NovelToon NovelToon
Air Mata Pengantin

Air Mata Pengantin

Status: tamat
Genre:Romantis / Misteri / Komedi / Tamat
Popularitas:2.5M
Nilai: 4.9
Nama Author: @Alyazahras

Kisah ini dibumbui dengan air mata, emosi, kesabaran, perjuangan, kecerdasan, dan permainan otak.

Berawal dari dilecehkan calon suaminya, hamil, lalu keguguran, dijebak sampai terkena sindrom trauma pelecehan seksual dan dikhianati orang-orang kepercayaan sampai gagal menikah di hari-H. Tidak hanya disitu, setelah dia menikah dengan pemuda kaya nan rupawan dari Negeri Ginseng yang telah menyelamatkan hidupnya, wanita ini harus menghadapi beberapa wanita pengganggu yang sering kali ingin merebut suami berharganya. Namun, saat ini tidak mudah untuk berhadapan dengannya, karena dia wanita tangguh, cerdik dan pandai bersilat lidah.

Aku sarankan jangan mengusik ketenangannya, apalagi sampai berniat merebut suaminya! Kalau tidak, hidup kalian akan dibuat merana seperti para pelakor yang ada di dalam cerita ini. Yuk, simak, cerita yang bikin greget gemes degdeg serrr ini...

...

Mampir juga ke karyaku yang lainnya, 'Istri Kecil Yang Nakal' sangat direkomendasikan!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon @Alyazahras, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Keseleo

.

Setelah sampai di Supermarket, Leo melihat Esme yang tengah disibukan oleh pekerjaannya. Tatapan matanya begitu fokus dan jeli. Ia jadi tak berani mengganggunya, karena jika pekerjaan Esme terganggu, itu hanya akan membuat perusahaannya rugi.

Akhirnya, Leo kembali lagi masuk kedalam mobilnya yang sedang terparkir. Ia berusaha menunggu pekerjaan Esme selesai.

Beberapa jam pun telah berlalu, hari sudah hampir sore. Leo tertidur didalam mobilnya, karena menunggu Esme sangatlah memakan banyak waktu.

Tiba-tiba terdengar suara klakson mobil yang sangat berisik, hingga membuat Leo terhentak kaget, sontak ia terbangun dari tidurnya dan mengerjapkan kedua mata.

Suara klakson mobil itu semakin berisik.

Leo mengernyit penasaran, kemudian ia keluar dari mobilnya dan melihat apa yang terjadi.

Saat berjalan mendekati sumber suara, Leo melihat kerumunan banyak orang di satu titik dengan keadaan lalulintas yang macet. Sontak saja, jiwa penasarannya semakin menjadi. Ia jadi tak enak hati, mengkhawatirkan keadaan Esme.

Kemudian, Leo berjalan cepat menyusup masuk ke dalam kerumunan orang-orang itu.

Deg!!!

Matanya terbelalak setelah melihat Esme yang sedang berjalan tertatih-tatih dibantu oleh seorang pria, pria itu tak lain adalah Dirga, wakil direktur yang hari ini ikut serta membantu pekerjaan Esme di Supermarket itu.

Dirga menyuruh Esme untuk merangkulkan tangannya pada bahu Dirga. Dengan raut wajah yang mengernyit kesakitan, Esme pun berusaha menggapai bahu Dirga.

Tapi itu semua terhenti, saat Leo mendorong kasar tubuh Dirga dengan tatapan penuh kecemasan, hingga tubuh Dirga hampir saja terguling ke aspal.

Leo langsung merangkul tubuh Esme.

"Esme, apa yang terjadi?" tanya Leo sangat cemas, ia menatap pergelangan kaki Esme yang memerah.

"Uh, cepat bawa aku ke tepi jalan!" bisik Esme, dengan mata yang melirik sekeliling karena banyak pejalan kaki yang menatap ke arahnya.

Bukan hanya di papah berjalan, tapi Leo langsung menggendong tubuh Esme dipangkuannya tanpa basa-basi lagi. Sontak saja, adegan yang hanya terdapat di film itu menjadi sorotan utama para pedagang kaki lima, para pejalan kaki dan para pengendara mobil maupun motor, karena Supermarket ini berada di pusat perbelanjaan yang sangat ramai.

Leo meninggalkan Dirga begitu saja, dan kini hanya memokuskan pikirannya pada keadaan Esme. Ia membawanya masuk kedalam mobil, dan mengangkat kaki kiri Esme lalu meletakannya di atas kedua pahanya.

