Vania Abigail, wanita cantik yng harus menjadi korban pembunuhan oleh suaminya yaitu Justin Andrian, dengan merencanakan kecelakaan yang seolah itu terjadi secara alami.
beruntung Vania diselamatkan oleh seorang laki-laki dan membantu Vania agar bisa kembali sehat. Namun karna luka bakar yang dialaminya cukup serius, sehingga mereka memutuskan untuk mengoperasi dan memberikan Vania identitas baru sebagai Elena Sinclair.
Balas dendam dengan menghancurkan rumah tangga mantan suami adalah tujuan Elena mulai detik ini.
Ia kan menggoda Justin dengan berbagai macam cara dan membuatnya jatuh cinta, lalu meninggalkannya setelah Justin kembali merasakan cinta dari seorang Elena.
Apakah Elena mampu menjadi seorang pelakor seperti sumpahnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon bucin fi sabilillah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hanya Satu Bulan!
Rexy memilih untuk tidur di kamar Elena dan memeluknya sepanjang malam. Karena jika kondisi seperti ini, wanita cantik itu akan mengalami mimpi buruk seolah kembali merasakan kecelakaan yang menimpanya lima tahun silam.
Bahkan terkadang, Elena bisa mengalami demam tinggi jika mimpi itu datang merasuki alam bawah sadarnya.
Saat ini, Rexy memilih untuk berjaga semalaman, ia yakin jika ada sesuatu yang membuat Elena seperti ini.
Apa yang kalian bicarakan sampai kamu seperti ini, Sayang? Jika aku tau dia menyakitimu, aku tidak akan bisa menahan diri untuk menghancurkannya!. batin Rexy penuh dendam.
Waktu sudah menunjukkan pukul tiga dini hari. Rexy masih terjaga sembari mencari informasi, apakah bisa apartemen Justin di sadap atau meretas CCTV yang ada di sana.
Elena mulai merasa tidak nyaman dengan nafas yang mulai tidak beraturan. Rexy menyadari hal itu dan langsung membangunkannya agar mimpi buruk itu tidak berlanjut.
"Bee?" Ucap Elena memeluk Rexy dengan erat.
"Aku di sini, Sayang. Aku di sini!" Ucap Rexy berusaha untuk menenangkan wanita cantik itu.
"Mimpi, mimpi itu datang lagi!" Ucap Elena menangis.
"Jangan takut, aku ada di sini!" Ucap Rexy menenangkan Elena.
"Bee, di-dia," Ucap Elena terbata.
"Tenang dulu, Sayang. Nanti kita cerita kalau kamu sudah tenang!" Ucap Rexy mengusap wajah cantik Elena.
Ia mengangguk dan kembali memeluk Rexy dengan erat. Rasa aman dan nyaman yang diberikan pria tampan itu membuat Elena perlahan tenang.
Ia meregangkan pelukannya dan menatap Rexy dengan mata sayu nan sembab.
"Sudah tenang?" Tanya Rexy lembut.
Elena hanya mengangguk, ia menceritakan semua pengakuan yang diceritakan oleh Justin tanpa tertinggal, kecuali tangannya yang nakal.
"Sayang?" Panggil Rexy cemas.
"Bee, aku tidak mungkin dan tidak akan masuk ke dalam jurang yang sama untuk kedua kalinya!" Ucap Elena mengelus rahang tegas Rexy.
"Tapi kamu tidak diapa-apain sama dia, kan?" Tanya Rexy menggenggam tangan Elena.
Ia mengambil hand sanitizer untuk membersihkan tangan Elena agar terbebas dari kuman dan virus Justin yang menempel.
"Dia bilang apa lagi sayang?" Tanya Rexy mengecup tangan Elena.
"Dia bilang, apa aku bakalan melaporkan dia ke kantor polisi?" Tanya Elena.
"Apa pun jawaban kamu, aku pasti juga akan melaporkannya!" Ucap Rexy tegas.
Elena tersenyum dan kembali memeluk pria tampan itu dengan perasaan yang sudah lebih baik.
"Bee, beri aku kepercayaan. Aku akan menjaga semuanya yang menjadi hak dan milikmu," Ucap Elena mengecup dada Rexy yang sedikit terbuka.
