Berbekal ponsel hitam tanpa merek dengan AI yang sangat sarkastis, Reno mendadak menjadi peretas paling dicari oleh komplotan mafia teknologi. Di tengah pelarian yang menegangkan, Reno tidak hanya harus menghindari peluru, tetapi juga harus menahan malu karena asisten digital di ponselnya yang justru sering menjebaknya dalam situasi paling absurd
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Khusus Game, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 18: Salah Paham yang Manis
Suara decitan engsel pintu kaca lobi utama fakultas teknik itu mendadak mengalihkan ketegangan luar biasa yang sedang menyelimuti Reno dan Luna.
Seorang pemuda berpenampilan necis melangkah keluar dari dalam gedung dengan gaya berjalan yang sangat arogan dan memuakkan.
Dika memicingkan matanya menatap pemandangan absurd yang sedang tersaji tepat di koridor belakang kampus pada pagi buta ini.
Reno masih mematung kaku di depan mobil katering penyok itu dengan tubuh gemetar dan keringat dingin yang mengucur deras.
{Kalau Dika sampai mendengar aku menuduh pengantar nasi kotak ini sebagai penculik mafia, reputasiku akan hancur lebur selamanya di kampus ini.}
Otak kurus Reno langsung bekerja dengan kecepatan setara mesin prosesor ganda demi merangkai sebuah kebohongan darurat yang paling masuk akal.
Ia segera mengubah postur tubuhnya yang tadinya membungkuk ketakutan menjadi berdiri tegap dengan dada sedikit dibusungkan ke depan.
"Aku sedang berlatih metode aksi parkour ekstrem untuk persiapan audisi teater kampus yang akan diadakan bulan depan, Luna."
Kalimat bualan itu meluncur begitu saja dari mulutnya dengan nada suara yang sengaja dibuat terdengar sangat meyakinkan dan penuh percaya diri.
Luna menatap cekungan pada pintu mobil katering itu dengan kedua alis yang masih bertaut memancarkan kebingungan mendalam.
"Latihan teater macam apa yang mengharuskanmu menendang mobil pengantar makanan sampai penyok parah di koridor sepi begini?"
Pertanyaan kritis dari gadis berprestasi itu langsung menghantam mental Reno bagaikan sebuah pukulan telak tepat di ulu hati.
Reno menggaruk tengkuknya yang sama sekali tidak gatal sambil memutar otak mencari kelanjutan skenario palsunya agar tidak terdengar semakin konyol.
"Ini adalah bagian dari adegan klimaks di mana karakter utamanya harus menghentikan kendaraan penjahat menggunakan kekuatan fisiknya sendiri secara heroik."
Ia menggerakkan kedua tangannya mempraktekkan gaya bertarung imajiner untuk menambah bumbu dramatis pada kebohongannya tersebut.
Sopir katering bertubuh tambun di dalam mobil itu masih terus menggedor kaca jendela dengan wajah yang memerah padam menahan amarah tingkat tinggi.
Reno menyadari bahwa ia harus segera membebaskan pria paruh baya malang itu sebelum pihak keamanan kampus benar-benar dipanggil ke lokasi kejadian.
Tangan kanannya merogoh saku celana jogger pinjamannya dengan gerakan perlahan agar tidak mengundang kecurigaan dari sepasang mata tajam Luna.
Ia menekan permukaan layar sentuh ponsel X-Phreak 9000 dari luar kain celana secara membabi buta sambil menggumamkan perintah pelan.
"Siri-usly, buka kunci hidrolik pintu mobil itu sekarang juga sebelum bapak gemuk ini mati lemas kehabisan oksigen di dalam sana."
Sebuah getaran mekanik yang sangat halus terasa merambat ke paha Reno, merespons perintah darurat tersebut dalam hitungan milidetik.
Teks biru menyala itu terpampang di layar gelap ponselnya, menyajikan sebuah hinaan digital yang sama sekali tidak memedulikan tingkat kepanikan pemiliknya.
||||
Bunyi klik keras terdengar dari arah engsel pintu van hitam tersebut, menandakan bahwa sistem keamanannya telah kembali ke fungsi normal pabrik.
Sopir bertubuh tambun itu langsung mendorong pintunya dengan tenaga bantingan yang luar biasa kuat hingga nyaris mengenai lengan Reno.
"Bocah kurang ajar, kau harus menanggung seluruh biaya perbaikan pintu operasional ini sekarang juga atau aku akan menyeretmu ke ruang dekanat!"
Pria bercelemek motif bunga itu menunjuk-nunjuk kasar tepat di depan wajah Reno dengan napas yang memburu cepat.
Reno segera merogoh saku celananya yang lain, menarik keluar beberapa lembar uang pecahan besar yang kebetulan sengaja ia pinjam dari dompet Radit semalam.
"Ini kompensasi penuh untuk biaya perbaikan pintunya di bengkel, saya benar-benar minta maaf karena terlalu menghayati peran adegan laga saya."
Ia menyelipkan lembaran uang tersebut ke dalam saku kemeja sang sopir dengan gerakan yang luar biasa cepat dan kaku.
Sopir katering itu menghitung nominal uang yang diterimanya sekilas, lalu mendengus kasar menyadari jumlahnya lebih dari cukup untuk memperbaiki penyok kecil tersebut.
"Lain kali cari dinding beton kosong untuk latihan menendangmu itu, jangan menjadikan mobil orang yang sedang mencari nafkah sebagai target sasaran!"
Pria paruh baya itu kembali masuk ke dalam kursi kemudinya, menyalakan mesin van hitam tersebut dan melaju pergi meninggalkan area koridor dengan kesal.
Reno menghela napas lega yang luar biasa panjang, merasa sebuah batu besar baru saja diangkat paksa dari atas rongga dadanya.