Leo memeriksa pergelangan kaki Esme yang semakin memerah. Perlahan ia menyentuhnya. "Apa yang terjadi? Kenapa bisa separah ini?" tanya Leo, cemas.

Esme terjeda sesaat, ia mengingat kejadian hari ini, pekerjaannya menjadi tidak fokus karena memikirkan perkataan Balmond, hingga saat Esme akan menyeberang jalan kakinya terkilir karena ia melamun, dan membuat heelsnya patah.

Maka dari itu, Dirga yang melihat Esme terjatuh di tengah jalan langsung menghampirinya dengan menyetop pengendara yang saat itu sedang melaju dengan kecepatan tinggi.

"Esme!" Panggil Leo, dengan tatapan terheran, karena Esme melamun, entah sedang memikirkan apa menurutnya.

"ESMERALDA!!" panggilnya lagi dengan nada sedikit meninggi.

Nada bicara Leo itu membuat Esme langsung tersadar, lamunannya pun membuyar.

"Ah! Mm... heels ku patah. Tidak terlalu parah kok sakitnya," jawab Esme terbata-bata, sambil mengembalikan posisi kaki kirinya yang dari tadi berada di atas paha Leo.

"Tidak parah bagaimana? Pergelangan kakimu sampai merah begitu, kau juga kesusahan berjalan 'kan?" bantah Leo dengan nada suara meninggi.

Kemudian, ia merogoh saku bajunya dan mengambil ponselnya. Leo menelepon sekretarisnya. "Halo, Maria. Buat peraturan baru untuk besok. Perintahkan pada semua pegawai wanita, jangan ada lagi yang memakai hak tinggi dengan ketinggian lebih dari 3cm!" Leo langsung menutup panggilan itu.

Esme terjeda sesaat setelah mendengarnya.

Ia merasa dirinya begitu di khususkan oleh Leo.

Kemudian, Leo segera memasang sabuk pengaman untuk Esme, dan mulai menginjak pedal gas.

Mobil pun melaju.

Di tengah perjalanan, Esme menatap heran karena jalan yang dituju bukan menuju ke arah rumahnya. Esme pikir Leo akan mengantarnya pulang.

"Hey, kita mau kemana?" tanya Esme dengan raut wajah penasaran. "Aku harus kembali ke perusahaan, mengambil mobilku," sambungnya.

"Kau tidak di perbolehkan masuk kerja, besok. Aku akan menyuruh seseorang mengantarkan mobilmu kerumah. Dan, jangan membantah!" katanya.

Tiba-tiba saja, Leo menginjak rem mendadak, seketika mobil itu terhenti. Hingga membuat Esme terkejut. "Esme, aku ...," Leo menghela nafasnya. "Aku minta maaf tentang kejadian di club malam ini. Maaf, aku kehilangan akal sehatku," Leo mengecam dirinya.

Esme terjeda sesaat, ia kembali terpuruk saat Leo mengungkit kejadian malam itu. Kemudian, memalingkan wajahnya ke arah luar jendela mobil, dengan wajah termenung.

"Aku sudah berusaha untuk tidak mengingatnya. Jadi, kau jangan mengungkit-ungkit lagi masalah semalam." Mata Esme mulai memerah, ia menahan agar air matanya tidak terjatuh karena kejadian semalam membuat jiwanya melemah.

"Mm... apa kau tidak marah atau menyesal?" tanya Leo, ragu-ragu.

Esme menarik nafas yang kini sudah terasa berat. Ia memejamkan kedua matanya.

"Apa kau pikir aku sedang menjual diri? Tentu saja, pada awalnya aku sangat marah dan benci padamu juga pada diriku sendiri yang begitu ceroboh. Penyesalanpun tidak akan berguna lagi, karena itu tidak akan mengembalikan keperawananku seperti semula. Lantas aku harus bagaimana? Menuntutmu? Toh beberapa minggu lagi, kita akan segera menikah. Kau akan bertanggung jawab atas hal itu," ucap Esme dengan nada bicara meninggi, meluapkan kekesalan didalam benaknya.

Leo tak tega melihat Esme seterpukul itu karena ulahnya. Kedua bola mata dan raut wajahnya begitu sedih, dengan kekecewaan yang begitu mendalam.

Ternyata, perlakuan cerobohnya itu berdampak sangat besar bagi kehidupan Esme. Leo langsung meraih wajahnya dan mendekap tubuhnya.

