Setelah bercerai, lalu mengundurkan diri sebagai seorang Ajudan pribadi. Akhirnya pria yang akrab disapa 'Jo' itu kembali menerima sebuah tawaran pekerjaan dari Denis yang tak lain adalah temannya saat sejak masih SMA.
Dia yang biasanya mengawal wanita-wanita paruh baya, seorang istri dari beberapa petinggi. Kini dia di hadapkan dengan seorang gadis keras kepala berusia 20 tahun, Jasmine Kiana Danuarta. Sosok anak pembangkang, dengan segala tingkah laku yang membuat kedua orang tuanya angkat tangan. Hampir setiap Minggu terkena razia, entah itu berkendara ugal-ugalan, membawa mobil di bawah pengaruh alkohol, ataupun melakukan balapan liar. Namun itu tak membuatnya jera.
Perlahan sifat Kiana berubah, saat Jo mendidiknya dengan begitu keras, membuat sang Ayah Danuarta meminta sang Bodyguard pribadi untuk menikahi putrinya dengan penuh permohonan, selain merasa mempunyai hutang budi, Danu pun percaya bahwa pria itu mampu menjaga putri semata wayangnya dengan baik.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anggika15, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bodyguard.
Jovian duduk di bangku kayu yang tersedia di luar toko. Melipat kedua tangan di atas dada, dengan pandangan memincing tajam penuh selidik. Memperhatikan gelagat teman-teman Kiana, yang menurutnya sedikit melampaui batas di balik kacamata hitamnya.
Bagaimana bisa mereka begitu berani. Membawa semua barang yang mereka mau tanpa banyak berpikir, sementara Kiana. Gadis itu hanya memilih beberapa pakaian, itupun tak membuat gadis itu memasukan kedalam kantung belanjanya.
Tubuh tinggi besar, memakai setelah kerja serba hitam, sangat terlihat kontras dengan kulit tubunya yang berwana putih bersih. Belum lagi rambut sedikit memanjang dan tidak terlalu rapih, juga hidung mancung yang menjadi penyangga kacamata hitam milik Jovian, membuat pria itu benar-benar terlihat sangat ideal juga tampan.
Beberapa pengunjung mall menoleh ketika melintas tepat di hadapan Jovian. Namun pria itu tampak tidak peduli sama sekali. Tentu saja perhatiannya terus tertuju kepada Kiana, gadis keras kepala, pembangkang, tapi bodoh.
Menurutnya.
"Lo ambil apa aja?" Zayna bertanya kepada kedua teman perempuannya, Sharla, juga Starla.
Kedua tersenyum penuh arti, lalu memperlihatkan tas belanjaan masing-masing.
"Gila! Lo ambil banyak banget, ada berapa pasang baju?" Zayna bertanya sembari menggeleng-gelengkan kepala.
"Gue lima pasang, nggak tau Starla." Ucap Sharla.
"Gue tujuh, sama sepatu udah di meja kasir." Starla mengembangkan senyumannya.
"Coba liat punya lo Za!" Sharla berujar.
Dia mendekat dan membuka tas belanjaan milik ketua geng mereka.
"Astaga, lo nggak salah? Banyak banget rok sama crop top!" Ucap keduanya tidak percaya.
"Mumpung ada yang bayarin, nggak usah capek-capek nguras isi tabungan gue. Belanja segini doang mah nggak ada apa-apanya buat Kiana yang seorang anak dari pemilik tambang batubara!" Katanya lalu terkekeh pelan.
Sementara Hilmi sibuk memilih sepatu, dan hanya Kevin yang dia memperhatikan Kiana terus menerus.
"Vin, ambil aja yang mau kamu ambil. Limitnya masih banyak banget kok, nggak bakalan langsung habis, apalagi cuma pakaian atau sepatu."
Kevin menggelengkan kepala.
"Uangku ada jika mau, tidak usah memanfaatkan uangmu. Hanya saja pakaianku di rumah masih layak pakai semua, … jadi untuk apa." Pria itu berujar.
Kiana hanya tersenyum, dan melanjutkan melihat-lihat beberapa pakaian yang menurutnya begitu menarik.
***
Jovian menghela nafasnya, mengangkat tangan kiri untuk melihat arloji yang melingkar di pergelangan tangannya.
Hampir 2 jam berlalu, dia berdiam diri menunggu para anak muda yang sedang berbelanja. Namun tak kunjung memperlihatkan tanda-tanda jika mereka telah selesai. Jovian segera berdiri, merapihkan setelan jas yang dia kenakan, kemudian berjalan memasuki salah satu toko dengan brand ternama di Indonesia.
"Kiana waktumu habis!" Panggil Jovian dengan nada bicara yang terdengar begitu menyeramkan.
Kiana yang sudah berdiri di depan meja kasir pun menoleh, dia terlihat sangat santai. Sementara teman-temannya terlihat sedikit was-was dan ketakutan. Kecuali Kavin yang memang lebih santai dalam pembawaannya.
"Totalnya 25 juta, dua ratus lima puluh ribu rupiah." Kasir berbicara.
"25 juta! Itu hanya untuk membayar belanjaan teman-temannya." Batin Jovian berbicara.
