanpa membuang waktu, Arkana membuka mulutnya dan menghirup cairan energi tersebut.
Gluk.
Begitu esensi murni itu masuk ke dalam tenggorokannya, Arkana merasa seolah-olah ia baru saja menelan sebongkah es abadi yang mencair. Energi dingin yang sangat masif langsung meledak di dalam perutnya, menyebar ke seluruh dua belas jalur meridian utamanya dengan kecepatan yang luar biasa. Pusaran Dantian-nya berputar dengan kecepatan tiga kali lipat dari biasanya, menyerap esensi tersebut dengan rakus.
Arkana mengatupkan giginya rapat-rapat, menahan gelombang energi yang mencoba memperluas kapasitas Dantian-nya secara paksa. Setiap inci dari jalur energinya meregang, memperkuat fondasi fisiknya hingga ke tingkat yang lebih dalam lagi. Dinding-dinding meridiannya yang semula tipis kini menjadi semakin tebal dan berkilau, mampu menampung volume Qi yang jauh lebih besar.
BOOM.
Sebuah letupan batin kembali terdengar di dalam kepala Arkana. Hambatan tak kasat mata yang membatasi kekuatannya runtuh. Energi perak di dalam tubuhnya mendadak berlipat ganda, menjadi lebih padat dan lebih patuh di bawah kendali kehendaknya.
Arkana membuka matanya, mengembuskan napas yang membawa kilatan cahaya perak samar.
"Spirit Gathering Tingkat Satu... Puncak," gumam Arkana dengan kepuasan yang mendalam. "Hanya dengan satu inti makhluk mutan tingkat rendah, aku sudah berada di ambang batas untuk menerobos ke Tingkat Dua. Jika aku bisa menemukan lebih banyak makhluk seperti ini atau wilayah dengan kepadatan Qi yang tinggi, proses kultivasiku akan melesat tanpa batas."
Namun, waktu beristirahat Arkana tidak berlangsung lama.
BZZZZT! BZZZZT! BZZZZT!
Tablet transparan di atas meja belajarnya tiba-tiba bergetar hebat. Layarnya berkedip-kedip dengan warna merah menyala, menandakan adanya panggilan darurat yang masuk secara berulang-ulang. Arkana mengernyitkan dahi, melangkah mendekat dan melihat nama yang tertera di layar.
Dani.
Arkana segera menggeser layar untuk menerima panggilan tersebut. Begitu sambungan terhubung, sebuah proyeksi holografik wajah Dani muncul di udara. Wajah sahabatnya itu tampak sangat pucat, dipenuhi oleh peluh, dan matanya memancarkan ketakutan yang luar biasa. Latar belakang tempat Dani berada tampak gelap, dengan suara raungan angin dan suara dentuman keras yang terdengar berulang kali dari kejauhan.
"Arka! Tolong... Tolongin gua, Ka!" suara Dani bergetar hebat, hampir menangis. Ia berbicara dengan setengah berbisik, seolah-olah sedang bersembunyi dari sesuatu yang sangat berbahaya.
"Dan, tenang. Lo di mana sekarang? Apa yang terjadi?" tanya Arkana, suaranya yang berat dan tenang seketika memberikan sedikit jangkar psikologis bagi Dani yang sedang panik.
"Gua... gua gak di rumah gua, Ka! Tadi setelah pulang dari kampus, sepupu gua yang tinggal di kompleks elite perumahan Puri Indah nelpon gua. Dia ketakutan karena seluruh sistem keamanan siber di kompleksnya mendadak mati total," ucap Dani dengan napas yang memburu. "Gua mutusin buat ke sini buat bantu dia periksa sistemnya. Tapi... tapi begitu gua nyampe, tempat ini berubah jadi neraka, Ka!"
Arkana mendengarkan dengan saksama, matanya menyipit tajam. "Neraka gimana maksud lo?"
"Ada orang-orang... mereka gak pakai seragam militer atau polisi, Ka. Mereka pakai jubah tradisional hitam panjang tapi bergerak secepat setan! Mereka ngejebol rumah-rumah mewah di sini. Mereka punya daftar nama!" Dani menelan ludah dengan susah payah, memutar kameranya sejenak untuk memperlihatkan situasi luar jendela tempatnya bersembunyi.