"Mungkin beribu kata maaf tak akan cukup. Aku paham, saat ini kau sedang diselimuti kegelisahan, ketakutan, kekecewaan dan kesedihan karena kita telah melakukan itu sebelum kita dinyatakan sah sebagai pasangan suami istri. Percayalah, setelah kita menikah kau akan terbebas dari pikiran yang membebanimu ini." Leo menepuk-nepuk lembut punggung Esme.

Setelah mendengar ucapan Leo itu, Esme tak bisa lagi membendung air matanya. "Aku hanya tidak menyangka, kenapa kau tidak bisa mengontrol diri, kau melakukan hal tercela itu padaku. Bukankah kau sangat meninggikan derajat seorang wanita? Lalu, bagi dirimu ... aku ini wanita macam apa?" Tangisan Esme pecah. Ia menangis terisak-isak di pelukan Leo, hingga membuat jas kerjanya menjadi basah.

Leo terjeda sesaat dengan tatapan kosong melompong. Benar apa yang Esme katakan, Leo pun tak menyangka dirinya bisa melakukan hal kotor itu pada wanita yang sedari kecil sudah ia dambakan, hingga membuat Esme sangat kecewa sampai ia menangis terisak-isak sekarang.

Ia merasa aneh, karena dirinya sangatlah jauh berbeda dari dirinya yang dulu.

Leo melepaskan pelukannya. "Sudah-sudah. Jangan menangis lagi." Ia mengusap lembut air mata Esme. "Esme, dengarkan aku! Kau adalah wanita hebatku, wanita teristimewa dalam hidupku. Jadi, jangan berkecil hati lagi, ya? ... Sebaiknya sekarang kita pergi ke rumah sakit dulu, untuk mengobati kakimu," ucapnya. Kemudian, dengan cepatnya ia menginjak pedal gas.

Tapi, Esme tiba-tiba menyentuh tangan Leo. "Tidak, jangan pergi kerumah sakit. Ini hanya keseleo biasa, nanti aku malah ditertawai oleh dokter. Sebaiknya kita ke apotek saja, membeli obat oles atau obat tempel," katanya.

Leo melirik ke arah Esme sambil tersenyum, dengan tatapan penuh cinta. "Baik, laksanakan Ibu Negara...." Leo langsung memutar setir mobil, menuju apotek terdekat.

Betul 'kan! Sebesar apapun rasa kecewaku padanya, aku tetap tidak bisa marah pada Leo. Senyum dan perlakuan lembutnya selalu membuat ku luluh. Aku jadi penasaran, sebesar apa rasa cintaku padanya? Apakah seluas lautan? Atau sebesar bumi ini? Ah, bukan! Sepertinya, seluas dan sebesar alam semesta ini....

....

Sampailah mereka di salah satu apotek, Leo langsung keluar dari mobilnya dan segera membeli obat keseleo untuk Esme. Setelahnya, ia kembali dengan membawa obat itu. Leo langsung memasangkan obat tempel di pergelangan kaki kiri Esme. Esme merasa sangat senang di perlakukan seperti ini oleh Leo.

Saat melihat Leo menunduk karena sedang menempelkan obat di pergelangan kakinya, membuat Esme penasaran, ingin sekali ia bertanya padanya. Apakah semalam saat Leo meninggalkan Esme di club, ia ke restoran dengan salah satu rekan bisnisnya? Begitulah sekiranya praduga Esme.

Ah, tidak! Sepertinya pertanyaan itu sangat menyudut-nyudutkannya. Itu hanya akan mengganggu Leo dan merusak suasana yang sudah mulai membaik ini. Bagaimana jika Balmond salah lihat? Sebaiknya aku cari tahu dulu kebenarannya sendiri.

"Sudah," ucap Leo. "Bagaimana? Seperti itu kan cara menempelkannya?" tanya Leo sambil memperlihatkan pada Esme hasil tempelannya.

Esme tersadar, ia langsung memeriksa pergelangan kakinya yang sudah ditempeli obat oleh Leo. "Mm... ya, sempurna."

Kemudian, Leo keluar dari mobilnya, ia membuka pintu bagian Esme, lalu mengambil sepatu hak tinggi miliknya dan meleparkannya tepat di tong sampah yang berada dipinggir jalan itu. Tingkahnya itu membuat Esme terkejut.

Setelahnya, Leo membuka bagasi mobilnya dan mengambi sesuatu disana. "Mana kakimu? Sini!" Leo menarik kaki Esme, dan memasangkan sandal hotel di kedua kakinya.