"Jangan mancing sayang! Aku tau kamu juga menginginkannya!" Ucap Rexy mengecup kepala Elena.
"Maaf, Bee!" Ucak Elena terkekeh.
"Apa pun itu, aku percaya jika kamu tidak akan berhianat! Jaga kepercayaanku ya sayang!" Ucap Rexy lembut.
"Terima kasih kamu sudah percaya, Bee!" Ucap Elena menatap wajah Rexy dengan intens.
Pria tampan itu tersenyum dan mengecup bibir Elena dengan lembut, sambil membaringkan wanita cantik itu. Gerakan yang lincah, lagi-lagi membakar jiwa mereka yang sudah sangat ingin untuk saling memiliki seutuhnya.
"Cepat selesaikan semua rencana kita sayang, Aku sudah tidak sabar untuk menikahimu!" Ucap Rexy dengan nafas yang terengah.
"Aku juga sudah tidak sabar untuk menjadi istrimu, Bee!" Ucap Elena tersenyum dan mengusap tengkuk Rexy.
"Aku mencintaimu!" Ucap Pria tampan itu tersenyum manis.
"Aku juga mencintaimu!" Ucap Elena tersenyum.
Mereka kembali berciuman dengan penuh kelembutan. Hingga mata Rexy yang tidak lagi bisa diajak untuk berkompromi dan mulai semakin berat, ia terlelap dalam pelukan Elena yang terasa sangat nyaman.
Sementara wanita cantik itu malah termenung, mengingat tangannya yang nakal dengan lancang menyentuh milik pribadi orang lain dengan begitu mudah.
Semoga nanti tidak ada laporan mengenai itu kepada Rexy! Jika sampai laki-laki pencemburu ini tau, aku tidak akan bisa lepas dari genggamannya! Huaa. Batin Elena cemas.
Ia menghela nafas, jika Rexy tidur ia takut mimpi itu akan kembali datang dan semakin membekas dalam ingatannya. Padahal, sudah lama mimpi itu tidak datang lagi.
Ia kembali teringat dengan perkataan Justin yang sudah mulai mencintainya. Pikiran Elena menerawang, ia merasakan angin segar dalam usahanya kali ini.
Aku tidak tau bagaimana cara kamu mencintai orang lain, Mas! Tapi yang jelas, selangkah kamu sudah berada di dalam genggamanku!. Batin Elena dengan wajah datar.
Ia mengambil ponsel dan mengirim pesan kepada Clayton untuk mencari identitas dan informasi tentang Reema, agar ia bisa mendapatkan celah untuk mengusik wanita itu.
Apa pun resikonya nanti, akan aku tanggung, asal mereka menderita! Merasakan apa yang sudah aku alami selama ini!. Batin Elena dengan rahang yang mengeras.
Waktu terus berjalan, namun mata wanita cantik itu tak kunjung terlelap, memikirkan langkah dan rencana selanjutnya yang akan ia ambil nanti.
Hingga waktu sudah menunjukkan pukul 5 pagi, ia segera bangun dan membersihkan diri. Sedikit merasa bersalah karena sudah berani berbuat seperti itu dengan laki-laki lain. Sehingga pagi ini ia berencana membuatkan Rexy sarapan sebagai permintaan maafnya.
Sementara itu, seorang laki-laki di waktu yang sama mulai mengerjabkan mata. Menelisik keadaan sekitar melalui cahaya remang ruangan tengah itu.
"Baby? Apa kamu masih di sini?" Ucapan Justin lirih sambil memegang kepalanya yang terasa sedikit pusing.
"Baby?" Ulangnya berusaha untuk duduk dan melihat keadaan sekitar.
Hening, ia tersenyum kecut ketika mengingat apa yang ia lakukan bersama Elena.
"Aku tidak menyangka jika kamu begitu nakal! Lambat laun, aku pastikan jika kamu akan jatuh ke tanganku! Tunggu sampai aku membereskan Reema terlebih dahulu, Elena!" Ucap Justin tersenyum.