"Terimakasih, Mas, … Mbak!" Kiana berkata sesaat setelah menerima kartu kredit miliknya.
Hilmi, Sharla, Zayna dan Starla membawa barang belanjaan masing-masing. Tapi tidak dengan Kiana juga Kevin, mereka keluar dengan tangan kosong.
"Kartunya!" Jovian menadahkan tangan ketika gadis itu melintas di hadapannya.
"Apa?" Kiana bereaksi.
"Kartunya, mana?"
"Tapi …"
"Kartunya Kiana!"
Gadis itu mendengus sebal, bahkan matanya mendelik jengah, dengan satu kaki dia hentakan di atas lantai, lalu memberikan kartu yang Jovian minta dengan perasaan tidak rela.
Jovian menarik kartu tersebut dengan sedikit memaksa, lalu memasukan kedalam saku jas yang dia kenakan.
"Nyebelin banget sih jadi Bodyguard!" Kiana menggerutu.
Jovian bersikap santai. Dia bahkan tak terganggu dengan kata-kata kasar yang gadis itu tujukan kepada dirinya. Dia terus berjalan, melewati beberapa eskalator, sampai Jovian benar-benar sampai di parkiran mobil, dan menunggu gadis yang berada dalam pantauannya berpamitan dengan beberapa temannya.
"Bye, sampai ketemu lusa yah!" Kiana melambaikan tangan.
"Kia, … thanks ya! Jangan pernah bosen belanjain kita." Sharla, Zayna, Hilmi, dan Starla berteriak di dalam mobil milik Kevin.
Kiana hanya tersenyum dan membalas lambaian tangan teman-temannya.
"Kia, aku pulang oke?" Pamit Kevin saat mobilnya melintas di hadapan gadis itu.
"Iya, Vin. Hati-hati!"
Mobil SUV itu melaju dengan kencang, keluar dari area parkir terlebih dahulu. Sementara Kiana baru saja menggapai handle pintu mobil, kemudian masuk, di susul Jovian setelahnya.
Tanpa banyak berbicara Jovian menghidupkan mesin mobilnya, menginjak pedal gas perlahan-lahan sampai kendaran roda empat yang berada di bawah kendalinya melaju dengan kecepatan sedang.
Keadaan cukup hening. Tidak ada yang memulai pembicaraan. Kiana hanya diam memandang ke arah samping, begitupun dengan Jovian yang terus memfokuskan diri pada jalanan di hadapannya.
Kiana mulai terlihat tidak nyaman. Dia meraih salah satu tombol sampai musik di dalam mobil miliknya mulai mengalun.
"Sepi banget kaya di kuburan." Kiana berujar.
Jovian hanya melirik, dan tidak berniat menjawab ucapan putri dari bosnya.
"Sudah dingin, hambar lagi. Kaya air mineral!" Celetuk Kiana dengan nada sindiran.
Jovian melirik sebentar, menatap Kiana tajam.
"Jaga ucapanmu. Usiaku ini jauh di atasmu, maka bersopan santunlah seperti anak-anak berpendidikan pada umumnya." Balas Jovian.
"Dih!" Gadis itu berdecih, dan tersenyum mengejek.
"Kau ini ingin berbuat licik. Sikapmu di hadapanku, dengan sifatmu di hadapan Pak Danu sangatlah berbeda. Tapi aku tidak mau membahas itu, yang ingin aku bahas cara kamu bersikap kepada teman-temanmu, … apa kau tidak sadar jika mereka menganggap kau bodoh!?"
Kiana bungkam, dia menoleh.
"Om jangan sok tahu!" Kiana tersenyum miring, lalu melipak kedua tangannya di atas dada.
Laju mobil melambat, dan benar-benar berhenti tepat di belakang beberapa mobil yang juga ikut mengantri, ketika lampu lalu lintas berubah menjadi merah.
"Dari semua temanmu. Yang benar-benar tulus hanya dua pria muda tadi!" Ucap Jovian tanpa mengalihkan pandangan.
"Aku bilang Om jangan sok tahu! Mereka teman-teman aku, yang tahu ya pasti aku!"
Kali ini Jovian benar-benar mengalihkan pandangan kepada Kiana. Gadis keras kepala yang begitu bodoh akan seuatu yang berada di dekatnya.
"Kau ini sebenarnya sadar kau sedang di manfaatkan. Hanya saja kau sedang takut tidak mempunyai teman, karena mereka seperti itu, … sedikit saja kau tidak menuruti kemauan mereka! Maka mereka akan meninggalkanmu begitu saja tanpa sebuah alasan."
Tatapannya begitu tajam, ekspresi wajahnya begitu dingin, bahkan suasana terasa semakin canggung sampai membuat Kiana mengalihkan pandangannya ke arah lain.
"Aku tidak suka ada orang baru yang bersikap seolah peduli. Om tidak tahu apa-apa, jadi jaga batasan yaa! Om cuma suruhan Papa, jadi tidak usah berlebihan mengomentari bagaimana aku dan teman-temanku."
"Dasar benar-benar bodoh!" Gumam Jovian.
Pria itu kembali melajukan mobilnya dengan sangat perlahan-lahan, melaju di belakang antrian mobil dan motor lainnya yang baru saja kembali melajukan kendaraan masing-masing.