Esme mengernyit heran. "Sandal hotel?" gumamnya.

"Ah, ya. Dua tahun belakangan ini aku sering ke hotel-hotel untuk menginap, karena urusan bisnis di Kota lain," jawabnya dengan senyum merekah.

"Mm...." Esme menganggukan kepalanya. "Setelah kau menjadi direktur utama, pastinya kau selalu disibukan oleh urusan bisnis keluar daerah. Pantas saja, kau terlihat sangat lelah setiap aku melihat wajahmu." Esme mengelus pipi kiri Leo dengan tatapan sayang.

Saat Leo akan kembali masuk kedalam mobil tiba-tiba ia melihat ada pedagang kaki lima yang berjualan makanan kesukaan Esme sejak mereka kecil.

Dengan jas hitam berdasi, dan tanpa rasa malu, ia langsung berjalan membeli makanan itu untuk Esme.

Peminat makanan ini ternyata cukup banyak. Ia rela mengantre untuk mendapatkan makanan yang Esme sukai.

Saat Leo berada dalam barisan antrean, ia menjadi sorotan utama disana.

Wajah tampan, ditambah dengan anting hitam ditelinga kirinya, tubuh tinggi semampai, dengan pakaian jas hitam berdasi. Tentu saja, para pengguna jalan menatap heran ke arahnya, karena sangat jarang lelaki dengan pakaian seperti orang penting itu mau mengantre hanya untuk membeli makanan kaki lima.

Karena hari sudah sore, banyak sekali anak SMA yang membeli jajanan di daerah situ, ternyata tempat itu adalah tongkrongan anak-anak SMA.

Lolyta yang sedang berjalan dengan Alice, tak sengaja melihat Leo yang sedang berdiri mengantre disebuah lapak kaki lima. Ia langsung menghampirinya dengan menarik tangan Alice. "Loly, kau mau membawa aku kemana?" tanya Alice yang terhentak kaget. Ia hanya terus mengikuti langkah kaki Lolyta.

"Kak Leo!" Lolyta menepuk pundak Leo, hingga membuatnya sedikit terkejut.

Leo dengan ketinggian tubuh 185cm langsung menoleh dan menundukan kepalanya, karena tubuh Lolyta begitu mungil, sejajar dengan dada bidangnya.

Berbeda dengan Alice, ia bagaikan seorang model dengan tubuh yang ideal, lekuk tubuh yang sempurna dengan tinggi badan sekitar 175cm tak beda jauh dengan Esme.

"Ah, Loly? Apa kau baru pulang sekolah?" tanya Leo. Lolyta langsung mengangguk.

"Selanjutnya...,"

"Sebantar ya, aku akan mengambil pesananku dulu," tutur Leo, ia langsung berjalan mengambil pesanannya dan kembali pada Lolyta.

"Kak Leo suka tahu gejrot?" tanya Lolyta terheran.

"Ah, bukan aku! Aku kemari bersama kakakmu. Mm... ini adalah makanan kesukaannya sejak kecil," jawabnya sedikit gugup.

"Lalu, dimana kak Esme?" tanya Lolyta sambil melihat kesana kemari mencari keberadaan kakaknya itu.

Alice hanya terdiam menunduk, karena merasa sangat canggung.

"Esme menunggu di mobilku. Apa kalian mau ku antar pulang?" tanyanya.

"Ya!" Lolyta menjawab cepat. "Jika tidak mengganggu kalian, aku sih mau saja... Yuk, Alice," ajaknya pada Alice.

Leo langsung menggiring mereka menuju tempat mobilnya berada. Ternyata, Esme sudah mengetahui, karena sedari tadi ia memperhatikan Leo yang sedang mengobrol dengan Lolyta dari dalam mobil.

"Kakak!" sapa Lolyta, ia langsung bersalaman padanya.

"Ayo cepat masuk," ucapnya pada Lolyta dan Alice.

Leo pun masuk kedalam mobilnya sambil memberikan tahu gejrot kesukaan Esme.

"Nih, apa kau rindu dengan makanan kesukaanmu? Di Amerika tidak mungkin ada yang seperti ini kan?" ucap Leo dengan senyum lembutnya.

Kedua mata Esme langsung berbinar setelah melihat dan mencium aroma tahu gejrot dibalik bungkusan yang Leo berikan padanya. Sekian lama Esme tidak mencicipi makanan kesukannya itu, karena memang di Amerika tidak ada.