Ia perlahan membalikkan badannya untuk kembali menatap wajah Luna yang sedari tadi menjadi saksi bisu dari seluruh negosiasi konyol tersebut.
Gadis idaman jutaan umat itu justru menyunggingkan sebuah senyum tipis yang memancarkan aura ketertarikan aneh di sudut bibirnya.
Luna diam-diam memang memiliki kelemahan khusus terhadap pria-pria misterius yang berani melakukan tindakan ekstrem dan sedikit berbahaya di luar nalar.
Aksi tendangan nekat Reno ke arah mobil van hitam barusan entah mengapa berhasil memicu sedikit kekaguman tersembunyi di dalam hatinya yang sulit ditebak.
"Kamu benar-benar pria yang penuh dengan kejutan tak terduga setiap harinya, Reno."
Pujian bernada lembut itu meluncur begitu saja dari bibir Luna, sukses membuat aliran darah Reno berdesir hebat melupakan seluruh ketakutannya barusan.
{Apakah angka ketertarikan tiga persen itu baru saja melonjak naik berkat kebohongan latihan parkour konyol ini?}
Reno membusungkan dadanya semakin ke depan, merasa telah kembali mendapatkan gelar pahlawan kampus yang sempat hilang dari genggamannya beberapa menit lalu.
"Aku rela melakukan latihan berbahaya apa pun demi memastikan penampilanku tidak mengecewakan para penonton panggung nanti."
Ia melontarkan kalimat sok keren tersebut dengan tatapan mata yang sengaja dibuat sedikit sayu dan menawan.
||||
Suara tepuk tangan tunggal yang bertempo lambat dan sangat sarkastis tiba-tiba menggema memantul di dinding koridor beton.
Dika melangkah santai menghampiri mereka berdua, kedua tangannya terus bertepuk tangan dengan raut wajah meremehkan yang sangat kental.
"Latihan parkour ekstrem sungguh sebuah alasan yang sangat kreatif untuk menutupi tingkat kecerdasanmu yang sangat menyedihkan itu."
Pemuda pewaris kekayaan itu berhenti tepat di samping Luna, menatap rendah ke arah pakaian pinjaman Reno yang ukurannya sama sekali tidak pas di badan.
"Pria sejati tidak memamerkan kekuatan fisiknya dengan cara merusak kendaraan pengantar makanan kampus yang tidak berdaya."
Dika melipat kedua lengannya di depan dada, mencoba mengambil alih kendali situasi dan memamerkan dominasi maskulinnya di hadapan Luna.
Reno mengepalkan tangannya kuat-kuat, merasa sangat muak dengan campur tangan musuh bebuyutannya yang selalu datang di saat yang tidak tepat.
"Setidaknya aku berani melakukan tindakan nyata, tidak seperti seseorang yang hanya bisa menyewa pemain biola lalu lari terbirit-birit karena hujan buatan."
Sindiran tajam dari Reno itu langsung mengenai titik kelemahan terbesar Dika mengenai insiden memalukan di kafe mewah semalam.
Wajah Dika seketika memerah padam menahan amarah yang meledak mendadak, rahangnya mengeras memperlihatkan urat-urat kemarahan yang menonjol jelas.
"Kalau kau memang merasa fisikmu sehebat pahlawan teater, buktikan nyalimu melawanku secara jantan besok siang."
Pemuda sombong itu mencondongkan tubuhnya ke depan, memberikan sebuah tantangan langsung yang sangat mengintimidasi nyali lawannya.
"Aku menantangmu duel tanding basket satu lawan satu di lapangan utama kampus untuk memperebutkan hak mutlak mendekati Luna."
Mata Reno langsung membelalak lebar mendengar jenis olahraga yang baru saja disebutkan oleh musuh alaminya tersebut.
{Bermain basket satu lawan satu melawan Dika yang merupakan mantan kapten tim sekolah adalah definisi dari aksi bunuh diri secara sukarela di depan umum.}
Ia sama sekali tidak pernah menyentuh bola basket seumur hidupnya, boro-boro memahami aturan dasar mengenai cara menggiring bola yang benar.
Namun, tatapan mata Luna yang saat ini sedang menatap lurus ke arahnya seolah sedang menunggu jawaban heroik atas tantangan tersebut.
Ego kelelakian Reno langsung mengambil alih seluruh fungsi logika waras di kepalanya, menolak terlihat lemah di hadapan gadis pujaannya.
"Aku terima tantangan konyolmu itu, bersiaplah untuk menanggung malu di hadapan seluruh mahasiswa fakultas kita besok siang."
Kalimat persetujuan itu meluncur tanpa bisa ditarik kembali, mengunci nasib Reno ke dalam sebuah pertarungan olahraga yang sangat mustahil untuk ia menangkan.
Dika tersenyum licik dengan kepuasan tingkat tinggi, merasa telah berhasil menjebak mahasiswa abadi itu ke dalam area keahlian terbaiknya.
"Kita lihat saja besok siapa yang akan menjadi pecundang sejati di tengah lapangan basket itu, Reno."
Pemuda berjaket kulit mahal itu membalikkan badannya, melangkah pergi meninggalkan mereka berdua dengan tawa arogan yang bergema sepanjang lorong.
Reno menelan ludah kasarnya yang terasa sepahit empedu, menyadari sepenuhnya bahwa ia baru saja menggali kuburannya sendiri secara sangat dalam.
Ponsel hitam di dalam sakunya mendadak bergetar cukup kuat, menyalurkan sebuah pesan peringatan dari kecerdasan buatan yang sudah membaca ketakutan pemiliknya.
semoga happy ending thor jangan bad ending im already tired for bad ending