Ia membayangkan wajah Cantik Elena yang berhasil membuat adiknya kembali aktif. Ia tersenyum, hanya Vania yang bisa membuatnya seperti ini dan sekarang Elena. Bahkan jika ingin berhubungan dengan Reema, Justin harus membayangkan wajah Vania agar adiknya bisa bangun.
"Ah, sepertinya aku memang harus menyelesaikan Reema secepatnya!" Ucap Justin Tersenyum.
Ia memilih untuk membersihkan diri karena sebentar lagi, fajar akan datang. Ia mengambil ponsel dan melihat notifikasi yang masuk, tidak ada satu pun pesan singkat yang ia dapat dari Reema.
Andai dulu..., Ah, semuanya sudah berlalu!. Batin Justin memilih untuk menelfon seseorang.
"Siapkan penerbangan menuju Inggris dan undur semua jadwalku beberapa hari kedepan!" Ucap Justin tegas kepada asistennya.
Ia segera bersiap untuk berangkat ke kantor dan mengambil beberapa berkas penting yang harus ia bawa nanti.
🌺🌺
Elena sudah menyiapkan sarapan untuk dirinya dan Rexy, sebab kedua calon mertuanya sudah berangkat menuju Swiss untuk berlibur.
Sepiring nasi goreng dengan telur mata sapi berbentuk love ditambah beberapa hiasan lainnya yang terlihat indah dan menggiurkan. Tak lupa secangkir kopi dan juga air putih untuk pria tampan itu.
Elena membawa nampan sambil tersenyum, ia melihat Rexy masih terlelap dengan wajah tampannya.
"Bee, bangun sayang!" Ucap Elena mengelus wajah Rexy setelah meletakkan nampannya.
"Bee, bangun yuk, sudah siang!" Ucap Elena mengecup bibir merah Rexy.
"Engh, aku masih ngantuk, sayang!" Ucap Rexy memeluk pinggang Elena dengan manja.
"Bangun dulu, aku sudah membuatkan kamu sarapan!" Ucap Elena lembut.
"Hmm, kamu masak apa, sayang?" Ucap Rexy tertarik namun masih memejamkan matanya.
"Cuma nasi goreng, Bee. Ayo bangun dulu, nanti tidur lagi!" Ucap Elena mengusap punggung Rexy.
"Iya. Cium dulu!" Ucap Rexy memonyongkan bibirnya.
Elena terkekeh geli dan memberikan kecupan manis untuk sang pacar.
Rexy segera pergi menuju kamar mandi dan membersihkan tubuhnya. Mereka sarapan dengan begitu mesra, Elena dengan telaten menyuapi Rexy yang begitu manja jika sudah berhadapan dengannya.
"Sayang, kita sudahi ini saja ini semua, aku ingin menikahimu secepatnya!" Ucap Rexy menatap Elena lekat.
Wanita cantik itu terdiam, sungguh ia juga sangat ingin menikah dengan Rexy, namun ia sudah melangkah sajauh ini untuk melakukan balas dendam. Sayang jika semua harus berhenti dengan mendadak.
"Satu bulan, beri aku watu satu bulan lagi, Bee. Semuanya sudah berjalan dengan baik! Rumah tangganya juga sudah berada di depan jurang dan dia sudah mulai mencintaiku," Ucap Elena lirih.
Rexy berusaha dengan sangat untuk menahan cemburu. Sungguh ia sangat tidak rela jika ada laki-laki lain yang berani mencintai wanitanya.
Ia menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskannya dengan sedikit kasar. "Baiklah, waktu kamu hanya satu bulan, Sayang. Jika lebih dari itu aku yang akan turun tangan langsung!" Ucap Rexy tegas.
"Jangan marah!" Ucap Elena sendu.
"Tidak, aku tidak marah sayang!" Ucap Rexy gelagapan.
Ia segera memeluk Elena, berjaga agar wanita cantik ini tidak menangis. Sementara yng di peluk malah tersenyum penuh kemenangan.
Aku janji, dalam waktu satu bulan, aku akan menyelesaikan semua ini, Bee. Dan kita akan menikah secepatnya!. Batin Elena.
🌺🌺🌺
TO BE CINTINUE