Senyuman Leo pada Esme, membuat Lolyta dan Alice menjadi sangat iri. Hingga Lolyta berkhayal hal yang tidak-tidak karena ketampanan Leo itu.

Kemudian, Leo langsung menginjak pedal gas, tapi Lolyta memberi tahu dulu alamat rumah Alice. Sehingga Leo mengantarkan Alice terlebih dahulu, sebelum mengantarkan mereka pulang ke rumahnya.

...

BERSAMBUNG !!!

Ayo dong Like, Komen apalagi Vote nya ❤

1
Eni Etiningsih
BEST POKOKE..!!
Eni Etiningsih
hadeehhh..🤦‍♀️
Eni Etiningsih
thor, menyunggingkan senyum, bukan nungging
Eni Etiningsih
jengkol...ooo.... jengkol..!!
Eni Etiningsih
jengkol berbentuk 🤎🤎🤎🤎
Eni Etiningsih
GOOD..!!
Eni Etiningsih
seh bengung aku nya..
Nurma sari Sari
apa alucard gk tau kalau Ara juga sdh hampir menjerumuskan Esme dengan memberii obat perangsang untuk diserahkannya pada Leo, seharusnya alucard tau seberapa jahatnya Ara ingin menghancurkan esme
Nurma sari Sari
hadeeew......yg katanya kuat bisa mengatasi segalanya ternyata oleng juga 🤭🤭
Nurma sari Sari
Esme sok jagoan kalau trauma lagi bisa2 langsung masuk rumah sakit jiwa
Nurma sari Sari
Esme bukan wanita yg pintar, cuma nasibnya aja yg lagi baik, seandainya gk ada Hanabi selesai sudah Esme disantap sama laki2 bangkotan, jadi Esme itu gk ada pintar sedikitpun kalau BODOH iyaaa......
Nurma sari Sari
sebenarnya Esme itu bodoh bukan pintar, cuma keberuntungan aja yg menyelamatkan dia.
Nurma sari Sari
apa mungkin Leo yg begitu mencintai Esme sanggup untuk menyakiti Esme, kalau hanya untuk merampas Esme dari alucard mungkin dia setuju
Nurma sari Sari
ya ampun sampai kering gigi ketawa,....
Nurma sari Sari
ya ampun dari bab diatas aku ngakak sampai GK bisa komen...🤣🤣🤣
Nurma sari Sari
nah begitu baru tegas, jangan terlalu kemah dengan pelakor, jangan dikasih hati nanti dia malah minta jantung, dikasih pundak semakin ngelunjak dia akan naik lagi nginjek kepala....
Nurma sari Sari
kok pelakor GK ada habisnya pelakornya itu2 juga, anak yg baru lulus SMA aja sdh pintar main trik mau jadi pelakor, Esme yg bodoh mau aja dikadali sama Loly, sdh tau penghianat masih juga dikasih hati.
Nurma sari Sari
Esme belagak seperti jagoan aja yg bisa mengatasi setiap masalah, kejadian pemerkosaan itu apa GK dijadikan sebuah pelajaran yg hampir membuat Dia gila, seharusnya kalau sdh pernah troika itu dia akan takut pergi kemana2 sendirian, berada didalam rumah sendirian pun Asti akan ketakutan, ini malah menantang ingin pergi sendiri tanpa pengawalan, berrti Esme ini bukan trouma dengan kejadian kemaren, aneh.....
Nurma sari Sari
Leo GK akan nyakiti secara fisik pada ismi, karena Leo juga sebenarnya sangat mencintai ismi, karena ambisi Leo yg ingin menjadi orang sukses dan kaya raya membuat dia menghalalkan segala cara secara tidak langsung menyakiti perasaan Esme juga, karena trouma Leo dikehidupan dimasa kecilnya yg hidup miskin disaat ada peluang dan kesempatan membuat dia lupa diri dan salah melangkah.
Nurma sari Sari
Leo percaya diri banget kalau dia menganggap Esme begitu ciinta matinya sama dia sampai dia menganggap Esme GK mungkin berpaling dari dia. seenaknya kamu menghianati Esme karena kamu merasa Esme begitu mencintai kamu, makanya kamu berulang kali menyakiti dan menghianati Esme, kamu anggap hati Esme terbuat dari batu karang yg gk akan hancur sekalipun berkali2 diterpa ombak, percaya diri banget Leo kalau cuma hanya dia yg bisa memiliki Esme. kamu pasti menyesal setelah Esme berpaling dari kamu Leo..,
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!