Melalui tangkapan kamera tablet, Arkana bisa melihat pemandangan sebuah kompleks perumahan elite masa depan dengan arsitektur megah yang kini dipenuhi oleh kobaran api. Beberapa mayat penjaga keamanan swasta tergeletak di atas jalanan paving blok. Di tengah kekacauan itu, tampak beberapa sosok manusia berpakaian jubah hitam panjang sedang menyeret paksa seorang pemuda dan seorang gadis remaja keluar dari rumah mereka. Para penyerang itu bergerak dengan kekuatan fisik yang tidak masuk akal—mengangkat tubuh manusia hanya dengan satu tangan dan melompat melewati pagar setinggi tiga meter tanpa kesulitan sedikit pun.
"Mereka nyulik orang-orang yang semalam dapet hasil skrining tinggi di forum fana atau yang nunjukin tanda-tanda adaptasi partikel E-01, Ka!" bisik Dani lagi, wajahnya kembali muncul di layar dengan air mata yang mulai menetes. "Sepupu gua... dia dapet hasil skrining dua puluh persen tadi sore dari klinik swasta. Sekarang mereka lagi ngebongkar gerbang depan rumah sepupu gua! Gua sembunyi di dalam bunker bawah tanah, tapi pintu besinya gak bakal bertahan lama kalau mereka punya kekuatan monster kayak gitu! Tolong gua, Ka... gua gak tahu harus minta tolong ke siapa lagi. Polisi gak ada yang dateng, sinyal darurat diblokir!"
Melihat visualisasi tersebut, insting dan memori kuno di dalam kepala Arkana langsung beresonansi dengan kuat. Pola gerakan para penyerang itu, cara mereka memanipulasi sedikit energi di sekitar kaki dan tangan mereka... mereka bukan sekadar manusia super amatir. Mereka adalah para praktisi bela diri sekte atau bagian dari organisasi rahasia yang telah memiliki fondasi kultivasi dasar, bergerak di bawah bayang-bayang untuk mengumpulkan komoditas paling berharga di era yang baru ini: manusia berbakat khusus.
Sesuai dengan cetak biru yang ada di dokumen Rencana Novel Kebangkitan Kaisar Abadi, ini adalah awal dari kemunculan Organisasi Rahasia yang mulai bergerak secara agresif untuk memonopoli sumber daya manusia sebelum pemerintah bisa mengambil kendali penuh.
"Dani, dengerin gua baik-baik," ucap Arkana, berdiri tegak dengan aura yang perlahan mulai berubah menjadi sangat dingin dan menekan. "Tetap di dalam bunker. Matikan semua sumber cahaya di dalam sana. Jangan bersuara sedikit pun. Gua bakal sampai di sana dalam lima menit."
"Li-lima menit? Ka, jarak kos lo ke sini itu hampir sepuluh kilometer—"
Sebelum Dani sempat menyelesaikan kalimatnya, Arkana sudah memutus sambungan panggilan. Ia menarik dalam-dalam tudung hoodie hitamnya, memastikan wajahnya tertutup sempurna oleh bayangan. Jari tengah tangan kanannya berkilat sesaat ketika Cincin Kaisar Abadi mendeteksi niat membunuh yang murni dari pemiliknya.
Arkana melangkah menuju pintu balkon, membukanya lebar-lebar, dan menatap ke arah kabut hijau keunguan yang menyelimuti langit Jakarta Barat. Di matanya, tidak ada lagi keraguan. Ini adalah ujian nyata pertamanya sebagai seorang kultivator sejati melawan sesama pengguna kekuatan di dunia modern.
Sret!
Dengan satu sentakan kaki yang diperkuat oleh Qi Primordial ranah puncak Spirit Gathering Tingkat Satu, tubuh Arkana melesat keluar dari balkon kosnya, terbang menembus malam secepat peluru perak yang membelah kegelapan kota. Pertempuran di bawah bayang-bayang organisasi rahasia baru saja dimulai.